YAMAN (Jurnalislam.com) – Pemimpin pemberontak Houthi Yaman yang didukung Iran mengabaikan kesepakatan damai yang ditengahi PBB dan mendesak pendukungnya untuk melawan pasukan pro-pemerintah yang berniat merebut kembali ibukota, World Bulletin melaporkan, Kamis (24/12/2015).
"Jangan percaya pada PBB yang berperan sesuai dengan kebijakan Amerika," kata Abdulmalik al-Houthi dalam sebuah pidato pada hari Rabu.
"Kami tidak punya pilihan selain menolak … sampai rakyat kita (Syiah Houthi) mencapai kebebasan dan kemerdekaan mereka," tambahnya.
Sikap menantang tersebut terjadi setelah pihak-pihak Yaman yang berperang pada hari Ahad menyimpulkan pembicaraan damai yang disponsori PBB di Swiss tanpa terobosan besar, tetapi sepakat untuk bertemu lagi pada 14 Januari.
Pada hari Rabu Dewan Keamanan PBB mendesak pihak lawan untuk menghormati gencatan senjata yang sering dilanggar dan untuk melanjutkan pembicaraan.
Houthi, Sekte Syiah dari utara Yaman, mengambil alih ibukota Sanaa tahun lalu dan kemudian merangsek ke selatan ke kota kedua Aden, memaksa Presiden Abd Rabbo Mansour Hadi melarikan diri ke Arab Saudi.
Setelah kemenangan teritorial oleh pasukan loyalis yang didukung oleh koalisi pimpinan Arab, Hadi kembali ke Aden pada bulan November setelah enam bulan di pengasingan.
Konflik telah meningkat secara dramatis sejak serangan udara yang dipimpin Arab terhadap pemberontak Houthi dimulai pada Maret, dengan hampir 6.000 orang tewas menurut hitungan PBB.
Deddy | World Bulletin | Jurnalislam