Al Shabaab Serang Pangkalan Militer Puntland, Puluhan Tentara Tewas

Al Shabaab Serang Pangkalan Militer Puntland, Puluhan Tentara Tewas

SOMALIA (Jurnalislam.com) – Al Qaeda di Afrika, al Shabaab, menyerbu sebuah pangkalan militer di wilayah otonomi Puntland di Somalia utara hari Kamis (8/6/2017) dan membunuh puluhan tentara selama pertempuran tersebut. Pejuang dari cabang Al Qaeda di Afrika Timur tersebut telah berhasil menguasai basis Somalia dan Afrika di masa lalu dan menjatuhkan banyak korban jiwa, Long War Journal melaporkan.

Pejabat keamanan mengatakan kepada Garowe Online bahwa lebih dari 30 tentara Puntland terbunuh dan beberapa lainnya yang tidak diketahui jumlahnya ditangkap dalam serangan Shabaab di sebuah basis di Af Urur yang terletak di pegunungan Galgala. Para mujahidin Shabaab “benar-benar mengambil alih kendali” basis dan menyita senjata, amunisi, dan peralatan militer lainnya.

Shabaab membenarkan serangan tersebut dalam sebuah pernyataan yang diperoleh oleh SITE Intelligence. Menurut Shabaab, mereka membunuh 61 tentara, termasuk tiga perwira, dan menangkap “16 kendaraan militer dan sejumlah besar senjata dan amunisi sebagai rampasan.”

Pegunungan Galgala telah lama menjadi benteng al Shabaab, yang telah melakukan sejumlah serangan profil tinggi di sana. Baru-baru ini, pada tanggal 23 April, mujahidin Shabaab membunuh delapan tentara dan melukai beberapa lainnya dalam serangan IED yang kompleks. Shabaab diperkirakan memiliki sekitar 300 pejuang yang beroperasi di pegunungan Galgala.

Al Shabaab telah berhasil menguasai basis Somalia dan Afrika di masa lalu dan melumpuhkan sejumlah besar pasukan yang berbasis di sana. Pada bulan Januari 2016, mujahidin al Shabaab menyerang sebuah pangkalan di Al Ade di selatan dan membunuh sedikitnya 100 tentara Kenya. Pada bulan Juni 2015, Shabaab membunuh sekitar 60 tentara Ethiopia di selatan. Pada bulan yang sama, pejuang Shabaab membunuh lebih dari 50 tentara Burundi di Leego.

Shabaab telah bangkit kembali di Somalia. Kelompok jihad tersebut perlahan-lahan mengambil alih beberapa kota dan desa yang hilang, termasuk kota pesisir Marka.

Karena khawatir dengan kebangkitan Shabaab, pemerintah Trump memperluas wewenang militer AS untuk menargetkan faksi jihad tersebut dengan “tembakan presisi tambahan.” Di masa lalu, di bawah pemerintahan Obama, Komando Afrika AS (AFRICOM) telah menargetkan pemimpin dan tokoh senior Shabaab dalam serangan pesawat tak berawak dan serangan udara konvensional. Selain itu, pesawat AS akan menyerang pejuang Shabaab saat personil AS bersama pasukan Somalia dalam penyerangan, namun menyembunyikan operasi tersebut dengan kedok misi “operasi bertahan“.

Upaya AFRICOM untuk menyembunyikan operasi tempur langsung terhadap target Shabaab seperti kamp pelatihan dan pabrik IED sebagai saran dan untuk membantu misi yang berhasil memutihkan lebih dari 10 tahun perang dilakukan oleh pemerintah Somalia yang lemah, Uni Afrika, dan Amerika Serikat yang berperang melawan al Qaeda di Somalia.

Pada 2016, AFRICOM mengumumkan sembilan serangan “mempertahankan diri” dan “operasi bertahan” di Somalia. Departemen Pertahanan bahkan telah membenarkan serangan udara di kamp pelatihan Shabaab, seperti yang ada di Raso pada tanggal 5 Maret 2016, sebagai operasi pertahanan padahal operasi penyerangan.

Bagikan