4.000 Pelajar Gaza Mengungsi Setelah Serangan Israel

4.000 Pelajar Gaza Mengungsi Setelah Serangan Israel

GAZA(Jurnalislam.com) – Sementara anak-anak di seluruh dunia mulai memeriksa daftar perlengkapan sekolah mereka dan bersiap untuk menghadiri kelas, di Palestina 4.000 siswa masih terjebak dalam ketidakpastian.

Mereka tidak tahu kapan atau apakah mereka akan dapat kembali ke lorong dan ruang kelas yang mereka kenal.

Terlepas dari kekhawatiran mereka, seperti semua murid di Gaza, mereka telah memulai tahun ajaran pada 16 Agustus. Namun, kelas berlangsung di sekolah yang berbeda, karena fasilitas pendidikan tempat mereka masih dalam penyelidikan.

Rangkaian peristiwa dimulai pada bulan Mei ketika serangan udara Israel merusak dua gedung sekolah PBB di lingkungan Zeitoun, Gaza: Sekolah Anak Laki-Laki Persiapan “A” dan Sekolah Dasar Anak Laki-Laki “A”. Dimana keduanya beroperasi di bawah United Nations Relief and Works Agency (UNRWA).

Dua minggu setelah gencatan senjata, saat menghitung nilai kerusakan dan bagaimana melindungi tempat itu dari rudal, personel PBB menemukan rongga sedalam 7,5 meter.

Hamas, kelompok yang mengendalikan Gaza, telah mengakui membangun jaringan terowongan di bawah Jalur Gaza untuk tujuan militer, tetapi belum ada pernyataan secara resmi tentang kontroversi seputar sekolah-sekolah khusus PBB ini.

Pekan lalu, untuk memverifikasi apakah sekolah aman dibuka untuk tahun ajaran, sebuah kelompok dari United Nations Mine Action Service (UNMAS) mencoba melakukan penilaian atas risiko lanjutan dari struktur bangunan tersebut.

Polisi setempat sempat mencegah tim ahli beroperasi.

“Kemudian kami berbicara dengan mereka pihak berwenang Palestina lagi dan penggalian seharusnya dimulai lagi minggu ini,” kata juru bicara UNRWA kepada Al Jazeera (20/8/2021)

“UNRWA mengutuk keberadaan dan potensi penggunaan terowongan semacam itu oleh kelompok bersenjata Palestina di bawah sekolahnya dalam istilah yang sekuat mungkin”, terang UNRWA dalam pernyataannya.

“Instalasi UNRWA tidak dapat diganggu gugat, dan netralitasnya harus dihormati setiap saat.” sambungnya.

Juru bicara UNRWA mengatakan “situasi sedang diselesaikan”. Untuk saat ini, para siswa bersekolah di sekolah UNRWA lain, dalam shift yang berbeda, sambil menunggu izin dan diperbolehkan, mudah-mudahan bisa segera kembali ke sekolah yang mereka kenal.

Pendidikan di Gaza

Dengan 278 sekolah di seluruh strip dan hampir 10.000 orang melayani sebagai tenaga pengajar, UNRWA bertanggung jawab atas pendidikan dasar lebih dari 290.000 siswa Palestina.

Karena kekurangan fasilitas, beberapa sekolah UNRWA beroperasi dengan dua shift dan bahkan tiga shift.

Selama serangan terbaru Israel di Gaza, setidaknya 51 fasilitas pendidikan rusak, termasuk pusat pelatihan UNRWA, 46 sekolah, dua taman kanak-kanak dan bagian dari Universitas Islam Gaza.

“Menjadi seorang anak di Gaza hari ini berarti Anda pasti telah menyaksikan tingkat trauma yang tidak dimiliki rekan-rekan Anda di tempat lain di dunia,” kata Komisaris Jenderal UNRWA Philippe Lazzarini pada awal Juli.

Dalam sebuah laporan yang dikeluarkan pada bulan yang sama, Euro-Mediterranean Human Rights Monitor mengatakan 91 persen anak-anak Gaza menderita gangguan stres pasca-trauma (PTSD) setelah 11 hari serangan Israel pada bulan Mei lalu.

Menurut laporan itu, serangan Israel baru-baru ini berdampak besar pada anak-anak: 41 anak kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya, hampir 50.000 rumah hancur sebagian atau seluruhnya, dan ribuan lainnya menetap dipengungsian.

Masih ada tantangan tambahan bagi para siswa Gaza. Situasi ekonomi yang sulit meningkatkan risiko putus sekolah, karena memberi tekanan pada anak-anak, terutama anak laki-laki, untuk membantu mendukung rumah tangga mereka dengan penghasilan tambahan dan membuat beberapa keluarga tidak mampu membayar transportasi atau perlengkapan sekolah. (Bahri)

Sumber: Al Jazeera

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close X