100 Tahun Penjajahan Israel di Palestina: Inggris Harus Minta Maaf atas Deklarasi Balfour 1917

3 November 2017
100 Tahun Penjajahan Israel di Palestina: Inggris Harus Minta Maaf atas Deklarasi Balfour 1917

YERUSALEM (Jurnalislam.com) – Di setiap penampilan publik selama sepekan terakhir, politisi Palestina hampir selalu mengulangi permintaan mereka agar Inggris meminta maaf atas Deklarasi Balfour 1917 – sebuah dokumen yang meletakkan dasar bagi penciptaan Israel – sementara warga Israel telah bersiap untuk merayakan seratus tahun deklarasi tersebut.

Israel mengatakan dokumen tersebut membuka jalan bagi penciptaan negara mereka pada saat Yahudi didiskriminasikan di Eropa, sementara Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan negaranya harus “bangga” akan deklarasi tersebut – namun warga Palestina melihatnya dalam pandangan yang sama sekali berbeda.

Mereka menandai seratus tahun Deklarasi Balfour 1917 pada hari Kamis dengan demonstrasi di Tepi Barat dan Gaza atas peran yang mereka ucapkan dalam deklarasi tersebut yang mengarah pada Nakba 1948, atau “Bencana”, ketika lebih dari 700.000 warga Palestina mengungsi ke tempat Israel.

Zionis Gusur Warga Palestina dengan Bangun 176 Unit Rumah Baru di Yerusalem Timur

“Deklarasi Balfour pada tahun 1917 hanya dapat dilihat sebagai kejahatan historis terhadap rakyat Palestina dan sebuah aib bagi Inggris yang tidak akan terhapus oleh waktu,” Mustafa Barghouti, pemimpin Prakarsa Nasional Palestina dan mantan kandidat presiden, berkata kepada Anadolu Agency, Kamis (2/11/2017).

“Deklarasi ini menciptakan rezim apartheid paling rasis dalam sejarah umat manusia – mimpi buruk Palestina telah hidup selama 100 tahun,” katanya.

Yara Hawari, Fellow Policy Palestina di lembaga think-tank Al-Shabaka, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa Deklarasi Balfour bukan hanya dokumen sejarah.

“Warisan Balfour berlanjut sampai sekarang melalui kebijakan luar negeri Inggris,” katanya.

“Dukungan Inggris untuk Zionisme dan Israel, secara umum, berupa sikap tidak peduli dan terus berlanjut – dan itu merugikan pemerintah Palestina dan hak asasi manusia,” Hawari menambahkan.

“Warisannya bukan milik masa lalu,” katanya, menegaskan bahwa keputusan Inggris untuk merayakan seratus tahun Deklarasi – meskipun ada keberatan dari Palestina – seharusnya tidak mengejutkan.

“Inggris secara umum belum meminta maaf atas kejahatan kekaisarannya di masa lalu. Kami tidak mengharapkan sesuatu yang berbeda,” katanya.

Menurut Hawari, penting untuk mencatat peringatan 100 tahun deklarasi tersebut karena diskusi tentang hak-hak Palestina sering berpusat di seputar Perang Arab-Israel 1967, ketika Israel menduduki Yerusalem Timur, Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Israel Tolak Negosiasi dengan Pemerintah Baru Palestina kecuali Hamas Serahkan Senjata

“Perjuangan Palestina untuk hak-hak mereka telah berlangsung lebih lama dari pada [perang 1967], bahkan sebelum Balfour,” katanya.

“Hal penting tentang seratus tahun [Deklarasi Balfour] adalah mengingat bahwa itu [perjuangan Palestina] bukan sesuatu yang baru dimulai pada tahun ’67,” tambahnya.

Inggris merayakan seratus tahun dengan sebuah acara di kedutaan besarnya di Tel Aviv dan makan malam pribadi yang dihadiri oleh Perdana Menteri zionis Benjamin Netanyahu dan rekannya dari Inggris.

Ketika berangkat ke London pada hari Rabu, Netanyahu menanggapi kritik Palestina mengenai perayaan ulang tahun tersebut, dengan mengatakan bahwa deklarasi tersebut “mengakui hak orang-orang Yahudi ke rumah nasional mereka di tanah ini”.

“Orang-orang Palestina mengatakan bahwa Deklarasi Balfour adalah sebuah ‘tragedi’, itu bukan tragedi. Yang tragis adalah penolakan mereka 100 tahun kemudian,” kata zionis Netanyahu.

“Saya harap mereka berubah pikiran, karena jika mereka bisa maju akan membuat perdamaian di antara kedua bangsa kita,” tambahnya.

Pejabat Inggris baru-baru ini berusaha untuk menekankan bagian lain dari surat 1917 yang ditulis oleh Menteri Luar Negeri Inggris Arthur Balfour kepada Lord Walter Rothschild, seorang Yahudi Inggris terkemuka dan pendukung gerakan Zionis: yaitu, pernyataan bahwa hak-hak “komunitas non-Yahudi di Palestina “tidak boleh dilanggar.

Wujudkan Persatuan Palestina, Hamas dan Fatah Sepakati Rekonsiliasi

Bulan lalu, Jonathan Allen, wakil permanen Inggris untuk PBB, mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa ada “bisnis yang belum selesai” karena kegagalan untuk mendirikan sebuah negara Palestina berarti Deklarasi Balfour belum terpenuhi – sebuah Sentimen yang bergema pekan ini oleh Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson.

“Israel dan Palestina yang harus menegosiasikan rinciannya dan menulis bab mereka sendiri dalam sejarah,” tulis Johnson dalam sebuah kolom yang diterbitkan bersama oleh British Daily Telegraph, harian Israel Yedioth Ahronoth dan surat kabar Palestina Al-Quds.

“Satu abad kemudian, Inggris akan memberikan dukungan apa pun untuk menutup ring dan menyelesaikan urusan Deklarasi Balfour yang belum selesai,” tambahnya.

Palestina secara vokal menentang oposisi Inggris, dimana Organisasi Pembebasan Palestina (the Palestine Liberation Organization-PLO) menjalankan kampanye media sosial yang bertujuan menyoroti dampak negatif deklarasi tersebut terhadap rakyat Palestina.

Menulis di surat kabar Inggris The Guardian pada hari Rabu, Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan bahwa konsekuensi negatif deklarasi tersebut “dapat diperbaiki dengan benar”.

“Untuk memperbaikinya membutuhkan kerendahan hati dan keberanian,” Abbas menulis. “Ini akan memerlukan kaitan dengan masa lalu, mengenali kesalahan, dan mengambil langkah konkret untuk memperbaiki kesalahan tersebut.”