Tarian Politik Hary Tanoe

4 Agustus 2017
Tarian Politik Hary Tanoe
Ketua Umum Perindo, Hary Tanoesoedibjo

Oleh: Faisal Sallatalohy [Penggiat CIIA Bidang Ekonomi Politik & Public Policy]

Manuver politik Hary Tanoe (HT), menarik perhatian publik. Setelah mengevaluasi kinerja pemerintah dalam dialog hampir 5 jam dengan Mendagri, HT memantapkan dukungan politik ke Jokowi. Secara implisit terkandung arti HT mengakui keberhasilan kinerja Jokowi.

Tidak ada yang aneh dan perlu dibingungkan. Politik memang dinamis. Segalanya menjadi mungkin. Termasuk perubahan pendirian seorang HT yang tadinya mengkrtitik habis, lalu balik mendukung.

Pihak Perindo menegaskan, perubahan sikap politik ini sesuai dengan cita-cita partai. Yakni memenangkan Pilpres 2019. Tapi bukan kebetulan juga jika manuver ini terjadi setelah HT menyandang status tersangka.

Meminjam istilah Fadli Zon, “tendensi politik stick and carrot lagi trend”. Ada kecenderungan tekanan politik memukul lemahkan lawan dengan cara-cara preman yang tengah dipraktekan penguasa. Siapa yang berseberangan pandangan politik dengan pemerintah, akan diberi tekanan berbasis kekuasaan.

Bentuk tekanannya macam-macam. Salah satunya lewat tekanan hukum. Hukum dijadikan alat untuk menekan semua musuh termasuk Parpol, juga untuk merangkul mereka. Siapa yang melawan saat ditekan, dikasih stick dan yang nurut diberi carrot.

Pastinya, hukum dan politik adalah entitas yang berbeda. Tidak dibenarkan perkara politik ditukar dengan hukum. Sikap politik HT adalah pilihan bebas yang dalam konteks demokrasi Indonesia, dijamin dalam konstitusi. Tapi Jangan sampai dukungan ini dijadikan alat barter agar terbebas dari kasus hukum yang melilitnya. Apa benar begitu ? Silahkan anda menilai.

Di sisi yang sama, HT dianggap cerdas membaca situasi politik yang sedang tidak ramah terhadap Jokowi. Mulai dari Polemik Perppu Ormas hingga Revisi UU pemiliu. Jokowi banyak kehilangan dukungan. kehadiran dukungan HT pasti disambut baik. Kesempatan untuk melanggengkan kepentingan diri dan Parpolnya, makin terbuka luas bersama kekuatan kekuasaan. Panggung politik lagi tayang dengan prinsip Simbiosis mutualisme alias politik dagang sapi dan berkelindan strategi politik saling mengunci dan menyandra.

Tapi kalau tujuan utama HT agar Jokowi bisa melepaskannya dari kasus hukumnya itu, sabar dulu. Jokowi mungkin tidak bakal langsung menerima. Sebab hal itu bisa mencoreng namanya sebagai bapak ‘adil’ yang tidak pernah mengintervensi keindependensian lembaga hukum.

But everthing is possible. Pilpres hendak temui momen. HT memiliki akumulasi modal politik yang sulit ditolak. Bukan saja sebagai mesin ATM saat kampanye nanti, juga dukungan media-medianya. Fasilitas corong opini politik pencitraan Jokowi akan bertambah kuat. Bisa jadi duet maut armada media Surya Paloh dan HT siap mengangkat citra Jokowi.

Beginilah politik. Meminjam istilah tepat, “The rights of every man are diminished when the rights of one man are threatened.” Hanya setipis kertas. Harus pandai main peran jika tidak ingin tertinggal. Hitung baik-baik kekuatan. Jika belum cukup, lebih baik sekutu dari pada menjadi sateru.

Pragmatis itu ciri khas juga identitas. Apalagi seorang pebisnis yang berpolitik, tidak ada demarkasi. Dia akan bertindak Bagaimanapun caranya tuk kepentingan bisnisnya dia. Catatan pentingnya, HT darah dagingnya adalah pebisnis/pebandar, bukan politisi. Sifat pragmatis pasti kental. Manuver politiknya ini bisa jadi bahan renungan untuk kalangan publik yang idealis.

Dalam teori, menurut Dan Nimo (2010), pebisnis yang berpolitik disebut sebagai politisi wakil, lawan dari politisi ideolog. Politisi wakil umumnya bersikap pragmatis. Itu adalah tuntutan karakter dasarnya pada saat menjadi pebisnis. Karakter itu tidak akan hilang meski telah hijrah sebagai politisi. Malah makin mengental.

Sedangkan Paduan cocok sikap pragmatis politisi adalah ‘art of possible’. Dari sudut pandang ini, HT dengan darah daging pebisnisnya, sedang bermain politik sebagai seni kemungkinan. Politik praktis adalah pragmatis. Hanya mengenal mana yang mungkin dilakukan dan yang mungkin ditinggalkan. Tidak peduli mana yang benar dan salah. Jika langkah memungkinkan diberi stick, harus tunduk lalu ambil carrot. Shame on you HT.