Sebelum Reformasi, Yusril Sudah Mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin

Sebelum Reformasi, Yusril Sudah Mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin

Oleh: Ali Hasibuan Pengurus Pusat KAMMI

Ketika melihat teman-teman yang ‘ngamuk’ atas masuknya Yusril Ihza Mahendra (YIM) sebagai pengacaranya paslon Jokowi-Ma’ruf jiwa saya terpanggil. Saya terpanggil untuk menjelaskan ke mereka bahwa politik saat ini ya sesuatu yang eehhmm dan santai saja. Tidak ada yang begitu hitam pekat ataupun putih suci, semua ada negosiasinya.

Saya heran kenapa mereka begitu ‘ngamuknya’ dengan YIM. Seolah mereka sendirilah yang sedang ditunjuk menjadi pengacaranya Jokowi-Ma’ruf Amin. Saya melihat seharusnya mereka tak sebegitunya, toh memang beberapakali kejadian seperti ini pernah terjadi, bahkan sering.

Ketika pilpres Tahun 2014, saat Jokowi masih heran kenapa negara Indonesia yang menurutnya kaya raya ini melakukan impor di mana-mana, partai Golkar dan PPP memutuskan untuk mengusung Prabowo-Hatta Rajasa. Tetapi ketika Pilpres 2019 yang akan datang, ketika Prabowo mengatakan tidak akan pernah impor kecuali kudanya, Golkar dan PPP berkoalisi mendukung Jokowi-Ma’ruf untuk mengalahkan Prabowo-Sandi. Jadi begitu mudahnya, sikap dan pilihat politik itu berubah, tergantung arah angin.

Bukan seorang politisi namanya jika tidak bisa membaca arah angin dan berubah dengan cepat, bahasa kerennya fleksibel kira-kira. Seperti Kapitra Ampera misalnya. Sebagai seorang kuasa Hukumnya Habib Rizieq Shihab yang dipaksa berkasus oleh tangan-tangan tidak terlihat, memutuskan berubah sikap yang diawali dengan mencalegkan diri melalui partai pemerintah, PDIP. Langsung saja, pandangan-pandangannya langsung berubah beberapa ratus derajat yang membela pemrintah Jokowi. Dan ini sah saja, wong memang dapurnya di sana.

Jadi, sudah beberapa kali dan sering sebenarnya kita diperlihatkan hal-hal yang lentur seperti ini, cuman kadang kita saja yang sering kelupaan. Menganggap yang hitam akan hitam selamanya dan yang putih pun begitu demikian. YIM pun demikian. Walaupun saat ini, konon katanya PBB masih netral tidak mendukung Prabowo ataupun Jokowi, kita ya tidak bodoh-bodoh amatlah. Orang yang tidak pernah mengunyah buku pun sudah bakal tau kemana arah dari semua ini.

“Saya jadi pengacara Paslon Jokowi-Ma’ruf Amin sebagai pribadi profesional dan tidak berkaitan dengan dukung-mendukung” (YIM)

Hanya orang kelewat dungulah yang percaya hal semacam ini. Pekerjaan sebagai seorang pengacara yang bukanlah perkara gampang dan tentunya njelimet. Tidak mungkin seorang YIM tidak akan mencampuri ataupun setidaknya mengetahui sikap dan kebijakan politik pasangan Jokowi-Ma’ruf. Jika suatu saat misalnya pasangan Jokowi-Ma’ruf terkena kasus, sudah tentu YIM akan menjadi garda terdepan pembelanya. Lalu bagaimana cara dia membelanya? ya dengan berkas pembelaan. Berkas pembelaan didapat darimana? Ya dari tim pemenangan Jokowi-Ma’ruf. Apa mungkin timnya Jokowi-Ma’ruf sebodoh itu menyerahkan berkas-berkas rahasia kepada orang yang tidak berniat mendukung dan bahkan berpotensi menyerangnya suatu saat nanti. Saya kira, Jokowi-Ma’ruf dikelilingi orang-orang pintar. Pasalnya karena pemerintahan Jokowi mampu bertahan selama empat tahun.

Pernyataan YIM dan PBB yang mendukung Jokowi-Ma’ruf hanya menunggu hitungan makan dan buang air saja, tak akan lama lagi. Pun ketika kita membaca gaya-gaya politiknya YIM sejak era sebelum reformasi. Tidak ada riwayat YIM yang menunjukkan ia sebagai seorang politisi -juga aktivis Islam- melakukan oposisi terhadap peemerintah secara konsisten. Kerapkali YIM justru mengambil jalan damai dengan pemerintah, tanpa terkecuali saat rezim orba yang membutuhkan YIM sebagai salah satu penulis naskah pidato Soeharto. Walaupun dalam sebuah wawancara dengan media online YIM mengatakan bahwa dirinya masih tetap bisa mengkritik Soeharto meski jadi penulis naskah pidato Soeharto. Wagu bukan? Enggak sih biasa saja, karena politik adalah sesuatu yang hehe dan biasa saja.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.