Polemik Zonasi, Akibat Belum Merata Pendidikan Berkualitas di Indonesia

Polemik Zonasi, Akibat Belum Merata Pendidikan Berkualitas di Indonesia

Oleh: Hardita Amalia, S.Pd.I., M.Pd.I
(Mom of Two, Dosen STAI PTDII Jakarta, Penulis Buku Anak, Muda Keren Akhir Zaman Qibla Gramedia,Peneliti dan Anggota Adpiks, Pemerhati Pendidikan, Konsultan Parenting, Founder Sekolah Ibu Pembelajar)

Kebijakan penyelenggaraan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dengan sistem zonasi menuai polemik di tengah-tengah masyarakat. Bahkan menuai protes serta aksi penolakan di tengah-tengah masyarakat. Mengutip dari kompas.com (20/06/2019) Ratusan wali murid yang tergabung dalam Komunitas Orang Tua Peduli Pendidikan Anak (KOMPAK) meminta pemerintah menghentikan proses PPDB dengan sistem zonasi dan mendesak Mendikbud Muhadjir Effendy segera dicopot.

Sementara itu, beberapa kepala SMPN di Kendal Jawa Tengah mengaku masih kekurangan murid setelah kebijakan sistem zonasi diberlakukan. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Magelang, Taufiq Nurbakin, menyatakan sebanyak 20 Sekolah Dasar (SD) Negeri di Kota Magelang yang masih kekurangan siswa setelah Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2019/2020 ini.

Sistem Zonasi bermasalah, belum meratanya pendidikan berkualitas di Indonesia.

Mengutip dari detiknews.com (21/06/2019) Sistem zonasi berawal dari tujuan baik Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy meyakinkan bahwa tujuan diterapkan sistem zonasi dalam penerimaan siswa baru semata untuk memperbaiki wajah pendidikan di tanah air. Praktik dalam pendidikan selama ini seperti ada kastanisasi. Siswa dari keluarga yang mampu dan pintar berkumpul dalam satu sekolahan favorit Sementara siswa dari keluarga kurang mampu dengan kemampuan akademik pas-pasan berkumpul di sekolahan non favorit. Hal ini pasti akan menimbulkan dampak negatif bagi anak didik. Mereka, siswa di sekolah yang dianggap unggul akan merasa menjadi nomor 1 dan lebih unggul dari anak didik di sekolahan lain.

Namun menurut penulis niat baik pemerintah nyatanya belum berkorelasi dengan kualitas pendidikan berkualitas yang belum merata di Indonesia hingga munculnya polemik penerapan sistem zonasi yang di protes oleh berbagai kalangan masyarakat yang dinilai merugikan.

Menurut penulis sistem zonasi yang diterapkan dengan kualitas pendidikan yang bagus dan merata tidak akan memunculkan problem karena di beberapa negara sudah diterapkan  zonasi sekolah yakni di Australia, Inggris dan Jepang. Menurut penulis, bila melihat kondisi pendidikan di Indonesia, problematika pendidikan sangat kompleks diantaranya mahalnya biaya pendidikan di Indonesia, banyak masyarakat yang ingin masuk sekolah negri selain ingin mendapatkan biaya yang lebih murah juga ingin mendapatkan akses pendidikan yang bagus selain itu karena menilai sekolah swasta mahal,apalagi bila sekolah swasta yang berkualitas berkorelasi dengan biaya besar yang harus dikeluarkan orang tua peserta didik.

Bila berkaca pada pendidikan anak, Indonesia ternyata masuk dalam 15 besar negara dengan biaya pendidikan termahal menurut survey yang dilakukan oleh HSBC. Indonesia berada di peringkat 13, sementara posisi pertama diduduki oleh HongKong. Bahkan dalam laporan Kilasan Kinerja 2018 Kemdikbud, disebutkan bahwa mayoritas SMA dan SMK belum punya laboratorium IPA. Laporan itu juga mencatat bahwa dari sekitar 1,7 juta ruang kelas di seluruh Indonesia, sekitar 1,2 juta atau 69 persen di antaranya tergolong rusak. Menurut data Kemdikbud tahun 2018, ada sekitar 1 juta ruang kelas untuk kegiatan belajar–mengajar SD di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, ruang kelas yang kondisinya tergolong baik hanya sekitar 280 ribu. Sekitar 600 ribu ruang kelas lain tergolong rusak ringan, 81 ribu rusak sedang, dan 107 ribu rusak berat. Artinya, dari seluruh ruang kelas SD di Indonesia sekitar 74 persennya tergolong rusak.

Maka menurut penulis menjadi boomerang bagi pemerintah bila sistem zonasi tetap diberlakukan, tanpa perbaikan utama pada sistem pendidikan,sarana infrastruktur yang memadai terutama bagaimana visi misi pendidikan yang unggul paripurna tanpa dikotomisasi diterapkan.

Pendidikan Islam manivestasi solusi problem pendidikan saat ini.

Islam adalah agama yang memiliki aturan yang komprehensif termasuk dalam bidang pendidikan. Kita menyaksikan bagaimana ketika Islam diterapkan secara sempurna hingga dalam berbagai aspek kehidupan. Islam menjadi mercusuar ilmu di dunia. Mengutip tulisan prof fahmi amhar bahwa ada 14 penemuan terpenting yang dipilih dari situs Science Museum of Univ. of Manchester (www.1001inventions.com), yakni penemuan menulis dengan pena tidak ada pendidikan tanpa tulis-menulis.  Fountanin pen (pena cair) diciptakan untuk Sultan Mesir pada 953 M setelah ia menuntut pena yang tidak akan menodai tangan atau pakaian. Pena tersebut menyimpan tinta dalam sebuah reservoir dan sebagai pena modern, ia bekerja dengan sistem gravitasi dan sistem kapiler. Ratusan tahun setelah itu, di Eropa orang masih saja harus menulis dengan bulu ayam yang tetesan tintanya akan sering menodai kertas atau tangan mereka.

Kemudian sistem angka mungkin berasal dari India tapi sistem  penjabaran angka berasal dari Arab dan pertama kali muncul dalam karya Al-Khwarizmi dan Al-Kindi sekitar tahun 825 M. Isi buku al-Khawarizmi, Al-Jabr wa-al-Muqabilah, masih dipakai hingga kini. Karya ini dibawa ke Eropa 300 tahun kemudian oleh matematikawan Italia, Fibonacci. Algoritma dan banyak teori trigonometri datang dari dunia Muslim. Dan penemuan Al-Kindi mengenai analisis frekuensi telah menciptakan dasar ilmu kriptologi modern. termasuk penemuan perangkat bedab berasal Rumah sakit modern tidak terbayangkan tanpa unit bedah.  Banyak peralatan bedah modern yang desainnya persis dengan yang dibuat abad 10 oleh Abu Qosim Az-Zahrawi. Pisau bedah, gergaji tulang, tang, gunting halus untuk bedah mata dan sebanyak 200 alat ciptaannya tetap di pakai oleh  ahli bedah modern. Dialah yang menemukan Catgut, alat yang digunakan untuk jahitan internal yang dapat melarutkan diri secara alami (penemuan itu terjadi ketika seekor monyet menelan senar kecapinya) dan ternyata benda tersebut juga dapat digunakan untuk membuat kapsul obat. Pada abad ke-13, petugas medis Muslim lainnya bernama Ibn Nafis menjabarkan tentang sirkulasi darah, 300 tahun sebelum William Harvey menemukannya. Muslim dokter juga menemukan obat bius dari campuran opium dan alkohol dan menemukan jarum berongga yang dipakai untuk menyedot katarak dari mata, sebuah teknik yang masih digunakan sampai saat ini.

Dan tidak hanya itu fasilitas pendidikan juga loyalitas negara pada imperium Islam terhadap pendidikan begitu luar biasa. Rekaman jejak emas masa peradaban Islam hingga sekarang masih ada dan bahkan bisa ditemukan dalam banyak catatan-catatan sejarah yang ditulis oleh orang non-muslim. Sebagai contoh adalah apa yang dikatakan Will Durant seorang sejarawan barat. Dalam buku yang dia tulis bersama Istrinya Ariel Durant, Story of Civilization, dia mengatakan, “Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama beradab-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka”.

Islam sangat memperhatikan agar rakyatnya cerdas. Anak-anak dari semua kelas sosial mengunjungi pendidikan dasar yang terjangkau semua orang. Negaralah membayar para gurunya. Selain 80 sekolah umum Cordoba yang didirikan Khalifah Al-Hakam II pada 965 M, masih ada 27 sekolah khusus anak-anak miskin. Di Kairo, Al-Mansur Qalawun mendirikan sekolah anak yatim. Dia juga menganggarkan setiap hari ransum makanan yang cukup serta satu stel baju untuk musim dingin dan satu stel baju untuk musim panas.Bahkan untuk orang-orang badui yang berpindah-pindah, dikirim guru yang juga siap berpindah-pindah mengikuti tempat tinggal muridnya.

Seribu tahun yang lalu, universitas paling hebat di dunia ada di Gundishapur, Baghdad, Kufah, Isfahan, Cordoba, Alexandria, Cairo, Damaskus dan beberapa kota besar Islam lainnya. Perguruan tinggi di luar khilafah Islam hanya ada di Konstantinopel yang saat itu masih menjadi ibukota Romawi Byzantium, di Kaifeng ibukota China atau di Nalanda, India. Di Eropa Barat dan Amerika belum ada perguruan tinggi.

Selain itu dikenal juga dengan istilah kuttab yang menjadi tempat belajar dan dibangun di samping masjid. Menurut Ibnu Haukal, di satu kota saja dari kota-kota Sicilia ada 300 kuttab, bahkan ada beberapa kuttab yang luas dan mampu menampung hingga ratusan bahkan ribuan siswa.

Maka,Betapa Visi Misi Pendidikan memiliki impact besar dalam implementasi penerapannya dan Islam menjadi solusi tak hanya sebagai solusi mengatasi problematika pendidikan namun menerapkan Islam secara paripurna adalah kewajiban dan bukti kecintaan kita kepada Allah serta konsekuensi keimanan. Maka hanya dengan Islam Indonesia mampu menjadi mercusuar ilmu di dunia.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close X