Responsive image

Pesan Audio Terbaru Syeikh Ayman al Zawahiri “Maju Menuju Syam”

Pesan Audio Terbaru Syeikh Ayman al Zawahiri “Maju Menuju Syam”

opini-pesan-audio-syeikh-ayman-al-zawahiri-go-forth-to-the-levant-120-lJURNALISLAM.COM – Al Qaeda telah merilis pesan audio baru dari Syeikh Ayman al Zawahiri berjudul, “Go Forth to The Levant (Maju Menuju Syam).” Rilisan audio berdurasi pendek hanya lebih dari sepuluh menit. Pesan audio baru tersebut disebarkan melalui media sosial kemarin, Ahad (08/05/2016).

Amir Al Qaeda sekali lagi menegaskan upayanya untuk membangun sebuah Imarah Islam di Suriah. Dan beliau melontarkan pujian pada Jabhah Nusrah, yang secara terbuka menyatakan setia kepadanya.

Syeikh Zawahiri memulai dengan mengatakan bahwa “Syam hari ini adalah harapan umat Muslim [kaum muslim di seluruh dunia],” karena merupakan satu-satunya “revolusi rakyat” sejak “Arab Spring yang mengikuti jalan yang benar,” yang membutuhkan dakwa (proselitisasi) dan jihad untuk mendirikan “khilafah dengan petunjuk kenabian.”

Sepanjang pembicaraannya, Syeikh Zawahiri memperlihatkan perbedaan Imarah Islam yang mereka harapkan akan tegak di Suriah dengan Imarah yang ditegakan oleh “Khawarij,”. Al Qaeda dan faksi-faksi jihadis lainnya menolak proyek Baghdadi, dengan alasan bahwa itu bukan khalifah yang sesuai petunjuk kenabian.

Amir Al Qaeda mengatakan bahwa merupakan “kewajiban” semua Muslim hari ini untuk “membela jihad di Syam melawan” berbagai “konspirasi” yang dipimpin oleh Amerika, Inggris dan Arab Saudi. Kelompok lain berusaha “mendirikan sebuah rezim” berdasarkan Islam, tetapi hanya Islam versi “palsu” karena menyetujui “sekularisme” dan “nasionalisme,” Syeikh Ayman Zawahiri memperingatkan.

Dan pesan terbaru Zawahiri menunjukkan, sekali lagi, bahwa tujuan utama Al Qaeda di Suriah adalah untuk melancarkan perang gerilya sampai rezim Syiah Nushairiyah Bashar al Assad digulingkan. Setelah itu al Qaeda dan cabang-cabang serta afiliasinya dapat membangun imarah Islam di atas jasad Assad.

Syeikh Zawahiri mengatakan bahwa “tugas kita hari ini” adalah berjuang untuk “kesatuan mujahidin” hingga Syam “dibebaskan” dari rezim “Nusayri” dan mitra Syiah mereka lainnya (Syiah Hizbullah Iran dan Libanon), serta “Tentara Salib” Western dan Rusia. Tujuannya adalah untuk membangun sebuah “entitas” Islam yang dipandu dengan benar.

Pemimpin al Qaeda mendesak para mujahidin untuk bersatu di Suriah, mengatakan bahwa itu adalah masalah “hidup dan mati” bagi mereka.

Mengacu pada laporan bahwa Jabhah Nusrah akan mematahkan bay’ah (kesetiaan) nya dengan Al-Qaeda, Zawahiri bertanya secara retoris apakah ini akan memuaskan para musuh-musuh.

Syeikh Ayman Zawahiri membantah laporan tersebut dan menjelaskan lebih lanjut jika pembatalan bay’ah tersebut terjadi, akan menyebabkan Jabhah Nusrah dipaksa untuk tunduk dengan perjanjian memalukan sebagai bagian dari sikap menyerah kepada pemerintah korup di wilayah tersebut.

Syeikh Zawahiri memperingatkan bahwa ini adalah jalan busuk demokrasi, yang merupakan awal kejatuhan faksi-faksi Islam lainnya, seperti Front Keselamatan Islam di Aljazair dan Ikhwanul Muslimin di Mesir, dan menyebabkan anggota mereka dijebloskan ke penjara.

Syeikh Zawahiri mengatakan dirinya dan al Qaeda menghargai hubungan mereka dengan Jabhah Nusrah yang berharga dan ia memohon kepada Allah untuk meningkatkan ketabahan dalam menghadapi makar musuh-musuhnya.

Beliau kemudian sampai ke inti permasalahan, mengulangi apa yang telah dia dan pasukannya buat di masa lalu: Al Qaeda sedang berjuang untuk menegakkan sebuah imarah Islam berdasarkan versi syariah. Hanya dengan itu misi al Qaeda tercapai.

“Kami telah berulang kali mengatakan kepada rakyat Syam dan terutama kepada mujahidin pemberani dan diberkati, yaitu jika mereka membangun pemerintahan Muslim dan memilih seorang imam, maka apa yang mereka pilih adalah apa yang kita pilih,” Syeikh Zawahiri mengatakan, menurut terjemahan yang diperoleh oleh The Long War Journal. Dia berpendapat bahwa pasukan al Qaeda bukanlah “pejuang kekuasaan” yang ingin menguasai orang lain, tetapi “pejuang hukum syariah” yang ingin “memerintah Muslim” di bawah Dien Islam.

Syeikh Zawahiri menyerukan kepada mujahidin untuk bersatu di Syam, sehingga mereka dapat “membangun pemerintahan mujahid Islam yang mendapat petunjuk.” Keadaan seperti itu pada akhirnya akan mengarah ke “kembalinya kekhalifahan” menurut “manhaj kenabian.”

Organisasi “afiliasi” tidak akan “menjadi hambatan” untuk mencapai tujuan ini, Syeikh Zawahiri menegaskan, karena al Qaeda merupakan bagian dari “umat” dan “bukan bagian dari penguasa.” Dia mengambil contoh lain di Negara Islam, mengatakan al Qaeda tidak memerlukan bay’ah kepada “orang tak dikenal” atau “Khalifah dadakan,” yang berarti Baghdadi.

“Kami di al Qaeda tidak menerima janji kesetiaan kecuali yang diberikan dengan senang hati (kerelaan), dan juga tidak memaksa pada siapa pun,” kata Zawahiri, menurut terjemahan yang diperoleh oleh The Long War Journal. Dia menunjukkan perbedaan langsung ke “neo-Khawarij” di Islamic State, yang mengancam untuk membunuh orang jika mereka tidak menyatakan janji setia mereka.

Penjelasan Syeikh Zawahiri mengenai tujuan al Qaeda dan hubungannya dengan Jabhah Nusrah sepenuhnya konsisten dengan yang dikatakan para pemimpin al Qaeda di masa lalu.

Dalam sebuah wawancara televisi pada bulan Desember, misalnya, amir Jabhah Nusrah Syeikh Abu Muhammad al Jaulani menjelaskan bahwa kelompoknya akan berhenti menjadi al Qaeda hanya ketika mereka meraih kemenangan mutlak. Jika para jihadis menang dan membentuk pemerintahan Islam yang diharapkan, maka tidak akan ada kebutuhan akan adanya al Qaeda. Syeikh Jaulani mengutip perkataan Zawahiri dalam penjelasannya.

“Jika Syam dibebaskan, dan jika umat Islam bersatu dalam pemerintahan Islam yang dipandu, negara Muslim yang dipandu yang memberlakukan syariah Allah Swt, saya akan menjadi prajurit pertama pemerintahan seperti itu, dan saya akan tunduk di bawah yurisdiksinya, “kata Syeikh Zawahiri sebelumnya, menurut Syeikh Jaulani.

“Bahkan Dr Ayman al Zawahiri akan menjadi prajurit yang melayani di bawah komando pemerintah seperti itu yang memaksa semua petunjuknya berasal dari Islam,” kata Syeikh Jaulani. Dan jihadis Jabhah Nusrah ini akan menjadi prajurit pertama yang bekerja di bawah komando pemerintahan seperti itu juga.

Beberapa pendapat yang mengklaim bahwa kata-kata Syeikh Zawahiri menyiratkan perpecahan antara Jabhah Nusrah dan kepemimpinan senior al Qaeda. Tapi pesan terbarunya, dan penjelasan Syeikh Jaulani diatas ternyata tidak mendukung interpretasi seperti itu.

Buka link audio disini: https://m.youtube.com/watch?v=dHJ_PvUAgMk

 

Deddy | TLWJ | Jurnalislam

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close X