Pembinaan Akhlak Bangsa Harus Dilakukan Praktis

Pembinaan Akhlak Bangsa Harus Dilakukan Praktis

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Bagi Prof Dr KH Fahrurrozi Dahlan MA, buku panduan atau pedoman itu harus praktis dan simpel. Pelatihan harus aplikatif dengan mengedepankan aspek praktis, bukan lagi pada level menghafal.

Demikian Guru Besar Ilmu Komunikasi dan Dakwah UIN Mataram sampaikan pada Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Pusat Dakwah dan Perbaikan Akhlak Bangsa (PDPAB) MUI di Jakarta, Ahad (12/09/2021).

Pada FGD bertema Penguatan Literasi Metodologi Penyusunan Buku Pedoman dan Modul Training Akhlak Bangsa PDPAB MUI, Fahrurrozi menjadi narasumber bersama Dr (c) Hj Badriyah Fahyumi Lc MA dan Prof Dr H Abdul Mujib MAg MSi (Guru Besar Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).

“Tentu ini tidak bisa santai, harus serius,” kata Fahrurrozi terkait dengan penyusunan buku pedoman dan modul training perbaikan akhlak bangsa itu.

Menurutnya, ada tiga ranah dalam penyusuan buku pedoman dan modul training ini, yakni sistemik, aksiologi, dan ontologis. Fahrurrozi mengatakan, Buku Pedoman PDPAB ini harus jelas orientasinya.

“Pengertian, baik terminologi dan struktur-struktur materi yang muncul dalam kajian buku pedoman itu harus jelas sistemik, harus jelas epistomologi,” kata dia.

Dengan demikian, lanjut Fahrurrozi, peserta bisa memahami secara komprehensif apa yang akan disampaikan oleh pemateri, narasumber, da’i itu sendiri. “Itu rukun pertamanya,” kata dia.

 

Adapun mengenai aksiologi, Fahrurrozi menjelaskan, tujuan utama penyusunan buku itu harus jelas, deskriptif, dan komprehensif. “Diorientasikan untuk siapa itu termasuk aksiologis,” ujarnya.

Kemudian yang tak kalah pentinya adalah ontologisnya. Menurutnya, sasaran pengguna buku ini harus jelas. Hal ini berkaitan dengan materi yang sesuai dengan objek pengguna. “Materi, tujuan dan substansinya apa?” kata dia.

Fahrurrozi mengatakan, materi dalam training harus terukur dan terstruktur. Kompetensi utama peserta yang dihatapkan juga harus muncul. Contohnya, peserta mampu memahami, menganalisa, dan mempraktikkannya.
Modul juga, tambah dia, harus aplikatif dan metode pembelajarannya jelas. “Ada evaluasi, tidak jauh beda dengan buku-buku modul pembelajaran,” kata Fahrurrozi.

Tugas berat PDPAB, menurut dia, adalah memilih materi-materi dalam pelatihan. Materi tidak lagi persoalan-persoalan kognitif yang bicara tentang definisi, tapi lebih kepada praktik penerapan akidah.
Hal tersbut juga menjadi tantangan lain. “Di saar praktik jauh lebih dominan daripada menghafal, dsb, maka harus expert (ahli) dalam memahami karakternya,” kata Fahrurrozi yang mengaku siap bergabung untuk menyusun buku pedoman dan modul PDPAB.

 

Pada sesi tanya jawab, Prof Fahrurrozi kembali menekankan tentang pembangunan karakter dengan model pembelajaran yang aplikatif. Dia pun merujuk pada Alquran surat Al Ashr.

Diskusi yang dimoderatori Sekretaris PDPAB KH Nurul Badruttamam MA itu dibuka Ketua PDPAB MUI Dr KH Masyhuril Khamis MM. Menurut Masyhuril, ada beberapa segmen yang menjadi sasaran buku pedoman dan modul training.

Segmen tersebut di antaranya, remaja, termasuk milenial, kemudian perkantoran, badan atau lembaga, majelis taklim, dan segmen lainnya.  (mui)

 

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close X