Responsive image

Pakar Beberkan Strategi Bendung Gerakan Syiah di Indonesia

Pakar Beberkan Strategi Bendung Gerakan Syiah di Indonesia

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Anggota Dewan Pakar Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Pusat, Prof. Dr. Asep Warlan memaparkan empat strategi untuk membendung gerakan Syiah di Indonesia. Menurutnya, saat ini Syiah telah mencampuri urusan pengambilan kebijakan dalam bidang politik, pendidikan, kebudayaan, ekonomi, bahkan dunia hiburan.

Kondisi itu, kata dia, disebabkan oleh demokrasi liberal yang dianut pemerintahan ini yang melonggarkan Syiah memasuki lembaga-lembaga vital tersebut.

“Secara konspetual, ada empat strategi yang harus dijalankan, yang pertama yaitu pendekatan kultural,” katanya dalam Mudzakarah Nasional II ANNAS di Bandung, Ahad (14/5/2017).

Prof. Asep menjelaskan, pendekatan kultural adalah pendekatan bersifat persuasif yang akan memudahkan setiap orang untuk melakukannya.

“Meyakinkan, memahamkan betapa bahayanya akidah Syiah, apa konsekwensi jika Syiah dibiarkan, dll. Ini adalah pendekatan persuasif, edukatif yang bisa dijalankan semua pihak tanpa harus melembaga,” jelasnya.

Kedua, pendekatan politik. Pendekatan ini didasarkan pada keprihatinan ANNAS terhadap longgarnya kualifikasi dari partai politik kepada kader-kadernya. Oleh sebab itu, ANNAS membuat buku pedoman tentang kriteria calon pemimpin yang harus dipilih oleh umat.

“Kami di ANNAS memberikan semacam arahan, pedoman bahwa kalau ada calon yang berafiliasi atau pro Syiah itu jangan dipilih,” tegasnya.

Ketiga, pendekatan ekonomi. “Kita juga membangun kesadaran para agniya bahwa masyarakat kita itu perlu dibantu ekonominya. Saya kira ini akan efektif, sebab Syiah selalu memberi iming-iming sembako, beasiswa, bantuan pembangunan dalam penyebarannya,” tambah Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Parahyangan itu .

Terakhir, tekanan public (public pressure). Menurut Prof. Asep, kekalahan Ahok dalam pilkada DKI adalah pukulan memalukan bagi para pendukungnya. Sebab, selain petahana, Ahok juga dibekingi langsung oleh negara dan para konglomerat. Kekuatan yang luar biasa itu akhirnya dikalahkan oleh perjuangan umat Islam.

“Jadi public pressure menjadi sangat penting dalam konteks ini,” katanya.

Bagikan
Close X