Warga Diimbau Isi Tahun Baru dengan Berzikir

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Wali Kota Bandung, Oded M Danial, mengimbau masyarakat Kota Bandung untuk menghabiskan malam tahun baru 2019 dengan cara bermuhasabah di masjid yang berada dilingkungan tempat tinggal.

Dia meminta warga mengisi malam tersebut dengan kegiatan produktif.

“Imbauan saya pribadi, saya senangnya hindari keluar malam karena kalau sudah keluar malam rawan. Sebaiknya di malam tahun baru itu ciptakan program sifatnya positif apakah bisa dengan muhasabah di masjid,” ujar dia akhir pekan lalu.

Menurutnya, warga bisa berkumpul di wilayah masing-masing melaksanakan kegiatan yang positif. Dia menginginkan agar tidak terdapat kegiatan yang terpusat pada satu titik keramaian.

Oded menambahkan, pihaknya mengimbau agar semua masyarakat Kota Bandung jelang Natal bisa menciptakan situasi keamanan yang kondusif dengan cara menghormati umat yang tengah beribadah.

“Saya mengimbau jelang natal karena Bandung rumah bersama dan kita mengharapkan Bandung menjadi Kota kondusif,” katanya.

Jelang Natal dan tahun baru, menurutnya aparat kepolisian akan melaksanakan operasi lilin. Pihaknya pun bersama Kapolrestabes Bandung telah mendapatkan arahan dari pemerintah pusat sehingga bersama forum pimpinan daerah akan bersinergis menjalankan pengamanan.

Sumber: republika.co.id

 

MUI Minta Pemerintah Bersuara Lantang Soal Uighur

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri, KH Muhyiddin Junaidi, menuturkan pemerintah Indonesia perlu bersuara lantang terkait masalah Uighur di Xinjiang, Cina.

Menurutnya pemerintah jangan terlalu menggunakan ‘constructive engagement diplomacy.

 “Tapi sedikitlah naik ke atas (megaphone diplomacy), agar lantang. Tapi karena kita punya protocol of ASEAN, yang memang jelas mengatakan tidak boleh intervensi. Makanya kita tidak menggunakan megaphone diplomacy,” kata dia di kantor MUI, Jakarta, Selasa (17/12).

Muhyiddin mengakui, sebetulnya Indonesia tidak boleh mengintervensi kebijakan negara lain, tetapi, dia mengingatkan bahwa ada pengecualian untuk masalah hak asasi manusia.

Sebab dia menilai masalah HAM itu tidak punya batasan. Apalagi masalahnya sudah sangat jelas dan terekspos ke dunia internasional.

Menurut dia, yang menjadi sasarannya adalah umat Islam, dan sangat tepat kalau Indonesia sudah melakukan sesuatu. Apalagi Indonesia menduduki posisi di Dewan Kehormatan PBB.

“Dan sangat terhormat posisinya di Organisasi Kerjasama Islam, saya pikir sudah tepat sekali kalau sudah melakukan sesuatu,” tutur dia.

sumber: republika.co.id

Cuitan Ozil dan Pentingnya Dakwah di Media Sosial

Oleh: Willy Azwendra M.Ag
Dosen Prodi Komunikasi & Penyiaran Islam STAI PTDII Jakarta

Beberapa hari yang lalu umat Islam di seluruh dunia dikejutkan dengan Postingan dari akun media sosial pesebakbola terkenal Mesut Ozil (Pemain Arsenal dan Timnas Jerman). Ozil mendapat kritik dan kecaman dari masyarakat China. Kritikan tersebut dikarenakan Mesut Ozil yang secara tegas dan berani dalam menanggapi penindasan yang dilakukan pemerintah Komunis Cina terhadap kaum minoritas Uighur.

Mantan pemain andalan Timnas Jerman ini menyatakan dukungannya secara tegas untuk Uighur. Dilansir dari Wikipedia, Uighur merupakan salah satu suku minoritas resmi di Republik Rakyat Tiongkok. Suku ini merupakan keturunan dari suku kuno Huihe yang tersebar di Asia Tengah, menuturkan bahasa Uighur dan memeluk agama Islam.

Selain Republik Rakyat Tiongkok, populasi suku ini juga tersebar di Kazakhstan, Kyrgystan dan Uzbekistan. Suku Uighur bersama suku Hui menjadi suku utama pemeluk Islam di Tiongkok, tetapi ada perbedaan budaya dan gaya hidup yang kentara di antaranya. Suku Uighur lebih bernafaskan Sufi sedangkan suku Hui lebih pada mazhab Hanafi. Suku Uighur terutama berdomisili dan terpusat di Daerah Otonomi Xinjiang (Sumber : Wikipedia)

Salah satu kalimat cuitannya adalah “(Di China) Quran dibakar, masjid ditutup, sekolah teologi Islam-madrasah dilarang, cendikiawan dibunuh satu per satu. Terlepas dari itu semua, Muslim tetap diam,” tulis mantan pemain Real Madrid ini di akun media sosialnya akhir pekan lalu.

Berikut Postingan lengkap Mesut Ozil terkait penindasan terhadap Muslim Uighur :
“Turkistan Timur. Luka berdarah umat. Mereka melawan kekuatan yang coba memisahkan mereka dari agama mereka. Para laki-laki ditahan di kamp, sementara keluarga mereka dipaksa hidup dengan orang-orang China. Para wanita juga dipaksa menikah dengan orang China,”
“Tak tahukah mereka bahwa menutup mata terhadap penindasan adalah sesuatu yang keji? Tak tahukah mereka bahwa bukan derita saudara-saudara kita yang akan dikenang, melainkan sikap diam kita? Oh, Tuhan, tolong saudara-saudara kami di Turkistan Timur,” ucap Ozil.

Melihat sikap Ozil tersebut, betapa salutnya kita atas kepedulian Mesut Ozil terhadap agama yang dianutnya yaitu Islam. Ozil yang sudah terbiasa hidup di lingkungan minoritas Islam tentu lebih merasakan bagaimana rasanya hidup sebagai muslim yang minoritas. Cuitan Mesut Ozil ini merupakan tamparan keras bagi umat Islam di seluruh dunia termasuk Negara-negara yang mayoritas Islam yang terkesan Diam dan kurang vokal dalam menyampaikan kebenaran. Inilah dakwah yang sesungguhnya, karena sejatinya dakwah adalah menyeru umat untuk berbuat baik, menyampaikan kebenaran dan mencegah berbuat kemungkaran.

Pentingnya Dakwah di Media Sosial

Perkembangan teknologi komunikasi yang semakin canggih di era globalisasi saat ini memiliki dampak langsung terhadap semua orang di dunia. Di masa lalu orang tidak mengenal apa itu internet, tetapi sekarang zaman telah berbeda, di mana hampir semua orang, termasuk kelas menengah ke bawah, akrab dengan teknologi komunikasi media sosial, terutama WhatsApp, Facebook, Twitter dan Instagram.

Saat teknologi internet dan mobile phone makin maju, maka media sosial pun ikut tumbuh dengan pesat. Dengan kemajuan media sosial saat ini, para Ustadz dan para Da’i juga semakin gencar melakukan dakwahnya di media sosial, istilahnya Fastabikul Khoirot atau berlomba-lomba dalam kebaikan.

Internet memang memberikan banyak kemudahan bagi penggunanya. Dengan internet kita dapat mengakses informasi secara mudah, cepat, dan terkini. Berbagai situs dalam internet seolah menjadi candu masyarakat dimana mereka menjadi mengandalkan internet untuk kepentingan hidup mereka. Baik itu kepentingan yang bersifat positif dan bermanfaat, tetapi ada juga yang memanfaatkan internet untuk kepentingan yang sifatnya negatif bahkan berdampak buruk bagi orang dan masyarakat.

Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.

Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai “sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi”. Artinya media sosial bisa mempengaruhi cara berpikir dan cara pandang para penggunanya yang pada akhirnya juga bisa mengubah kehidupan umat manusia ke jalan yang lebih baik jika mampu menyikapi dan memanfaatkan media sosial dengan baik dan bijak.

Dakwah sangat diperlukan sebagai penyeimbang atau pembatas dalam melakukan hal apapun di dalam media sosial. Penyebaran nilai-nilai Islam tidak terlepas dari peran seorang pemuka agama atau Da’i dalam menyampaikan dakwah. Dakwah merupakan suatu kegiatan mengajak, mendorong, dan memotivasi orang lain untuk mengikuti jalan Allah dan istiqomah dijalannya serta berjuang bersama meninggikan agama Allah SWT.

Hal lain yang mendukung munculnya dakwah melalui media sosial adalah karena banyaknya masyarakat yang masih awam tentang pengetahuan agama, sehingga menjadikan para ulama berinisiatif untuk melakukan dakwah melalui media sosial dengan tujuan mengajak masyarakat untuk lebih memanfaatkan internet sebagai suatu wadah untuk menambah ilmu pengetahuan dan menyampaikan kebaikan.

Firman Allah SWT tentang Dakwah:
“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Maha Tahu tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS an-Nahl (16): 125).

Dalam perspektif dakwah Islam, semua sarana seharusnya dapat digunakan untuk penyebaran dakwah Islam termasuk lewat media sosial. Melihat kondisi sekarang, baik itu anak-anak sampai orang dewasa memiliki ketergantungan dengan internet dan tidak sedikit yang terjerumus dalam hal-hal yang negatif. Untuk itu bagi siapapun dan para pendakwah khususnya, hendaknya menyampaikan nilai-nilai positif dan mengajak pada kebaikan lewat media sosial agar mendatangkan manfaat untuk banyak orang.

Dapat disimpulkan bahwa media sosial diibaratkan sebagai pisau, Jika digunakan untuk memotong buah-buahan, daging, dan sayuran tentu sangat berguna dan bermanfaat bagi manusia dalam mengolah bahan makanan, tetapi jika digunakan untuk mengancam, meneror, bahkan membunuh orang maka hal ini akan berdampak buruk, bahaya dan merugikan orang lain.

Jika media sosial digunakan untuk menyebarkan foto-foto, tulisan-tulisan seperti yang dilakukan oleh Mesut Ozil, tentu sangat baik dan berdampak baik juga untuk banyak orang. Tetapi jika digunakan untuk menyebarkan kebohongan, fitnah, adu domba dan lain sebagainya, maka ini bisa merugikan dan berdampak buruk bagi semua.

Dulu selain Ozil, mantan rekan satu timnya di Club Real Madrid yaitu Cristiano Ronaldo juga pernah beberapa kali melihatkan sikap penentangannya terhadap pembantaian yang dilakukan oleh Pemerintah Zionis Israel kepada rakyat Palestina.

Betapa pentingnya dakwah dilakukan di media sosial. Hanya dengan menggerakkan jari, kita bisa mengajak, menasehati, dan memotivasi banyak orang untuk berbuat kebaikan. Mungkin kita tidak sadar dengan apa yang kita sebarkan di media social sangat berpengaruh dan berdampak besar bagi orang-orang yang cinta akan kebaikan dan kedamaian. Kebaikan-kebaikan yang disampaikan dalam media sosial merupakan penyeimbang dari hal-hal negatif yang disebarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab di media sosial. Kalimat penutup yang pas adalah kebenaran harus disampaikan dan penindasan harus dihentikan.

Wapres Minta Cina Lebih Terbuka Soal Uighur

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin meminta Pemerintah Cina terbuka kepada masyarakat internasional terkait masalah Uighur. Ini untuk menjawab tudingan Pemerintah Cina melakukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) kepada masyarakat Muslim di Uighur.

Salah satunya isunya, yakni penahanan anggota etnis Uighur dalam kamp reedukasi di Xinjiang.

“Kami minta lebih terbuka, Cina lebih terbuka, dan Cina telah memberikan alasannya bahwa kamp-kamp itu bukan untuk, indoktrinasi, tapi semacam pelatihan itu kata dia, kita minta lebih terbuka lah,” ujar Kiai Ma’ruf saat diwawancarai wartawan di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (17/12/2019).

Sebab, menurutnya, tertutupnya Pemerintah China terhadap Muslim Uighur menimbulkan spekulasi masyarakat di dunia terhadap kondisi di Uighur. Sebab, ia mengatakan, Pemerintah Indonesia konsisten untuk mendukung upaya perlindungan masyarakat muslim Uighur.

“Kalau pemerintah kan memang konsisten kalau soal perlindungan hak asasi manusia, kita akan mendukung upaya upaya perlindungan dan juga mengajak semua negara termasuk cina untuk melindungi hak asasi manusia jadi saya kira arahnya ke sana,” ujar Kiai Ma’ruf.

sumber: republika.co.id

 

#WeStandWithUyghur Terus Bertahan di Trending Topik

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kembali mencuatnya permasalahan terhadap muslim Uighur, membuat tagar #WeStandWithUyghur pada Selasa (17/12/2019) menempati trending topik no 2 di twitter Indonesia.

Pada Selasa (17/12/2019) pukul 16.40 wib, sekitar 120 ribu pengguna twitter ikut melambungkan tagar #WeStandWithUyghur.

Anggota DPR RI Fahira Idris ikut berkomentar terkait nasib muslim Uighur di Xinjiang, Cina. Ia mempertanyakan sikap pemerintah Indonesia yang dianggapnya tidak tegas dalam memperjuangkan nasib muslim Uighur.

“Sampai kapan Indonesia terus diam soal Uighur? #WeStandWithUyghur,” katanya, Selasa (17/12/2019).

“Sampai kapan Indonesia terus diam soal Uighur sementara di belahan dunia kecaman terus mengalir. Ini bukan soal mencampuri urusan politik negara lain, tetapi ini soal kemanusiaan yang menembus dan melampui batas-batas negara,” imbuhnya.

Sementara, @RicKY_KCh meminta masyarakat dunia untuk ikut peduli dengan kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Xinjiang.

“Kejahatan kemanusiaan diera modern yang tidak boleh kita biarkan demi kemanusian yang adil dan beradab,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Ketua PP Muhammadiyah Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Muhyiddin Junaidi menuturkan, kunjungan ke beberapa tempat meyakinkan bahwa di sana tidak ada kebebasan beragama.

“Seperti memakai jilbab di jalan umum itu dilarang dan disebut radikal. Kalau anda radikal, maka dikirim ke pusat pendidikan agar tidak berpaham radikal,” kata Muhyiddin dalam jumpa pers di Gedung PP Muhammadiyah, Jakarta, Senin (16/12/2019).

Mengukur Ketegasan Anies

Oleh:  Tony Rosyid

(Jurnalislam.com)–Anies gak tegas! Dari mana mengukurnya? Dia akademisi, asal kota Jogja dan banyak senyum. Semua itu mengesankan bahwa Anies adalah sosok yang tak tegas. Itulah stigma terhadap Anies Baswedan, gubernur Jakarta saat ini. Benarkah stigma itu? Mari kita lihat.

Mengidentikkan akademisi dengan ketidaktegasan tentu keliru. Tapi, tegasnya seorang akademisi tak bisa diukur dengan marah, suara keras, gebrak meja atau maki-maki orang. Itu bukan akademisi, tapi preman. Sikap seperti itu bukan karakter, atau malah aib bagi seorang akademisi.

Jogja juga tak bisa diidentikkan dengan ketidaktegasan. Kurang tegas apa Hamengkubuwono X ketika menolak warga keturunan China punya hak milik tanah di kota gudeg itu. Kalimat “penghianat” nampaknya menjadi alasan kebijakan itu. Ini soal sejarah. Sang Raja Jogja juga menolak dengan tegas pembangunan tol, karena tak ingin rakyatnya dibebani dengan biaya tambahan ketika menggunakan fasilitas umum. Jalan itu milik rakyat, dan negara wajib menyediakannya. Kenapa harus bayar? Bener juga bos…

Banyak senyum juga bukan berarti tidak tegas. Lihat Pak Harto, 32 tahun memimpin Indonesia dengan senyum. Siapa yang berani bilang Pak Harto gak tegas? Jadi, jangan buru-buru menilai Anies gak tegas lantaran banyak senyum.

Soal tegas tidaknya seseorang tidak ada kaitanya ia akademisi atau bukan. Hanya saja, kalau seorang akademisi, tetap berbasis pada aturan dan sangat mempertimbangkan aspek norma dan etika. Tegas juga tak ada hubungannya dengan asal daerah. Apalagi dengan senyum. Emang orang tegas gak boleh senyum? Harus bertampang galak, berwajah seram dan mata melotot? Ya enggaklah tong…

Ketegasan bisa dilihat dari kebijakannya. Jadi, tegas tidaknya Anies Baswedan mesti diukur bagaimana ia bersikap dan membuat kebijakan sebagai seorang gubernur.

Diawali dengan menutup reklamasi dan Alexis. Ini kelewat tegas. Sebab, terlalu besar risiko politiknya. Dengan menutup Alexis, juga reklamasi, Anies harus berhadapan dengan pihak oligarki. Tangan-tangan kekuasaan yang berkolaborasi dengan taipan. Kendati begitu, sejumlah pihak masih menganggap bahwa itu janji politik. Wajar kalau harus ditutup. Belum menunjukkan orisinalitas ketegasan, katanya. Karena itu, publik masih perlu bukti ketegasan sikap dan kebijakan Anies dalam hal yang lain. Sesuatu yang tak ada kaitannya dengan janji politik.

Pasca tutup Alexis, Anies juga tutup tiga salon-spa di Pondok Indah. Mereka menyalahgunakan ijin jadi bisnis esek-esek. Tetap belum juga dianggap sebagai gebrakan. Kenapa? Karena wajah Anies terlalu kalem. Masih butuh banyak bukti ketegasan yang lain. Mungkin beda jika wajah Anies agak sangar. Gak usah buat kebijakan apapun, yang penting marah sama lurah atau camat dan gebrak meja, pasti akan dianggap tegas. Begitu umumnya kita membuat standar ketegasan. Ngawur!

Hari senen lalu (16/12) Anies menunjukkan bukti lagi. Alumni UGM ini copot seorang lurah Jelambar. Pasalnya? Sang lurah merendam pegawai honorer Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PSSU) di got untuk memperpanjang kontraknya. Ini perlakuan yang sangat tidak manusiawi. Dapat laporan, lihat bukti, Anies langsung ekskusi. Gak pakai banyak omong. Tanpa perlu gebrak meja dan bicara di depan kamera, Anies ganti lurah tersebut.

Kabarnya, Anies pernah beberapa kali memecat anak buah. Mulai dari lurah, dirut BUMD, hingga kepala dinas. Hanya saja, Anies tak pernah mengumumkannya ke media. Ada sisi kemanusiaan yang selalu ia harus jaga. Jangan sampai “sudah jatuh ketiban tangga”. Sudah dipecat, masih juga dibuka aibnya ke publik. Tentu ini tak manusiawi. Sangat tidak etis. Pasti menyakiti perasaan yang bersangkutan, dan juga keluarganya. Anies paling tak suka melihat orang dipermalukan di depan publik.

Dan hari ini, Anies bikin gebrakan lagi. Copot plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud). Pasalnya? Plt Kepala Dinas ini memberi penghargaan Adikarya Wisata ke club malam atau diskotik Colosseum. Sebuah club malam yang sedang dalam investigasi terkait narkotika. Mengetahui hal itu, Anies pecat plt Kepala Dinasnya. Tetap dengan senyum dan tidak marah-marah.

Anies minta proses penilaian diusut. Jika ada yang lalai, kasih sanksi. Sebab, ini dianggap kesalahan fatal. Memberi penghargaan kepada diskotik yang bermasalah. Sengajakah plt Kepala Dinas itu untuk merusak nama Anies? Sedang dalam penyelidikan.

Info ini mencuat ke publik karena sudah terekspos di media dan viral di masyarakat beberapa hari ini. Tak lagi bisa dihindari. Terpaksa Buka-bukaan.

Mengapa Anies mencabut penghargaan itu, lalu perintahkan inspektorat untuk melakukan investigasi? Karena ada laporan masuk dari Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DKI tanggal 10 Oktober 2019 kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Bahwa diskotik colloseum sedang mendapatkan perhatian khusus terkait narkotika.

Jelas ada surat laporan masuk dari BNNP DKI, kok dikasih penghargaan, nekat itu namanya. Maka, harus diusut. Ini jadi pintu masuk buat Anies untuk membersihkan anak buah yang tak punya integritas dan loyalitas. Kesempatan Anies untuk bersih-bersih.

Kok ada tanda tangan Anies di sertifikat penghargaan itu? Bukan tanda tangan asli, tapi hasil cetak. Sah? Sah, selama ikuti aturan dan SOP. Dimana-mana berlaku proses ini. Alasan efisiensi. Abaikan SOP, itu pelanggaran. Dan sekarang, inspektorat sedang bekerja untuk melakukan investigasi terhadap adanya dugaan pelanggaran tersebut.

Apa yang dilakukan Anies adalah bagian dari sikap tegasnya sebagai gubernur DKI. Masyarakat Jakarta tentu senang dengan sikap Anies ini. Sayangnya, Anies bukan tipe pemimpin yang suka ekspos setiap ketegasan sikapnya. Takut Jakarta riuh dengan tepuk tangan. Gak enak sama tetangga sebelah. Yang mana? Ah, kepo!

Jakarta tempat para mafia, maka butuh gubernur yang tidak saja pintar, tapi juga berani, tegas dan berintegritas. Berintegritas itu artinya gak terlibat kasus Sumber Waras, bus way, reklamasi dan tanah Cengkareng. Gak main suap dan bagi-bagi hasil proyek. Dan Anies memenuhi kriteria itu. Ah mosok? Silahkan cari, buktikan dan laporkan. Nah, fair bukan?

Anies butuh support. Sebab, tak jarang kebijakannya harus mengahadapi risiko politik dan hukum. Bisa “diperkarakan”. Dicari-cari salahannya.

Jakarta tempat orang-orang kuat melakukan perlawanan jika kepentingannya terganggu. Mereka punya akses kekuasaan, memiliki kekuatan dana, pasukan darat (demonstran), juga pasukan udara (buzzer). Inilah yang selama ini harus dihadapi Anies. Begitulah risiko seorang pemimpin jujur.

Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Muhammadiyah ke Pemerintah Cina: Hentikan Segala Bentuk Pelanggaran HAM terhadap Uighur!

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Pengurus Pusat Muhammadiyah membantah telah melunak setelah diajak Cina mengunjungi Xinjiang. Menurut Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nashir, Muhammadiyah tetap konsisten menyuarakan isu Uighur, Rohingnya hingga Palestina.

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah mendesak pemerintah Cina agar lebih terbuka dalam akses informasi terkait Uighur.

“Pemerintah Tiongkok agar menghentikan segala bentuk pelanggaran HAM, khususnya kepada masyarakat Uyghur atas dalih apapun,”kata Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Dr. Abdul Mu’ti dalam keterangan yang diterima Jurnalislam.com, Senin (16/12/2019).

Muhammadiyah juga mendesak Pemerintah Tiongkok agar menyelesaikan masalah Uyghur dengan damai melalui dialog dengan tokoh-tokoh Uyghur dan memberikan kebebasan kepada Muslim untuk melaksanakan ibadah dan memelihara identitas.

“Menghimbau kepada warga Persyarikatan Muhammadiyah untuk konsisten menyikapi persoalan dengan cerdas, berpegang teguh pada khittah dan kepribadian Muhammadiyah, tidak terpengaruh berita media sosial yang menghasut dan tidak dapat dipertanggungjawabkan,” pungkasnya.

Diamnya Pemerintah Indonesia Soal Uighur Dinilai Bukti Ketergantungan terhadap Cina

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Anggota DPD RI Fahira Idris mendesak pemerintah buka mulut terkait pelanggaran HAM terhadap muslim Uighur di Xinjiang Cina.

Menurutnya, sudah saatnya Indonesia bersuara, bukan karena hanya Indonesia negara muslim terbesar di dunia, tetapi karena nilai-nilai kemanusiaan etnis Uighur dan minoritas muslim lainnya diduga kuat sedang dinjak-injak

“Sampai kapan Indonesia terus diam soal Uighur sementara di belahan dunia kecaman terus mengalir. Ini bukan soal mencampuri urusan politik negara lain, tetapi ini soal kemanusiaan yang menembus dan melampui batas-batas negara,” tukas Fahira Idris melalui keterangan tertulisnya (16/12/2019).

Bahkan, kata Fahira, harusnya melampaui kepentingan ekonomi Indonesia yang sudah menjadi rahasia umum salah satunya tergantung investasi Cina.

“Kita bangsa besar. Suara kita pasti di dengar. Persoalannya sekarang, Pemerintah berani, tidak?”tanyanya.

Menurut Fahira sejak bocornya dokumen penindasan etnis Uighur dan minoritas muslim lainnya oleh Konsorsium Internasional Jurnalis Investigasi, gelombang protes dan kecaman terhadap dugaan pelanggaran HAM otoritas Cina terhadap etnis Uighur dan minoritas muslim lainnya dipastikan akan semakin meluas.

Jika Indonesia masih terus diam, bukan tidak mungkin eksistensi Indonesia sebagai negara demokrasi dan berpenduduk muslim terbesar di dunia serta menjunjung tinggi penegakan HAM akan diabaikan bahkan dikucilkan komunitas internasional.

Banyaknya investasi Cina di Indonesia harusnya dipandang sebagai ketergantungan Cina akan besarnya potensi ekonomi Indonesia, bukan malah sebaliknya yaitu ketergantungan Indonesia terhadap Cina.

Dengan begini, Indonesia tidak perlu ragu apalagi takut mendesak Cina menghentikan dugaan pelanggaran HAM yang dilakukannya terhadap etnis Uighur dan minoritas muslim lainnya di Xinjiang.

Bahkan sebagai negara muslim yang moderat dengan berbagai pengalaman panjangnya, Indonesia harusnya bisa memberi pamahaman terkait Islam kepada Cina sehingga kebijakan mereka terhadap etnis Uighur dan minoritas muslim lainnya di Xinjiang tidak lagi bersifat represif.

“Indonesia dengan negara manapun yang berinvestasi di negeri ini, sebesar apapun investasi yang mereka gelontorkan, posisinya adalah setara. Kita tidak perlu ragu apalagi takut mengkritik bahkan mengecam negara tersebut jika memang kebijakan negaranya mengabaikan nilai-nilai HAM,” pungkas Wakil Ketua Badan Pengkajian MPR RI ini.

Sampai Kapan Indonesia Terus Diam Soal Uighur?

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Perlakuan represif dan kebijakan tidak manusiawi yang dialami etnis minoritas Uighur di Xinjiang semakin terkuak dan sepertinya banyak negara di dunia sudah mulai muak dengan kesewenang-wenangan ini.

Hal tersebut disampaikan oleh Anggota DPD RI Fahira Idris dalam keterangan yang diterima redaksi baru-baru ini. Menurutnya,  pada Juli 2019 lalu, lebih dari 20 negara anggota Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) termasuk Australia, Inggris, Kanada, Prancis, dan Jerman mengirim surat kecamanan kepada para pejabat tinggi Dewan HAM PBB terkait perlakuan otoritas China terhadap etnis Uighur dan minoritas muslim lainnya di wilayah Xinjiang.

Awal Desember ini DPR Amerika Serikat meloloskan RUU yang dapat memberikan Gedung Putih kewenangan untuk menjatuhkan sanksi bagi China atas apa yang terjadi di Xinjiang.

Fahira Idris mengungkapkan bahwa sikap tegas negara-negara anggota PBB ini menjadi fakta yang tidak bisa diabaikan dugaan bahwa otoritas China menahan sedikitnya 1 juta etnis Uighur dan minoritas muslim lainnya secara sewenang-wenang dan mengabaikan HAM, bukan isapan jempol.

Menurutnya, sudah saatnya Indonesia bersuara, bukan karena hanya Indonesia negara muslim terbesar di dunia, tetapi karena nilai-nilai kemanusiaan etnis Uighur dan minoritas muslim lainnya diduga kuat sedang dinjak-injak.

“Sampai kapan Indonesia terus diam soal Uighur sementara di belahan dunia kecaman terus mengalir. Ini bukan soal mencampuri urusan politik negara lain, tetapi ini soal kemanusiaan yang menembus dan melampui batas-batas negara. Bahkan harusnya melampaui kepentingan ekonomi Indonesia yang sudah menjadi rahasia umum salah satunya tergantung investasi China. Kita bangsa besar. Suara kita pasti di dengar. Persoalannya sekarang, Pemerintah berani, tidak?” tukas Fahira Idris melalui keterangan tertulisnya (16/12/2019).

Menurut Fahira sejak bocornya dokumen penindasan etnis Uighur dan minoritas muslim lainnya oleh Konsorsium Internasional Jurnalis Investigasi, gelombang protes dan kecaman terhadap dugaan pelanggaran HAM otoritas China terhadap etnis Uighur dan minoritas muslim lainnya dipastikan akan semakin meluas.

Jika Indonesia masih terus diam, kata Fahira, bukan tidak mungkin eksistensi Indonesia sebagai negara demokrasi dan berpenduduk muslim terbesar di dunia serta menjunjung tinggi penegakan HAM akan diabaikan bahkan dikucilkan komunitas internasional.