Sukses Lockdown, Warga Sejumlah Negara Sudah Mulai Beraktivitas

BERLIN(Jurnalislam.com) — Beberapa negara Eropa yang menghadapi infeksi virus corona mulai melambat pada Jumat (15/5). Sedangkan di wilayah Amerika dan Asia mulai melakukan pelonggaran wilayah meski penyebaran infeksi belum selesai.

Slovenia yang secara bertahap mengurangi langkah-langkah lockdown ketat. Negara ini menyatakan bahwa penyebaran virus sekarang telah terkendali dan penduduk Uni Eropa sekarang dapat masuk dari Austria, Italia dan Hongaria.

Jerman bersiap untuk membuka perbatasannya dengan Luksemburg dan meningkatkan jumlah penyeberangan dari Perancis, Swiss dan Austria. Pengunjung dari luar masih perlu menunjukkan alasan yang kuat untuk memasuki Jerman, dan akan ada pemeriksaan mendadak sebagai upaya mengembalikan perjalanan gratis sebelum 15 Juni.

Beberapa wilayah Jerman juga setuju untuk menghentikan karantina wajib selama 14 hari bagi para yang datang dari UE dan beberapa negara Eropa lainnya, termasuk Inggris. “Jerman hanya akan mengatasi krisis korona jika kebebasan bergerak orang Eropa, barang dan jasa sepenuhnya pulih,” kata Gubernur negara bagian barat Rhine-Westphalia Utara, Armin Laschet.

Jerman telah melaporkan lebih dari 170.000 infeksi Covid-19 dan hampir 8.000 orang meninggal dunia. Walau pun, lebih dari 150.000 orang telah pulih dan negara itu telah mengalami penurunan kasus dengan kurang dari 1.000 kasus baru per hari.

Sedangkan Eropa utara, Estonia, Latvia dan Lithuania menghapus pembatasan perjalanan antara negara-negara Baltik. Perdana Menteri Estonia, Juri Ratas mengatakan, langkah lain sedang diperispkan menuju kehidupan normal.

Austria dan Swiss juga bergerak maju dengan melonggarkan beberapa pembatasan perbatasan. Austria juga telah membuka kembali semua kafe dan restoran.  Restoran dibuka kembali di lebih banyak negara bagian Jerman  akan melanjutkan pertandingan sepak bola profesional pada akhir pekan setelah absen selama dua bulan.

Sedangkan di Amerika Serikat penjualan ritel anjlok dengan rekor 16,4 persen dari Maret hingga April karena penutupan bisnis. Laporan Departemen Perdagangan menyatakan, pembelian ritel menunjukkan sektor yang telah runtuh begitu cepat sehingga penjualan selama 12 bulan terakhir turun 21,6 persen.

Penurunan paling tajam pada Maret hingga April adalah di toko pakaian, toko elektronik, toko furnitur dan restoran. Perpindahan konsumen ke pembelian daring menjadi suatu kebutuhan yang berjalan.

Taman Nasional Grand Canyon dijadwalkan dibuka kembali pada Jumat. Keputusan ini memungkinkan pengunjung melakukan perjalanan tanpa dapat bermalam di tempat wisata itu. Beberapa wilayah di New York juga diperkirakan akan dibuka kembali setelah menjadi pusat kasus pandemi korona di AS.

Australia juga sudah memperbolehkan kafe dan restoran di Sydney dibuka kembali. Sedangkan di New South Wales memberikan izin bagi warga untuk keluar dan tempat-tempat ibadah dapat didatangi dengan membatasi hanya 10 orang di dalam untuk menerapkan batas sosial.

Jepang melakukan hal yang sama, beberapa sekolah, restoran, dan bisnis lain mulai dibuka kembali setelah negara mengangkat status darurat nasionalnya. Walau, pemerintah tetap memberlakukan pembatasan di daerah perkotaan, seperti Tokyo yang masih berrisiko.

Kepala kantor Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Eropa, Dr. Hans Kluge memperingatkan, panduan jarak sosial dan tindakan perlindungan lainnya lebih penting daripada sebelumnya. “Sangat penting untuk mengingatkan semua orang bahwa selama tidak ada vaksin dan perawatan yang efektif, tidak ada yang kembali normal,” katanya.

Kluge menyatakan, virus korona tidak akan hilang begitu saja, sehingga perilaku masing-masing warga akan menentukan perilaku virus. “Pemerintah telah melakukan banyak hal, dan sekarang tanggung jawab ada pada rakyat,” ujarnya.

Di seluruh dunia, ada lebih dari 4,4 juta infeksi virus korona dilaporkan dan 300.000 kematian. Sementara hampir 1,6 juta orang telah pulih sesuai dengan penghitungan yang disampaikan oleh Universitas Johns Hopkins.

sumber: republika.co.id

Pakar Sebut Perpres Kenaikan Iuran BPJS Berpotensi Digugat Kembali

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Pakar hukum Tata Negara Fahri Bachmid mengatakan Perpres Nomor 64 Tahun 2020 Tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 Tentang Jaminan Kesehatan berpotensi digugat atau diuji materi kembali ke Mahkamah Agung (MA).

 

Perpres yang mengatur kenaikan iuran BPJS Kesehatan dengan nominal yang sedikit berbeda dari kenaikan iuran sebelumnya, berdasarkan ketentuan dalam Perpres Nomor 75 Tahun 2019 Tentang Perubahan atas Perpres Nomor 82 Tahun 2018 Tentang Jaminan Kesehatan.

“Secara yuridis, jika dilihat dari keberlakuan Perpres No. 64 Tahun 2020 ini sangat potensial untuk digugat kembali ke MA oleh pihak-pihak yang berkepentingan,” kata pakar Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Fahri Bachmid, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu (16/5).

Menurut Fahri Bachmid, MA sudah mengeluarkan putusan dalam merespons kebijakan Jokowi dalam menaikkan tarif iuran BPJS Kesehatan beberapa waktu yang lalu.

Dalam perkara Hak Uji Materil Nomor: 7P/HUM/2020 itu diputuskan oleh Majelis Hakim yang diketuai Hakim Agung Supandi dengan anggota Yosran dan Yodi Martono Wahyunadi.

Oleh Majelis Hakim MA, Perpres Nomor 75 Tahun 2019 itu pada prinsipnya dinilai bertentangan dengan ketentuan norma pasal 23A, pasal 28H dan pasal 34 UUD NRI Tahun 1945.

Selain norma konstitusional tersebut, Perpres tersebut juga dinilai bertentangan dengan ketentuan pasal 2, pasal 4, pasal 17 ayat (3) UU RI No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (UU SJSN), serta ketentuan pasal 2, pasal 3, pasal 4 UU RI No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (UU BPJS), dan ketentuan pasal 5 ayat (2) Jo. Pasal 171 UU RI No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.

“Dengan konsekuensi setelah dibatalkannya Perpres Nomor 75/2019 terkait aturan kenaikan iuran BPJS Kesehatan, maka kembali ke tarif iuran sebelumnya seperti diatur dalam ketentuan pasal 34 Perpres No. 82 Tahun 2018,” kata Fahri Bachmid.

Sumber: republika.co.id

MUI: Jadi Khatib Id di Rumah Kesempatan Baik untuk Latihan Dakwah

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau agar masyarakat beribadah di rumah ketika selama peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berlaku di DKI Jakarta. Tentunya, hal ini juga berkaitan dengan Shalat Idul Fitri nantinya.

Terkait hal tersebut Ketua Bidang Komisi Dakwah MUI Cholil Nafis memberikan tata cara untuk Sholat Id di rumah. Menurutnya, Shalat Id yang dilakukan di rumah bisa berjamaah bisa juga dilakukan sendiri.

Dia menambahkan, jika mampu berdakwah sangat baik untuk dilakukan karena berdakwah menurutnya sangat mudah. Dan, beribadah di rumah menjadi kesempatan untuk kita belajar dakwah.

Jika belum mampu menjadi khotib maka dipersilakan untuk dilakukan sendiri karena yang dinilai adalah niat untuk beribadahnya.

sumber: republika.co.id

Filipina Sudah Longgarkan Lockdown, Warga Masih Enggan Keluar Rumah

FILIPINA(Jurnalislam.com)- Filipina telah mengambil kebijakan  lockdown atau penguncian wilayah selama 2 bulan ini akibat wabah virus corona.

Meski saat ini pemerintah telah melonggarkan kebijakan lockdown, namun banyak penduduk yang enggan keluar rumah dan memilih tidak mau mengambil risiko di dunia luar.

Dilansir SCMP, Jumat (15/5/2020), Presiden Filipina Rodrigo Duterte melarang warganya meninggalkan rumah kecuali untuk melakukan hal yang diperlukan, seperti berbelanja makanan sejak Maret silam.

Toko dan bisnis yang tidak penting ditutup. Penjualan minuman keras juga dilarang. Tapi mulai Sabtu (16/5/2020), langkah-langkah lockdown diubah menjadi Modified Enhanced Community Quarantine (MECQ).

Mal dan toko mulai dibuka kembali. Namun, transportasi umum masih tetap ditutup di kota metropolis.

Sumber: kompas.com

Pandemi Corona, IJC-JITU Gelar Madrasah Jurnalistik Ramadhan Daring

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Islamic Journalist Class (IJC) bersama Jurnalis Islam Bersatu (JITU) menggelar Madrasah Jurnalistik Ramadhan pada 12-15 Mei 2020.

Pizaro Gozali dari JITU mengatakan kebutuhan penguasaan jurnaslitik memegang peranan penting bagi masyarakat khususnya umat Islam di tengah ketidakpastian global.

Melihat situasi ini, lanjut dia, peningkatan kemampuan jurnalistik mutlak dilakukan untuk menguatkan standar literasi di tengah publik.

Menurut dia, saat ini umat Islam juga dituntut menyaring informasi dan mendapatkan sumber-sumber kredibel, apalagi di tengah wabah Covid-19 ini.

“Di mana masalah kita hari ini tidak hanya pandemik, tapi juga infodemik, akibatnya banyaknya mis informasi terjadi di tengah masyarakat,” terang jurnalis Anadolu Agency ini pada Sabtu.

Untuk menyiasati social distancing akibat pandemi Covid-19, kegiatan dilaksanakan secara daring via WhatsApp Grup dan Google Meet.

Madrasah yang diikuti kurang lebih 350 peserta ini membuat panitia perlu membuka grup Whatsapp cadangan sebagai mirroring, sehingga seluruh peserta tetap bisa menyimak.

Hari pertama, panitia menghadirkan dua orang pembicara, yaitu Mahladi Murni selaku Anggota Dewan Syuro JITU sekaligus wartawan Hidayatullah.com dan Pizaro Gozali.

Masing-masing membawakan topik Kode Etik Jurnalis Muslim dan materi Bahasa Jurnalistik.

Hardjito, wartawan Al Jazeera yang tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia membagikan pengalamannya selama peliputan Covid-19 di tengah masa Movement Control Order (MCO).

Sedangkan hari ketiga dan keempat, berturut-turut Muhammad Taher Saleh, editor CNBC Indonesia, menyampaikan materi tentang Jurnalisme Ekonomi, dan Rizki Lesus, penulis dan anggota JITU membeberkan kiat menulis feature Bencana Kemanusiaan.

Sebelumnya, IJC dan JITU juga telah menggelar pelatihan reportase mendalam dan sudut pandang peliputan dalam pemberitaan Covid-19.

Respons peserta

Peserta madrasah yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia sangat menikmati jalannya acara. Hal itu terlihat dari antusiasme peserta mengikuti rangkaian acara dari awal hingga selesai.

“Alhamdulillah, terima kasih kepada penyelenggara, sangat bersyukur saya berkesempatan mengikuti Madrasah Jurnalistik yang diadakan oleh jurnalis muslim handal dan kaya pengalaman,” ujar peserta Jafar LK dari ormas Islam Wahdah Islamiyah.

Menurut dia, yang paling berkesan adalah materi Kode Etik Jurnalis Muslim, tanggung jawab Jurnalis muslim bukan saja kepada pembaca tetapi kepada Allah SWT.

“Berharap kegiatan serupa kembali digelar untuk melahirkan jurnalis yang memiliki rasa takut kepada Allah,” lanjut pria yang tinggal di Gorontalo ini.

Senada dengan Jafar LK, Mukhtarom peserta dari Semarang menyambut baik kegiatan Madrasah Jurnalistik yang digelar JITU.

Menurut pria yang bekerja di TVRI Jawa Tengah ini, pekerja jurnalistik maupun aktifis sosial perlu meningkatkan kualitas tulisannya, tidak hanya sesuai dengan UU Pers dan Kode Etik jurnalistik namun juga sesuai norma agama Islam.

Lebih lanjut Mukhtarom menyampaikan jurnalistik yang baik adalah yang sesuai dengan UU Pers dan Kode Etik, tak sedikit tulisan yang mengatasnamakan produk jurnalistik namun abai pada dua hal tersebut.

“Terima kasih kepada JITU telah menghadirkan para narasumber yang berkompeten, semoga karya jurnalis Islam semakin banyak dan berkualitas,” tukas pria yang juga aktif di ormas Islam Muhammadiyah ini.

Sementara itu, peserta lainnya, Anwar memberi masukan, karena pelatihan ini memakai sistem online, maka pola penyajian materinya dapat dikombinasi antara tulisan, slide, dan voicenote, agar lebih mudah dipahami.

“Acaranya bermanfaat banget, menjawab persoalan-persoalan kejurnalistikan hingga hal teknis. Ini membantu saya sebagai humas lembaga riset kemanusiaan,” ujar peneliti di Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) ini.

Anwar juga memuji para pemateri pelatihan IJC-JITU yang sesuai kompetensi dalam bidangnya masing-masing.

“Respons panitianya rapi dan sigap, buat menyambungkan pertanyaan ke pembicara,” ujar dia. (Anis/Eka)

ACT Ajak Dermawan Terlibat Perkuat Ekonomi Masyarakat

JAKARTA (Jurnalislam.com)– Di balik dampak kesehatan yang mengintai, pandemi Covid-19 juga menjadi ancaman bagi ekonomi masyarakat.

Banyak masyarakat yang terhimpit akibat pembatasan ruang gerak. Global Zakat – ACT mengajak masyarakat untuk bahu-membahu dalam penyediaan  kebutuhan pangan melalui zakat.

Pemanfaatan dana zakat untuk membantu masyarakat terdampak Covid-19, baik secara fisik maupun ekonomi telah disetujui secara syariat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) lewat Fatwa Nomor 23 tahun 2020 tentang Pemanfaatan harta Zakat, Infak, dan Shadaqah untuk Penanggulangan Covid-19.

Fatwa ini dikeluarkan dalam rangka meneguhkan komitmen dan kontribusi keagamaan untuk penanganan dan penanggulangan wabah Covid-19.

Pengelolaan zakat secara optimal dapat diyakini sebagai salah satu instrumen dalam meningkatkan ekonomi umat. Berdasarkan hal tersebut, optimalisasi pengelolaan zakat dan pemanfaatannya merupakan potensi strategis untuk menunjang pembangunan perekonomian Indonesia dalam mengentaskan kemiskinan dan mewujudkan kesejahteraan di era modern ini.

Melihat kondisi masyarakat yang sedang tidak stabil, Ustadz Fadlan mengajak para dermawan sekalian untuk segera dalam menunaikan zakat fitrah. Begitu pula sesuai dengan anjuran Rasulullah untuk menunaikan ibadah zakat fitrah sesegera mungkin.

“Nabi bersabda, orang yang membayar zakat lebih awal waktu itu jauh lebih baik. Saya menyarakankan sebelum berakhir Ramadan mari berzakat,” ujar Ustadz Fadlan saat mengunjungi Humanity Care Line dari Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Melalui Global Zakat – ACT,  zakat fitrah ini akan disalurkan dalam bentuk beras bagi mereka yang membutuhkan di tengah pandemi ini.

Selaras dengan semangat yang digelontorkan oleh yaitu “Tunaikan Zakat, Selamatkan Umat”, Global Zakat – ACT berikhtiar untuk menyampaikan amanah para dermawan kepada para mustahik. Terutama di masa pandemi Covid-19 ini, di mana makin banyak masyarakat terdampak secara sosial ekonomi.

Nantinya, penyaluran zakat fitrah tidak hanya dibagikan ke sesama masyarakat Indonesia yang masuk ke dalam delapan golongan asnaf zakat, tetapi juga di negara-negara berpenduduk muslim yang sedang dirundung krisis kemanusiaan.

 

Melawan Musuh Diri di 10 Malam Terakhir Ramadhan

(Jurnalislam.com)–Syaithan salah satu makhluk Allah yang paling rajin, ia tidak pernah lelah menggoda manusia seperti yang telah diikrarkannya kepada Allah tuhannya. Ia sangat rajin dan tidak putus asa menggoda manusia. Saking rajinnya, bahkan saat ruh manusia sudah dikerongkongan syaithan terus gencar meluncurkan godaan dan tipuan.

Banyak cara, metode, siasat yang dipakai syaithan. Sungguh cerdas syaithan-syaithan ini. Jika ia tak mampu menggoda manusia untuk bermaksiat kepada Allah, maka ia menggoda niatnya, jika ia tak mampu menggoda niatnya, ia akan melemaskan badannya dan dijadikan nikmat kemalasan itu.

Siapa bilang kemalasan bukan musuh diri yang berbahaya, bukankah ada doa “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian).” (HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706).

Rasulullah mencontohkan agar umatnya memohon pertolongan Allah agar dilindungi dari rasa malas, itu sebuah signal bahwa senjata syaithan berupa kemalasan tidak bisa disepelekan.

Dampak dari kemalasan berikut ini mungkin bisa menjadi bahan renungan :

  1. Mudah Stres

Stres merupakan silent killer bagi kesehatan tubuh. Para ahli kesehatan menyatakan bahwa saat bermalas-malasan, maka produksi hormon endorfin akan berkurang. Padahal hormon ini dibutuhkan untuk membantu mengatur stres dan suasana hati.

  1. Kurang Tidur

Dengan selalu aktif, maka tubuh akan melepaskan hormon yang bisa membuat Anda selalu tidur nyenyak di malam hari. Namun saat Anda bermalas-malasan, maka energi saraf yang tidak dihabiskan bisa membuat Anda terjaga semalaman.

  1. Tubuh Jadi Lambat

Saat Anda bermalas-malasan, maka otomatis tubuh Anda jadi melambat. Metabolisme tubuh pun ikutan melambat yang pada akhirnya bisa merugikan kesehatan tubuh Anda.

  1. Tulang Menjadi Lemah

Saat Anda malas, maka otomatis Anda pun jadi malas berolahraga. Hasilnya, tak hanya kegemukan saja yang di dapat, otot dan tulang pun jadi lemah. Juga meningkatnya penuaan dini karena dengan bermalasan membuat racun dan senyawa kimia tidak keluar. Bukan hanya itu, penyakit berat pun seperti jantung dan kanker akan mudah menghampiri.

  1. Waktu Produktif Hilang Yang Berujung Pada Penyesalan

Bermalasan saat usia muda, akan menghilangkan waktu produktif yang tidak pernah bisa kembali. Menurut psikologi perkembangan, usia 20-an adalah waktu produktif yang memungkinkan seseorang memiliki performa tertinggi secara fisik, intelegensi, maupun sosio-emosi. Jadi sudah sepantasnya kamu yang berusia 20-an memanfaat momen yang kamu punya sekarang untuk berusaha tekun menjalankan apa yang kamu lakukan, karena penyesalan selalu datang belakangan.

  1. Kehilangan Rasa Percaya Diri

Malas membuat kita kurang berilmu, tidak mendapat pekerjaan dengan penghasilan yang baik, kurang bermanfaat untuk keluarga apalagi masyarakat karena hanya berfokus pada diri. Dengan kondisi seperti ini, pemalas akan mengalami masa dimana merasa tidak bisa melakukan apa-apa, tidak berguna, atau mengalami emosi negatif lain yang ditimbulkan karena kehilangan kepercayaan diri.

  1. Memicu Perbuatan Maksiat dan Kriminal

Jika sifat malas menyebabkan kebutuhan diri tidak terpenuhi dan jodoh pun menjauhi, bukankah ini bisa mengundang fikiran untuk mencari jalan pintas demi memenuhi kebutuhan diri.

Bukankah memang tujuan syaithan untuk menjadikan manusia itu lemah, merasa tidak berdaya apa-apa, terutama anak muda, sehingga jangankan untuk meninggikan harga diri agamanya, meninggikan harga diri nya dan keluarga saja tidak punya daya.

Sebaliknya, Rasulullah bangga dengan anak-anak muda yang produktif, selain terangkat harga diri dan keluarga, ia pun dapat membawa nama baik agama.

Well, saat ini moment yang sangat baik, 10 malam terakhir Ramadhan, mohon pertolongan Allah agar dapat melawan diri, dijauhi dari rasa malas. Paksa diri beribadah dimalam-malam terakhir, bukankah dalam surah an-Naas disampaikan, “Katakanlah, aku berlindung dengan Rabb manusia. Penguasa manusia. Sembahan manusia. Dari waswas (bisikan) setan yang bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. (Yang berasal) dari jin dan manusia.” (QS an-Naas [114]: 1-6). Serta ungkapan Syaikh Abu Madyan Al-Maghribi “Jika kamu tidak meminta bantuan Allah untuk mekawan dirimu, kamu pasti kalah”. Sermoga Allah memberikan pertolongan dan menjauhkan diri dari kemalasan yang membahayakan. (Jumi Yanti Sutisna/ dari berbagai sumber)

 

Majelis Ulama Singapura: Umat Harus Hindari Kunjungan Hari Raya

SINGAPURA(Jurnalislam.com) – Dewan Agama Islam Singapura (MUIS) mengatakan, umat Islam harus menghindari kunjungan dan pertemuan tradisional Hari Raya Idul Fitri.

Hal tersebut guna mengikuti langkah pembatasan sosial pada pertemuan publik dan pribadi selama periode “pemutus sirkuit” yang bertujuan untuk menghentikan penyebaran virus korona tipe baru atau Covid-19.

MUIS mencatat Hari Raya Lebaran yang jatuh pada 24 Mei masih berada dalam periode pemutus sirkuit. “Kunjungan ke orang-orang yang dicintai di rumah tangga yang berbeda, terutama anggota keluarga lanjut usia, harus ditunda sampai pembatasan kunjungan dicabut, kecuali bila pemberian perawatan yang penting diperlukan,” kata MUIS seperti dikutip Channel News Asia, Jumat (15/5).

Dewan itu juga mengatakan bahwa mereka yang keluar untuk berbelanja harus melakukannya secara individual dan menjaga perjalanan sesingkat mungkin. MUIS mencatat bahwa lansia berada pada risiko terbesar penyakit parah, komplikasi, dan kematian akibat akibat Covid-19.

Menurut dewan, kunjungan panjang yang melibatkan interaksi fisik yang erat akan meningkatkan risiko ini. “Adalah lebih penting untuk mengambil tindakan pencegahan sekarang dan menyesuaikan dengan norma-norma baru, sehingga kita dapat mengunjungi orang yang kita cintai nanti ketika aman untuk melakukannya, di Hari Raya yang akan datang,” katanya.

Dewan menegaskan, pihaknya telah merencanakan beberapa inisiatif untuk membantu umat Islam memenuhi tugas keagamaan mereka selama periode Hari Raya Idul Fitri sambil mematuhi langkah-langkah menjaga jarak yang aman. Kegiatan takbir di masjid pada malam Hari Raya tidak akan mungkin terlaksana karena penutupan masjid di negara itu.

Sebaliknya ini akan dilakukan oleh umat Islam dengan anggota keluarga mereka di rumah mereka sendiri. Mufti Dr Nazirudin Mohd Nasir dan berbagai asatizah (guru agama) memimpin langsung melalui saluran online, seperti saluran Youtube TV SalamSG MUIS, serta di Facebook akun MUIS dan masjid individu. “Ini akan dilakukan untuk pertama kalinya di Singapura,” kata MUIS.

Shalat Idul Fitri juga tidak akan dilakukan di masjid. MUIS juga mencatat bahwa sholat takbir dan Aidilfitri pada pagi Hari Raya tidak dapat dilakukan di masjid, seperti yang biasanya terjadi.

“Tahun ini, karena masjid kami tetap ditutup, umat Islam akan merayakan shalat Hari Raya di rumah mereka dengan anggota keluarga mereka dari rumah tangga yang sama,” kata dewan.

Sumber: republika.co.id

Beberapa Daerah Minta Shalat Idul Fitri Digelar di Rumah

YOGYAKARTA(Jurnalislam.com) – Pelaksanaan Idul Fitri 1441 H di tengah pandemi Covid-19 saat ini diminta untuk tetap dilakukan di rumah. Hal ini guna menghindari potensi penyebaran Covid-19 yang dapat terjadi jika ada aktivitas kerumunan yang dilakukan saat merayakan Idul Fitri.

Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Kadarmanta Baskara Aji mengatakan, selama Bulan Ramadhan sendiri masyarakat tetap diminta untuk melakukan ibadah di rumah. Kebijakan ini tetap akan diberlakukan hingga pelaksanaan shalat Idul Fitri nanti.

“Untuk pelaksanaan Idul Fitri tidak dilaksanakan seperti biasanya. Sehingga, kebijakan beribadah, belajar dan belanja dari rumah itu tetap dilaksanakan,” kata Aji di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Kamis (14/5).

Seiring dengan hal tersebut, pengetatan patroli terhadap aktivitas kerumunan juga terus dilakukan. Termasuk pengetatan penjagaan dan pengawasan terhadap pendatang atau pemudik yang masuk ke DIY baik di wilayah perbatasan maupun pintu masuk melalui bandara, terminal dan stasiun.

Pengetatan ini dilakukan mengingat penyebaran Covid-19 yang terus meluas di DIY. Bahkan, total kasus positif di DIY sudah mencapai 185 kasus pada 14 Maret.

Sumber: republika.co.id

Pemkot Batam Sepakat Tak Gelar Shalat Id di Lapangan dan Masjid

BATAM(Jurnalislam.com)— Pemerintah Kota Batam, Kepulauan Riau, bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) sepakat meniadakan Shalat Idul Fitri di masjid, mushala, atau lapangan pada perayaan Lebaran tahun ini.

“Dari hasil rapat hari ini kami sepakat, tidak ada malam takbiran, tidak sholat Idul Fitri berjamaah di masjid dan mushala, berlaku di mainland dan hinterland,” kata Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, di Batam, Jumat (15/5).

Dia mengatakan, umat Muslim tetap bisa melakukan sholat Idul Fitri di rumah masing-masing, secara pribadi maupun berjamaah dengan anggota keluarga di kediaman.

Dia menyatakan keputusan itu dibuat karena Batam dikategorikan sebagai zona merah Covid-19 oleh pemerintah pusat, karena di kota kepulauan itu masih terdapat penambahan kasus Covid-19 hingga 14 Mei 2020.

Kepala Kantor Kemenag Kota Batam, Zulkarnain Umar, menyatakan keputusan warga Batam tetap harus ibadah di rumah merujuk pada Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Surat Edaran Menteri Agama, dan Surat Edaran Gubernur Kepri yang menyatakan Batam zona merah.

“Tentu kita kembali ke hukumnya, kembalikan ke Fatwa MUI, untuk yang zona merah beribadah di rumah. MUI bahkan sudah mengeluarkan panduan khusus bagaimana melaksanakan sholat Idul Fitri di rumah,” kata dia.

Dia meminta Muslim bersabar dan menahan diri, demi kebaikan bersama, seluruh masyarakat terhindar dari virus corona.

Kapolresta BarelangAKBP Purwadi, Wahyu Anggoro, berharap masyarakat dapat kompak mengikuti anjuran pemerintah terkait protokol pencegahan penularan Covid-19, seperti jaga jarak fisik dan sosial.

“Kami tidak larang ibadah. Kami melarang untuk berkumpul. Kepada para ulama, tolong sampaikan ke masyarakat, tahan dulu,” kata dia.

Sumber: republika.co.id