Relawan Dompet Dhuafa Purwokerto Gulirkan Program RT Mapan Gizi

BANYUMAS(Jurnalislam.com)-Pandemi Covid -19 menurut prediksi masih panjang berakhir. Ekonomi dan kesehatan menjadi dua hal yang paling krusial menjadi perhatian semua pihak.

 

Setelah enam bulan dalam ketatnya protokol dan sulitnya memenuhi kebutuhan sehari-hari, Satu RW (rukun Warga) 04 Dusun Gabu, Desa Suro, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas bersama-sama bergerak melalui program RT Mapan Gizi atau Rumah Tangga Mapan Gizi pada (Minggu, 20/9).

 

Program ini diinisiasi oleh Layanan Kesehatan Cuma (LKC) Dompet Dhuafa Jawa Tengah.  Menyasar 320 KK penerima manfaat program dengan mendorong masyarakat memanfaatkan lahan pekarangan agar lebih produktif.

 

Pada tahap awal ini bantuan bibit diberikan sebanyak 15-20 polibag dengan memanfaatkan kantong plastik bekas di setiap rumah. Para relawan yang tergabung dalam Dompet Dhuafa Volunteer (DDV) Purwokerto menyebar ketiap RT dalam kelompok kecil untuk melakukan pendistribusian, pendampingan dan edukasi.

 

Bibit tanaman obat keluarga, dan tanaman sayur mayur kebutuhan harian konsumsi rumah tangga seperti cabai, bayam, pepaya, sawi terong sebagai upaya ketahanan keluarga. Ana (32), salah satu penerima manfaat,

 

“Saya merasa senang karena mendapat banyak bantuan bibit untuk ditanam. Dirinya yang sebelumnya merupakan karyawan toko dan dirumahkan karena adanya pandemi menajdi memiliki kegiatan. Apalagi sebelumnya keluarga Ana juga mendaptkan bantuan satu ember budidamber dan sudah panen untuk dinikmati keluarga dan dibagi ke tetangga”.

 

Program pemberdayaan ini merupakan bagian dari program Kawasan Sehat berbasis RW yang sudah diinisiasi sejak Februari 2020 lalu. Program Kawasan Sehat Dompet Dhuafa bertujuan menciptakan kawasan yang memiliki indikator-indikator kesehatan tertentu melalui kegiatan pemberdayaan, peningkatan kompetensi SDM, pengelolaan sumberdaya lokal, dan kemitraan. Tujuan akhirnya adalah peningkatan derajat kesehatan masyarakat dan individu pada kelompok sasaran.

 

Ditengah pandemi seperti ini, faktor kesehatan masyarakat menjadi penting, apalagi pada kelompok-kelompok rentan terpapar seperti lansia dan orang dengan komorbid (memiliki penyakit penyerta). Dalam program kawasan sehat, melalui kelompok-kelompok bentukan berupa Pos Sehat ditiap RT maka data individu dengan resiko tinggi terpapar sudah diklasifikasikan. Himbauan dan penyuluhan dengan kelompok-kelompok kecil ini secara mobile juga intensif dilaksanakan.

 

Aan Julianto selaku koordinator program mengungkapkan kegiatan ini akan berkelanjutan “Saya berharap kawasan ini nantinya dapat menjadi percontohan kawasan sehat, mengatasi kerawanan pangan, menumbuhkan kemandirian pangan keluarga”. LKC Dompet Dhuafa membuka kesempatan sinergi untuk pengembangan program bagi individu dan komunitas yang tertarik dalam program ini.

 

Pemerintah Ngotot Gelar Pilkada, PBNU: Keselamatan Lebih Utama!

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj menekankan aspek keselamatan jiwa manusia lebih penting dari kegiatan apa pun. Pernyataan itu disampaikannya guna menyikapi keputusan pemerintah yang tidak menunda pelaksanaan Pilkada serentak pada 9 Desember 2020.

Said Aqil menyampaikan usulan ormas termasuk PBNU untuk menunda Pilkada 2020 atas pertimbangan kemanusiaan. Ia menyatakan, keselamatan jiwa tidak bisa dinegosiasikan, terlebih oleh kegiatan politik.

“Keselamatan jiwa, masyarakat, agama, itu mandat UUD, kita harus utamakan dari segalanya,” kata Said Aqil dalam konferensi pers PBNU secara virtual pada Rabu, (23/9).

Said Aqil mengklarifikasi usulan menunda Pilkada 2020 jangan disalahartikan sebagai langkah menjegal agenda politik. Sikap itu disampaikan PBNU karena peduli pada kondisi pandemi Covid-19 yang kian mengganas.

“Jangan salah paham bahwa NU ini menghambat keberlangsungan agenda demokrasi, sama sekali tidak seperti itu,” ujar Said Aqil.

Walau demikian, PBNU tetap menerima keputusan pemerintah sebagai yang punya otoritas. Namun, PBNU mewanti-wanti agar pemerintah bertanggung jawab atas konsekuensi memaksakan Pilkada 2020.

“Sikap pemerintah ya silakan, rekomendasi kita diterima alhamdulillah. Kalau tidak diterima maka kami sudah lepas dari tanggung jawab kemanusiaan,” tegas Said Aqil.

sumber: republika.co.id

Kasus Kematian Harian Capai Rekor Tertinggi, Ini Kata Pakar

JAKARTA(Jurnalislam.com) Kasus harian kematian akibat COVID-19 di Indonesia memecahkan rekor. Tercatat pada tanggal 22 September 2020 bertambah 160 dengan totalnya menjadi 9.837 orang.

Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman mengatakan pecahnya rekor tertinggi angka kematian lantaran sesuai dengan data test positivity rate Indonesia saat ini.

“Ini sesuai dengan data test positivity rate Indonesia yang tinggi,” ujar Dicky saat dihubungi, Rabu (23/9/2020).

Namun demikian, menurut Dicky masih banyak kasus COVID-19 di tengah masyarakat yang belum terdeteksi. Di sisi lain, Dicky mengingatkan pemerintah harus terus melakukan testing dan tracing di seluruh daerah agar dapat memutus rantai COVID-19 sekaligus angka kematian.

“Tingkatkan cakupan testing tracing nya. Seluruh daerah,” ucapnya.

Saat ini rata-rata kematian akibat COVID-19 di Indonesia hingga 21 September 2020 mencapai 3,9%. Dimana tercatat angka kematian sempat mencapai angka 4,3% pada 30 Agustus dari jumlah terakumulasi COVID-19.

Sementara itu, tercatat penambahan kasus COVID-19 bertambah 4.071 kasus. Sehingga akumulasi sebanyak 252.923 orang. Jumlah ini merupakan hasil tracing melalui pemeriksaan sebanyak 43.896 spesimen yang dilakukan dengan metode real time polymerase chain reaction (PCR) dan tes cepat molekuler (TCM).

Epidemiolog: Waspada Penularan Covid-19 Saat Bencana

JAKARTA(Jurnalislam.com) Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman meminta pemerintah agar waspada penularan virus Corona atau COVID-19 di lokasi pengungsian.

Pasalnya sejumlah wilayah di Indonesia tengah dilanda musibah seperti banjir. Karena itu, Dicky mengatakan bilamana tempat pengungsian bagi warga yang terdampak musibah harus sesuai dengan protokol kesehatan.

“Intinya situasi bencana seperti banjir atau tanah longor prinsip yang harus dijaga tetap sama, bahwa meminimalisir adanya kontak ya. Jadi jaga jarak, pakai masker dan cuci tangan,” ujar Dicky saat dihubungi, Rabu (23/9/2020).

Dicky melanjutkan tempat pengungsian juga harus mempunya ventilasi dan sirkulasi udara yang bagus. Terpenting, setiap keluarga ruangannya harus diberi sekat agar tak terjadi kontak demi meminimalisir penyebaran COVID-19.

“Di ruangan itu misalnya perkeluarga ada sekat dan ada jarak ya,” imbuhnya.

Di samping itu, kata Dicky, pengungsi harus menghindari barang bersama yang tersedia di fasilitas umum. Seperti alat makan yang ada di dapur umum atau kamar mandi.

Sumber: sindonews.com

KPU Tetapkan Tiga Pasangan Calon Bupati Bandung

BANDUNG(Jurnalislam.com) — Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bandung resmi menetapkan tiga pasangan calon bupati dan wakil bupati pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2020.

Ketiga pasangan calon tersebut dinyatakan memenuhi persyaratan pencalonan dan berhak mengikuti tahapan selanjutnya.

Ketiga pasangan calon tersebut yaitu Dadang Supriatna-Sahrul Gunawan (Bedas), Yena Iskandar Ma’soem- Atep (Sahsyat) dan Kurnia Agustina Naser- Usman Sayogi (NU). Mereka ditetapkan sebagai peserta pilkada dengan jadwal pencoblosan pada 9 Desember.

Ketua KPU Kabupaten Bandung, Agus Baroya mengatakan, pihaknya menetapkan pasangan calon berdasarkan hasil rapat pleno terhadap perbaikan dokumen persyaratan pencalonan. Penetapan tersebut tertuang dalam surat keputusan nomor 193 tentang penetapan pasangan calon.

“Penetapan nama-nama paslon ini berdasarkan hasil rapat pleno, setelah penetapan ini, tahapan selanjutnya adalah rapat pleno terbuka untuk pengundian nomor urut akan dilaksanakan besok di Hotel Sutan Raja Soreang,” ujarnya Rabu, (23/9).

Ia melanjutkan, pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak keamanan dan LO dari masing-masing pasangan calon. Langkah tersebut dilakukan untuk persiapan penyelenggaraan rapat pleno terbuka pengundian nomor urut. “Siang ini, kami akan meninjau lokasi pleno terbuka untuk besok, setelah pengundian nomor urut kita memasuki tahapan pilkada selanjutnya,” katanya.

Agus menambahkan, metode kampanye masing-masing pasangan calon akan mengacu kepada Peraturan KPU (PKPU) No 6 dan 10. Namun, dengan mematuhi protokol kesehatan di masa pandemi covid-19.

Menurutnya, para pasangan calon melaksanakan protokol kesehatan yaitu membatasi jumlah rombongan yang masuk ke dalam ruangan. Pihaknya juga sedang menunggu aturan terkait rapat umum, bazar, musik dan hal lainnya. “Menurut infomasi yang kami terima nanti akan ada revisi PKPU yang disesuaikan dengan masa pandemi,” ungkapnya.

Sumber: sindonews.com

 

Genjot Ekonomi, Kemenperin Gelar Kompetisi Fashion Muslim

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih menyatakan perkembangan jumlah umat muslim dunia menjadi salah satu pemicu utama yang mendorong pertumbuhan industry fesyen muslim.

Berdasarkan The State Global Islamic Economy Report 2019/2020, nilai konsumsi fesyen muslim dunia mencapai USD283 miliar (Rp4.103 triliun, kurs Rp14.500), dan angkanya diperkirakan terus meningkat dengan didukung laju pertumbuhan sebesar 6%.

“Diproyeksi nilai konsumsi fesyen muslim dunia bisa menembus USD402 miliar (Rp5.820 triliun). Sementara itu, konsumsi fesyen muslim Indonesia sendiri sebesar USD21 miliar atau setara Rp304 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa peluang pasar fesyen muslim global maupun domestik sangat besar dan harus diisi oleh industri fesyen muslim Indonesia,” Kata Gati di Jakarta, Selasa (22/9/2020).

Guna meningkatkan daya saing industri fesyen di dalam negeri, Kemenperin menggelar kompetisi Modest Fashion Project (MOFP). Tujuannya memberikan wadah dan panggung kreasi bagi para desainer muda bidang fesyen muslim di Indonesia.

“Tahun ini, MOFP 2020 akan diselenggarakan untuk yang ketiga kalinya sejak tahun 2018. Kompetisi ini bertujuan untuk menjaring para wirausaha muda di bidang fesyen muslim yang memiliki basis sebagai desainer untuk kemudian dibina selama dua tahun,” terangnya.

Sumber: sindonews.com

Wakaf dan Zakat Gerakkan Ekonomi Umat

BOGOR(Jurnalislam.com Sebagai negara dengan jumlah muslim terbanyak di dunia, Indonesia memiliki potensi zakat dan wakaf yang sangat besar. Jika mampu dimaksimalkan dan dikelola dengan baik, maka bisa digunakan untuk perbaikan ekonomi umat.

“Potensi zakat nasional mencapai Rp217 triliun, sedangkan potensi wakaf uang nasional Rp233 triliun,” kata Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama (Kemenag) Tarmizi Tohor dalam acara Dialog Isu-Isu Kebimasislaman dengan Praktisi Media di Olympic Bigland Hotel, Sentul, Kabupaten Bogor, Selasa (22/9/2020).

Besarnya potensi zakat dan wakaf nasional tak terlepas dari sifat kedermawanan masyarakat Indonesia yang memiliki indeks tertinggi di dunia berdasarkan riset World Giving Index 2018. Rakyat Indonesia yang mayoritas umat Islam rela memberikan sebagian hartanya untuk mengembangkan agamanya.

“Untuk wakaf tanah saat ini seluas 500.239.800 meter persegi yang tersebar di 378.456 titik,” kata Tarmizi Tohor.

Menurutnya, Kemenag tengah berupaya meningkatkan literasi zakat dan wakaf masyarakat Indonesia. Sebab, dari hasil survei yang dilakukan tahun ini di 32 provinsi dengan 3.200 responden, pemahaman umat Islam terhadap zakat dan wakaf masih tergolong rendah. Utamanya terkait pemahaman zakat dan wakaf lanjutan.

“Zakat dan wakaf ini adalah potensi besar yang dimiliki umat Islam yang bisa digunakan untuk perbaikan di bidang ekonomi umat. Zakat dan wakaf tidak hanya diberikan begitu saja tapi juga diberdayakan untuk memperbaiki hajat hidup orang banyak,” katanya.

Salah satu yang telah dilakukan Kemenag adalah mendirikan 14 Kampung Zakat yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Program ini mengoptimalkan pemberdayaan mustahik dengan tujuan penanganan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Sumber: sindonews.com

Mulai Oktober, Saudi Akan Kembali Buka Umrah Secara Bertahap

RIYADH(Jurnalislam.com) – Arab Saudi mengatakan akan mulai mengizinkan jamaah untuk melakukan umrah secara bertahap, sambil mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan.

Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi mengatakan keputusan itu diambil setelah menilai perkembangan virus Corona dan sebagai tanggapan atas keinginan umat Islam di seluruh dunia untuk melakukan ritual tersebut.

Tahap pertama akan mencakup mengizinkan warga negara dan ekspatriat dari dalam Kerajaan untuk melakukan umrah dengan kapasitas 30 persen mulai 4 Oktober. Ini setara dengan 6.000 jamaah per hari.

Fase kedua akan meningkatkan kapasitas Masjidil Haram menjadi 75 persen, yang akan mencakup 15.000 jamaah dan 40.000 jamaah per hari mulai 18 Oktober.

Pada tahap ketiga, jamaah dari luar negeri akan diizinkan untuk melakukan umrah mulai 1 November dengan kapasitas penuh 20.000 jemaah dan 60.000 jemaah per hari.

Tahap keempat akan membuat Masjidil Haram kembali normal, ketika semua risiko Covid-19 telah hilang.

Masuknya jamaah dan pengunjung akan diatur melalui aplikasi bernama “I’tamarna”. Aplikasi ini akan diluncurkan oleh Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, dengan tujuan untuk menegakkan standar kesehatan dan memudahkan jamaah untuk memesan perjalanan mereka.

Negara Wajib Menjaga Generasi dari Kerusakan Moral

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Presidium Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI) Sabriati Aziz, menyebutkan ada tiga hal yang menjadi benteng pertahanan utama untuk menjaga generasi sehingga pengokohan jati diri keluarga dapat tercapai.

 

“Keluarga tentunya perlu dibentengi, sehingga genersi kita terlindu dari hal-hal yang merusak. Tiga penjaga benteng ini ialah negara, masyarakat, dan juga keluarga,” jelasnya pada webinar kedua jelang Munas V(irtual) Hidayatullah bertema “Mengokohkan Jatidiri Keluarga Sebagai Basis Peradaban Islam”, Sabtu kemarin sebagaimana siaran pers Panitia Munas V(irtual) Hidayatullah kepada media di Jakarta, Ahad (20/09/2020).

 

Sabriati mengutip sebuah hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengenai kenapa negara menjadi alasan perlindungan generasi; “Sesungguhnya imam itu laksana perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung denganya. (HR. Muslim)”. Ia mengatakan kewajiban sebuah negara ialah sebagai penjaga benteng dari serangan-serangan yang menyebabkan generasi khususnya kehilangan jati dirinya.

 

“Tentunya negara mempunyai kewajiban sebagai penjaga gerbang, penjaga utama generasi kita dari serangan-serangan yang dapat merusak moral mereka, sebagaimana hadits Nabi yang saya sebutkan tadi,” ucapnya.

 

Selain negara, masyarakat juga mempunyai kewajiban untuk menjaga generasi kita. Sabriati mengatakan bahwa kurangnya kepekaan masyarakat dalam melakukan amar makruf nahi munkar dapat menyebabkan adanya kerusakan moral di masyarakat dan hal tersebut dapat menenggelamkan mereka sendiri.

 

“Suatu komunitas masyarakat jika mengabaikan atau membiarkan begitu saja terhadap hal-hal yang dapat merusak generasi dan tidak melakukan amalan amar makruf nahi munkar, maka bisa jadi mereka akan semakin tenggelam dalam kerusakan moral,” jelas Sabriati.

 

Selain negara yang menjadi benteng utama dan juga masyarakat, keluarga juga mempunyai kewajiban menjega generasi bangsa. Bahkan keluarga menjadi madrasah pertama bagi generasi bangs ini. Dengan banyaknya pihak yang ingin merusak generasi bangsa, seperti maraknya tersebar situs porno, usaha mereka melegalkan LGBT, penjualan narkoba yang mengincar usia usia remaja. Tentunya hal ini menjadi pekerjaan rumah yang berat bagi keluarga.

 

Maka menurut Sabriati setidaknya para keluarga mendidik generasi untuk beriman serta bertakwa kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

 

“Dengan banyaknya hal yang dapat merusak generasi, keluarga mempunyai pekerjaan rumah yang berat. Setidaknya para keluarga mengajari generasi kita untuk beriman serta bertakwa kepada Allah Subhanahu Wata’ala, lalu mengajarkan mereka tentang adab, zikir, ilmu dan hal-hal dasar yang dapat melindungi mereka,” pungkasnya.*

Ini Pesan Psikolog Elly Risman soal Pengasuhan Saat Pandemi

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Psikolog yang juga spesialis pengasuhan anak Elly Risman Musa mengajak merenungi kembali pentingnya keluarga dan menyentil kesadaran dalam kepengasuhan di masa pandemi.

Di antaranya, Pendiri Yayasan Kita dan Buah Hati ini mengemukakan perihal realitas baru yang harus dihadapi oleh orangtua di rumah. Tren pandemi Covid-19 hingga kini masih tinggi, anak anak belum sekolah. Semua di rumah.

“Kita tidak pernah jadi guru, sekarang kita harus jadi guru. Sekarang satu anak saja mata pelajarannya berbeda-beda dan sekarang kita harus menjadi guru dari sekian anak, sekian jenjang. Setelah itu kita tidak mengerti dan lebih-lebih mereka (anak) tidak mengerti. Lalu mereka tanya kita, kita nggak tahu harus jawab apa,” kata Elly.

Hal itu disampaikan Elly dalam acara Webinar Series 02 Pra Munas V Hidayatullah bertajuk “Mengokohkan Jatidiri Keluarga Sebagai Basis Peradaban Islam”, Sabtu kemarin sebagaimana siaran pers Panitia Munas V(irtual) Hidayatullah kepada media di Jakarta, Ahad (20/09/2020).

“Sebelumnya kita sub-kontrakkan anak kita ke sekolah selama delapan jam atau ke pesantren berbulan bulan. Nanti anak ketemu kita orangtua setelah berbulan-bulan. Kita tidak tahu dan tidak pernah bersama seperti saat sekarang ini,” imbuhnya.

Dengan adanya pandemi, Elly melanjutkan, orangtua akhirnya harus jadi guru bahkan sebagai guru les serta berperan sebagai guru semua jenjang dan tidak bisa minta tolong kepada siapa-siapa.

Di sisi lain, terdapat masalah pelik dimana tidak sedikit guru-guru tidak pernah diajar bagaimana mengajar daring dan anak-anak tidak diberi instruksi sebagai bekal.

Elly kemudian mengajak peserta webinar membayangkan dan menjawab perasaan masing-masing tentang pandemi yang sudah berlangsung lama ini di secarik kertas/ kolom chat. Ada yang menjawab stres, khawatir, takut, dan lain sebagainya.

“Perasaan adalah sesuatu yang sangat penting bagi manusia. Kalau (perasaan) dikenali, apalagi dia diterima, orang itu akan merasa seluruh dirinya diterima,” imbuhnya pada acara yang disiarkan live streaming kanal Youtube Hidayatullah ID dan telah disaksikan dua ribu lebih pemirsa tersebut.

Elly lalu meminta para ayah ibu untuk kembali membayangkan, selama 6 bulan masa pandemi ini tak ada yang tanya tentang perasaannya.

“Selama 6 bulan pandemi ini, ada nggak sih yang menanyakan perasaan Anda? Jangan-jangan ayah bunda juga nggak ada yang nanya perasaannya. Bercampur aduk perasaannya, apalagi sekarang dipertontonkan jenazah, kuburan, rumah sakit, 117 paramedis yang meninggal,” tukasnya.

Bunda Elly lantas menuturkan ilustrasi dengan berkisah yang memisalkan peserta, yang diwakili moderator acara, sebagai anaknya. Diasumsikan dialog ini terjadi antara orangtua kepada sang anak.

“Hidup itu dulu susah. Mama dulu itu ngerasain, Nak, sebelum melahirkan kamu, itu mama pernah ngalamin pergi antre sembako. Pernah dulu mama kecil, baju sekampung itu sama. Jadi, sulit sekali.”

“Oleh sebab itu, mama sama bapak, Nak, berusaha benar dan berjanji beritikad berdua agar bagaimana caranya kamu dan adik adikmu nak sekolah sampai ke tingkat tertinggi kalau bisa. Kenapa, kalau kau bisa sarjana, Nak, kami harapkan hidupmu akan lebih baik daripada kami.”

“Sampai di situ, kamu ngerti, Nak?”

“Jadi oleh sebab itulah mama dan papa berusaha menekankan keberhasilan akademis. Supaya sukses bahkan kalau bisa jadi pegawai negeri karena PNS itu nggak ada bangkrutnya,” lanjut Elly meneruskan analoginya.

Elly kemudian mengajak peserta webinar menarik ibrah dari tamsil yang dituturkannya tersebut. “Sampai di sini berhenti dulu menjadi anak. Jadilah orangtua,” katanya.

“Bukankah engkau, anak-anakku, selalu menekankan keberhasilan akademik anak-anakmu. Dan engkau terus mengindoktrinasi mereka untuk menjadi pegawai negeri. Dari mana, Nak? Dari mama,” ujarnya seraya mengajak berefleksi.

“Dari jaringan-jaringan otakmu yang mama bentuk sejak kecil, penting banget reputasi akademik itu. Mama, Nak, gak bisa mengenali diri mama, Nak,” lanjutnya.

Orangtua acapkali mengutamakan aspek akademik semata dengan harapan kelak anak menonjol dari sisi keduniaan namun lupa mentahtakan Allah Subhanahu Wata’ala dalam hati dan sanubarinya.

“Masa depan itu tergantung pendidikan, bukan karena Allah. Itu indoktrinasi yang selalu ditanamkan. Sementara kita nggak pernah mendengarkan perasaan. Coba ayah bunda menanyakan perasaan itu semua,” ujarnya.

Orangtua, lanjut Elly, harus berusaha mendengarkan, memahami, dan mendeteksi perasaan anak. Meruyaknya data kasus kenakalan remaja, pergaulan bebas, atau perceraian karena disebabkan perasaan yang tidak didengarkan.

Hal itu terjadi karena orangtua menggunakan pola interaksi yang keliru kepada anak-anaknya sehingga membuat moralnya jatuh, kepercayaan dirinya ambruk, dan akhirnya menjadi terasing. Karena itu, orangtua harus memiliki waktu mendengar aktif dan menghindari 12 gaya populer yang masih kerap dilakukan kepada anak.

Elly menekankan, orangtua perlu sekali menghindari 12 gaya tersebut yaitu memerintah anak, menyalahkan, meremehkan, membanding-bandingkan, mencap atau memberi label buruk, mengancam, menasihatinya di waktu yang tidak tepat sambil memaksanya harus menyimak dengan kata kata misalnya “dengerin mama!”.

Orangtua juga jangan sekali-kali membohongi anak dengan janji yang tak ditepati, menghiburnya dengan kesenangan sementara seperti memberi uang jajan tanpa memberikan pengertian terlebih dahulu, mengkritiknya dengan kasar, menyindir dan menganalisa semua hal yang kita anggap negatif pada dirinya.