Prancis Mohon Produknya Jangan Diboikot

ARAB(Jurnalislam.com)–Badan non-pemerintah Kuwait, Union of Consumer Co-operative Societies telah menarik beberapa produk Prancis untuk diboikot. Sejumlah pihak yang dikunjungi oleh Reuters pada hari Minggu (25/10) telah membersihkan rak barang seperti produk rambut dan kecantikan yang dibuat oleh perusahaan Prancis.

“Semua produk Prancis telah disingkirkan dari semua Consumer Cooperative Societies,” kata ketua Union of Consumer Co-operative Societies, Fahd Al-Kishti kepada Reuters.

Di Arab Saudi, negara dengan ekonomi terbesar di dunia Arab, tagar yang menyerukan boikot pengecer supermarket Prancis, Carrefour menduduki trending kedua Twitter pada hari Minggu (25/10).

Seruan boikot serupa juga telah dikeluarkan oleh kelompok-kelompok di Yordania dan Qatar. Sebelumnya, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) pada hari Jumat (23/10) mengecam pemenggalan guru yang telah mengguncang Prancis, tetapi juga mengkritik “pembenaran atas pelecehan berbasis penistaan terhadap agama apa pun atas nama kebebasan berekspresi”.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Prancis mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Minggu (25/10) waktu setempat, bahwa dalam beberapa hari terakhir telah ada seruan untuk memboikot produk Prancis, terutama produk makanan, di beberapa negara Timur Tengah serta seruan untuk demonstrasi melawan Prancis atas penerbitan kartun satire Nabi Muhammad dari Prancis.

“Seruan boikot ini tidak berdasar dan harus segera dihentikan, serta semua serangan terhadap negara kami, yang didorong oleh minoritas radikal,” kata pernyataan itu.

Sumber:detik.com

 

Macron Hina Nabi: Website Prancis Diretas, Produknya Diboikot

PARIS(Jurnalislam.com) – Presiden Prancis Emmanuel Macron dianggap telah menghina Islam setelah menyebutnya sebagai agama yang mengalami krisis di seluruh dunia. Dia juga menyinggung komunitas Muslim di negaranya yang dia tuduh sebagai separatis.

Imbas komentar anti-Islam Macron berdampak luas. Beberapa website (situs web) Prancis diretas para hacker. Parahnya lagi, produk-produk Prancis dilarang dijual di banyak negara mayoritas Muslim.

Ada kritik yang luar biasa atas kritik Presiden Prancis Emmanuel Macron atas pembunuhan seorang guru di Paris oleh ekstremis dan keputusannya untuk tidak menyerah soal kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad.

Beberapa situs web Prancis diserang dunia maya pada hari Minggu. Akun anti-malware dan unit dukungan di Twitter mengatakan serangan siber besar-besaran terhadap situs web Prancis sedang berlangsung.

“Gelombang serangan dunia maya telah menghantam situs web Prancis pada Minggu malam,” katanya, tanpa menjelaskan lebih lanjut, seperti dikutip EurAsian Times, Senin (26/10/2020).

Sumber:sindonews.com

PA212 Akan Aksi Besar-besaran Geruduk Kedubes Prancis

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Persaudaraan Alumni (PA) 212 bakal mendatangi Kedutaan Besar Prancis di Jakarta untuk mengecam pernyataan Presiden Emmanuel Marcon yang dinilai menghina Islam dan Nabi.

“Insya Allah kami siap turun ke jalan melakukan aksi ke depan Kedutaan Prancis,” kata Wakil Sekretaris Jendral PA 212, Novel Bamukmin, Senin (26/10).

PA 212, kata Novel, mengecam keras pernyataan Macron yang dianggap menghina Islam. Ia menilai Macron sama saja telah mendukung penistaan terhadap umat Islam di seluruh dunia.

“Yang jelas umat Islam seluruh dunia termasuk Indonesia marah,” ujarnya.

Novel lantas menyerukan kepada umat Islam di Indonesia memboikot produk-produk berasal dari Prancis yang beredar di Indonesia.

Namun, ia menyatakan bahwa pihaknya tak bisa menghalangi jika ada keinginan umat Islam melakukan sweeping warga negara Prancis yang menetap di RI.

“Untuk saat ini sikap yang paling spontan adalah memboikot produk Prancis dan meminta kepada Dubes Prancis mempunyai sikap tegas,” kata Novel.

Macron mengeluarkan pernyataan kontroversial dan dianggap menyinggung umat Islam dengan menyatakan kejahatan terorisme Islam harus ditindak tegas.

Ketua umum Partai La Republique en Marche (LREM) melontarkan pernyataan itu sebagai responsnya terhadap kasus pemenggalan Samuel Paty, guru yang dibunuh setelah menunjukkan karikatur Nabi Muhammad kepada para muridnya

Macron pun langsung mendapat kecaman dari berbagai pihak. Sejumlah negara Timur Tengah bahkan menyerukan boikot produk Prancis sebagai bentuk protes.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga mengecam pernyataan Macron tersebut. MUI pun meminta Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memanggil Duta Besar Prancis untuk Indonesia guna meminta klarifikasi pernyataan Macron.

Sumber:  cnnindonesia

Bernuansa Adu Domba Umat, Video NU Chanel Diminta Dicabut

SOLO (Jurnalislam.com)- Film pendek berjudul My Flag Merah Putih vs Radikalisme yang diunggah dan distreming akun youtube NU Chanel pada kamis, (22/10/2020) pukul 19.00 Wib terus menulai kontroversi.

 

Film berdurasi 7 menit 29 detik tersebut menampilkan adegan duel antara wanita berjilbab dengan wanita bercadar di sebuah lembah yang akhirnya dimenangkan oleh wanita berjilbab.

 

Kontroversi film tersebut muncul di menit 3 lebih 26 detik saat wanita berjilbab melepaskan cadar yang dikenakan dua wanita yang menjadi lawan bertarungnya di film My Flag Merah Putih vs Radikalisme.

 

Sekjen The Islamic Study and Action Center (ISAC) Endro Sudarsono pun ikut memberikan kritik untuk film yang mendapatkan 15 ribu komentar pada Senin, (26/10/2020).

 

Endro menyoroti soal pengguna cadar yang menjadi peran antagonis dalam film tersebut, padahal menurutnya, sebagian madzab khususnya madzab Syafi’i menyunahkan penggunaan cadar.

 

“Mengapa video tersebut ada kesan adu domba diantara umat Islam ?, ada madhorot dalam vidio tersebut dan prasangka terkait duit dan video tersebut,” katanya kepada jurnalislam.com pada senin, (26/10/2020).

 

Endro menyarankan bahwa sebaiknya video tersebut dievaluasi dan ditinjau ulang, jika bertujuan menumbuhkan cinta tanah air, hilangkan adegan cadar dan bendera hitam dan putih.

 

“Lebih tepat jika peran antagonis adalah bendera palu arit atau PKI yang lebih punya legalitas pelarangannya maupun validitas kejahatannya baik secaral empiris maupun historis di Indonesia,” ungkapnya.

“Sebagai penceramah, saya usulkan potongan video pilihan KH. Hasyim Muzadi yang lebih berbobot, teruji dan diakui dalam memimpin NU dan Nasionalisme tidak diragukan,” imbuhnya.

Endro melanjutkan bahwa komentar untuk film pendek tersebut mayoritas mengapresiasi secara sinis dan negatif.

“Dimana komentar tersebut cenderung kurang simpati terhadap dampak ke umat,” ujarnya.

“Untuk itu kepada pemimpin NU baik di Tanfidziah maupun yang di Syuriyah untuk menarik video tersebut, untuk dievaluasi. Semestinya umat islam lebih mengutamakan manfaat dari pada madhorot, apalagi ada unsur namimah, atau adu domba,” pungkasnya.

MUI Minta Menlu Panggil Dubes Prancis

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengecam sikap Macron terhadap Islam.

“MUI meminta kepada Menlu agar segera memanggil Dubes Prancis untuk Indonesia guna mendapatkan klarifikasi dan penjelasan komprehensif terkait sikap pernyataan Presiden Macron,” kata Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI, Muhyiddin Junaidi, dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan, Senin (26/10/2020).

Muhyiddin mengkritik Macron karena menurutnya, Macron telah mendukung Islamofobia secara tidak langsung. Muhyiddin menilai Macron telah menganggap umat Islam kurang belajar toleransi di Prancis.

“Presiden Macron kebanjiran kritik dari umat Islam dunia karena ia menganggap bahwa bahwa umat Islam perlu belajar toleransi saat berada di negara yang anti-intoleransi seperti Prancis. MUI menilai bahwa Macron secara tak langsung telah mendukung gerakan Islamphobia,” tutur Muhyiddin.

Sumber: detik.com

 

Edogan Serukan Warga Turki Boikot Produk Prancis

ANKARA(Jurnalislam.com) — Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyerukan warga Turki untuk memboikot produk Prancis. Hal itu berkaitan dengan komentar sentimen Presiden Prancis Emmanuel Macron tentang Islam.

“Saya menyerukan kepada bangsa saya, jangan membeli produk Prancis,” kata Erdogan dalam pidato yang disiarkan televisi di istana presiden di Ankara pada Senin (26/10), dikutip laman Ahval.

Erdogan pun mengomentari kejadian penyerangan Muslim di Prancis. “Jika ada penganiayaan terhadap Muslim di Prancis, maka saya menyerukan para pemimpin dunia untuk bertindak bersama untuk melindungi mereka,” ujarnya.

Sebelumnya Erdogan mempertanyakan kesehatan mental Macron atas sikapnya terhadap Islam dan Muslim. Macron telah menggambarkan Islam sebagai agama “dalam krisis”. Hal itu dia sampaikan pasca kejadian pemenggalan kepala seorang guru di Paris awal bulan ini.

Pemenggalan itu terjadi setelah guru terkait menunjukkan karikatur Nabi Muhammad SAW di sebuah kelas tentang kebebasan berekspresi. Hal tersebut telah memicu kemarahan Muslim Prancis.

Alih-alih membela komunitas Muslim Prancis yang tersakiti, Macron justru membela perbuatan guru tersebut. Menurutnya tak ada yang salah dengan membuat dan menunjukkan karikatur Nabi Muhammad SAW.

Macron mengatakan akan mengajukan undang-undang (UU) pada Desember mendatang untuk memperkuat UU yang secara resmi memisahkan gereja dan negara.

Sumber: republika.co.id

Elemen Ormas Islam Kecam Pernyataan Presiden Prancis

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Presiden Prancis Emmanuel Macron memunculkan kontroversi lewat pernyataannya yang dianggap menghina Islam.

Hal ini menyusul pemenggalan seorang guru di Prancis gegara menunjukkan kartun Nabi Muhammad SAW. Seorang guru dipenggal di Prancis pada Jumat (16/10) lalu.

Sebelum peristiwa pemenggalan guru, Macron juga berbicara bahwa Islam adalah, “Agama yang dalam krisis di seluruh dunia hari ini.” Dia akan berperang melawan Islamis radikal di Prancis. Pernyataan Macron dilansir France 24 dengan AFP.

Pernyataan Macron itu pun mendapat kecaman dari beberapa pihak. Hingga organisasi masyarakat di RI pun turut memberikan respons atas pernyataan Macron. Apa saja ormas yang turut memberikan respons. Berikut penjelasannya:

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengkritik sikap Macron terhadap Islam. MUI bahkan meminta Menlu segera memanggil dubes Prancis di Indonesia untuk dimintai klarifikasi atas pernyataan Macron.

“MUI meminta kepada Menlu agar segera memanggil Dubes Prancis untuk Indonesia guna mendapatkan klarifikasi dan penjelasan komprehensif terkait sikap pernyataan Presiden Macron,” kata Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI, Muhyiddin Junaidi, dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Senin (26/10/2020).

Muhyiddin mengkritik Macron karena, menurutnya, Macron telah mendukung Islamofobia secara tidak langsung. Muhyiddin menilai Macron telah menganggap umat Islam kurang belajar toleransi di Prancis.

“Presiden Macron kebanjiran kritik dari umat Islam dunia karena ia menganggap bahwa bahwa umat Islam perlu belajar toleransi saat berada di negara yang anti-intoleransi seperti Prancis. MUI menilai bahwa Macron secara tak langsung telah mendukung gerakan Islamphobia,” tutur Muhyiddin.

sumber: detik.com

 

Seruan Boikot Produk Prancis Terus Meluas

KUWAIT(Jurnalislam.com)–Seruan boikot produk-produk dari Prancis semakin meluas dengan populernya tagar #Boycottfranceproducts di Twitter. Seruan boikot ini dipicu atas pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang berjanji untuk tidak menyerahkan karikatur Nabi Muhammad SAW yang dibuat warga negaranya.

“Seluruh dunia Islam harus mengikuti Kuwait untuk memprotes Prancis dan serangan terbaru yang memalukan terhadap kepercayaan Muslim. #boycottfranceproducts #boycottfrance #MacronGoneMad, ” cuit salah seorang pengguna Twitter, Ansar Abbasi di akunnya seperti dilansir Khaleej Today, Ahad (25/10).

Di Kuwait, beberap postingan foro dipublikasikan di media sosial dan menunjukkan penarikan produk keju Prancis “Kiri” dan “Peppel” dari rak beberapa toko. Tercatat hingga kini, negara-negara seperti Turki, Iran, Yordania dan Kuwait telah mengutuk penerbitan karikatur Nabi Muhammad.

Organisasi Kerja Sama Islam juga mengecam pidato politik resmi yang dikeluarkan oleh beberapa pejabat Prancis dengan cara yang menyinggung hubungan Prancis-Islam dan memicu perasaan kebencian untuk keuntungan politik partisan.

Wakil Ketua Federasi Masyarakat Koperasi Kuwait, Khaled Al-Otaibi, mengatakan 60 koperasi telah mengumumkan pemboikotan produk Prancis dari 68 produk yang didistribusikan ke seluruh Kuwait.

“Kami telah memindahkan semua produk Prancis, yaitu keju, krim, dan kosmetik, dari rak koperasi dan mengembalikannya ke agen resmi merek-merek ini di Kuwait,” katanya.

Kepala Travel Agencies Union, Muhammad Al-Mutairi juga mengatakan banyak perjalanan ke Prancis dihentikan sebagai respon karikatur nabi.

“Banyak agen perjalanan di Kuwait tidak lagi menyediakan layanan reservasi penerbangan ke Prancis atau reservasi hotel di sana karena gambar Nabi Muhammad yang menyinggung,” ujarnya.

Sumber:republika.co.id

Klinik Bersalin RBC Berikan Pelatihan Budidaya Lele untuk Keluarga Dhuafa

BANDUNG(Jurnalislam.com)–Rumah Bersalin Cuma-Cuma (RBC) mengadakan  Pelatihan dan pemberian paket budidaya ikan lele dan kangkung di ember, Pemberian paket sembako dan Pembagian bingkisan untuk keluarga dan anak yatim dan dhuafa di komplek Pesantren At-Tazhimiyyah, Holis, Bandung .

Pelatihan yang dilakukan pada hari Jum’at(23/10), merupakan bagian dari acara Tasyakur bi ni’mah 16 Tahun RBC, sekaligus sebagai bentuk keprihatinan RBC terhadap ibu dan bayi di Indonesia yang masih rentan gizi buruk karena ketahanan pangan yang minim.

Sudah 16 Tahun Rumah Bersalin Cuma-Cuma (RBC) membantu persalinan keluarga dhuafa, telah berkontribusi lebih 202.449 layanan kesehatan, dan menjadi saksi lebih dari 9336 kelahiran bayi dari keluarga yang kurang mampu. RBC adalah program kesehatan yang berada di bawah Sinergi Foundation yang merupakan LAZ tingkat provinsi Jawa Barat.

CEO Sinergi Foundation Asep Irawan, mengucapkan terimakasih kepada yayasan at tazhimiyah yang sudah bersinergi dalam hadirnya RBC. “Semoga wakaf para muwaqqif, jadi amal jariyah yang terus mengalir.” Ia juga mengharapkan kehadiran RBC bisa bermanfaat besar untuk para member yang dhuafa.

Menurut pengasuh Pesantren Attazhimiyah, Buya Aom, pihaknya merasa sangat bersyukur dengan adanya kerjasama wakaf dengan RBC. “Selain wakaf tanah, saya juga terus mendoakan untuk kemajuan dan kelancaran klinik RBC,” tambahnya.

Layanan RBC mulai beroperasi mulai tahun 2004 di Jalan Holis Bandung, dengan bangunan seluas 700 meter persegi dengan 5 ruang rawat inap dengan kapasitas 2-3 tempat tidur di setiap ruangan. Pada tahun 2010, RBC memutuskan untuk memperluas jangkauan layanan dengan membuka cabang di Jalan Raya Soreang, Katapang.

Untuk mendapatkan fasilitas bersalin di RBC, pasien harus memenuhi kriteria dari 8 golongan penerima zakat serta mendaftarkan diri dengan melengkapi berkas pendaftaran. Setelah itu, pihak RBC akan melakukan survei dengan mendatangi rumah calon member dan jika sudah terverifikasi maka pasien akan dijadikan member.

Meskipun gratis, setiap pasien dhuafa diberikan pelayanan yang prima dan sama seperti pelayanan yang berbayar. mereka mendapatkan fasilitas kesehatan gratis diantaranya pemeriksaan kehamilan, persalinan hingga pemantauan tumbuh kembang anak sampai usia 1 tahun. Tak hanya itu, pasien juga diberdayakan dalam program pemberdayaan dengan diberikan pelatihan untuk mengembangkan tingkat ekonomi mereka.

Rumah Bersalin Cuma-Cuma senantiasa berusaha untuk meningkatkan mutu dengan memberikan pelayanan optimal agar lebih banyak pasien dari kalangan dhuafa yang terbantu.

Agar kemanfaatan pelayanan persalinan bagu dhuafa lebih maksimal lagi, Sinergi Foundation berencana membangun Rumah Sakit Wakaf Ibu dan Anak (RSWIA), sebuah Rumah Sakit  yang terletak di Jalan Soreang yang menyuguhkan fasilitas kesehatan umum yang memberikan pelayanan lebih lengkap.

OKI: Penerbitan Charlie Hebdo Rusak Hubungan Islam – Prancis

PRANCIS(Jurnalislam.com)--Organisasi Kerjasama Negara-negara Islam (OKI) menyebut kasus penerbitan ulang karikatur Nabi Muhammad oleh Charlie Hebdo  dapat merusak hubungan umat Islam dengan Prancis dan hanya menjadi komoditas politik.

Sebelumnya, majalah satire Prancis, Charlie Hebdo, mengumumkan menerbitkan ulang kartun Nabi Muhammad, pada Selasa (1/9), untuk menandai dimulainya persidangan penyerangan kantor mereka terkait karikatur itu pada 7 Januari 2015.

Ketika itu, 12 orang, termasuk beberapa kartunis terkemuka, tewas dalam serangan yang dilakukan dua bersaudara, Said dan Cherif Kouachi, di kantor Charlie Hebdo, Paris.

“Sekretariat Jenderal Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) telah mengikuti aksi penerbitan karikatur satire yang memperlihatkan sosok Nabi Muhammad, [OKI] takjub mengetahui adanya penilaian yang tidak diharapkan dari sejumlah politisi tertentu di Prancis,” demikian pernyatan resmi OKI, dari Jeddah, Arab Saudi, dikutip dari Antara.

“Mengingat pemikiran demikian dapat mengancam hubungan Muslim dan rakyat Prancis, meningkatkan kebencian antarsesama, dan hanya menjadi komoditas politik kelompok tertentu,” lanjut pernyataan itu.

Sejumlah politikus Prancis, terutama partai sayap kanan Front Nasional pimpinan Marine Le Pen, mendukung penerbitan karikatur nabi itu serta menghubungkan aksi teror dengan ajaran Islam, serta menyuarakan ujaran anti-Islam.

Sementara, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan tidak bisa mencampuri keputusan redaksional majalah.

Usai pengumuman penerbitan ulang karikatur itu, dua orang dilaporkan terluka dalam serangan menggunakan senjata tajam di dekat bekas kantor Charlie Hebdo, Jumat (25/9).

Sumber:cnnindonesia