ANNAS Banten : Eksekusi Nimr Sangat Tepat!

CILEGON (Jurnalislam.com) – Formatur tertunjuk Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Banten, KH. Hafidin menilai eksekusi mati ulama Syiah asal Iran Nimr Baqir Al-Nimr sudah sangat tepat. Menurut Kyai Hafid, tokoh Iran itu kerap menghasut masyarakat untuk melawan pemerintah Saudi.

“Memang dia sudah banyak bermasalah di Saudi, menghasut masyarakat dalam melawan pemerintah Arab Saudi,” katanya kepada Jurnalislam, Jum’at (07/01/2015).

Mudir Pondok Pesantren Ashabul Maimanah ini mengatakan, Syiah di Arab Saudi memang sudah merasa kuat sehingga dengan mudah melontarkan berbagai perkataan yang secara politik tidak membuat nyaman kerajaan Arab Saudi.

“Dieksekusinya orang Syiah di manapun berada kita harus memberikan apresiasi,” tegasnya.

Terkait demonstransi besar-besaran yang dilakukan pengikut Syiah di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, Kyai Hafidin melihatnya sebagai keuntungan bagi umat Islam. “Ini sebenarnya keuntungan bagi umat Islam, untuk melihat Syiah ada dimana saja,” katanya.

Menurutnya eksekusi mati yang dilakukan pemerintah Saudi berada pada dua sisi; agama dan politik. “Sisi agamanya kita dukung, tapi kalau dari sisi politiknya kita berlepas diri dari apa yang mereka lakukan,” tandasnya.

Untuk diketahui, Nimr merupakan tokoh Syiah yang juga dikenal keras dalam menghujat para sahabat Nabi.

Reporter : Muhammad Fajar | Editor: Ally | Jurnalislam

20.000 Anak-anak Suriah Kelaparan di Madaya

SURIAH (Jurnalislam.com) – Lebih dari 20.000 anak-anak di kota Madaya Suriah yang terkepung menderita kelaparan dan beresiko mati karena kelaparan, Dana Anak-anak PBB (United Nations Children's Fund) mengatakan pada Jumat (08/02/2016).

Hampir 42.000 orang yang terkepung di Madaya kelaparan dan beresiko mati karena kelaparan, setengah dari mereka adalah anak-anak, juru bicara UNICEF Christophe Boulierac mengatakan dalam konferensi pers di Kantor PBB di Jenewa, Jumat.

Rezim Suriah akhirnya setuju untuk mengizinkan bantuan ke kota Madaya yang terkepung dimana banyak warga dilaporkan mati kelaparan, kata PBB, Kamis.

PBB mengatakan pengiriman bantuan akan mencapai Madaya dalam beberapa hari mendatang.

Selain memberikan bantuan ke Madaya, PBB juga akan memberikan bantuan kepada dua kota lain, Foah dan Kefraya, di provinsi Idlib Suriah yang dikepung oleh kelompok pemberontak, tambahnya.

Konflik Suriah, yang akan memasuki tahun keenam pada awal 2016, telah menewaskan lebih dari 250.000 orang dan mengubah negara itu menjadi sumber pengungsi terbesar di dunia, menurut PBB.

Hampir delapan juta penduduk mengungsi di dalam negeri dan lebih dari empat juta lainnya ke negara-negara terdekat sejak konflik dimulai.

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

Pertempuran Sengit di Sangin: 3 APC Hancur, 32 Pasukan Gabungan Tewas dan Terluka

HELMAND (Jurnalislam.com) -Pejabat melaporkan dari distrik Sangin mengatakan bahwa Mujahidin gagah berani dari Imarah Islam melancarkan serangan pada daerah-daerah lokasi pasukan gabungan melakukan penerjunan beberapa waktu lalu, lansir Al Emarah News, Jumat (08/01/2016)

Serangan yang menggunakan senjata berat dan ringan mengakibatkan Mujahidin menduduki pusat pemerintahan kabupaten, markas besar polisi dan bangunan lain yang ditempati musuh.

Laporan mengatakan bahwa 32 pasukan musuh gabungan tewas dan terluka dalam operasi, sementara 3 APC, 3 kendaraan sedan, 3 truk logistik, sebuah truk pickup dan mobil kontainer penuh senjata ikut hancur. Sejumlah besar peralatan lainnya disita.

Saat ini gedung administrasi, bangunan markas besar polisi, dan seluruh wilayah kabupaten berada di bawah kendali Mujahidin dan musuh hanya tersisa di dalam pos terkepung yang terletak di tepi luar pusat kabupaten.

 

Deddy | Shahamat | Jurnalislam

 

Libur, Dubes Rusia Tak Bisa Ditemui. NGO: "Padahal Mereka Tidak Pernah Libur Membantai Warga Suriah"

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Dengan alasan libur, perwakilan Aliansi Merah Putih Peduli Suriah yang menggelar aksi damai di depan Kedubes Rusia siang tadi, Jumat (8/1/2015) batal menemui Duta Besar Rusia untuk Indonesia.  

Salah seorang perwakilan Aliansi Merah Putih, Muhammad Pizzaro mengatakan, upayanya menemui duta besar Rusia adalah untuk menyampaikan amanat masyarakat Indonesia.

"Kami tadi dari dari aliansi merah putih berupaya menemui kedubes rusia untuk menyampaikan amanat masyarakat Indonesia, amanat tokoh-tokoh Nasional, amanat para alim ulama, amanat NGO-NGO peduli kemanusiaan di suriah, namun sayang sekali ternyata pihak kedutaan besar Rusia tidak berani untuk bertemu dengan NGO dengan alasan mereka libur," ungkap perwakilan NGO IslamposAid itu.

Padahal, lanjutnya, Rusia tidak pernah libur membombardir Suriah dan membantai rakyat Suriah. "Tapi kenapa ketika kita mau bertemu beritikad baik atas nama kemanusiaan, atas nama HAM, atas nama keadilan untuk bertemu dengan pihak kedutaan besar rusia, dengan entengnya mereka menjawab kami libur, dengan entengnya menjawab tidak bisa menemui," tegas Pizzaro yang juga menolak saat akan dipertemukan dengan staff keamanan kedutaan.

Aliansi Merah Putih Peduli Suriah merupakan gabungan sejumlah ormas dan NGO kemanusiaan yang menaruh perhatian terhadap krisis kemanusiaan Suriah. Forum Indonesia Peduli Syam, Majelis Az-Zikra, Sinergi Foundation, Sapa Islam, Road 4 Peace, Auction4Humanity, Charity4Syria, Human Right Care for Palestine, Islampos Aid, Mahasiswa Pecinta Islam, Syam Organizer, KAMMI, Sahabat Al Aqsha, Sahabat Suriah, Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC), World Human Care, Hilal Ahmar Society Indonesia, Tim Pengacara Muslim tergabung di dalamnya.

Reporter: Zul, Irfan | Editor: Ally | Jurnalislam

 

Aliansi Merah Putih Peduli Suriah Demo Kedubes Rusia

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Aliansi Merah Putih Peduli Suriah menggelar aksi unjuk rasa di depan Kedutaan Besar Rusia Jl Rasuna Said, Jakarta, Jumat (8/1/2016). Aliansi yang terdiri dari sejumlah ormas dan NGO kemanusiaan ini mengutuk intervensi Rusia di Suriah.

“Kehadiran kita di sini adalah sebagai bentuk kepedulian, solidaritas kita atas apa yang terjadi di Suriah,” kata koordinator aksi Wisnu Teguh Tri Kuncoro.

Wisnu mengatakan, apa yang terjadi di Suriah adalah pelanggaran HAM berat. “Sesungguhnya apa yang terjadi di Suriah sudah jelas dan gamblang, yang terjadi di sana adalah pelanggaran HAM dan pembantaian,” tegas Wisnu.

Beberapa perwakilan ormas dan NGO menyampaikan orasinya. Seperti yang disampaikan perwakilan Muhammadiyah Disaster Management Center (MCDC), Novel. Ia mengatakan, jika umat Islam Indonesia tidak bersatu maka apa yang terjadi di Suriah bisa terjadi di Indonesia.

“Kita harus bersatu di bawah kalimat Laa ilaaha illallah,” tegasnya.

Massa juga terlihat membawa spanduk berisi kecaman terhadap pemeritah Rusia dan ungkapan empati terhadap korban kekejaman serangan militer Rusia.

Aliansi Merah Putih Peduli Suriah merupakan gabungan sejumlah ormas dan NGO kemanusiaan yang menaruh perhatian terhadap krisis kemanusiaan Suriah. Forum Indonesia Peduli Syam, Majelis Az-Zikra, Sinergi Foundation, Sapa Islam, Road 4 Peace, Auction4Humanity, Charity4Syria, Human Right Care for Palestine, Islampos Aid, Mahasiswa Pecinta Islam, Syam Organizer, KAMMI, Sahabat Al Aqsha, Sahabat Suriah, Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC), World Human Care, Hilal Ahmar Society Indonesia, Tim Pengacara Muslim tergabung di dalamnya.

Reporter: Zul, Irfan | Editor: Ally | Jurnalislam

Aliansi Merah Putih Peduli Suriah: Adili Putin!

JAKARTA (Jurnalislam) – Invasi militer Rusia ke wilayah Suriah sejak malam 30 September 2015 telah memperburuk kondisi kemanusiaan di Suriah. Alasan Rusia untuk masuk ke Suriah dengan dalih memerangi terorisme, justru bertolak belakang dengan fakta di lapangan. Ribuan warga sipil tewas. Ratusan Wanita dan anak-anak meregang nyawa.

Tak pelak, agresi Rusia hanyalah menambah amunisi untuk melanggengkan kejahatan HAM yang dilakukan diktator Bashar Assad.

Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) mencatat, 55.219 orang telah tewas akibat tragedi kemanusiaan di Suriah sejak 1 Januari sampai 31 Desember 2015. Warga sipil menempati jumlah korban terbanyak, lebih dari 20.000 orang. 

Banyak dari mereka mengalami cacat permanen, ratusan ribu anak-anak menjadi yatim piatu, lebih dari setengah populasi Suriah mengungsi sejak perang berkecamuk di sana.

Amnesty International mencatat, akibat agresi Rusia sedikitnya 100 ribu orang telah melarikan diri dari Aleppo, sementara 1.000 lainnya melarikan diri ke sebuah kamp pengungsi di pinggiran kota Atma, Idlib.

Indikasi banyaknya korban sipil dari serangan Rusia ke Suriah memang sudah terlihat sejak serangan pertama. Sebanyak 35 warga menjadi korban di Idlib pada malam 30 September 2015.

Bahkan serangan terbesar terjadi di Provinsi Idlib, 49 warga Sipil pada 29 November 2015 meninggal dunia secara bersamaan setelah tiga misil menghantam satu pasar di Ariha.

Selain membunuh warga sipil, serangan Rusia juga menyasar fasilitas medis dan konvoi kemanusiaan. Di Idlib, Aleppo, dan Hama, Rusia membombardir instalasi kesehatan. 

Akibatnya, rumah sakit dan ambulans hancur. Para dokter, perawat, staf rumah sakit dan pasien pun turut tewas dalam serangan Rusia. Bahkan, pada akhir November 2015 lalu, pesawat-pesawat tempur Rusia menyerang konvoi bantuan kemanusiaan wilayah Aleppo yang berusaha memberikan pasokan kepada para pengungsi. 

Maka diamnya masyarakat Internasional atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan di Suriah, akan mendorong lagi para penjahat untuk membunuh manusia dan kemanusiaan. Sudah seharusnya Indonesia sebagai bangsa yang besar memiliki sikap nyata untuk menghentikan tragedi kemanusiaan di Suriah.

Maka, mencermati kondisi di atas, kami dari Aliansi Merah Putih Peduli Suriah menyatakan sikap:

1. Mengutuk intervensi militer Rusia ke Suriah yang telah memperburuk kondisi kemanusiaan di Suriah

2. Menolak klaim Rusia yang masuk ke Suriah untuk memerangi kelompok tertentu, padahal faktanya korban terbesar dari serangan Rusia justru adalah rakyat sipil. 

3. Menuntut Rusia untuk menghormati hak-hak sipil rakyat Suriah yang dilindungi Hukum Internasional. 

4. Mendesak agar Rusia menghentikan invasi militernya di Suriah karena terbukti telah menghancurkan kondisi kemanusiaan di Suriah, dan membunuh ribuan warga sipil.

5. Mendesak Mahkamah Pidana Internasional untuk menyeret Vladimir Putin ke pengadilan internasional sebagai penjahat perang dan kemanusiaan. 

Aliansi Merah Putih Peduli Suriah

Forum Indonesia Peduli Syam, Majelis Az-Zikra, Sinergi Foundation, Sapa Islam, Road 4 Peace, Auction4Humanity, Charity4Syria, Human Right Care for Palestine, Islampos Aid, Mahasiswa Pecinta Islam, Syam Organizer, KAMMI, Sahabat Al Aqsha, Sahabat Suriah, Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC), World Human Care, Hilal Ahmar Society Indonesia 

Koordinator
Wisnhu Teguh Tri Kuncoro

Reporter: Zul | Editor: Irfan | Jurnalislam

Kultur Orang Tua Pengaruhi Tumbuh Kembang Anak

MALANG (Jurnalislam.com) – Tokoh pendidikan yang juga mantan Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof Dr Imam Suprayogo, mengatakan kepribadian atau kultur yang menjadi kebiasan orangtua akan berpengaruh terhadap pola tumbah kembang anak di kemudian hari. Namun sayangnya ini tidak banyak disadari.

“Generasi Robbani dilahirkan dari keluarga yang sehat yaitu keluarga yang senantiasa menjaga kehormatannya, baik ayah maupun ibunya,” kata Imam Suprayogo saat menjadi narasumber seminar pendidikan nasional di arena Munas IV Muslimat Hidayatullah di Kampus Arrohmah Putri Pesantren Hidayatullah Malang, Jawa Timur, Kamis (07/01/2015).

Menurut Imam, lahirnya generasi Rabbani yang kokoh imannya dan kuat kepeduliannya tidak bisa instan atau sesingkat yang mungkin banyak orang pikirkan.

Melahirkan generasi Rabbani, lanjut Imam, memerlukan desain yang tidak sederhana karena tidak saja melibatkan sekolah sebagai medium pendidikan formal, melainkan juga menuntut adanya keterlibatan aktif banyak aspek. Tidak saja sehat fisiknya, melainkan sehat pula ruhaninya.

“Harus dimulai sejak awal bertemunya laki-laki dan perempuan yang sah menurut Islam dalam bingkai pernikahan,” kata dia.

Tokoh di balik berbagai capaian prestisius perguruan tinggi UIN Malang ini mengutarakan, umat Islam sudah lama memimpikan penyelenggaran pendidikan Islam yang konfrehensif. Pendidikan Islam ini diharapkan mampu mengantarkan peserta didik menjadi manusia insan kamil yakni menjadi figur beriman, beramal saleh, serta akhlakul karimah.

Karena itu, menurut Imam, sejatinya pendidikan Islam adalah kebutuhan mutlak. Sebab itu masyarakat pun rela berkorban demi kelangsungan generasi bisa mendapatkan kepengasuhan dan pendidikan berkualitas yang dilandasi dengan asas-asas Islami.

Atas realitas itu, Imam Suprayogo mengatakan hendaknya negara tidak mungkin mengabaikan lembaga pendidikan Islam apalagi melarangnya.

“Generasi Rabbani adalah harapan kita semua yang mudah-mudahan lahir dari sini,” kata Imam Suprayogo.

Munas IV Muslimat Hidayatullah menggelar acara seminar kebangsaan membahas isu pendidikan kekinian dengan mengusung tema “Pendidikan Putri Berkualitas Menjamin Lahirnya Generasi Robbani Calon Pemimpin Bangsa”. Seminar ini menghadirkan pembicara lainnya yaitu Rektor ITS Prof. Ir. Joni Hermana M.Sc.ES.Ph.D dan Ketua Umum DPP Hidayatullah Nashirul Haq, MA.

Hidayatullah Teguhkan Sistem Syura dalam Menentukan Pemimpin

MALANG (Jurnalislam.com) – Ketua Umum DPP Hidayatullah, Nashirul Haq, mengatakan Hidayatullah telah menetapkan sistem Syura sebagai teknis pengambilan keputusan dan memilih serta menetapkan pemimpin.

“Kita meyakini bahwa sistem syura berbeda dengan sistem demokrasi, syura berlandaskan pada kedaulatan syariat, sedangkan demokrasi berlandaskan pada kedaulatan rakyat dimana suara mayoritas menjadi dasar dalam menetapkan keputusan,” katanya saat memberikan sambutan pembukaan Munas IV Muslimat Hidayatullah di Kampus Arrohmah Putri Pesantren Hidayatullah Malang, Jawa Timur, Kamis (7/1/2015).

Dikatakan Nashirul, jika kebenaran itu diserahkan kepada keinginan mayoritas manusia, maka niscaya akan menjadi rusak tatanan kehidupan ini. Pasalnya manusia akan menentukan kebenaran berdasarkan selera dan keinginan hawa nafsunya.

Namun, ditegaskan Nashirul, proses menetapkan seseorang sebagai pemimpin di Hidayatullah tidaklah dilakukan dengan serta merta.

Dia menyebutkan, jauh sebelum Musyawarah Nasional, Pimpinan Pusat Hidayatullah periode 2010-2015 telah mempersiapkan regenerasi kepemimpinan di Hidayatullah melalui berbagai training dan mengidentifikasi potensi setiap kader melalui psikotes.

Selain itu, dalam proses evaluasi dan identifikasi itu DPP Hidayatullah juga menggali pemahaman kader terhadap sistematika wahyu sebagai manhaj gerakan, rekam jejak selama ini dan sejauh mana kecintaan ummatnya melalui proses penyerapan aspirasi.

“Oleh karena proses pergantian kepemimpinan ini telah dipersiapkan begitu serius dan dalam waktu yang cukup panjang, maka fokus utama Musyawarah Nasional Muslimat Hidayatullah ini diharapkan lebih kepada pembahasan tentang program lima tahun ke depan. Bagaimana Muslimat Hidayatullah dapat memberikan kontribusi yang lebih optimal untuk kemaslahatan ummat, yakni mencerahkan dan memberdayakan ummat melalui gerakan tarbiyah dan dakwah,” tuturnya.

Nashirul berpesan, keputusan Munas tentang kebijakan-kebijakan strategis Hidayatullah dan rekomendasi-rekomendasi mesti diterjemahkan lebih lanjut di Munas Muslimat Hidayatullah ini dalam bentuk program-program kerja yang lebih rinci dan kuantitatif khususnya yang terkait dengan mainstream tarbiyah dan dakwah.

Nashirul mengakui, tidak ada hasil keputusan yang sempurna dan dapat memuaskan semua pihak. Karenanya, pesan dia, kita semua diuji oleh Allah untuk bersabar dan menerima hasil-hasil musyawarah yang telah disepakati.

“Selanjutnya kembalikanlah semua urusan kepada Allah Subhanahu wa Taála, berdo’a agar Allah memberikan kebaikan atas keputusan yang disepakati,” pesannya dengan mengutip Al Qur’an Surah Ali Imran ayat 159:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu . Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

“Proses musyawarah yang kita ikuti dalam Munas IV Muslimat Hidayatullah ini bertujuan untuk menyatukan pikiran, menguatkan tekad dan membangun soliditas jamaah untuk mengemban amanah kepengurusan lima tahun ke depan. Setelah itu kita bertawakkal dan berserah diri kepada Allah Azza wa Jalla, mengiringi setiap gerak langkah kita dengan doa dan munajad," pungkasnya.

Sumber: Hidayatullah | Editor: Ally | Jurnalislam

Rektor ITS Sebut Orang Tua Madrasah Pertama Bagi Anak

MALANG (Jurnalislam.com) – Rektor Institut Teknologi Surabaya (ITS) Prof. Ir. Joni Hermana M.Sc.ES.Ph.D, mengatakan orang tua adalah madarasah pendidikan pertama bagi anak-anaknya.

“Oleh karena itu, pembinaan generasi Robbani yang benar agamaanya dan berorientasi akhirat harus dimulai dari keluarga,” kata Joni Hermana saat menjadi narasumber seminar pendidikan nasional Munas IV Muslimat Hidayatullah di Kampus Arrohmah Putri Pesantren Hidayatullah Malang, Jawa Timur, Kamis (07/01/2015).

Profesor Joni menegaskan, peran seorang ibu dalam keluarga sangat penting untuk membentengi generasi dari perang pemikiran dan hiruk pikuk fitnah akhir zaman yang sedang terjadi sekarang ini.

“Ada beberapa gejala yang tersusun sistematis untuk mencegah lahirnya generasi Rabbani, yaitu dijauhkannya para generasi Islam dari kitab suci Al-Qur’an, masjid dan llmu,” kata dia di hadapan ratusan peserta Munas IV Muslimat Hidayatullah.

Atas kepeduliannya terhadapa masalah generasi muda tersebut, pada akhir Agustus tahun lalu Joni Hermana meluncurkan “Gerakan Shalat Subuh Berjama’ah” di kampus yang ia pimpin.

Melalui “Gerakan Shalat Subuh Berjamaah”, Joni ingin mahasiswa mempunyai misi ketika kuliah. Sehingga kehidupan yang dijalani menjadi barokah.

“Ketika mereka kuliah itu sebenarnya ada misi, tidak sekedar mengejar duniawi seperti gelar atau pekerjaan, itu terlalu kecil,” ujarnya.

Menurut Joni Hermana, ada dimensi lain yang lebih luas, yakni dimensi akhirat. Sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an bahwa tujuan manusia diciptakan adalah semata untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Karenanya, Joni Hermana mendorong Muslimat Hidayatullah terus menguatkan perannya dalam mengokohkan keluarga.

Munas IV Muslimat Hidayatullah menggelar acara seminar kebangsaan membahas isu pendidikan kekinian dengan mengusung tema “Pendidikan Putri Berkualitas Menjamin Lahirnya Generasi Robbani Calon Pemimpin Bangsa”. Seminar ini menghadirkan pembicara lainnya yaitu Tokoh pendidikan yang juga mantan Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof Dr Imam Suprayogo dan Ketua Umum DPP Hidayatullah Nashirul Haq, MA.

Ally | Jurnalislam

Jamaah Ansharusyariah: Indonesia Harus Tiru Sikap Tegas Arab Terhadap Iran

SURAKARTA (Jurnalislam.com) – Pemutusan hubungan diplomatik negara-negara Arab terhadap Iran ditanggapi positif oleh Jamaah Ansharusy Syariah. Melalui juru bicaranya, Abdul Rachim Ba’asyir menilai, keputusan tersebut akan memberi efek positif bagi umat Islam secara umum.

“Kita berharap dengan semakin banyak negara yang memutuskan hubungan diplomatiknya kepada Iran akan menjadikan Iran tidak banyak bisa bergerak melakukan kedzalimannya di berbagai belahan dunia,” ujarnya kepada Jurnalislam di Surakarta, Kamis (7/1/2016).

Ustadz Iim, sapaan karibnya, berharap keputusan tersebut segera diikuti oleh negara-negara lainnya termasuk Indonesia.

“Kita juga berharap agar Indonesia bisa bersikap tegas pada Iran, karena Iran sebagai negara yang mensupport berbagai kegiatan pelanggaran HAM di dunia seperti Suriah,” tegasnya.

Selain itu, Iran juga terbukti mendukung gerakan-gerakan yang mengacaukan keamanan negara- negara seperti dukungannya terhadap pemberontak Syiah Hautsi di Yaman dan Hezbollah di Lebanon.

“Jika Indonesia membiarkan pengaruh Iran menyebar di negara ini, maka bisa jadi konflik akan segera muncul di negeri ini,” cetusnya.

Ustadz Iim menilai, Iran tengah berupaya memperluas hegemoninya dengan cara yang buruk. Iran telah menghalalkan segala cara hingga menumpahkan darah untuk menggapai tujuannya itu.

“Termasuk di negara kita saat ini sedang dalam proses diprovokasi untuk terjadi pertumpahan darah serta perseteruan antar sesama muslim,” ungkapnya.

Ustadz Iim menjelaskan, Iran sebagai negara yang menganut ideologi Syiah jelas tidak akan suka dengan keberadaan kaum muslimin khususnya Ahlu Sunnah wal Jamaah (sunni).

“Mereka berusaha menghancurkan kekuatan Islam walau dia bertopengkan dengan topeng Islam. Sejarah membuktikan hal tersebut,” katanya.

Faktanya, peran Iran sangat besar dalam membuka jalan Amerika untuk menjajah Afghanistan dan Iraq. Menurutnya, hal tersebut merupakan kelanjutan dari peran tokoh- tokoh Syiah pada zaman pemerintahan Daulah Abbasiyyah yang juga membuka jalan bagi tentara Mongol pimpinan Jenghiz Khan dan Holako Khan untuk masuk ke Iraq dan menumpahkan darah ratusan ribu kaum muslimin di sana serta menghancurkan peradaban Islam yang ada di sana. Salah satunya adalah dihancurkannya perpustakaan Darul Hikmah di Baghdad yang didalamnya terdapat ribuan buku-buku karya ilmuan Islam saat itu.

“Maka dunia harus melihat bahwa kesadaran negara-negara dunia untuk mewaspadai kiprah Iran yang merusak negara- negara yang dimasuki oleh agen-agennya adalah sebuah sikap yang tepat dan menjaga kestabilan politik dalam negerinya,” pungkasnya.

Reporter: Riyanto | Editor: Ally | Jurnalislam