Panglima Perang Israel Akui Tidak Berdaya Hadapi Aksi Berani Mati Pemuda Palestina

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Panglima perang Israel Gadi Eizenkot mengatakan, badan-badan keamanan Israel tidak berdaya menghadapi aksi dan operasi serangan penikaman dengan pisau yang dilakukan pemuda-pemuda Palestina dengan target pasukan Israel atau warga pemukimnya.

Statemen Eizenkot ini disampaikan dalam presentasinya terkait persiapan badan keamanan Israel untuk pertama kalinya setelah ia menjabat setahun lalu, seperti dikutip Haaretz, lansir Infopalestina Selasa (19/01/2016).

Panglima Eizenkot ini memberikan alasan ketidakmampuan badan keamanan Israel menghadapi serangan penikaman bahwa tidak ada peringatan-peringatan (tanda bahaya) dini terkait serangan pisau. Lebih dari 100 operasi serangan penikaman dilakukan selama tiga bulan terakhir tanpa bisa dikendalikan oleh pasukan Israel atau bisa memberikan peringatan terlebih dulu.

Eizenkot menjelaskan, kondisi badan keamanan Israel yang kini kehilangan “kecanggihan dan keunggulan dalam bidang intelijen” khusus menangani serangan pisau menjadi faktor kegagalan dalam menghadapinya. Badan keamanan menghadapi tantangan serius menghadapi Palestina.

Eizenkot mengklaim, gerakan Hamas berusaha merenovasi kekuatan serangannya (ovensifnya) melalui pembangunan terowongan bawah tanah dan memperbaiki gudang roket. Ia memperingatkan bahwa sewaktu-waktu di Jalur Gaza bisa terjadi ledakan.

Eizenkot menambahkan, ada upaya besar baik di bidang intelijen atau arsitek Hamas untuk mendukung kemampuan serangannya.

Deddy | Infopalestina | Jurnalislam

10 Tentara Arbaki Tewas di Afghanistan Timur

KUNAR (Jurnalislam.com)Al Emarah News melaporkan sedikitnya empat tentara Arbaki (bayaran) terbunuh saat mengendarai tank lapis baja yang ditargetkan oleh ledakan bom pinggir jalan (IED) di distrik Norgal provinsi Kunar timur Selasa pagi (19/01/2016).

Juga diawal hari Selasa, Seorang serdadu Arbaki tewas dalam serangan penyergapan di distrik Norgal.

Di tempat lain di distrik Dayak, salah satu Arbaki tewas dan tiga lainnya luka-luka setelah Mujahidin menyerbu tempat suci mereka tadi malam.

Secara terpisah, seorang tentara bayaran tewas ketika Mujahidin menyerbu sebuah pos pemeriksaan menggunakan senjata berat di distrik Nari provinsi Kunar, Senin.

Selain itu, bom pinggir jalan meledak di sebuah kendaraan dan menewaskan dua tentara bayaran yang berada di dalamnya di distrik Sarkani akhir Senin.

 

Deddy | Shahamat | Jurnalislam
 

Rusia Merespon NATO dengan Penyebaran Pasukan Baru ke Laut Hitam

RUSIA (Jurnalislam.com) – Tentara dan Angkatan Laut Rusia akan mengerahkan pasukan tambahan dan senjata modern membalas rencana NATO untuk meningkatkan kehadirannya di wilayah Laut Hitam, sebuah surat kabar Rusia melaporkan mengutip sumber Kementerian Pertahanan, lansir World Bulletin, Selasa (19/01/2016).

Militer berencana untuk menguji kekuatan, infrastruktur dan senjata baru mereka yang dikerahkan ke daerah yang berbatasan dengan Laut Hitam di markas latihan Kaukasus-2016, yang dijadwalkan untuk bulan September, sumber-sumber mengatakan kepada harian Novaya Gazeta.

Latihan ini mencakup penggunaan bersama berbagai kekuatan di Pegunungan Kaukasus dan Laut Hitam, mereka menambahkan.

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

Italia Berusaha Bentuk Islam Italia

ITALIA (Jurnalislam.com) – Menteri Dalam Negeri Italia Angelino Alfano, pada hari Selasa mendirikan dewan hubungan Muslim di negara itu, yaitu sebuah badan penasehat yang diharapkan pemerintah akan dapat membantu kelompok minoritas untuk lebih berintegrasi, World Bulletin melaporkan Selasa (19/01/2016).

Dewan, yang terdiri dari akademisi dan ahli budaya dan agama Islam, akan menyiapkan proposal dan rekomendasi tentang isu-isu integrasi berdasarkan "rasa hormat dan kerjasama", kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan.

Alfano mengatakan bahwa ia menginginkan, "Sebuah komunitas berisi seluruh orang dari berbagai negara, budaya, agama dan tradisi yang berniat untuk berkontribusi pada pengembangan perdamaian dan kemakmuran negara kita, dan secara penuh sesuai dengan undang-undang dan tradisi Kristen serta humanistik kami."

Dewan tersebut akan terus menjaga pemerintah dalam menyelesaikan isu-isu Islam di Italia dan membantu membentuk "Islam Italia," tambah pernyataan itu.

Para ahli menyebutkan jumlah Muslim di Italia lebih dari satu juta, yang kebanyakan adalah imigran, ditambah sejumlah kecil mualaf.

Alfano, pimpinan partai New Centre Right (NCD), memicu kontroversi setelah serangan mematikan di Paris November lalu dengan mengatakan pemerintah akan menindak tempat ibadah Muslim ilegal dalam memerangi terorisme.

Tempat seperti itu didirikan karena komunitas Muslim merasa sangat sulit untuk membangun tempat-tempat ibadah yang legal di Italia, yang hanya memiliki empat Masjid resmi.

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

Pengadilan Mesir Tolak Gugatan yang Melarang Anggota Hamas Masuk ke Negaranya

MESIR (Jurnalislam.com) – Pengadilan Mesir pada Selasa menolak gugatan yang berusaha melarang anggota kelompok Palestina Hamas memasuki Mesir, kata sumber peradilan, Anadolu Agency melaporkan Selasa (19/01/2016).

Seorang pengacara Mesir mengajukan gugatan untuk melarang anggota Hamas memasuki negara itu dengan klaim bahwa kelompok Palestina tersebut berada di balik pembunuhan 16 tentara Mesir dalam serangan di kota Rafah, Sinai Utara, pada tahun 2012.

Namun pengadilan menolak gugatan tersebut, kata sumber peradilan.

Media Mesir menyalahkan Hamas, sebuah cabang ideologi Ikhwanul Muslimin, atas serangkaian serangan mematikan terhadap pasukan keamanan di Semenanjung Sinai.

Hamas secara konsisten membantah tuduhan itu.

Hamas menyambut baik putusan pengadilan tersebut.

Dalam sebuah pernyataan, kelompok perlawanan Palestina itu mengatakan bahwa putusan tersebut akan membantu "menjaga peran Mesir yang seimbang terhadap pihak Palestina."

Mesir telah memainkan peran utama dalam proses rekonsiliasi antara kelompok Hamas dan Fatah sejak Hamas menguasai Jalur Gaza pada tahun 2007.

"Kami berharap bahwa putusan ini akan membantu mempercepat pembukaan perbatasan Rafah," kata Hamas.

Mesir telah memperketat cengkeramannya di perbatasan dengan Jalur Gaza yang diblokade sejak kudeta militer tahun 2013.

Penutupan berulang atas perbatasan Rafah, yang merupakan satu-satunya akses Gaza menuju dunia luar yang tidak dikendalikan Israel, telah membuat hidup lebih sulit bagi sekitar 1,9 juta penduduknya.

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurnalislam

 

Mengejutkan, 18.800 Warga Sipil Irak Tewas Sejak 2014

IRAK (Jurnalislam.com) – Pada angka yang mereka sebut "mengejutkan", PBB mengatakan bahwa hampir 19.000 warga sipil telah tewas dan lebih dari 36.000 lainnya terluka akibat kekerasan di Irak sejak awal 2014, lansir Aljazeera Selasa (19/01/2016).

Dalam laporan bersama baru yang diterbitkan pada hari Selasa, Misi Bantuan PBB untuk Irak dan Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia mencantumkan sejumlah besar kekejaman yang dilakukan oleh Islamic State (IS).

Mereka juga meminta pemerintah berbuat lebih banyak untuk menghentikan kekerasan sektarian dan membantu keluarga yang mengungsi untuk kembali ke rumah mereka.

"Angka-angka mengatakan jumlah yang tewas atau cacat akibat kekerasan terbuka, tetapi banyak lagi yang meninggal karena kurangnya akses ke makanan pokok, air atau perawatan medis."

Angka-angka PBB didasarkan pada korban yang dilaporkan antara Januari 2014 dan Oktober 2015.

Laporan gabungan menyorot pelanggaran yang dilakukan oleh IS, mengatakan bahwa sekitar 3.500 orang saat ini ditahan sebagai budak di Irak oleh IS.

Laporan rinci menggambarkan eksekusi yang dilakukan dengan penembakan, pemenggalan, pentraktoran, pembakaran hidup-hidup dan pelemparan orang dari atas bangunan.

"IS terus melakukan kekerasan sistematis dan meluas serta melakukan pelanggaran hukum hak asasi manusia internasional dan hukum kemanusiaan. Dalam beberapa kasus tindakan ini dapat dinyatakan sebagai kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan juga genosida," kata PBB.

PBB melaporkan bahwa lebih dari 3,2 juta orang mengungsi karena kekerasan (IDP) dalam periode antara Januari 2014 dan Oktober 2015.

"Kekerasan yang tinggi dan skala perpindahan terus mempengaruhi akses pengungsi untuk mendapatkan layanan dasar, seperti perumahan, air bersih dan pendidikan," kata PBB.

Reporter Al Jazeera Mohammed Jamjoom, melaporkan dari Baghdad, mengatakan bahwa lebih dari satu juta orang pengungsi adalah anak-anak.

"Ketegangan sektarian terus meningkat dan membuat keadaan lebih sulit bagi pengungsi di Irak," kata wartawan kami, menambahkan bahwa PBB mendorong masyarakat internasional untuk berbuat lebih banyak membantu pemerintah Irak dalam mengatasi meningkatnya jumlah tunawisma keluarga.

Deddy |  Al Jazeera | Jurnalislam

David Cameron Ancam Deportasi Wanita Muslim yang Tidak Bisa Berbahasa Inggris

INGGRIS (Jurnalislam.com) – Wanita Muslim yang gagal mempelajari bahasa Inggris dengan standar yang cukup tinggi bisa dideportasi dari Inggris, Perdana Menteri David Cameron mengumumkan Senin (18/01/2016), lansir World Bulletin.

Dia juga menyarankan bahwa kemampuan bahasa Inggris yang buruk dapat membuat orang menjadi lebih rentan menerima pesan-pesan dari kelompok-kelompok radikal.

Komentar Cameron muncul saat partai tengah-kanan Konservatif-nya meluncurkan dana bahasa sebesar £ 20 juta ($ 28.500.000 atau € 26.000.000) untuk perempuan di masyarakat terpencil sebagai bagian dari dorongan untuk membangun integrasi masyarakat.

Peraturan imigrasi sudah memaksa pasangan suami istri untuk berbicara bahasa Inggris sebelum mereka datang menyusul ke Inggris untuk hidup bersama pasangan mereka.

Tapi Cameron mengatakan mereka juga akan menghadapi tes lanjutan setelah dua setengah tahun di negara itu untuk memastikan kemampuan bahasa mereka meningkat.

"Anda tidak bisa menjamin akan dapat tinggal jika tidak meningkatkan bahasa Anda," katanya kepada radio BBC. "Orang-orang datang ke negara kami juga memiliki tanggung jawab."

Pemerintah Cameron memperkirakan bahwa sekitar 190.000 perempuan Muslim di Inggris – sekitar 22 persen – sedikit berbicara atau tidak berbicara bahasa Inggris.

Ada yang memperkirakan sekitar 2,7 juta Muslim di Inggris dari total populasi sekitar 53 juta.

Cameron mengatakan bahwa kurangnya kemampuan bahasa bisa membuat Muslim di Inggris lebih rentan terhadap pesan dari kelompok ekstrimis.

"Saya tidak mengatakan ada semacam hubungan kausal antara tidak berbicara bahasa Inggris dan menjadi seorang ekstrimis, tentu saja tidak," katanya kepada radio BBC.

"Tapi jika Anda tidak dapat berbicara bahasa Inggris, tidak mampu mengintegrasikan, mungkin karena itu Anda memiliki tantangan memahami apa identitas Anda dan karena itu Anda bisa menjadi lebih rentan terhadap pesan ekstrimis yang Anda temukan."

Komentarnya menarik kritik dari kelompok-kelompok Muslim dan partai-partai oposisi.

Mohammed Shafiq, kepala eksekutif Ramadhan Foundation, yang berkampanye untuk hubungan masyarakat yang lebih baik, menuduh Cameron melakukan stereotip yang menjijikan.

"David Cameron dan pemerintah Konservatif sekali lagi menggunakan Muslim Inggris sebagai sepak bola politik dalam mencetak poin murah untuk tampil tangguh," tambahnya.

Dan Andy Burnham, juru bicara urusan dalam negeri Partai Buruh yang merupakan oposisi utama, menuduh Cameron melakukan pendekatan canggung yang menempelkan  stigma tidak adil di seluruh masyarakat."

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

Jika Disahkan, Revisi UU Terorisme Bisa Kembalikan Era Otoritarianisme

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Rencana revisi UU No 15 Tahun 2003 tentang Terorisme ditanggapi serius oleh Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya. Jika disahkan, BIN disebut-sebut akan mendapat kewenangan untuk melakukan penindakan terhadap terduga teroris.

"Saya yang termasuk tidak setuju dengan adanya rencana revisi. Jika memang akan dibuat revisi, parlemen seharusnya melakukan evaluasi terlebih dahulu. Terutama mengenai operasionalnya. Harus ada transparansi," kata Harits dalam pernyataannya kepada Jurnalislam, Senin (18/1/2016).

Namun jika wacana tersebut akan dikaji atau direalisasikan, kata Harits, dia khawatir akan kembali ke zaman otoritarianisme. BIN dapat langsung menciduk para terduga teroris.

"Bisa kembali seperti saat rezim Orde Baru. Siapa saja bisa ditangkap padahal baru tuduhan atau sangkaan. Bisa menyalahi HAM, padahal di situ masih pakai KUHAP di mana ada asas praduga tak bersalah," ucapnya.

Jika pemerintah benar-benar serius untuk mengajukan revisi UU Terorisme, Harits meminta agar DPR melakukan evaluasi terlebih dahulu. Seperti mengenai operasional-operasional yang dilakukan dalam penanganan ataupun penanggulangan teror.

"Contohnya jika menyangkut tindakan dalam pencegahan, Densus 88 sendiri sudah bisa menangkap padahal baru terduga. Ini kan artinya memang sudah dilakukan," sambungnya.

Menurut Harits, dalam revisi UU Terorisme itu seharusnya lebih mengedepankan pada langkah-langkah agar tindakan teror bisa dicegah. Seperti koordinasi antar institusi yang terlibat dalam penanganan teror.

"Koordinasi harus diperbaiki, seperti antara Polri, BNPT, dan BIN sebagai sumbunya. Juga agar bagaimana perlakukan terhadap terduga teroris dan keluarganya diperbaiki," tutur Harits.

"Sebab dari situ sebetulnya radikalisme dapat berkembang. Jika ditangani dengan tepat, maka radikalisme akan dapat ditekan," pungkas dia. 

Ally | Jurnalislam

Aku Tak Mau Menghafal Doa Ini!

AKU adalah salah seorang guru di sebuah Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) di salah satu kota besar di negeri ini. Hampir setiap maghrib aku habiskan waktuku bersama anak-anak kecil. Mengajari mereka membaca Al-Quran, menghafal doa-doa umum, dan menghafal surat-surat pendek bukanlah hal yang membosankan bagiku. Tawa canda mereka, kepolosan mereka, dan kenakalan mereka, seolah-olah membawa kebahagiaan tersendiri bagiku.

Pada suatu pertemuan, setelah mendampingi murid-muridku dalam membaca Al-Quran, kuminta mereka untuk menghafal seuntai doa. Ya! Doa yang telah umum diketahui, yaitu doa untuk orang tua: Rabbighfirlì waliwàlidayya warhamhumà kamà rabbayànì shaghìrà. Secara bahasa, terjemahan doa tersebut kurang lebih seperti ini, “Ya Tuhan, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan sayangilah mereka sebagaimana mereka mendidikku di waktu kecil”. Aku tak pernah meminta murid-muridku untuk menghafal seuntai doa kecuali dihafal juga terjemahannya.

Seperti biasa, mereka yang telah berhasil menghafalnya dipersilakan pulang duluan. Kulihat murid-muridku menghafalkannya dan berusaha untuk menjadi yang pertama kali pulang. Satu per satu mulai menunjukkan hafalannya kepadaku. Mereka pun pulang setelah kunyatakan hafalannya diterima hingga tinggal tersisa satu anak lagi.

Kudengar hafalannya tak pernah sampai selesai. “Rabbighfirlì… waliwàlidayya… warhamhumà…”, ucapnya terbata-bata berusaha mengingat apa yang ia hafal. Ia berhenti sejenak. Lalu ia mengulanginya lagi dari awal. Ia terus melakukan hal yang sama berulang-ulang. Akhirnya aku menimpali hafalannya, “Kamà rabbayànì shaghìrà”.

Rupanya, ia tak menghiraukanku. Ia kembali memperlancar potongan doa yang telah dihafalnya. Kutimpali lagi dan ia tak menghiraukanku. Pada kali yang ketiga, setelah kutimpali hafalannya, ia berhenti sejenak dan mendekatiku seraya berkata, “Pak Ustadz, aku tak mau menghafal doa ini!”
Dengan sedikit heran, aku bertanya, “Lho, kenapa?”

Dengan sedikit gugup, ia menjawab, “Ayah dan Ibu sibuk bekerja, bilang sibuk dakwah dan mengajar. Sering sekali aku tidur di rumah hanya dengan bibi (asisten rumah tangga) atau bahkan sendiri. Jika keduanya sedang ada di rumah, aku tak pernah mendengar salah satu dari mereka membaca atau menghafal Al-Quran. Keduanya lebih banyak menghabiskan waktu di depan handphone atau laptopnya. Keduanya sering sekali membelikanku mainan tapi keduanya tak ada yang mau bermain denganku. Mainan itu hanya sebagai pengalih agar aku tak mengganggu pekerjaan dan keasikan mereka.”

Aku menghela nafas panjang.
“Pak Ustadz, aku tak mau menghafal doa ini. Aku tak mau Allah menyayangi orang tuaku sebagaimana orang tuaku menyayangiku”, tutupnya.
Mataku berlinang. Kukatakan kepadanya, “Semoga Allah merahmatimu. Cukuplah menghafal doanya hanya Rabbighfirlì waliwàlidayya warhamhumà dan kamu boleh pulang.”

Kini aku mengerti, sayangnya kita kepada anak-anak kita boleh jadi adalah parameter sayangnya Allah kepada kita.

Jadilah orang tua yang hebat dan sholih/sholihah, ayah bunda

Ini adalah kisah nyata,

Ditulis oleh:
Rasta Taleowak
22 Desember 2015

Disunting ulang oleh:
Gus Uwik, majelis SYIAR

IMS dan BPZIS Mandiri Khitan 100 Mualaf Pedalaman Papua

SORONG (Jurnalislam.com) – Islamic Medical Service (IMS) menggelar serangkaian kegiatan sosial di pedalaman Papua pada Sabtu-Ahadn, 16-17 Januari 2015. Kegiatan sosial yang diselenggarakan di Madrasah Ibtidaiyah Hidayatullah Sorong ini meliputi penyuluhan kesehatan, pengobatan dan khitanan massal bagi para mualaf.

Menurut Dokter Syaifuddin Hamid, Ketua Tim IMS untuk khitanan massal, peserta yang mengikuti acara ini sebanyak 100 mualaf, terdiri dari 20 mualaf dewasa serta 80 mualaf usia anak-anak dan remaja.

“Meski bukan liburan sekolah, namun antusias peserta dan orangtua untuk menkhitankan anak-anaknya cukup tinggi. Padahal tempat tinggal sebagian besar peserta jaraknya lumayan jauh,” terang Syaifuddin.

Saat prosesi khitan berlangsung, sesekali terdengar suara tangis para peserta anak-anak yang menahan sakit. Kepada seluruh peserta, tim medis IMS tidak lupa memberi arahan tentang manfaat khitan serta perawatan kesehatan pasca khitan agar tidak terjadi infeksi.

Thomas (40 tahun), seorang mualaf penerima manfaat khitan massal bersyukur dengan kegiatan sosial ini.

“Kami bersyukur dengan acara khitanan massal ini, alhamdulillahada saudara kami yang belum pernah berjumpa dengan kami tapi peduli dengan kesehatan kami disini,” ungkap Thomas.

Pada khitanan massal ini, IMS bekerjasama dengan  Badan Pengelola Zakat, Infaq, Sedekah Bank Mandiri (BPZIS Mandiri). Selain dikhitan secara cuma-cuma, setiap peserta memperolah bingkisan alat shalat serta uang saku.

Selain Papua, IMS yang merupakan lembaga kesehatan Nasional milik Ormas Islam Hidayatullah ini dalam waktu dekat juga akan melakukan khitanan massal mualaf di Kepualaun Mentawai, Sumatera Barat.

Menurut Humas IMS, Imron Faizin, IMS memang tengah fokus pada program khitanan massal mualaf. “Banyak para mualaf dhuafa yang tersebar di Indonesia yang belum dikhitanan. Setelah masuk Islam, tentu khitan adalah hal yang wajib dilakukan. Sementara belum banyak lembaga sosial yang menggarap program khitan untuk para mualaf ini,” jelas Imron.*

Sumber: Rilis Resmi IMS | Editor: Ally | Jurnalislam