Zionis Dirikan Dinding Pemisah Sepanjang 42 Km di Tepi Barat, Palestina

filistin-duvar

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Israel saat ini sedang membangun dinding penghalang sepanjang 42 kilometer dekat kota Hebron Tepi Barat (Al-Khalil) yang diduduki, yang menurut para pejabat akan selesai dalam waktu satu tahun.

Seperti yang dilansir World Bulletin, Kamis (21/07/2016), berdasarkan pernyataan yang dikeluarkan oleh kantor perdana menteri Israel, penghalang direncanakan akan terbentang dari kota Tarqumiyah Palestina (terletak 12 kilometer di sebelah barat laut Hebron) ke daerah pemukiman zionis yahudi di dekat pos pemeriksaan militer Mitar.

Pernyataan itu menegaskan bahwa dinding masif tersebut dimaksudkan untuk mencegah infiltrasi jihadis dan imigran ilegal ke Israel.

Pemerintah yahudi tersebut menyatakan bahwa penghalang sepanjang 42-kilometer yang akan dilengkapi dengan perangkat monitoring elektronik tersebut akan selesai dalam waktu satu tahun.

Portal berita online i24news Israel melaporkan bahwa Perdana Menteri zionis Benjamin Netanyahu pada hari Rabu memeriksa daerah yang akan dibangun dinding.

“Kami akan mencegah para pekerja yang tidak memiliki dokumen dan militan masuk ke kota-kota Israel,” kata Netanyahu seperti dikutip selama melakukan inspeksi.

Dalam kunjungannya Perdana menteri yahudi itu dilaporkan didampingi Menteri Pertahanan Avigdor Lieberman; Menteri Keamanan Internal Gilad Erdan; Gadi Eizenkot, kepala tentara staf umum Israel; dan Avi Dichter, ketua komite urusan luar negeri di Knesset (parlemen yahudi Israel).

Yahudi Israel menjajah Yerusalem Timur dan Tepi Barat Palestina selama Perang Timur Tengah tahun 1967 dan terus melakukannya pencaplokan wilayah Palestina meskipun resolusi PBB menyerukan mereka untuk mundur.

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

Muktamar III Wahdah Islamiyah Ditutup, Ustadz Zaitun Rasmin Kembali Jadi Ketua Umum

Penutupan Muktamar di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Rabu (20/07/2016)
Penutupan Muktamar di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Rabu (20/07/2016)

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Muktamar III Wahdah Islamiyah di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur secara resmi ditutup. Penutupan muktamar yang diikuti oleh 2500 perserta dari seluruh Indonesia ini dilakukan oleh Ketua Umum terpilih KH Muhammad Zaitun Rasmin.

“Dengan mengucapkan rasa syukur kepada Allah, Muktamar III Wahdah Islamiyah saya nyatakan ditutup,” kata Ustadz Zaitun Rasmin sembari memukulkan palu sidang dalam penutupan Muktamar III Wahdah Islamiyah, Rabu (20/7/2016) petang.

Sebelumnya, kepada ribuan kader-kadernya Zaitun menyampaikan rasa terharunya atas suksesnya penyelenggaraan Muktamar ketiga ini. Terlabih muktamar ini digelar di ibu kota Jakarta yang sangat jauh dari basis utama massa ormas Islam ini, yakni Makassar, Sulawesi Selatan.

“Karena kekuatan Wahdah di ibu kota masih lemah. Ini akan memberi semangat yang lebih besar ke depan,” ungkap Zaitun.

Mengenai dirinya yang dipilih kembali menjadi Ketua Umum, Zaitun mengakui bahwa hal itu merupakan tugas dan tanggung jawab yang berat.

“Beban berat ada di pundak saya. Tugas kita ke depan tidak ringan. Apalagi kita akan kembangkan (Wahdah) ke kabupaten dan kota seluruh Indonesia,” katanya semangat.

Sementara itu Ketua Lajnah Taujihiyah Muktamar III Wahdah Islamiyah Dr H Rahmat Abdurrahman, MA., mengatakan, Ustaz Zaitun Rasmin terpilih secara mufakat untuk kembali memimpin Wahdah Islamiyah.

“Kita bermufakat memilh Ketua Umum DPP yakni Ustaz Zaitun Rasmin. Tiga dewan yang lain kita jadikan agenda dalam tim formatur,” ungkap Rahmat Abdurrahman kepada wartawan usai penutupan Muktamar di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Rabu petang (20/7/2016).

Tiga Dewan yang dimaksud Rahmat adalah Dewan Syuro, Dewan Syariah dan Dewan Pengawas Keuangan.

Rahmat menyebutkan, selain memilih Ketua Umum, Muktamar juga telah menetapkan H Muhammad Ikhwan Abdul Jalil, M.HI sebagai Ketua Dewan Syuro, H Muhammad Yusron Ansar, MA sebagai Ketua Dewan Syariah dan Dr H Abdul Hamid Habbe sebagai Ketua Dewan Pengawas Keuangan.

“Saya sendiri terpilih sebagai Ketua Harian DPP Wahdah Islamiyah yang insya Allah akan membantu Ketua Umum DPP dalam perjalanan selama lima tahun ke depan,” tandasnya.

Untuk posisi Sekretaris Jenderal dan Bendahara Umum, Rahmat menyebut Muktamar tidak menunjuk nama untuk posisi tersebut. “Sekjen dan Bendum kami tunda, wewenang Ketum untuk menentukan hal itu,” jelasnya.

Muktamar III Wahdah Islamiyah berlangsung sejak 17-20 Juli 2016. Diikuti kurang lebih 2500 peserta dari seluruh Indonesia. Wapres HM Jusuf Kalla secara resmi membuka muktamar ini pada Selasa (19/07/2016), walaupun pembukaan secara besar-besaran telah dilakukan di Masjid Istiqlal Jakarta pada Ahad, 17 Juli 2016 lalu.

Kontributor: Shadiq Ramadhan | Editor: Ally Muhammad Abduh

Adakan Sekolah Advokasi, IPM Jabar Berharap Jadi Jembatan Kaum Mustadz’afin

Puluhan pelajar Muhammadiyah mengikuti Sekolah Advokasi Pelajar di Gedung Islamic Centre Sumedang, Jawa Barat, Kamis (21/7/2016)
Sejumlah Pelajar Muhammadiyah dari berbagai sekolah Muhammadiyah se-Jawa Barat mengikuti Sekolah Advokasi Pelajar di Gedung Islamic Centre Sumedang, Jawa Barat, Kamis (21/7/2016)

SUMEDANG (Jurnalislam.com) – Sebagai salah satu bentuk peningkatan kapasitas emosional, intelektual dan sosial dari pelajar Muhammadiyah Jawa Barat, Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Jawa Barat mengadakan Sekolah Advokasi. Kegiatan ini akan berlangsung selama tiga hari terhitung sejak Kamis hingga Sabtu, 21-23 Juli 2016 di Gedung Islamic Centre Sumedang, Jawa Barat.

Dengan mengusung tema “Advokasi Pelajar Sebagai Solusi Jembatan Kaum Mustad’afin”, sekolah advokasi ini diharapkan dapat melahirkan lulusan yang sanggup menjembatani kaum mustad’afin (kaum tertindas) sebagaimana yang dituliskan dalam Al Qur’an Surat An Nisa ayat 9.

“Pelajar hari ini harus bisa menjadi jembatan bagi kaum yang tertindas (mustad’afin) serta bisa membenarkan sistem yang menyebabkan penindasan (istid’af) tersebut, serta tidak lupa sekaligus menyadarkan penindas tersebut mustad’if),” tutur Ketua Pelaksana Sekolah Advokasi, Muhammad Ihsan Abdussami. Kamis (21/7/2016).

Menurut Ihsan, pelajar Muhammadiyah hari ini harus bisa menjadi problem solver dari segala permasalahan yang ada di sekitarnya, khususnya terhadap isu-isu yang berkaitan dengan kepelajaran.

Kegiatan yang diikuti oleh 31 orang peserta yang merupakan perwakilan dari tiap-tiap Pimpinan Daerah IPM se-Jawa Barat ini dihadiri langsung oleh Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat, Prof Dr. Mahmud Syafi’i M.Pd serta Ketua Pimpinan Daerah Muhmmadiyah Sumedang dan Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Sumedang.

“Selain itu, saya pun tidak lupa menghaturkan beribu terimakasih kepada Ayahanda PWM Jabar yang telah menghadiri kegiatan sekolah advokasi ini, dan tidak lupa kepada keluarga besar Muhammadiyah Sumedang yang telah memfasilitasi beberapa kebutuhan dalam kegiatan ini,” terangnya.

Selaras dengan itu, Ketua Umum PW IPM Jawa Barat, Hafizh Syafa’aturrahman mengatakan pelajar Muhammadiyah hendaknya selalu menjaga akhlaq, karena ketika seseorang sudah memiliki akhlaq yang baik maka akan menunjang segala aspek kehidupan termasuk penerapan nilai advokasi yakni pembelaan terhadap kaum mustad’afin.

“Ikatan Pelajar Muhammadiyah Jawa Barat haruslah bisa menjadi role model bagi pelajar-pelajar lain di Jawa Barat bahkan di tingkat Nasional, dan senantiasa menjadi uswatun hasanah bagi sekitarnya,” kata Hafizh.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum PWM Jawa Barat, Prof. Dr. Mahmud Syafi’i merasa bangga dengan kepedulian IPM Jawa Barat terhadap kaum Mustad’afin yang sering dilupakan itu. Ia mengatakan bahwa IPM Jawa Barat haruslah menjalankan tri dimensi kader (pelopor, pelangsung, penyempurna amanah) pada segala ranah, apalagi yang berkaitan dengan pembelaan kaum mustad’afin.

“IPM sebagai pionir bangsa haruslah bisa selalu tampil terdepan dalam membela islam, dan membela kaum mustad’afin pun termasuk kedalam kategori tersebut. Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain,” tandas Prof Mahmud.

Kontributor: Wanda Aprilia | Editor: Ally Muhammad Abduh

3 Hari Pertempuran Taliban Kuasai 70 Persen Distrik Qala-e-Zal, Kunduz

5520KUNDUZ (Jurnalislam.com) – Ratusan mujahidin Imarah Islam Afghanistan (Taliban) sebagian besar telah mengambil alih sebuah distrik di provinsi Kunduz, Afghanistan utara, saat pertempuran sengit dengan Pasukan Nasional Afghanistan (ANA) terus berlanjut, lansir Aljazeera Kamis (21/07/2016).

Setelah tiga hari pertempuran, mujahidin Taliban mengambil alih 65 hingga 70 persen dari distrik Qala-e-Zal, para pejabat Afghanistan mengatakan pada hari Rabu, sebagai bagian dari gelombang serangan intensif di seluruh negeri.

“Sebagian dari kabupaten telah jatuh ke tangan Taliban, namun pasukan kami mencoba memerangi mereka kembali,” Mahmoud Denmark, juru bicara gubernur provinsi, mengatakan pada Al Jazeera.

Dalam sebuah pernyataan kepada Al Jazeera, Taliban mengakui bahwa seluruh kabupaten telah jatuh ke tangan mereka.

Nabi Ghichi, komandan polisi setempat, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa serangan Taliban dimulai pada Senin dini hari, memperingatkan bahwa ia memiliki sedikit dukungan logistik untuk mendorong mundur pasukan Taliban.

Sejumlah keluarga meninggalkan kabupaten setelah pertempuran meletus.

“Sebagian besar rumah kosong karena banyak yang melarikan diri dari konflik yang sedang berlangsung di kabupaten ini,” Ajmal, seorang wartawan lokal yang berbasis di Kunduz, mengatakan kepada Al Jazeera.

“Sepertinya pertempuran akan berlanjut selama beberapa hari ke depan.”

Kunduz adalah salah satu provinsi yang paling tidak stabil di utara negara itu. Ibukota provinsi Kunduz jatuh secara singkat ke tangan Taliban tahun lalu, sebelum direbut kembali oleh pasukan pemerintah, dan di sebagian besar kabupaten terdapat sejumlah besar pasukan Taliban.

Kota Kunduz hampir dikuasai Taliban kembali pada bulan April, namun serangan mereka ditahan oleh pasukan Afghanistan yang bekerja dengan pasukan AS.

Presiden AS Barack Obama mengumumkan awal bulan ini bahwa ia berencana menempatkan 8.400 tentara Amerika di Afghanistan pada akhir masa jabatannya – meningkat dari rencana sebelumnya, mencerminkan kesulitannya mengurangi kehadiran AS di negara itu.

Menanggapi pengumuman Obama, juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan kepada Al Jazeera: “Apakah AS memutuskan untuk menempatkan tentaranya di Afghanistan atau tidak, apakah jumlahnya bertambah atau berkurang, kami akan terus memerangi mereka.”

Taliban Afghanistan, pada Selasa (19/07/2016) menolak tuduhan bahwa perlawanannya telah melemah setelah transisi kepemimpinan, Taliban mengatakan bahwa jeda operasi baru-baru ini adalah karena bulan suci Ramadhan.

 

Deddy | Al Jazeera | Jurnalislam

Beginilah Cara Media Barat Memelintir Berita Kudeta Turki

ANKARA (Jurnalislam.com) – Setelah kudeta gerakan Fetullah Gulen di Turki yang gagal yang menewaskan sedikitnya 240 orang dan melukai lebih dari 1.500 orang lain, media Barat tampaknya mencoba meremehkan upaya kudeta yang sebenarnya, namun sebaliknya malah berfokus mengkritik respon pemerintah terpilih menghadapi upaya kudeta, Anadolu Agency mengatakan, Kamis (21/07/2016).

Pemerintah Turki mengatakan Organisasi Teror Gulenist atau Struktur Negara Paralel (FETO/PDY) berada di balik kudeta yang untuk menggulingkan pemerintah Turki yang terpilih secara sah, namun media Barat mengabaikan fakta bahwa orang-orang Turki turun ke jalan untuk melindungi pemerintahnya dan aturan hukum terhadap komplotan kudeta yang ilegal. Sebaliknya, media barat malah berfokus pada reaksi otoriter partai yang berkuasa dalam merespon kudeta.

20160720_5_001A186842B484597880857681DE5C5B1

Media Barat yang memiliki banyak artikel berdasarkan opini mereka menilai bahwa langkah pemerintah Turki menahan pegawai negeri sipil yang terhubung dengan Feto dan birokrat di lembaga-lembaga publik seolah-olah bisa lebih berbahaya daripada kudeta gagal yang merenggut ratusan nyawa tersebut.

Beberapa media dan penyiar Barat memilih untuk mengangkat teori konspirasi aneh bahwa kudeta itu sebenarnya dipentaskan oleh pemerintah Turki itu sendiri, sementara yang lain memilih untuk menggambarkan pemimpin kudeta diduga sebagai salah satu ulama muslim paling kuat di dunia.

BBC Inggris menayangkan sebuah video yang menuduh pemimpin FETO Fetullah Gulen memiliki jutaan pengikut di Turki, tanpa menyebutkan infiltrasi FETO selama 40 tahun ke dalam lembaga penting negara seperti tentara, pengadilan, keamanan, unit intelijen dan berbagai lembaga birokrasi dengan berbagai identitas, yang bertujuan untuk menguasai negara.

Sebuah artikel BBC berjudul “Erdogan: Presiden kejam Turki” menggambarkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebagai salah satu pemimpin yang paling memecah belah dalam sejarah modern Turki, mengabaikan fakta bahwa semua orang dari seluruh sektor negara dan kepercayaan politik bergegas ke jalan-jalan untuk menghentikan upaya kudeta ilegal yang bertujuan menggulingkan pemerintah terpilih.

The Economist menerbitkan sebuah artikel berjudul “Kudeta Turki yang gagal memberikan presidennya kesempatan untuk lebih merebut kekuasaan,” mengklaim bahwa peradilan Turki yang independen akan sepenuhnya dihilangkan, namun tidak menyebutkan bahwa penangkapan pejabat negara dan pegawai negeri sipil bertujuan untuk menjaga lembaga-lembaga negara dari infiltrasi oleh pasukan yang menerima instruksi dari luar negeri.

Dalam sebuah wawancara dengan CNN International, Senin, Erdogan menolak keras tuduhan bahwa upaya kudeta sebenarnya diatur olehnya (palsu).

“Sayangnya, itu adalah informasi yang salah. Bagaimana seseorang bisa merencanakan hal seperti itu? Bagaimana orang bisa membiarkan begitu banyak warga sipil kehilangan nyawa mereka? Bagaimana bisa nurani manusia mengizinkan hal itu? Itu sangat tidak mungkin,” kata Erdogan.

Fox News Channel yang berbasis di AS memposting secuil berita di situs web mereka berjudul “harapan terakhir Turki telah gugur,” katanya, “Kudeta Jumat malam yang gagal adalah harapan terakhir Turki untuk menghentikan Islamisasi pemerintah dan degradasi masyarakatnya.”

us-fox-news

Fox News, mengabaikan fakta bagaimana orang Turki turun ke jalan dan menghentikan tank yang dikendalikan tentara yang menghianati rantai komando, mengatakan: “Erdogan menggunakan kudeta sebagai alasan untuk mempercepat Islamisasi negaranya dan memimpin Turki memasuki kegelapan yang melanda dunia Muslim. Visinya adalah salah satu dari megalomaniak neo-Ottoman.”

Pejabat pemerintah Turki, di setiap penampilan media, menegaskan bahwa kudeta dilakukan oleh pengikut tokoh Turki Fetullah Gulen yang berbasis di AS, yang melakukan kampanye lama untuk menggulingkan pemerintah melalui infiltrasi negara Turki, khususnya militer, polisi, dan hakim (yudikatif), dan membentuk negara paralel.

Kolom media lainnya, oleh Kebijakan Luar Negeri Michael Rubin, mengatakan, “Tidak ada orang yang bisa disalahkan Erdogan untuk Kudeta melainkan dirinya sendiri,” dan mengklaim kebijakan luar negeri Erdogan, yaitu “tidak ada masalah dengan tetangga” telah menyebabkan masalah dengan “hampir setiap tetangga.”

The New York Times mengatakan di akun Twitter resminya, “Pendukung Erdogan adalah domba, dan mereka akan mengikuti apa pun katanya,” tapi kalimat ini tidak muncul dalam artikel yang utuh, sehingga sangat menunjukkan bias jurnalisme.
nyt-bias2
Cerita yang berjudul “Pembersihan besar-besaran di Turki saat Ribuan Ditahan dalam serangan balasan Pasca Kudeta,” juga mengabaikan fakta bahwa semua orang – bahkan para pengkritik Erdogan – turun ke jalan untuk menyelamatkan negara mereka dari pengambilalihan militer ilegal.

Dalam cerita lain berjudul, ” Kemenangan Erdogan Setelah upaya kudeta, tapi nasib Turki tidak jelas,” surat kabar memberi kesan palsu bahwa semua warga negara Turki yang membanjiri jalan-jalan di malam hari saat upaya kudeta adalah pendukung Presiden Erdogan dan Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) yang saat ini berkuasa.

Apa yang sebenarnya terjadi benar-benar berbeda. Banyak warga tanpa afiliasi politik – atau berafiliasi dengan partai oposisi utama negara itu (termasuk Partai Republik Rakyat, atau CHP, dan Partai Gerakan Nasionalis, atau MHP) – juga berpartisipasi dalam demonstrasi anti-kudeta yang menyerang negara itu pada Jumat malam.

Sebelum kekalahan kudeta Jumat, situs AS Daily Beast memposting cerita yang mengatakan bahwa Erdogan telah meninggalkan negara dan keberadaannya tidak diketahui.

Website tersebut bahkan mengklaim bahwa Erdogan sedang mencari suaka di Jerman, mengutip klaim palsu seorang pejabat militer AS ke NBC News. Website itu kemudian merubah judul nya, namun hanya berubah menjadi, “Lokasi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tidak diketahui,” dan menambahkan, “The Daily Beast tidak bisa mengkonfirmasi laporan-laporan ini.”

Faktanya adalah presiden tidak pernah meninggalkan negara selama upaya kudeta ilegal. Sebaliknya, ia dengan cepat kembali menuju ke Istanbul setelah mendesak warga turun ke jalan untuk menegakkan lembaga-lembaga demokratis Turki.

Mayor harian Jerman Die Welt, sementara itu mengkritik tanpa ampun tindakan keras pemerintah Turki pada tersangka komplotan kudeta, sementara mengabaikan pembantaian yang dilakukan oleh unsur-unsur pro-kudeta militer terhadap warga sipil pada malam kudeta yang gagal itu.

Duta Besar AS: Fetullah Gulen Jadi Prioritas Kami

ISTANBUL (Jurnalislam.com) – John Bass, Duta Besar AS untuk Turki, pada hari Rabu mengatakan kasus Fetullah Gulen, tokoh yang berada di balik kudeta yang gagal pekan lalu, akan menjadi prioritas yang sangat tinggi untuk Washington, Anadolu Agency melaporkan, Rabu (20/07/2016).

“Prioritas akan tergantung pada ruang lingkup dan kualitas bukti yang diberikan serta seberapa mendesaknya untuk dilakukan. Tapi saya dapat meyakinkan Anda bahwa kami berkomitmen untuk segera meninjau cepat setelah kami menerima materi. Ini akan menjadi prioritas yang sangat tinggi bagi Departemen Kehakiman AS,” kata Bass kepada sekelompok wartawan sebelum penerimaan Konsulat Jenderal AS di Istanbul 4 Juli, mengomentari berapa lama waktu yang dibutuhkan pejabat AS untuk meninjau dokumen.

Turki mengtakan Gulen yang berbasis di AS berada di balik upaya kudeta dan menuntut agar ia diekstradisi untuk diadili.

Materi yang berhubungan dengan ekstradisi tokoh yang tinggal di pengasingan di negara bagian Pennsylvania AS tersebut telah disampaikan kepada otoritas AS.

Jumat lalu upaya kudeta oleh oknum-oknum militer menewaskan sedikitnya 240 orang dan melukai hampir 1.500 orang lainnya.

Bass menolak berkomentar tentang masa depan hubungan Turki-Amerika jika Washington tidak menyerahkan Gulen kembali ke Ankara.

“Pemerintah Amerika Serikat fokus pada apa yang bisa kita lakukan bersama antara dua negara untuk membantu Turki mengejar penyelidikan ini,” tegasnya.

Bass juga mengangkat kekhawatiran tentang langkah-langkah Ankara untuk memecat puluhan ribu karyawan publik di militer, polisi, sektor pendidikan, dan layanan sipil yang terlibat.

“Kami melihat penangkapan massal atau penahanan dan pemecatan massal orang-orang dari posisi pekerjaannya dalam waktu yang sangat cepat tanpa banyak bukti yang tersedia untuk tindakan tersebut menciptakan kekhawatiran,” katanya.

Tentang bagaimana kudeta yang digagalkan mempengaruhi operasi terhadap Islamic State (IS) di Incirlik Air Base di Adana, Turki selatan, Bass mengatakan bahwa masih tidak ada listrik di pangkalan tersebut.

Dia mengatakan pemerintah Turki memotong seluruh listrik di pangkalan udara dalam menanggapi upaya kudeta.

“Jika semakin lama akan semakin banyak dampak yang akan terjadi bagi operasi, yang tidak menguntungkan baik bagi Turki atau Amerika Serikat atau negara lain yang terancam oleh IS,” katanya.

Para menteri pertahanan Turki dan Amerika Serikat juga membahas situasi di Incirlik Air Base melalui telepon, Selasa.

Pemerintah Turki mengatakan komplotan kudeta menggunakan pangkalan udara sebagai stasiun utama untuk upaya pengambilalihan. Tanker udara pengisian bahan bakar yang digunakan dalam kudeta diluncurkan dari pangkalan tersebut, di mana 3.000 tentara AS dan pesawat AS ditempatkan dalam operasi anti-IS.

Apartemen Pencakar Langit Dubai Terbakar

1145872-dubaifire-1469022801-211-640x480DUBAI (Jurnalislam.com) – Api melahap blok apartemen 75 lantai di Dubai Rabu, memaksa polisi untuk mengevakuasi daerah yang mengalami serangkaian kebakaran gedung pencakar langit terbaru di negara Teluk tersebut, lansir World Bulletin rabu (20/07/2016).

Seorang wartawan melihat puing-puing jatuh terbakar dari fasad Sulafa Tower di Dubai Marina saat api menyebar sedikitnya di 15 lantai bangunan.

Pihak berwenang mengatakan petugas pemadam kebakaran telah mengevakuasi bangunan dan bekerja keras memadamkan api. Pertahanan Sipil Dubai mengatakan tidak ada korban yang dilaporkan.

Kebakaran telah melanda beberapa bangunan bertingkat tinggi di Uni Emirat Arab, yang terkenal karena gedung pencakar langitnya yang banyak memecahkan rekor.

Pada malam tahun baru kobaran besar merobek Address Downtown Hotel yang mewah, melukai 16 orang hanya beberapa jam sebelum pertunjukan kembang api spektakuler dimulai di dekatnya.

Pada November tahun lalu, api melalap tiga blok perumahan di pusat Dubai dan menyebabkan layanan pada jalur metro ditangguhkan, meskipun tidak ada yang terluka.

Pada bulan Februari, nyala api memusnahkan salah satu bangunan tertinggi emirat, juga di lingkungan Dubai Marina tersebut.

Api tersebut menghancurkan flat mewah di menara Torch dan mendorong pemerintah untuk mengevakuasi blok terdekat.

Pada tahun 2012, sebuah kebakaran besar merobohkan Menara Tamweel 34-lantai di dekat Jumeirah Lake Towers. Terungkap kemudian bahwa kebakaran disebabkan oleh puntung rokok yang dibuang ke tempat sampah.

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

Helikopter Militer Ditembak Jatuh di Benghazi Tiga Pasukan Perancis Tewas

A picture taken in the night of June 14, 2011 on the French amphibious assault helicopter carrier "Tonnerre" (BPC) off the Libyan coast, shows French Tigre helicopter pilots with bullpup-styled assault rifles, FAMAS, are seen after an air raid in Libya. The "Tonnerre" participates in the Harmattan operation, the codename for the French participation in the 2011 military intervention in Libya. AFP PHOTO JOEL SAGET / AFP PHOTO / JOEL SAGET

LIBYA (Jurnalislam.com) – Tiga tentara Prancis tewas saat melakukan operasi kontra-ekstremisme di Libya, Kementerian Pertahanan Prancis mengkonfirmasi dalam sebuah pernyataan Rabu, lansir World Bulletin Rabu (20/07/2016).

“Menteri Pertahanan Jean-Yves Le Drian menyesalkan hilangnya tiga pasukan Perancis yang tewas saat bertugas di Libya,” kata pernyataan itu.

“Dia menghormati keberanian dan dedikasi para tentara yang mewakili Perancis melakukan misi berbahaya harian melawan militan,” tambahnya.

Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan awal pekan ini oleh Radio France Internationale, juru bicara pemerintah Prancis Stephane Le Foll mengkonfirmasi kehadiran pasukan Prancis di Libya dalam konteks kegiatan kontra-ekstremisme yang sedang berlangsung.

Di media sosial, kelompok yang menamakan dirinya Brigade Pertahanan Benghazi (the Benghazi Defense Brigades) mengaku bertanggung jawab atas tewasnya tentara Perancis, mengatakan para pejuangnya telah menembak jatuh sebuah helikopter militer Perancis di barat Benghazi.

Brigade Pertahanan Benghazi dilaporkan terdiri dari mantan personil militer dan kaum revolusioner yang mengambil bagian dalam pemberontakan 2011 terhadap orang kuat lama Libya, Muammar Gaddafi.

Kelompok ini menentang Khalifa Haftar, yang pada tahun 2015 diangkat sebagai kepala militer oleh pemerintah Libya yang berbasis di Tobruk.

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

Erdogan Tetapkan 3 Bulan Darurat Nasional Turki

erdogan-reutersANKARA (Jurnalislam.com) – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada hari Rabu mengumumkan keadaan darurat nasional tiga bulan setelah kudeta Jumat yang gagal yang menewaskan 246 orang dan melukai lebih dari 1.500 orang lainnya, Anadolu Agency melaporkan, Rabu (20/07/2016).

“Keadaan darurat adalah yang paling efektif dan cepat dalam mengambil langkah yang diperlukan untuk menghilangkan ancaman pemberontak di negara kita, aturan hukum, dan hak-hak serta kebebasan warga negara kita,” kata Erdogan.

Setelah berulang kali betemu Dewan Keamanan Nasional dan mengadakan pertemuan Kabinet – yang pertama sejak kudeta – Erdogan membuat pernyataan yang mengatakan darurat negara tiga bulan dinyatakan berdasarkan Pasal 120 Konstitusi Turki.

Menurut Pasal 120, dalam situasi yang terindikasi serius akibat tindakan kekerasan meluas yang ditujukan untuk kehancuran tatanan pemerintah yang sah, keadaan darurat dapat dinyatakan dalam satu atau lebih daerah atau di seluruh negeri untuk jangka waktu tidak melebihi enam bulan.

Mengeluarkan kalimat penghiburan kepada masyarakat Turki, Erdogan mengatakan: “Jangan khawatir. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Dia mengatakan, “Angkatan bersenjata tidak akan dapat merebut kekuasaan. Malah sebaliknya, otoritas dan kehendak para pemimpin (sipil) akan semakin bertumbuh dalam proses ini.”

“Kami tidak pernah kompromi untuk demokrasi, dan kami tidak akan berkompromi,” tambahnya.

Pemerintah Turki mengatakan kudeta dilakukan oleh pengikut tokoh Turki yang berbasis di AS Fetullah Gulen, yang dituduh melakukan kampanye yang telah lama berjalan untuk menggulingkan negara melalui infiltrasi lembaga negara Turki, khususnya militer, polisi, dan pengadilan, serta membentuk negara paralel.

Sedikitnya 246 orang, termasuk anggota pasukan keamanan dan warga sipil, menjadi martir selama kudeta yang gagal tersebut, dan lebih dari 1.500 lainnya luka-luka ketika mereka memprotes kudeta.

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurnalislam

Komandan Turki Terbukti sebagai Loyalis Gulen, Inilah Pengakuannya

thumbs_b_c_542501c73681b486945eeac8667f5618ANKARA (Jurnalislam.com) – Letnan Kolonel Levent Turkkan, ajudan Kepala Staf Umum Turki Hulusi Akar, mengaku memiliki hubungan dengan Organisasi Teroris Fetullah (the Fetullah Terrorist Organization-Feto), yang ia katakan adalah pelaku utama upaya kudeta Jumat yang gagal.

Dalam kesaksiannya yang dirilis Rabu pagi, Turkkan mengatakan ia adalah anggota setia kelompok Feto sejak muda, Anadolu Agency, Rabu (20/07/2016).

“Saya anggota dari negara paralel, atau Feto. Saya telah melayani komunitas ini selama bertahun-tahun secara sukarela. Saya menuruti perintah dan instruksi dari saudara besar secara persis,” jelasnya.

Turkkan ditahan sebelumnya karena diduga memiliki link dengan upaya kudeta mematikan, yang terjadi pada Jumat malam ketika oknum-oknum militer Turki mencoba untuk menggulingkan pemerintah yang terpilih secara syah di negara itu.

Sedikitnya 240 orang, termasuk anggota pasukan keamanan dan warga sipil, tewas di Istanbul dan Ankara dan hampir 1.500 lainnya luka-luka ketika mereka memprotes kudeta.

Turkkan mengatakan bahwa ia berasal dari keluarga sederhana di distrik barat laut Bursa dan bertemu kelompok tersebut saat berada di sekolah menengah sementara ia tinggal di asrama.

“Sejak saya berusia 5 tahun, keinginan terbesar saya adalah untuk menjadi seorang perwira militer. Dan mimpi saya menjadi seorang perwira militer membuat senang keluarga saya,” katanya, menambahkan bahwa ia mengikuti ujian masuk sekolah militer pada tahun 1989.

Turkkan mengatakan ia adalah seorang mahasiswa yang pandai dan ia yakin akan lulus ujian dengan usahanya sendiri.

“Tapi malam sebelum ujian, saudara besar (big brother) memberi saya kunci jawaban dari pertanyaan ujian di sebuah rumah milik mereka di Bursa,” katanya.

Berlanjut untuk melihat saudara besar-nya selama dan setelah bertahun-tahun sekolah militer, Turkkan mengatakan bahwa ia “melayani mereka selama misi di Istanbul, Trabzon, Diyarbakir, Lefkosa, Kiziltepe dan terakhir di Ankara.”

Turkkan juga mengaku ia memata-matai Mantan Kepala Staf Necdet Ozel selama menjabat antara 2011- 2015. Turkkan awalnya menjabat sebagai wakil pembantu dan kemudian menjadi ajudan setelah Necdet Ozel pensiun.

Turkkan mengatakan bahwa dia memenuhi perintah gerakan Gulen setelah menjadi pembantu dekat di Staf Umum.

“Saya memata-matai (mantan) Kepala Staf Necdet Ozel sepanjang waktu. Aku meletakkan alat perekam di ruangannya di pagi hari dan membawanya kembali di malam hari,” kata Turkkan. “Perangkat ini memiliki kapasitas besar dan bisa melakukan penyadapan selama 10-15 jam.”

Selama interogasi oleh jaksa, Turkkan mengaku ia menerima perangkat tersebut dari orang yang mengaku bekerja di Turk Telecom, pusat telekomunikasi Turki.

“(Dia) memerintahkan saya untuk menguping Jenderal (Necdet Ozel). Dia mengatakan kepada saya ‘Kami akan memanfaatkan dia untuk tujuan informasi; tidak ada yang akan terjadi. “Saya tidak mempertanyakannya dan menerima perangkat itu,” katanya.

Turkkan katanya memiliki sedikitnya dua alat perekam dan mengembalikan perangkat saat kapasitasnya sudah penuh.

Letnan Kolonel Turkkan juga mengakui bahwa Mayor Mehmet Akkurt – yang diakui Turkkan sebagai anggota gerakan Gulen dan bekerja sama dengannya – memata-matai jenderal berpangkat tinggi, termasuk Kepala Staf Hulusi Akar.

Dia tidak menentukan waktu yang tepat ketika mereka menyadap Akar.

“Saya pikir gerakan memata-matai para jenderal untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam angkatan bersenjata,” Turkkan mengaku.

Setelah Jenderal Hulusi Akar dipromosikan sebagai Kepala Staf, Turkkan mengatakan bahwa ia berhenti melakukan penyadapan.

Selama interogasi, Turkkan juga memberikan informasi tentang bagaimana gerakan Gulen berada dalam militer Turki.

“Saya percaya 60-70 persen dari orang-orang yang telah diterima dalam angkatan bersenjata sejak 1990-an adalah orang-orang yang terhubung dengan Gulen,” katanya.

Turkkan mengatakan ia menerima informasi tentang kudeta militer pada 14 Juli sekitar pukul 10.00 pagi waktu setempat (1900GMT) dari Staf Kolonel Orhan Yikilkan, yang menjabat sebagai Kepala Staf penasihat.

“Yikilkan mengatakan bahwa Presiden, Perdana Menteri, Kepala Staf dan kepala Komandan akan ditangkap, yang akan dilakukan (dengan) diam-diam; (kudeta militer) akan dipentaskan pukul 03:00 pada Sabtu (16 Juli), “kata Turkkan.

Turkkan mengatakan ia mengunjungi saudaranya untuk memeriksa apakah ia menyadari militer mengambil-alih, tetapi gagal menemuinya.

Dia mengatakan kepada jaksa bahwa ia bertemu dengan anggota gerakan lain di rumah saudaranya.

“Ketika saya bertanya kepada mereka, mereka marah kepada saya ‘Bagaimana Anda tahu? Siapa yang mengatakannya? Apakah Anda memberitahu kepada orang lain? “… Mereka mengatakan kepada saya untuk tetap tenang,” kata Turkkan.

LEVENT_TURKKAN

Setelah upaya digagalkan, Turkkan mengatakan ia menyerah kepada pejabat militer yang menyerahkannya dia ke polisi.

Turkkan mengatakan ia menyesal karena ambil bagian dalam kudeta kekerasan.

“Hingga kudeta terjadi, saya pikir gerakan Gulen bertindak hanya demi Tuhan dan Gulen sendiri memiliki identitas spiritual,” kata Turkkan.

“Sampai hari ini, saya tidak pernah berpikir gerakan Gulen adalah seorang pengkhianat. Tapi sekarang, saya menyadari siapa mereka sebenarnya. Mereka (para anggota Feto) haus darah. Aku belum pernah melihat Fetullah Gulen, tapi dia sama saja,” dia berkata.

“Saya merasa menyesal tidak hanya karena ambil bagian dalam kudeta, tetapi juga menjadi anggota gerakan Fetullah Gulen,” tambahnya.

Pemerintah telah berulang kali mengatakan kudeta diselenggarakan oleh pengikut tokoh Turki yang berbasis di AS Fetullah Gulen, yang melancarkan kampanye dan telah berjalan lama untuk menggulingkan pemerintah Turki melalui pendukungnya yang tinggal di dalam negara Turki, khususnya militer, polisi, dan pengadilan, dan membentuk negara paralel.

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurnalislam