Tersangka Pelaku Pembom New York City Ditangkap setelah Baku Tembak

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Tersangka yang dicari sehubungan dengan pemboman di New York City telah ditahan setelah baku tembak dengan polisi, lansir Aljazeera Senin (19/09/2016).

Ahmad Khan Rahami, 28, ditangkap di New Jersey pada Senin beberapa jam setelah ia diumumkan sebagai tersangka sehubungan dengan bahan peledak yang ditanam di New York City dan negara bagian New Jersey.

Sebuah bom meledak pada hari Sabtu di lingkungan Chelsea, Manhattan, melukai 29 orang. Semua yang terluka telah meninggalkan rumah sakit.

“Kami memiliki banyak alasan untuk percaya ini adalah aksi teror,” kata Walikota New York Bill de Blasio setelah penangkapan.

Rahami – seorang imigran Afghanistan yang tinggal di Elizabeth, New Jersey – ditahan setelah menembaki polisi, kata Walikota Elizabeth Chris Bollwage.

Dua petugas tertembak, namun tidak menderita luka yang mengancam nyawanya.

“Mr Rahami juga tertembak dan ambulans telah membawanya pergi,” kata Bollwage. Dia menjalani operasi untuk luka-lukanya.

Para pejabat mengatakan mereka tidak memiliki indikasi ada bom atau tersangka lainnya namun mereka memperingatkan bahwa mereka terus bekerja untuk memahami koneksi Rahami.

Petugas FBI William Sweeney Jr mengatakan dalam sebuah jumpa pers “tidak ada indikasi bahwa ada sel [teroris] di daerah itu.”

Motif tersangka masih belum jelas, kata Komisaris Polisi New York James O’Neill.

bn-px091_ipadli_p_20160919191111Derek Armstead – walikota Linden, New Jersey, di mana Rahami ditangkap – mengatakan bahwa seorang pemilik bar menemukan dia tidur di lorong bar-nya pada Senin pagi.

Dia mengatakan kepada kantor berita AP bahwa pria itu awalnya diduga adalah seorang gelandangan, namun polisi yang merespon dengan cepat menyadari bahwa ia adalah Rahami.

Armstead mengatakan pria itu mengeluarkan pistol dan menembak petugas, mengenai rompi anti-peluru dan mengenai lainnya.

Dia kemudian mulai menembak sambil berlari di jalan dan polisi menembaknya di kaki. Dia sadar ketika ia dibawa pergi dengan ambulans.

Seorang pejabat kepolisian mengatakan kepada Reuters bahwa lima perangkat yang ditemukan di New Jersey awal pada hari Ahad terhubung dengan ledakan Sabtu di Manhattan. Kelima alat peledak ditemukan di ransel dekat stasiun kereta api New Jersey.

Salah satu perangkat meledak pada Senin pagi saat petugas bekerja untuk menon-aktifkannya.

“Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab: Yang pertama, apa motif serangan ini dan adakah orang lain yang membantu?” lapor reporter Al Jazeera Gabriel Elizondo di New York City.

Milisi PKK Berkali-kali Targetkan Anggota dan Calon Partai Politik Turki

DIYARBAKIR (Jurnalislam.com) – PKK, sebuah organisasi teror yang melakukan serangan keji untuk merusak perdamaian dan keamanan di Turki, telah menargetkan sejumlah aktivis partai politik, lansir Anadolu Agency Senin (19/09/2016).

PKK, yang telah menyerang pasukan keamanan dan warga sipil, khususnya di timur dan tenggara Turki, meningkatkan serangan mereka setelah pemilihan umum 7 Juni tahun lalu di mana tidak ada satu partai pun yang menang atas partai mayoritas yang sedang berkuasa.

Media yang selaras dengan PKK mengidentifikasi partai politik dan politisi sebagai target mereka, sementara militan bersenjata menyerang Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) yang berkuasa saat ini dan partai Huda-Par (Partai Kebebasan).

Naci Adiyaman, kepala cabang pemuda Partai AK di Beytussebap, provinsi Sirnak di tenggara Turki, tewas setelah teroris PKK menculiknya pada 13 Agustus tahun ini.

Tokoh Partai AK lainnya – Ahmet Budak, mantan kandidat anggota parlemen di provinsi Hakkari – tewas di luar rumahnya pada 14 September.

Serangan lainnya oleh PKK terhadap politisi selama enam tahun terakhir meliputi:

pkktargets

29 Juni 2010: Pemimpin kabupaten Partai AK di distrik Yuksekova Hakkari, Ahmet Ucar, ditargetkan dengan granat tangan PKK yang dilemparkan di rumahnya. Tidak ada korban luka yang dilaporkan.

2 Juli 2012: Tiga milisi PKK bersenjata menculik ketua Partai AK distrik kabupaten Gurpinar Van, Hayrullah Tanis. Ia dibebaskan pada 24 Agustus

3 September 2012: Mantan Ketua Partai AK provinsi Hakkari, pengacara Mecit Tarhan, diculik. Ia dibebaskan pada 5 Oktober di Irak.

16 Maret 2014: Kandidat pemilu Partai AK di kota Van, Zeki Karakus dan empat anggota partai lainnya diserang saat berkampanye.

April 17, 2014: Anggota PKK menculik mantan kepala lokal kota , Abit Dogruer bersama dengan tiga orang lainnya di distrik Dicle Diyarbakir. Mereka dibebaskan pada tanggal 20 April.

17 Mei 2014: Ektremis PKK berusaha menculik anggota Huda-Par Ali Ayik dan Mikail Ayik, di distrik Dicle Diyarbakir. Insiden itu dihentikan oleh penduduk setempat tapi tiga orang terluka dalam perjuangan.

17 Oktober 2014: Pedagang berusia enam puluh enam tahun, Mehmet Latif Sener – dikenal sebagai pengikut Huda-Par – dibunuh dalam serangan di jalan. Dua teroris tertangkap ketika mencoba melarikan diri ke basis gunung PKK.

5 Juni 2015: Ketua Partai AK distrik kabupaten Karayazi Erzurum, Servet Tutkun, diculik dan diserang. Ia dibebaskan pada hari yang sama.

29 Maret 2016: Ketua Partai AK distrik kabupaten Ispir Erzurum, Salih Zeki Cetinkaya, diculik di jalan tol Bingol-Diyarbakir saat ia dan saudaranya sedang menuju ke Sanliurfa. Cetinkaya melarikan diri dua hari kemudian.

13 Agustus 2016: Naci Adiyaman, kepala cabang pemuda Partai AK di Beytussebap, Sirnak, diculik; mayatnya ditemukan kemudian.

1 September 2016: Anggota PKK menculik dan membunuh Menderes Ozer, 29 tahun, seorang anggota Partai AK dan putra mantan ketua asosiasi penjaga desa.

10 September 2016: Bahan Peledak ditinggalkan oleh PKK ditemukan di makam keluarga wakil ketua Partai AK asal Kurdi, Mehdi Eker Eker.

14 September 2016: Ahmet Budak, mantan calon parlemen Partai AK di provinsi Hakkari, dibunuh di luar rumahnya di hadapan anaknya.

Pernyataan Luhut Panjaitan Lanjutkan Reklamasi Dinilai Menghina Pengadilan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Koalisi Selamatkan Teluk Jakarta, melalui pengacara publik LBH Jakarta, Tigor Hutapea menilai, pernyataan Menteri koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan, untuk melanjutkan reklamasi Pulau G sebagai penghinaan atas pengadilan yang menginjak-injak martabat penegakan hukum di Indonesia.

Tigor mengatakan pernyataan Luhut telah melanggar prinsip negara hukum dimana setia pejabat negara seharusnya tunduk kepada keputusan pengadilan.

Prinsip negara hukum diakui sebagai hukum tertinggi Indonesia yang ditegaskan dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi: “Negara Indonesia adalah negara hukum.”

“Padahal secara sadar, komite gabungan yang ditunjuk oleh Rizal Ramli merekomendasikan untuk menghentikan secara penuh reklamasi di Teluk Jakarta. Hasil kajian yang sebelumnya dilakukan oleh Komita Gabungan harusnya dibuka terlebih dahulu kepada publik agar masyarakat bisa menilai kesalahan dan manipulasi yang dilakukan oleh Pemerintah dan Pengusaha dalam memuluskan reklamasi,” tegas Tigor dalam siara pers yang diterima Jurniscom, Senin (19/9/2016).

Menurutnya, berdasarkan hasil kajian tersebut, kesalahan Pemerintah terdahulu seharusnya dikoreksi dengan mencabut Perpres No. 54 Tahun 2008 tentang RTRW Kawasan JABODETABEKPUNJUR yang menjadi dasar melakukan reklamasi. Perbuatan menghina pengadilan itu, lanjutnya, seharusnya menjadi perhatian Presiden Jokowi.

“Pernyataan Menteri Luhut sebagai tindakan penghinaan pengadilan merupakan sebuah pelanggaran terhadap syarat untuk dapat diangkatnya seseorang menjadi menteri,” ujarnya.

Tigor menjelaskan, terdapat dua syarat penting yang telah dilanggar oleh Menteri Luhut tersebut yaitu dalam Pasal 22 ayat (2) UU No. 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara dimana persyaratan menteri adalah (c) setia kepada Pancasila sebagai dasar negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan cita-cita proklamasi kemerdekaan; dan (e) memiliki integritas dan kepribadian yang baik. Untuk itu kami meminta Presiden Joko Widodo untuk mempertimbangkan kembali keberadaan Luhut.

Ia menegaskan, reklamasi sebagai ujung pangkal bukanlah solusi atas permasalahan ibukota Jakarta. Permasalahan yang dihadapi oleh Jakarta sebagai ibukota negara haruslah diupayakan dengan melakukan partisipasi seluas-luasnya bagi masyarakat secara khusus masyarakat yang terdampak yaitu nelayan tradisional.

“Jakarta sebagai kota bandar yang bercirikan kelautan dapat musnah jika tetap memaksakan reklamasi,” pungkasnya.

Serangan Jet Tempur Rezim pada Konvoi Bantuan di Aleppo Akhiri Gencatan Senjata

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Pesawat-pesawat tempur rezim Suriah atau Rusia membom truk bantuan dekat Aleppo setelah gencatan senjata selama seminggu berakhir dan perang global yang telah berlangsung lima tahun kembali berkobar sepenuhnya pada Senin malam, lansir Aljazeera Senin (19/09/2016).

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (the Syrian Observatory for Human Rights-SOHR) yang berbasis di Inggris mengatakan sedikitnya 32 orang tewas dalam puluhan serangan udara yang diluncurkan di dan sekitar Aleppo setelah gencatan senjata resmi berakhir pada 1600 GMT.

Monitor perang itu mengatakan truk bantuan yang melakukan pengiriman rutin ke wilayah barat kota Aleppo diserang dekat kota Urm al-Kubra, menewaskan 12 orang.

Seorang pejabat Bulan Sabit Merah Suriah mengkonfirmasi bahwa kendaraan bantuan yang dioperasikan oleh kelompok itu telah ditargetkan oleh serangan udara saat pesawat tempur kembali melakukan pemboman di provinsi Aleppo.

Staffan de Mistura, Utusan Khusus PBB untuk Suriah, mengecam serangan udara itu. “Kemarahan kami atas serangan ini sangat besar … konvoi itu adalah hasil dari proses panjang dalam memperoleh izin dan melakukan persiapan untuk membantu warga sipil yang terisolasi,” katanya.

Militer Suriah pada hari Senin menyatakan bahwa gencatan senjata tujuh hari yang ditengahi AS-Rusia adalah berakhir saat rezim melakukan berkali-kali pelanggaran dan oposisi membalasnya.

Koresponden kantor berita AFP di Aleppo melaporkan utara kota sedang dihantam.

Sirene meraung saat ambulans bergerak melalui wilayah timur yang dikuasai koalisi pejuang Suriah, setengah dari kota yang terbagi, koresponden mengatakan, menggambarkan pemboman berlangsung “non-stop (tanpa henti)”.

Militer Rusia mengatakan para pejuang Suriah melancarkan serangan besar terhadap posisi pasukan rezim di pinggiran barat daya Aleppo.

“Serangan oposisi itu diikuti pemboman artileri besar … dari tank dan sistem roket,” katanya.

AS mengatakan bahwa mereka siap memperpanjang gencatan senjata, dan Rusia – mengatakan bahwa gencatan senjata masih bisa diselamatkan.

thumbs_b_c_c3fb8d96b976e28003fb8062b25a0b11

Setelah serangan oleh militer rezim tersebut, Menteri Luar Negeri AS John Kerry menyatakan jengkel atas penanganan gencatan senjata Damaskus dan Moskow.

“Akan lebih baik jika mereka tidak berbicara kepada pers terlebih dahulu melainkan berbicara dengan pihak-pihak yang benar-benar melakukan negosiasi ini,” kata Kerry. “Seperti yang saya katakan kemarin, ini adalah waktu untuk mengakhiri sikap sok pamer dan waktu untuk melakukan kerja nyata memberikan akses bagi bantuan kemanusiaan yang sangat diperlukan.”

Tapi Kerry juga mengakui bahwa tahap pertama gencatan senjata – yang mengharapkan situasi tenang selama seminggu dan pengiriman bantuan kemanusiaan ke beberapa komunitas yang terkepung – tidak pernah benar-benar mendatangkan hasil.

Dari awal, gencatan senjata dipenuhi kesulitan dan rezim berkali-kali melakukan pelanggaran.

Pengiriman bantuan ke distrik-distrik bagian timur Aleppo yang dikepung belum sampai di tempat tujuan. PBB menuduh rezim Assad menghalangi pengiriman, sementara para pejabat Rusia menuduh kelompok oposisi melepaskan tembakan di jalan-jalan yang dilalui konvoi bantuan.

Sedikitnya 22 warga sipil tewas dalam pemboman pemerintah selama seminggu terakhir, menurut Observatorium Suriah, yang menggunakan jaringan sumber di lapangan untuk menyusun laporan tersebut.

Dikira Musuh, Delapan Polisi Afghanistan Tewas dalam Serangan Udara AS

KABUL (Jurnalislam.com) – Serangan udara AS menewaskan delapan polisi Afghanistan di provinsi selatan Afghanistan saat aparat militer, yang didukung oleh serangan AS sedang bertempur melawan mujahidin Taliban, pejabat mengkonfirmasi, lansir Aljazeera Senin (19/09/2016).

Rahimullah Khan, komandan operasional provinsi, mengatakan bahwa serangan udara yang pertama pada Ahad sore menewaskan seorang polisi di sebuah pos pemeriksaan di luar ibukota provinsi Tarin Kot, sedangkan serangan yang kedua, menewaskan tujuh orang lainnya.

Pejabat lain, yaitu wakil kepala polisi Uruzgan Mohammed Qawi Omari, menyebutkan korban tewas berjumlah enam orang, tetapi juga melaporkan polisi tewas oleh serangan udara asing.

Komando militer AS di Kabul menegaskan pesawat tempur mereka telah melakukan serangan udara di daerah tersebut, tapi mengatakan mereka menargetkan individu yang menembaki dan merupakan ancaman bagi Pasukan Keamanan Nasional Afghanistan (Afghan National Security Forces-ANSF).

“Kami tidak memiliki informasi lebih lanjut tentang siapa orang-orang tersebut atau mengapa mereka menyerang ANDSF (Afghan national defense and security forces – pasukan pertahanan dan keamanan nasional Afghanistan),” kata juru bicara militer AS Brigadir Jenderal Charles Cleveland dalam sebuah pernyataan.

“AS, koalisi, dan pasukan Afghanistan memiliki hak untuk membela diri dan dalam kasus ini memiliki hak untuk langsung menanggapi ancaman.”

Para pejabat Afghanistan mengatakan mereka sedang menyelidiki serangan itu dan berada dalam kontak dengan koalisi yang dipimpin AS.

uruzgan_0Reporter Al Jazeera Jennifer Glasse, melaporkan dari Kabul, mengatakan bahwa pertempuran untuk mendorong kembali Taliban dari provinsi Uruzgan sedang berlangsung dan bahwa pasukan AS membantu pasukan Afghanistan.

“Pada titik ini sulit untuk mengetahui apakah ini adalah kesalahan identitas atau apakah salah koordinat, tapi kita tahu bahwa ada Taliban di daerah tersebut,” kata wartawan kami.

“Tapi seperti yang sering terjadi di sini, pasukan keamanan Afghanistan terjebak di tengah, dan kali ini, delapan polisi Afghanistan dilaporkan tewas.”

Mujahidin Taliban (Imarah Islam Afghanistan) dalam beberapa bulan terakhir telah meningkatkan serangan mereka di Uruzgan dan provinsi di selatan, termasuk jantung Taliban di Helmand.

Pasukan Afghanistan, yang didukung oleh serangan udara Amerika dan penasihat militer internasional, memerangi Taliban yang telah berjuang selama 15 tahun melawan pemerintah yang didukung Barat (NATO) di Kabul.

Mujahidin Taliban sempat memasuki ibukota Uruzgan, Tarin Kot, pada awal September.

Tahun lalu, militer AS melakukan serangan udara mematikan pada rumah sakit Doctors Without Borders (MSF) di Kunduz Afghanistan, menewaskan sedikitnya 42 orang, termasuk 24 pasien, 14 staf dan empat pengasuh.

Kesalahan teknis dan manusia menyebabkan serangan itu, militer AS mengatakan saat mempresentasikan hasil penyelidikan internal atas insiden tersebut.

 

MTSI – FUUI Gelar Diskusi: Isu HAM Di Antara Toleransi dan Penodaan Agama

Isu Hak-Hak Azasi Manusia (HAM) sering menjadi topik pembicaraan tak terkecuali yang terkait dengan masalah hukum. Oleh karena saking semangatnya dalam membicarakan isu yang satu ini, terkadang para pembicara lupa mendudukkan isu HAM ini tidak pada tempatnya.

Menggulirkan isu HAM yang tidak pada tempatnya terutama menyangkut Toleransi dan Penodaan Agama pada gilirannya akan menimbulkan kerancuan hukum. Untuk mengantisipasi timbulnya kerancuan hukum terhadap Isu HAM ini, Majelis Taklim Syakhshiyyah Islamiyyah Forum Ulama Ummat Indonesia (MTSI-FUUI) akan menggelar diskusi dengan Tema: “Isu HAM Di Antara Toleransi dan Penodaan Agama”.

Diskusi akan digelar pada Sabtu, 22 Dzulhijjah 1437 / 24 September 2016 Pkl.09.30-12.00 WIB bertempat di Masjid Al Fajr Jl. Cijagra Raya No.39 Buah Batu Bandung. Pembicara : 1. K.H. Athian Ali M. Da’i, Lc. M.A., Ketua Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI), Ketua Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Pusat; 2. Dr. H. Abdul Chair Ramadhan, S.H., M.H., M.M., Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI Pusat, Lektor Universitas Krisnadwipayana, Pengurus Dewan Pakar ANNAS Pusat.

Pengurus MTSI-FUUI, Tardjono Abu Muas mengundang kaum muslimin untuk menghadirinya. Diskusi bersifat umum dan gratis.

Bandung, 19 September 2016

Pengurus MTSI – FUUI

Tardjono Abu Muas

 

Aksi yang Dibubarkan dan ‘Selongsong Peluru’ Itu

Yang Tercecer dari Mubes Warga Jakarta

Aksi yang Dibubarkan dan ‘Selongsong Peluru’ Itu…

Oleh Edy Mulyadi*

 

“Kamu tahu ga, mereka cari apa? Mereka cari-cari selongsong peluru, tau,” kata Ratna Sarumpaet.

“Ah masa sih, mbak?” balas saya tidak percaya.

“Kalo ga cari selongsong peluru, apa perlunya polisi-polisi itu naik kesini terus bongkar ini-itu,” kata Ratna lagi.

“Selongsong peluru, masa sih?” tukas saya lagi, masih tidak percaya

“Kamu ga denger tadi mereka buang tembakan?

Ga mbak. Tapi kalau benar mereka melepas tembakan, siapa sasarannya? Masak sih kita? Wuih, ngeri kali…,” ujar saya.

Kalimat-kalimat yang di atas itu adalah petikan dialog saya dengan Ratna Sarumpaet. Waktu itu kami masih berada di atas mobil komando, saat orasi pada Musyawarah Besar Warga Jakarta di sekitar Musium Fatahillah, Kota Tua, Jakarta Barat. Aksi digelar Ahad, 18 September 2016. Sedianya, aksi berlangsung mulai pukul 08.00-10.30. Namun apa daya, polisi akhirnya membubarkan paksa ketika jam belum lagi menunjukkan pukul 10.00. Padahal, karena berbagai hambatan teknis (terutama larangan dari polisi) aksi baru bisa dimulai menjelang pukul 09.00.

Ahad pagi itu, massa aksi dari berbagai wilayah Jakarta sudah mulai berdatangan sekitar pukul 07.00, termasuk di antaranya warga Kampung Akuarium, Pasar Ikan, Jakarta Utara. Mereka datang bersama Ratna Sarumpaet, aktivis senior yang selama berbulan-bulan mendampingi mereka, tidur dan makan bersama mereka di lokasi bekas area yang digusur paksa oleh Ahok, sang gubernur ganas.

Koordinator Lapangan Mubes, Budhi Setiawan sempat bernegosiasi dengan Kapolres Jakbar Kombes Roycke Harry Langie. Negosiasi gagal. Polisi tetap melarang aksi digelar di halaman Musium Fatahillah. Alasannya, kata Kapolres, ada Pergub yang melarang lokasi wisata dijadikan tempat aksi.

Saya yang datang belakangan sempat bernegosiasi juga dengan Kapolsek Taman Sari AKBP Nasriyadi. Kepala Pengamanan unjuk rasa Mubes itu mengerahkan 300 personel untuk mengamankan jalannya Mubes. Hasilnya setali tiga uang, tidak boleh demo di halaman museum.

Namun akhirnya bisa dicapai kompromi, aksi bisa digelar di luar pagar halaman museum. Alhamdulillah… Jadilah kami menggelar berbagai poster dan spanduk. Pesan inti yang disampaikan adalah, warga Jakarta menolak Ahok!

Ketika itu mobil komando belum datang. Orasi disampaikan oleh ustadz Haikal Hassan. Ulama asli Betawi kelahiran Condet, Jakarta Timur yang berpakaian serba-hitam, ini menyuarakan hal yang sama. Setelah itu saya sampaikan orasi. Oya, sekadar info, baik saya maupun ustadz Haikal berorasi sama sekali tidak menggunakan pelantang suara apa pun. Jadi kami terpaksa teriak-teriak sebisanya. Akibatnya, walau hanya orasi sekitar lima menit, tenggorokan saya rasanya jadi gimanaaa gitu, deh

Polisi sahabat rakyat

Tidak beberapa lama kemudian, mobil komando datang. Kami memarkir di sudut sisi kanan museum. Saya pun segera naik ke bagian atas. Setelah itu naik pula ustadz Mustaqiem Dahlan yang juga Ketua Forum Mitra RT/RW DKI Jakarta. Anak muda yang hari itu mengenakan kaus merah dan peci hitam itu adalah juga aktivis Walhi DKI. Alan, biasa kami panggil begitu, memang punya seabrek aktivitas. Antara lain ICMI Jakarta dan salah satu pendekar Tapak Suci, organisasi bela dirinya Muhammadiyah.

Mulailah kami berdua bergantian berorasi. Namun polisi sepertinya tidak happy dengan orasi kami. Maka mobil mereka perintahkan jalan, bergerak menuju masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Karena tidak tega melihat Ratna ikut berjalan di belakang, saya minta mobil berhenti agar dia bisa ikut naik ke atas. Jadilah kami bertiga di mobil komando. Sementara di ruang kemudi ada sopir dan seorang asistennya.

Dalam bagian orasi, kepada massa aksi dan masyarakat yang menonton di pinggir jalan saya sampaikan antara lain; yang kita lawan adalah gubernur tukang gusur, gubernur beringas yang ganas, gubernur sok bersih padahal banyak terlibat kasus korupsi. Warga Jakarta ingin punya gubernur yang mencintai dan dincitai warganya, gubernur yang menyayangi dan disayang warganya, gubernur yang sopan dan tidak hobi memaki rakyat sendiri

Kepada massa aksi juga saya sampaikan, kita berterima kasih kepada polisi yang telah membantu mengamankan acara ini. Polisi bukan lawan rakyat, polisi justru teman dan pengayom rakyat. Polisi pelindung rakyat, karena gaji polisi dibayar dengan uang rakyat, seragam polisi dibeli dengan uang rakyat, sepatu polisi berasal dari uang rakyat, bahkan senjata polisi dan pelurunya juga dibeli dengan uang rakyat…

Entah apa sebabnya, rupaya materi orasi saya itu telah membuat berang polisi. Kapolres Jakbar Roycke dan Kapolsek Taman Sari Nasriyadi yang ikut jalan di belakang mobil marah besar. Mereka berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan tongkat komandonya minta saya diam dan turun. Muka keduanya yang memang berkulit putih bersih merah padam. Padahal, waktu bernegosiasi dengan saya tadi, Nasriyadi sangat ramah. Kami bahkan sempat beberapa kali bercanda.

Keruan saja sikap para petinggi polisi itu memicu sikap serupa anak buahnya. Mungkin bagi mereka, kemarahan Kapolres dan Kapolsek adalah perintah untuk bertindak. Maka hanya dalam hitungan detik, sejumlah polisi muda merangsek ke mobil komando. Mereka berupaya naik untuk menarik saya turun.

Untungnya, teman-teman panitia yang memang berjaga-jaga di seputar mobil berusaha mencegah polisi-polisi yang mulai beringas. Tak pelak lagi, bentrokan terjadi. Saling sikut dan tendang di antara mereka tak terhindarkan. Namun karena perlawanan teman-teman panitia itu pula, polisi tidak berhasil menurunkan saya. Alhamdulillah

Melihat kejadian itu, dari atas mobil, dengan menggunakan mikrofon, minta saya bentrokan dihentikan. Kepada teman-teman panitia sama minta mengalah, karena sejak awal memang kami men-setting aksi damai, bukan anarkis. Syukurlah, baik teman-teman maupun polisi mau mendengarkan anjuran saya. Bentrokan berhenti.

Nah, saat bentrokan terjadi itulah, Ratna mengatakan mendengar suara tembakan dilepas beberpa kali. Entah oleh siapa dan kemana sasarannya, Ratna sendiri tidak tahu. Itulah sebabnya dia yakin bahwa beberapa polisi yang bergantian naik ke atas mobil komando itu tengah mencari selongsong peluru.

“Mereka berusaha menghilangkan barang bukti, Ed,” ujar Ratna. Mungkin karena bentrokan dan masih berorasi dari atas mobil, saya tidak mendengar suara tembakan yang dimaksud Ratna.

Selepas bentrokan, polisi memerintahkan mobil bergerak cepat. Tentu saja massa jadi tertinggal jauh di belakang. Ustadz Alan yang juga masih di atas mobil berteriak-teriak minta mobil dihentikan. Namun sepertinya sopir lebih takut kepada polisi ketimbang mau mendengarkan teriakannya.

Setelah melawati Stasiun Kota, mobil dipaksa belok ke kiri ke arah pasar pagi Mangga Dua. Beberapa puluh meter kemudian, mobil melambat dan akhirnya berhenti. Saat itu ustadz Dahlan melompat turun dan berlari menuju massa aksi yang tertinggal di belakang.

Apa yang kau cari, pak polisi?

Yang menarik, saat mobil masih berjalan, seorang anak muda berkaus hitam berlari kencang mengejar mobil. Dia mengejar mobil sejak masih berada di depan Bank BNI di samping stasiun Kota. Setelah mobil berhenti, dia bergegas naik ke atas mobil dan sibuk mencari sesuatu. Nafasnya masih terengah-engah. Pandangannya tertuju ke dek yang dialasi karpet hijau dan plastik bekas aneka spanduk. Matanya jelalatan liar. Tangannya bergerak cepat ke sana-sini. Hasilnya, nihil. Dia tidak menemukan apa-apa…

Usai dia turun, naik seorang polisi lain, juga berpakaian preman. Kali ini usianya lebih tua. Mungkin 30an tahun. Badannya kekar. Rambutnya lurus agak panjang dan dikuncir di bagian belakang. Dia pun sibuk mencari ini-itu. Dia malah beberapa kali mengangkat-angkat karpet dan bekas spanduk. Hasilnya sama, nihil…

Setelah si gondrong turun, naik polisi yang lain. Kali ini berturut-turut dua orang, semuanya tidak berseragam. Juga sibuk mencari-cari. Karena heran, saya bertanya ke mereka, apa yang dicari. Tapi tidak satu pun dari polisi-polisi itu yang mau membuka mulut.

Seperti kurang puas, si gondrong sekali lagi naik dan mencari-cari.

“Apa yang kau cari?” tanya Ratna.

“Ga cari apa-apa, bu,” jawab si gondrong, matanya masih jelalatan. Jawaban yang bodoh!

“Mana mungkin kau ga cari apa-apa. Apa yang kau cari?” tukas Ratna lagi dengan suara keras.

Saya yang di atas mobil juga tidak habis mengerti apa yang mereka cari. Tadinya saya berpikir, polisi-polisi itu mencari apa saja yang mungkin bisa dan biasa digunakan para demonstran. Mulai dari batu-batu, tongkat dan kayu, senjata tajam, sampai bom molotov. Eit, nanti dulu ah, bom Molotov? Mosok seserius itu, sih?

Nah, usai adegan pencarian yang ganjil dan nihil itulah, terjadi dialog saya dan Ratna seperti di awal tulisan ini. Sampai sekarang, terus terang, saya masih belum yakin kalau para polisi itu mencari selongsong peluru. Namun penjelasan Ratna dikombinasi adegan polisi-polisi yang tergopoh-gopoh mencari sesuatu tadi rasanya cukup masuk akal. Apalagi, menurut Ratna, asisten si sopir mobil komando itu sempat melihat selongsong peluru jatuh di dekat mobil saat bentrokan berlangsung…

Di sisi lain, lagi-lagi saya berpikir, masak iya polisi melepas tembakan? Ke arah mana? Siapa sasarannya? Mungkinkah sasarannya saya, karena materi orasi saya dianggap memprovokasi? Maaf, ini bukan ge-er, tapi lebih karena takut juga, lho… Faktanya, polisi memang naik darah saat saya berorasi di atas mobil yang bergerak pelan. Apalagi baik Roycke, Nasriyadi maupun banyak polisi lain yang marah itu, berteriak-teriak agar saya tidak menyebut-nyebut polisi dalam orasi.

Padahal dengan menggunakan materi polisi sebagai teman, sahabat, dan pengayom rakyat tadi, saya bermaksud mengingatkan massa aksi, agar tidak terpancing emosi dan memusuhi polisi. Maklum, dalam apel pagi, polisi memang diperintahkan untuk menghalau massa. Bahkan perintah itu ditambahi embel-embel “ini tugas negara.” Dalam bahasa pesantren, frasa itu (sudah) setara dengan “jihad fii sabilillah.” Artinya, harus dilakukan apa pun risikonya!

Kembali ke mobil komando, akhirnya kami digiring ke masjid Istiqlal. Di depan ada satu mobil patroli. Di belakang, ada 2-3 mobil lain yang ikut mengawal dengan menyalakan lampu hazard. Keren juga, sih…

Matahari kian terik. Juga karena di atas tidak stabil dan cukup berbahaya, saya minta Ratna turun. Dia setuju bergabung di kabin, duduk bertiga dengan supir dan asistennya. Tinggalah saya sendiri di atas mobil. Untungnya di situ ada boks plastik bekas minuman ringan yang bisa saya pakai duduk. Lumayan. Mobil kembali melaju, menuju masjid Istiqlal. Tentu saja, masih dengan pengawalan polisi.

Kapolsek bohong?

Jadi tidak benar, kalau Kapolsek Tamansari Nasriyadi kepada wartawan mengatakan, orator dan korlap aksi kabur saat diajak komunikasi oleh polisi.

“Kasihan itu, Ratna Sarumpaet ditinggal di atas mobil. Saat kami dekati, mereka semua operator dan Korlap kabur. Hasilnya, Ratna, sama massa aksi yang ibu-ibu dan anak-anak juga ditinggal,” terang Nasriyadi.

Massa aksi tersebut, lalu dinaikkan oleh polisi ke bus. Kemudian Ratna Sarumpaet sempat bersitegang. “Kami sempat tawarkan taxi malahan. Tapi ibu Ratna gak mau, ya kami biarkan. Kalau massa aksi yang lainnya sudah kami naikkan ke bus, sudah kami suruh pullang,” ucap Nasriyadi.

Kalau benar Nasriadi berkata begitu, ini jelas pembohongan publik. Lha wong saya bersama-sama Ratna dikawal sampai di masjid Istiqlal. Sedangkan Budhi, sampai jam 11an masih di café Batvia, ngobrol dengan beberapa polisi.

Oya, sekadar info saja. Di café Batavia itu pula Budhi melihat dan berjabat tangan dengan Wakapolda Metro Jaya, Brigjen Pol Suntana. Jadi, rupanya, diam-diam Mubes Warga Jakarta ternyata berhasil menarik perhatian para petinggi Polri. Bayangkan, bukan hanya Kapolsek dan Kapolres, bahkan Wakapolda pun memerlukan ikut hadir. Bukan main… (*)

 

Jakarta, 19 September 2016

Edy Mulyadi, Inisiator dan Ketua Panitia Musyawarah Besar Warga Jakarta

Prof Dr Didin Hafidhudin: Pemimpin Baik Adalah yang Beriman dan Beretika Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Prof Dr KH Didin Hafidudin mengatakan, umat Islam adalah pihak yang paling berjasa bagi bangsa Indonesia. Pernyataan itu ia sampaikan dalam acara Silaturahmi Akbar Do’a untuk Kepemimpinan Ibukota di Masdid Istiqlal, Jakarta, Ahad (18/9/2016).

“Negara ini merdeka dengan dipimpin para ulama, kyai, dai, tokoh Islam. Sekarang ini kita dilanda masalah besar (dipimpin gubernur non muslim-red). Untuk itu, mari kita menyatukan bangsa agar yang memimpin adalah muslim,” katanya.

Kyai Didin berharap pemimpin DKI Jakarta nantinya adalah pemimpin yang mencintai umat dan tidak arogan.

“Di masjid ini kita berdoa. Semoga Allah Ta’ala memberikan kita pemimpin yang terbaik. Berikan kami pemimpin yang tidak kasar dan arogan,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia juga menjelaskan secara singkat kriteria pemimpin yang baik. “Yaitu orang yang beriman. Kedua shalat. Susah kalau pemimpin tidak pernah shalat. Tidak mengerti etika Islam. Gaduh terus!” cetusnya.

Jenderal Somalia dan Pengawalnya Tewas dalam Serangan Bom Mobil al Shabaab

SOMALIA (Jurnalislam.com) – Seorang jenderal Somalia dan beberapa pengawalnya tewas setelah konvoi militer mereka dihantam oleh ledakan bom mobil yang diakui oleh mujahidin Al-Shabaab, lansir Aljazeera, Ahad (18/09/2016).

Jenderal Mohamed Roble Jimale, yang juga dikenal sebagai “Goobaanle”, dan beberapa tentara Somalia tewas dalam serangan di ibukota Somalia, Ahad, kolonel polisi Abdikadir Farah mengatakan kepada kantor berita Reuters.

“Ada ledakan berat yang disebabkan oleh mobil sarat bahan peledak di sepanjang jalan industri, beberapa anggota militer tewas dalam insiden termasuk seorang komandan senior,” pejabat keamanan Abdiaziz Mohamed mengatakan kepada kantor berita AFP.

Jenderal Mohamed Roble Jimale adalah komandan tentara Brigade Ketiga. Dia telah berperang melawan mujahidin al-Shabab sejak tahun 2007, memimpin pasukan yang memerangi jihadis di beberapa lingkungan ibukota sampai al Shabaab mundur dari Mogadishu pada tahun 2011.

Serangan itu terjadi setelah konvoi meninggalkan rumah sakit militer dan menuju ke kantor kementerian pertahanan. Saksi mata mengatakan kendaraan sedang bergerak di jalan saat kendaraan lain menabraknya, menyebabkan ledakan besar.

“Ledakan itu sangat besar, saya melihat asap dan api membayangi seluruh wilayah,” kata saksi Abdi Hassan.

Serangan itu diklaim oleh al-Shabaab dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh stasiun radio resmi kelompok, Andalus.

“Seorang pejuang mujahid syahid saat bom mobil menewaskan Jenderal Goobaanle,” menyebut nama panggilan sang jenderal.

Presiden Somalia Hassan Sheikh Mohamud mengirim ucapan belasungkawa kepada keluarga jenderal, kata juru bicaranya.

Al-Shabaab sering meluncurkan serangan untuk menggulingkan pemerintah korup Somalia yang didukung Barat (AS dan sekutunya).

Al-Shabaab juga telah melakukan serangan berulang-ulang di negara tetangga Kenya.

Sebuah analisis militer baru-baru ini mengumumkan bahwa al Shabaab memperluas jangkauannya dengan sel aktif di Djibouti, Ethiopia, Tanzania dan Uganda.

Silaturahmi Akbar Ulama dan Tokoh Nasional Lahirkan Risalah Istiqlal

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Silaturahmi Akbar Do’a untuk Kepemimpinan Ibukota di Masjid Istiqlal pada Ahad (18/9/2016) melahirkan sebuah risalah bernama Risalah Istiqlal. Dalam acara yang dihadiri puluhan ribu umat Islam itu, para ulama dan tokoh nasional menyepakati 9 poin Risalah Istiqlal. Berikut ini isinya:

Risalah Istiqlal

1. Kepada seluruh ummat Islam agar merapatkan barisan untuk memenangkan pemimpin Muslim yang lebih baik.

2. Diserukan kepada seluruh Partai pro rakyat agar berupaya maksimal untuk menyepakati satu calon pasangan gubernur muslim.

3. Diserukan kepada seluruh ummat Islam agar beramai-ramai menggunakan hak pilihnya dalam Pilkada DKI 2017.

4. Diserukan kepada umat Islam untuk berpegang teguh kepada agamanya dengan hanya memilih calon muslim dan haram memilih non Muslim dan haram golput.

5. Diserukan kepada kaum muslimin untuk menolak, melawan dan melaporkan segala bentuk suap (money politic, serangan fajar).

6. Pentingnya partai politik pro rakyat untuk memaksimalkan daya yang mereka miliki serta melibatkan seluruh potensi/elemen umat untuk memenangkan pasangan cagub-cawagub yang disepakati umat.

7. Mengokohkan ukhuwah dan mewaspadai segala bentuk fitnah dan adu domba yang ditujukan kepada calon yang diusung oleh ummat.

8. Mengingatkan seluruh Pengurus KPUD DKI, RT RW yang ditugaskan sebagai KPPS untuk mengawal dan mengawasi jalannya Pilkada agar terwujud Pilkada yang jujur dan adil.

9. Menghimbau kepada partai yang mendukung calon non muslim untuk mencabut dukungannya. Apabila tidak mengindahkan himbauan maka diserukan kepada ummat untuk tidak memilih partai tersebut.