Sedikitnya 23 Pasukan NATO Tewas dalam Serangan Taliban di Pangkalan Udara AS, Kabul

KABUL (Jurnalislam.com) – Pada Sabtu pagi (12/11/2016), pasukan pencari Syahid Imarah Islam Afghanistan (Taliban), Hafiz Muhammad Parwani, melakukan serangan istisyhad di dalam pangkalan udara Bagram NATO, berdasarkan informasi yang akurat dalam serangan tersebut 23 tentara Amerika termasuk perwira utama tewas dan 44 lainnya luka-luka serta beberapa pasukan Afghanistan juga tewas dan terluka, Al Emarah News melaporkan, Sabtu.

NATO membenarkan tewasnya beberapa korban dalam serangan yang jelas dilakukan Taliban di pangkalan militer AS terbesar di Afghanistan, Bagram Airfield dekat Kabul Sabtu pagi, lansir World Bulletin.

Abdul Shakoor Quddusi, kepala distrik Bagram, mengatakan sejumlah orang tewas dan 15 lainnya luka-luka dalam “ledakan kuat”, tapi tidak bisa mengkonfirmasi kebangsaan para korban.

Kementerian pertahanan Afghanistan mengatakan bahwa mereka menyadari ledakan tersebut tapi tidak bisa segera mengkonfirmasi korban.

“Kami dapat mengkonfirmasi bahwa ada ledakan di Bagram Airfield pagi ini setelah pukul 05:30 (0100 GMT). Ada korban,” kata koalisi militer dalam sebuah pernyataan singkat.

“Pasukan Perlindungan (Force Protection) kami dan tim medis telah menanggapi situasi ini,” tambahnya, tanpa menentukan apa penyebab ledakan.

Ledakan itu menyoroti memburuknya situasi keamanan hampir dua tahun setelah NATO secara resmi mengakhiri operasi tempur di Afghanistan.

Bagram Airfield, dekat dengan Kabul, telah sering diserang oleh Mujahidin Taliban.

Desember lalu, pembom istisyhad Taliban mengendarai sepeda motor menewaskan enam tentara AS di pangkalan militer AS terbesar di Afghanistan tersebut.

sedikitnya-23-pasukan-nato-tewas-dalam-serangan-taliban-di-pangkalan-udara-as

 

Jalan Juang Pak Oye, ‘Jika Hanya Tersisa Seorang yang Berjihad, Maka Seorang Itu Adalah Saya’

Malam sudah larut, namun Hermalina, wanita paruh baya itu masih asyik menyetrika baju koko dan sorban putih yang akan digunakan suaminya, Syachrie Oemar Yunan (65), pagi-pagi sekali akan berangkat mengikuti aksi damai Bela Islam menuntut keadilan bersama jutaan kaum muslimin lainnya di depan Istana negara.

Masih ingat dalam benak ibu tujuh anak ini, beberapa hari ini, suaminya nampak sangat berbeda dibanding hari-hari sebelumnya. “Bapak sangat semangat sekali, sampai mengajak tetangga-tetangga untuk berjihad. Beliau menyebut aksi tanggal 4 November sebagai jihad,” kenang Hermalina kepada anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU), Sabtu (5/11/2016) di kediamannya di bilangan Binong Kabupaten Tanggerang.

Malam itu, ditatapnya lamat-lamat wajah suaminya yang tak lagi muda, sedang pulas tertidur setelah ba’da isya berkeliling kampung mengajak warga untuk ikut membela Islam Jumat ini. Herlina tak kan pernah menyangka, malam itu akan menjadi malam terakhir bersama sang belahan jiwa.

“Saya benar-benar nggak pernah menyangka. Mungkin karena beliau benar-benar sudah ikhlas ingin berjihad, tidak ada pesan khusus apapun” kenang Hermalina. Namun, tetangga-tetangga yang didatangi Syahrie menyampaikan keanehan pada Syachrie. “Wajah bapak nampak cerah dan bercahaya malam itu,”kata Hermalina mengenang.

Syachrie Oemar Yunan, dikenal kerabat dan tetangga dengan panggilan karib Pak Oye. Beliau merupakan tokoh sepuh di RW 07 Binong Permai Kabupaten Tanggerang yang konsern pada umat apalagi ketika al Quran dinista.

Memang, pernah terjadi diskusi antara sejoli ini, mengapa Syachri yang sudah sepuh, berusia lebih dari kepala 6 harus capek-capek ikut aksi damai. “Kita ini membela al Qur’an dari si penista, jangan takut mati untuk membela kebenaran,” nasihat Syachrie bergebu-gebu kepada Harmalina yang terus terngiang-ngiang.

Jangan takut mati untuk membela kebenaran

Maka, pagi itu Syachrie Oemar berangkat sebagi seorang mujahid. “Beliau berkali-kali menyebut aksi damai itu adalah jihad membela al Qur’an,” kata Dede Winata, kerabat dekat Syachrie yang juga warga Tanggerang. Beberapa malam sebelum keberangkatan, di rumah Dede berkumpul para sesepuh yang akan melaksanakan aksi.

“Saya masih ingat kata-kata beliau yang begitu menyentuh,” kenang Dede. Kata-kata yang menurut Dede begitu membekas di hadapan para hadirin. Inilah kata-kata Syachrie yang kelak terwujud.

“Jika ada 1000 orang mujahid berjihad di jalan Allah, maka salah satunya adalah saya. Jika ada 100 orang mujahid berjihad di jalan Allah, maka salah satunya adalah saya. Jika ada 10 orang mujahid berjihad di jalan Allah, maka salah satunya adalah saya. Jika hanya tersisa seorang yang berjihad, maka seorang itu adalah saya”

Maka, pagi itu Syachrie Oemar Yunan berangkat sebagi seorang pejuang.”Doakan saya mau berjuang,” kata Syachrie menatap sang belahan jiwa setelah diam mematung cukup lama di depan pintu rumahnya. Itulah ucapan terakhir Syachrie kepada Herlina.

bupati tangerang bersama istri almarhum pak oye
bupati tangerang bersama istri almarhum pak oye

Pagi itu, Syachrie sendiri yang menyetir mobil bermuatan enam orang itu. “Saya berangkat tujuh orang, bersama Pak Oye, Pak Acang, Pak Ganda, Istri dan dua anak saya si Ben sama Aurel,” kata Wawan, tetangga Pak Oye yang merupakan jamaah ustaz Subki.

“Beliau berangkat dalam keadaan sangat sehat dan bersemangat, mobil aja dia yang nyetir,” kata Wawan. Beberapa hari sebelumnya, memang kata Wawan, sebagai sesepuh kampung, Pak Oye terus mengajak warga untuk membela al-Qur’an.

“Padahal beliau bukan anggota parta politik apapun, bukan anggota ormas mana pun, beliau pencinta zikir dan shalawat, murni karena ingin membela al-Qur’an,” Dede Winata menambahkan. Saking semangatnya, Wawan, karibnya memutuskan untuk cuti kerja.

“Ini jihad kita membela al Quran, bahkan kalau harus mati kita jalanin,” Pak Oye membuat Wawan terenyuh dan memilih bergabung bersama massa. “Saya tanya istri, dia juga mau ikut, sekalian saya mau nengok ke rumah mertua saya,” kenang Wawan.

Maka, pagi itu Syachrie Oemar Yunan berangkat sebagi seorang pejuang. Semobil dengan Pak Oye, Wawan begitu takjub mendengar beliau hanya berzikir dan membaca shalawat tak henti-hentinya. “Saya sama istri diturunin di Kota Bambu, saya ajak beliau mampir makan dulu, tapi beliau bilang mau ke Tanah Abang, kan dia banyak teman di sana,” kata Wawan yang akhirnya berpisah dengan pak Oye.

Suganda, yang hingga detik-detik akhir bersama dengan Pak Oye mengisahkan semangat beliau dan nostalgia Pak Oye bersama kawan-kawannya di Tanah Abang. “Jam 08 pagi kita sudah sampai di Tanah Abang, entah kenapa beliau mau ketemu teman-teman lamanya yang sudah 15 taun nggak ketemu, kangen katanya,” kata Suganda.

Suganda memperhatikan Pak Oye benar-benar menikmati silaturahim dengan kawan-kawannya, karena Pak Oye merupakan orang asli Betawi. “Obrolan beliau sepertinya begitu membekas bersama kawan-kawannya. Kita lanjutin shalat Jumat di Masjid Istiqlal, tapi ga memungkinkan karena sepanjang jalan sudah penuh,” kata Suganda.

Akhirnya, Pak Oye dan Suganda shalat bersama di Masjid Ar Rahal di bilangan Abdul Muis. “Beres Jum’atan kita makan, kita bawa bekel. Kita makan kesukaan beliau, pepes ikan,” kata Suganda.

Suganda mengenang, Rabu malam, Suganda membawakan pepes ikan kembung dan dimakan lahap berdua bersama Pak Oye. “Sampe dia catet sendiri resepnya pake HP, eh sekarang dia bawa pepes,” kata Suganda. Usai makan, mereka bergerak, bersatu dengan lautan manusia menyusur Abdul Muis hingga jalan Budi Kemuliaan.

“Selama di perjalanan beliau sangat sehat, sangat bersemangat,” kata Suganda yang menemani perjalanan beliau. “Beliau tak henti-hentinya berzikir dan shalawat dengan semangat, memang beliau pencinta shalawat,”tambahnya.

Senja. Kuning keemasan, menaungi lautan manusia yang menyemut seakan tak berujung di sudut-sudut jalan protokol Ibu Kota. Suganda dan Pak Oye tiba di Patung Kuda, ujung Jalan Merdeka Barat dan Thamrin, bergabung dengan jutaan manusia yang terus menerus menyerukan keadilan.

Beristirahat sejenak, dengan semangat menggebu dan kondisi prima, Pak Oye berniat melanjutkan maju ke Istana, bersua dengan ulama mereka. “Saya baru teringat ucapan beliau di Patung Kuda, dia bilang mungkin bercanda.’Da, sampe sini aja kali ya kite, habis ini pisah kali ya’” katanya.

Suganda cuman bisa nyengir. “Maksudnya gimana? Jangan gitu dong, nanti kite balik yang nyetir siape?” kata Suganda sambil terkekeh. Mereka berdua menyusur lautan manusia hingga sampai di Ring 1 dekat para ulama dan habaib di depan. “Kira-kira di sebelah kanan para ulama, dekat monas,” kata Suganda.

Kumandang azan syahdu menggantung di langit Istana Merdeka, di hadapan jutaan massa aksi damai bela Islam. Pemandangan dramatis, saat jutaan manusia di jalanan bersama melafalkan kalam suciNya, berdiri, rukuk dan sujud dipimpin para ulama.

Selepas isya, Suganda masih bersama Pak Oye membelakangi Monas bersama lautan manusia. Sejauh mata memandang, para ulama itu masih dengan sejuk melafalkan takbir. Para demonstran pun berdiam rapi, termasuk Suganda dan Pak Oye.

Tetiba, insiden itu pecah. “Kami tiba-tiba ditembakkin gas air mata,” kata Suganda kaget. Padahal, posisinya di dekat monas dan para ulama merupakan kondisi yang damai dan tertib. Dalam kepanikan, suara tembakkan terus menggelegar di pelataran Istana. “Dor..dor…dor..”

“Saya kempit itu Pak Oye, saat itu saya udah perih banget, rasanya udah ampir setengah mati, kita tiba-tiba ditembakin gas air mata,” kenang Suganda yang berusaha melarikan diri tapi tak bisa karena massa penuh sesak.

Sedikit demi sedikit, ia merapat ke daerah pagar monas yang dirasa aman dari tembakkan. “Eh kita ke kanan malah ditembakin juga, saya bawa tuh Pak Oye,” katanya. Ia pun mundur sedikit dekat dengan pepohonan dan pagar. Di atas mobil, ulama terus berzikir, meminta massa agar tidak maju dan meninta polisi untuk berhenti menembak. (baca laporan pandangan wartawan anggota JITU di tempat kejadian)

Sejenak menepi dari tembakan yang terus menderu, Suganda hanya bisa menahan sesak dan mual. “Saya lihat ke sebelah saya, ternyata beliau sudah pingsan. ‘Ye bangun Ye’” Suganda menepuk-nepuk pipi Pak Oye. Di tengah kalap dan gemuruh, Oye meminta bantuan lima hingga enam orang sekitarnya.

“Saya bopong berlima, ke kiri, eh udah ada gas air mata. Kita ke kanan juga disemprotin gas air mata, kita sampe ke pagar tinggi, mau lewatin beliau, tapi ya Allah, di situ ada pagar ada tombaknya, ga mungkin kita lempar beliau ke sana,” lirih Suganda.

Massa semakin panik setelah polisi meringsek aksi damai dan menembakkan gas air mata ke arah para ulama yang menyerukan aksi damai. Suara takbir, tahlil hingga tahmid pecah. Suganda terpojok ke pertigaan monas, terpepet. “Saat itu ada coran pembatas mobil itu, saya terjatuh, tergeletak,” kata Suganda.

Sejak detik itu, entah ke mana jasad Pak Oye yang saat itu entah masih pingsan, sudah sadar atau ternyata meninggal. Saat bersusah payah bangun, Suganda melihat pemandangan yang begitu dramatis. “Saya lihat orang-orang pingsan, ga tua ga muda,” lirihnya.

Di tengah kepanikan massa, dan keteguhan para ulama yang terus bergeming walau ditembaki gas air mata, Suganda mencari-cari Pak Oye ke sana ke mari, bertanya-tanya hingga masuk ke dalam monas k epos medis. “Di Posko sudah nggak ada, ada yang bilang ke rumah sakit Polri Kramat jati,” katanya.

“Mulai saat itu tiba-tiba saya lemas, saya kehilangan jejak,” keluhnya. Tak hilang kendali, ia berusaha mengontak putra Pak Oye, Gilang, yang juga mengikuti aksi bela Islam. “Cing posisi di mana?” tanya suara di balik telepon sana yang baru bisa dihubungi, karena sejak tadi siang entah mengapa sinyal di sekitaran istana mati.”

“Jam Sembilan lewat tiga, saya dapat kabar dari warga Binong juga, ada kabar dari rumah sakit Gatot Subroto kalau beliau sudah meninggal. Seakan nggak percaya, innalillahi wa innailaihi rajiuun,” lirih Suganda mengenang kejadian yang begitu mengagetkannya.

“Wafatnya beliau mengajarkan kita bahwa walau beliau sepuh, beliau tetap ingin mengikuti perjuangan untuk membela al-Qur’an,” kata Dede Winata mengenang. Di pengujung usia senjanya, Pak Oye menorehkan jejak yang membuat keluarga, warga hingga pemerintah setempat bangga.

“Beliau salah satu orang yang terpilih dari sekian banyak yang akhirnya meninggal. Semua masyarakat merasa bangga. Di sini orang-orang pada bilang, cocoklah kalau Pak Syachrie yang dapat (syahid, red). Semua anak-anak dan warga bangga dengan beliau,” kata Hermalina tersenyum.

Cukuplah masjid Bina Ihsani yang ia rintis 20 tahun silam menjadi saksi atas penuh sesaknya shalat jenazah beliau. Cukuplah jutaan muslim yang ikut aksi bersama menjadi saksi bahwa dia menjadi bagian dari mereka. Cukuplah berbodong-bondong warga hingga Bupati menghormati kepergiannya.

Cukuplah orang-orang yang walau belum pernah menatap wajahnya, kini berdatangan dari pelbagai daerah di Indonesia ke lorong rumahnya yang tak terlalu lebar. Kisah heroik Pak Oye kini meluber, anak-anak muda di sudut-sudut gang membincang kisahnya, para remaja hingga orang dewasa.

“Insya Allah beliau Syahid,” kata Bupati Kabupaten Tanggerang M Aziz saat melayat ke kediamannya. Pak Oye, mengajarkan kita semua tentang makna perjuangan. “Ternyata Allah kabulkan ucapannya, jika ada satu mujahid yang gugur, maka itulah beliau,” tegas Dede disambut takbir hadirin yang memenuhi jalanan di depan kediamannya.

“Sungguh, kami semua iri dengan beliau, semoga kita semua dapat melanjutkan perjuangan beliau, doakan beliau agar Allah menerima amalNya dan mendapat surgaNya,” tutup Gilly, putra sulung Pak Oye menutup kisah tentang heroisme ayahnya.

Penulis: Rizki Lesus | Rep: Fajar shadiq & MR/JITU

ucapan bela sungkawa dari bupati tangerang
ucapan bela sungkawa dari bupati tangerang

SBY Dituding Aktor 411, Fahri Hamzah: ‘Itu Sudah Basi’

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Tudingan Presiden Jokowi bahwa ada aktor politik yang menunggangi aksi 411, meninggalkan pertanyaan di tengah masyarakat.

Sehari setelah aksi damai 411, pada Sabtu (5/11/2016) lalu, Jokowi menyebutkan bahwa Aksi 411 telah ditunggangi aktor politik.

“Penggunaan terminologi ‘aktor’ itu tidak tepat, karena demonstrasi sudah legal. Jadi aktornya pun sudah legal,” tegas Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah saat ditemui pada acara Kongres Nasional KA-KAMMI di Hotel Kartika Chandra Jakarta, pada Sabtu, (12/11/2016).

Menurut Fahri, istilah aktor itu patutnya disematkan pada kalimat seperti aktor kudeta atau aktor serangan bersenjata. “Nah, itu yang tidak boleh. Tapi kalau aktor demonstrasi itu tidak masalah,” tandasnya.

“Bahkan kalau buat PT Demonstrasi itu boleh, boleh didaftarkan di pasar modal,” sambung pendiri KAMMI itu.

Fahri juga menampik isu yang dihembuskan Boni Hargens (seorang pengamat politik yang telah ditunjuk Jokowi sebagai Dewan Pengawas Kantor Berita Antara) yang menyebut bahwa SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) lah aktor politik dibalik aksi 411.

“Itu sudah basi, itu pasal mati, nggak bisa dipakai lagi,” tegasnya.

Reporter: Abdul/JITU

UBN Iri pada Almarhum Syahrie yang Gugur Demi Membela al-Qur’an

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) dan Keluarga Besar Persatuan Pelajar Indonesia (KB PII), mengadakan Malam Peringatan dan Doa untuk syuhada #Aksi411 di Masjid Al Furqon Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Jl. Kramat Raya 45, Jakarta, Jum’at malam (11/11/2016).

Acara tersebut diadakan untuk mendoakan Asy-syahid (kama nahsabuhu) Syahrie Oemar Yunan dan ratusan korban luka-luka, akibat serangan aparat saat melakukan #AksiBelaQuran di depan istana negara 4 November silam.

Gugurnya Syahrie saat membela al-Qur’an membuat banyak kaum muslimin iri, termasuk Ketua GNPF-MUI sendir, Ustadz Bachtiar Nasir (UBN).

“Kemarin betul-betul suci, yang dipilih Allah untuk mendapatkan sertifikasi syahadah, adalah Pak Syahcri itu. Ngiri saya,” ungkapnya.

Namun demikian, UBN mengingatkan, bahwa mati syahid adalah milik orang-orang yang menjaga shalat dengan berjama’ah, dan menjadikan hidup dan matinya hanya untuk Allah.

Oleh sebab itu, dia berwasiat kepada siapa saja yang menginginkan mati syahid untuk melakukan hal tersebut dalam hidupnya.

“Tapi itu hanya akan didapati oleh orang-orang yang tegak shalatnya. Tegak shalat jama’ahnya, selain sabar, hidupnya: inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin,” tuturnya.

Reporter: Nizar Malisy/JITU

UBN: Kesabaran Umat Islam dalam Aksi 411 adalah Kemenangan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ustadz Bachtiar Natsir, mengaku kagum dengan mental umat muslim Indonesia saat #AksiBelaQuran pada 4 Nopember silam.

Pimpinan AQL Islamic Center ini menceritakan, upayanya beserta para ulama yang memegang komando dalam membuat sabar kerasnya massa yang dihujani gas air mata bertubi-tubi, hingga memakan korban nyawa dan luka-luka untuk tidak membuat onar dan menyerang kembali aparat.

“Kalau bukan karena Allah yang memberi energi sabar kepada kita, sudah banyak yang mati,” kata dia saat menghadiri acara Malam Peringatan dan Doa untuk syuhada #Aksi411 di Masjid Al Furqon Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Jl. Kramat Raya 45, Jakarta, Jum’at malam (11/11/2016).

Menurut Sekjen Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia (MIUMI) itu, ia dan para ulama yang memegang komando tidak ingin aksi damai 411 dinodai dengan kerusuhan. Karena bisa berakibat buruk kepada perdamaian bangsa.

“Yang diuntungkan tentu orang yang menginginkan Indonesia rusuh. Demi Allah saya Bachtiar Nasir, tidak mau Indonesia ini rusuh,” ungkap dia

Karenanya, atas kesabaran umat Islam saat aksi tersebut, Ustadz Bachtiar menganggap umat Islam telah menang. “Karena kesabaran kita, aksi ini aksi damai, dan Allah menangkan kita dengan aksi damai dan sabar kita,” pungkasny.

Reporter: Nizar Malisy/JITU

Ade Armando Tantang Mubahalah, Prof. Yunahar Ilyas: ‘Itu Orang yang Gak Ngerti Aja, Gak Usah Dilayani’

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dr. Yunahar Ilyas menyatakan, tantangan mubahalah yang dilontarkan aktivis liberal Ade Armando kepada kaum Muslimin anti Ahok menggambarkan bahwa Ade tak paham ajaran Islam.

Menurutnya, mubahalah (tantangan saling melaknat, red) itu berlaku antara Muslim dengan kafir. Tidak diperkenankan sesama Muslim saling melontar kata laknat dan mengancam dengan azab Allah SWT.

“Mubahalah itu jika kita berdialog dengan non-muslim, semua argumen sudah kita sampaikan. Kalau tidak mau menerima baru mubahalah,” ujar Yunahar seusai pengajian bulanan di PP Muhammadiyah, Jakarta pada Jumat (11/11/2016) malam.

Wakil Ketua MUI Pusat ini menjelaskan, jika sesama muslim ada perbedaan pendapat cukup diselesaikan dengan diskusi. Apalagi kalau terkait penafsiran ayat.

“Gak ada mubahalah-mubahalah. Itu cukup diskusi. Mana ada orang sedikit-sedikit mubahalah. Kalau sesama muslim ya diskusi,” tambah Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini.

Lebih jauh, Yunahar menyatakan bahwa kelakuan Ade Armando menantang kaum Muslimin anti Ahok sebagai orang yang tidak mengerti ajaran Islam.

“Itu orang yang gak ngerti aja. Gak usah dilayani. Orang gak paham nantang-nantang untuk apa?,” sambungnya.

Yunahar kemudian menyitir QS Al-Furqan: 63 yang berbunyi:

وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا [الفرقان : 63]
Dan orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.

 

“Jadi kalau ada orang bodoh menantangmu jawab baik-baik saja,” pungkasnya.

Reporter: Fajar Shadiq/JITU

Ahli Hukum: Kasus Ahok Soal Pidana Biasa, Jangan Dibawa Kemana-mana

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Dosen Fakultas Hukum Universitas Al-Azhar, Agus Surono mengatakan, dalam konteks hukum perkara yang menimpa Gubernur DKI Jakarta nonaktif , Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sangat sederhana.

“Itu peristiwa hukum biasa saja, dan bisa kena ke siapa saja,” katanya dalam diskusi bertema ‘Bedah kasus penodaan agama, Layakkah Ahok Dipenjara?’ di Universitas Al-Azhar, Jakarta, Jum’at (11/11/2016).

Agus menyampaikan, jika ada proses hukum yang mengalihkan dari kasus pidana utama hal itu merupakan penyesatan. Menurutnya, kasus dugaan penistaan al-Qur’an yang menimpa Ahok menjadi rumit hanya karena dilakukan oleh seorang pejabat publik.

“Jangan dibawa ke ranah nonhukum,” jelasnya.

Ia menegaskan, kasus Ahok telah memenuhi unsur pidana, yakni pasal 156 dan 156a. Dimana menyampaikan pernyataan di muka umum yang masuk kategori penistaan agama.

“Siapapun bisa melakukan, dan bisa terkena. Deliknya formil dan memenuhi unsur pidana, serta bisa dimintai pertanggungjawaban hukum,” papar Agus.

Baginya, kasus tersebut sudah terang benderang merupakan kasus penistaan agama. Karenanya, ia menghimbau, agar masyarakat mengawal agar esensi perkara kasus tersebut tidak kabur.

“Harus dikawal, karena ini kasus hukum murni,” pungkasnya.

Reporter: Yahya Nasrullah/JITU

LUIS: Safari Politik Jokowi Berdampak pada Perpecahan Umat Islam

SURAKARTA (Jurnalislam.com) – Manuver politik yang dilakukan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo paska aksi 411 di Jakarta dengan mendatangi tokoh serta ormas Islam mendapat kritikan dari Sekjend LUIS, Yusuf Suparno. Menurutnya, langkah ini hanya akan memperkeruh kondisi internal umat Islam.

“Langkah yang dilakukan Jokowi justru akan memecah belah umat Islam,” katanya kepada jurniscom di Mapolresta Surakarta, Jum’at (11/11/2016).

Yusuf memaparkan, safari politik Jokowi ini dinilai tidak mengarah kepada akar masalah umat saat ini. Sebab, dengan langkah RI 1 itu akan memperluas masalah yang seharusnya diberikan solusi.

“Dan tentunya ini akan menjadi persoalan yang menganga karena Jokowi tidak menyelesaikan akar permasalahan akan tetapi malah melebar kemana-mana,” pungkasnya.

Lebih lanjut LUIS berharap Jokowi segera menyelesaikan proses hukum Basuki Tjahya Purnama dengan cepat dan tepat.

Siswa Muslimah Universitas California Jadi Target Serangan Pendukung Trump

CALIFORNIA (Jurnalislam.com) – Pihak berwenang di dua universitas di California mengatakan pada hari Kamis bahwa polisi sedang menyelidiki serangan terhadap mahasiswa Muslim perempuan, salah satunya digambarkan sebagai kejahatan rasial, lansir World Bulletin, Jumat (11/11/2016).

Kedua serangan terjadi pada hari Rabu, sehari setelah Donald Trump terpilih sebagai presiden pada akhir kampanye dimana partai Republik dikritik karena bahasa mereka yang memecah belah dan melukai Muslim.

Dalam salah satu insiden, dua penyerang mengkonfrontasi korban mereka di San Diego State University dan “melontarkan komentar tentang Presiden terpilih Trump dan komunitas Muslim,” menurut polisi kampus.

Dompet, ransel dan kunci mobil wanita itu kemudian dicuri. Dia pergi untuk mencari bantuan dan kembali ke lokasi penyerangan bersama polisi, lalu menemukan mobilnya telah dicuri, kata juru bicara polisi Ronald Broussard.

Kasus ini sedang diselidiki sebagai dugaan kejahatan rasial serta perampokan dengan senjat berat dan pencurian kendaraan, kata Broussard.

“Komentar yang dilontarkan kepada siswa tersebut menunjukkan ia menjadi sasaran karena ia seorang Muslim, termasuk pakaian muslimah dan jilbab yang dikenakannya,” presiden universitas Elliot Hirshman dan kepala polisi interim Josh Mays mengatakan dalam sebuah pernyataan bersama.

Polisi San Jose State University mengatakan dalam sebuah pernyataan mereka menyelidiki serangan serupa terhadap seorang mahasiswi di sebuah garasi parkir kampus.

Seorang penyerang laki-laki mendekati korban dari belakang, menarik-narik kerudung korban, mencekik dan melemparkan dia hingg kehilangan keseimbangan, menurut pernyataan yang diedarkan kepada siswa pada hari Rabu.

“Pejabat Kampus memantau erat situasi saat penyelidikan terus berlangsung. Tidak ada penangkapan,” kata juru bicara universitas Pat Harris dalam sebuah pernyataan email kepada AFP.

“Kami, tentu saja, sangat prihatin bahwa ini telah terjadi di kampus kami. Tidak ada yang harus mengalami perilaku semacam ini di San Jose State,” tambahnya.

Himpunan Mahasiswa Islam Universitas New York (New York University’s Muslim Students Association) mengeluarkan pernyataan pada hari Rabu mengatakan bahwa mahasiswa teknik tiba pagi itu dan menemukan kata “Trump” tertulis di pintu ruang sholat.

Organisasi itu mengatakan anggotanya “menyadari bahwa kampus kita tidak kebal terhadap kefanatikan yang melanda Amerika.”

Seorang mahasiswa Muslim di University of Louisiana di Lafayette mengatakan kepada polisi pada hari Rabu bahwa ia diserang oleh dua orang, salah satunya mengenakan topi putih bertulisan “Trump.”

Media setempat melaporkan pernyataan itu kepada polisi pada Kamis namun menyatakan bahwa gadis itu memalsukan serangan.

Departemen Kepolisian Lafayette tidak segera menanggapi permintaan untuk komentar.

 

Jokowi Tak Perlu Gunakan Militer untuk Takuti Umat Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Korlap Aksi 411 GNPF MUI, Munarman SH menilai kunjungan Jokowi ke beberapa aparat keamanan seperti TNI, Kopasus, dan Marinir sebagai upaya menakut-nakuti umat Islam. Untuk itu, Munarman menghimbau umat Islam untuk tidak takut terhadap upaya ini.

“Disangka umat Islam takut. Kita tidak takut saudara-saudara. Ini sudah kita buktikan pada malam tgl 5 kita tidak takut dengan tembakan mereka,” ujarnya pada Malam Peringatan dan Doa untuk syuhada #Aksi411 di Masjid Al Furqon, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Jl. Kramat Raya 45, Jakarta, Jum’at malam (11/11).

Munarman meminta agar pemerintah tidak perlu memakai kekuatan militer untuk menakut-nakuti umat Islam. Menurutnya, langkah Jokowi itu tidak akan menyurutkan semangat umat Islam untuk mendesak Ahok ditangkap.

“Kita sudah putuskan akan tetap lanjutkan aksi bela Qur-an bila Ahok tidak ditangkap,” ujarnya.

Munarman pun langsung bertanya kepada ribuan jamaah peserta malam peringatan 411 yang memadati Masjid Al Furqon.

“Siap aksi lagi? siap ikut ulama?” tanya pengacara muslim ini.

“Siap!” jawab para jamaah dengan bergemuruh.

Munarman mengaku GNPF belum menentukan tanggal aksi bela quran jilid III. Hal ini masih dibicarakan para ulama dan kyai.

“Kita tunggu arahan para ulama, habaib, dan kyai. Insya Allah minggu depan kita umumkan,” terangnya.

Reporter: Pizaro/JITU