BPS Tunjukkan Data Orang Menjadi Miskin Karena Rokok

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Rokok masih mengambil peran cukup besar terhadap beban konsumsi penduduk miskin di Indonesia sehingga mereka tetap bertahan di bawah garis kemiskinan.

Hal ini bisa dilihat pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang baru saja dirilis, Senin (15/7/2019).

Rokok menempati posisi kedua setelah beras sebagai komoditas yang memberi pengaruh besar terhadap garis kemiskinan.

Sementara itu, beban komoditas non makanan terbesar secara berurutan adalah perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi.

Badan Pusat Statistik menyebut persentase penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2019 sebesar 9,41 persen.

Menurun 0,25 persen poin terhadap September 2018 dan menurun 0,41 persen poin terhadap Maret 2018.

Data BPS menunjukkan bahwa persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2018 sebesar 6,89 persen.

Turun menjadi 6,69 persen pada Maret 2019.

Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada September 2018 sebesar 13,10 persen, turun menjadi 12,85 persen pada Maret 2019.

Garis Kemiskinan (GK) pada Maret 2019 tercatat sebesar Rp425.250/kapita/bulan dengan komposisi Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp313.232 (73,66 persen) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp112.018 (26,34 persen).

sumber: bisnis.com

 

KH Ma’ruf Tegaskan MUI Jaga Umat dari Akidah Menyimpang

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Majelis Ulama Indonesia (MUI) kembali menggelar Anugerah Syiar Ramadhan pada Senin malam (15/7).

Acara ini bekerjasama dengan Komisi Penyiaran Indonesia dan Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin mengaku bersyukur penyelenggaraan Anugrah Syiar Ramadhan setiap tahunnya selalu mengalami kemajuan.

Menurutnya kemajuan ini merupakan tugas utama MUI sebagai penjaga umat dari akidah yang menyimpang.

Oleh karena itu, kata KH Maaruf, MUI selama berdirinya sudah banyak mengeluarkan fatwa untuk mencegah umat dari cara berpikir yang menyimpang, cara berpikir yang intoleran dan gerakan-gerakan yang ekstrem.

“Itu dilakukan menjaga diri umat dari perilaku yang tidak baik,” katanya saat membarikan sambutanya pada Anugerah Syiar Ramadhan, Senin (15/7).

KH Maaruf berpesan kepada semua lembaga penyiaran, ketika menyiarakan tayangan terutama program dengan konten beragama  harus tepat, mendidik memberikan bimbingan dan tuntunan kepada umat.

KH Maaruf mengatakan, tugas khadimul ummah (MUI) sebagai mitra pemerintah juga telah membantu pemerintah dalam rangka melakukan pembangunan fisik atau nonfisik terutama dalam membangun karakter bangsa.

KH Maaruf mengatakan, pada awalnya Anugerah Syiar Ramadhan ini diselenggarakan hanya oleh MUI pada tahun 2000 an. Baru pada tahun 2018-2019 KPI dan Kemenpora ikut bergabung bekerjasama mendukung acara ini.

“Alhamdulillah tahun ini Bank Syariah Mandiri turut berpartisipasi dalam acara ini,” katanya.

sumber: republika.co.d

 

Madani Institute Hadirkan Pembina Yayasan Muamalah Syariah Bahas Ekonomi Indonesia

MAKASSAR (Jurnalislam.com) – Madani Institute (Center for Islamic Studies) mengadakan Madani Islamic Forum (MIF) dengan pembahasan Perbandingan Sistem Ekonomi Islam dan Barat, bertempat di Aula Lantai 3 Rabbani Boleuvard Makassar, Sabtu (13/7/19).

Kegiatan ini menghadirkan pembicara Dr. Khaerul Akbar, M.E.I. yang merupakan alumni Program Doktor Ekonomi Islam UIN Alauddin Makassar, dengan mengupas tema tentang perbandingan konsep antara ekonomi Islam dan barat.

Terdapat prinsip-prinsip dalam sistem ekonomi Islam, salah satunya di dasarkan pada nilai-nilai Islam itu sendiri.

“Sistem ekonomi Islam adalah sistem ekonomi yang di dasarkan pada nilai-nilai Islam. Prinsip dasarnya adalah prinsip tauhid yaitu segala sesuatu diciptakan oleh Allah dengan tujuan,” ucapnya dalam keterangan yang diterima Jurnalislam.com.

Prinsip yang lain dalam sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi barat memiliki perbedaan yang sangat mendasar.

“Kapitalisme itu harta dikuasai penuh oleh manusia. Sosialisme itu dikuasai oleh negara, sedangkan Islam segala harta apapun bentuknya adalah pemberian Allah yang penggunaannya diatur menurut aturan-aturan Allah,” imbuhnya.

Di akhir materinya, pembina Yayasan Muamalah Syariah Indonesia ini, memaparkan manfaat yang didapatkan dalam menerapkan sistem ekonomi Islam seperti manfaat zakat, infak hingga wakaf.

 

BMH Jatim Distribusikan Air Bersih Untuk Daerah Kekeringan di Ngawi

NGAWI (Jurnalislam.com)–Terbatasnya ketersediaan air bersih mulai dirasakan warga Desa Kerek, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, sejak beberapa pekan lalu.

Berdasarkan informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)  pada awal musim kemarau 2019 ini, sudah terdata 45 desa di Kabupaten Ngawi masuk dalam kategori rawan bencana kekeringan. Puncak kekeringan diprediksi pada bulan september hingga oktober mendatang.

Menyikapi informasi tersebut, Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bergerak cepat dengan mengirim bantuan Air Bersih untuk warga yang membutuhkan.

BMH mulai mendistribusikan air bersih untuk warga Desa Kerek, yang sudah mulai kesusahan mendapatkan air bersih, sumur-sumur warga sudah mulai habis airnya dan terpaksa sebagian warga mencari air ke daerah lain.

Hampir 500 jiwa mengalami krisis air di daerah kekeringan tersebut, Ahad (14/7/19), dalam keterangan tertulis yang diterima Jurnalislam.com.

Bantuan air bersih diterima langsung oleh kepala dusun Kerek, bapak Arifin. Beliau menyampaikan banyak terima kasih atas bantuan air bersih dari BMH dan berharap bantuan ini bukan yang terakhir.

“Kami berharap BMH masih bersedia mengirim bantuan air bersih ke desa kami, terutama pada puncak kemarau mendatang,’’harap Arifin kepada BMH.

Imam Muslim, Manager Program BMH Jawa Timur mengungkapkan bahwa,

“Semoga dengan bantuan air bersih tersebut bisa membantu memenuhi kebutuhan warga dalam keperluan sehari-hari khususnya memasak dan mandi”, ungkap Muslim.

Untuk mengatasi kekeringan di beberapa wilayah di Indonesia, BMH telah menyiapkan program Sedekah air bersih untuk daerah kekeringan. Dengan harapan, program tersebut bisa membantu pemerintah dalam menyelesaikan kebutuhan air warga dalam memasuki musim kemarau yang  akan datang.

Balada Impor Sampah dan Solusi Islam

Oleh: Wa Ode Sukmawati, (Anggota Komunitas Menulis For Peradaban )

Masyarakat Indonesia kembali di kejutkan dengan kebijakan pemerintah tentang impor. Jika yang lalu-lalu yang di impor adalah garam, buah-buahan, mesin-mesin dan baja. Maka kali ini kita di kejutkan dengan impor sampah. Tentu saja banyak yang kontra terhadap hal ini. Direktur Eksekutif Ecoton Prigi Arisandi dalam jumpa pers di kantor Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) di Jakarta, selasa (25/6) mengatakan Presiden Joko Widodo harus segera menghentikan impor sampah karena sejak tahun 2015 para peneliti mendapati bahwa Indonesia merupakan negara kedua pencemar laut dunia setelah China. Ditambahkannya, ada 43 negara mengimpor sampahnya ke Jawa Timur, antara lain Amerika Serikat, Italia, Inggris, Korea Selatan, Australia, Singapura dan Kanada. VOA, 25/06/2019.

Melalui video telekonferensi, pendiri Bali Fokus Yuyun Ismawati menjelaskan sejak akhir 2017, China menerapkan kebijakan baru untuk memperketat impor sampah plastik yang dikenal sebagai kebijakan “Pedang Nasional”. Hal ini membuat perdagangan sampah, khususnya sampah plastik di seluruh dunia menjadi terguncang. Padahal selama 1988-2016, China menyerap sekitar 45,1 persen sampah plastik dunia. Direktur Eksekutif Walhi Nur Hidayati mengaku sangat heran karena menangani sampah hasil domestik saja Indonesia belum mampu, namun sudah nekad mengimpor sampah dari negara lain. Dia juga menyoroti rumitnya peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai pengelolaan sampah. VOA, 25/06/2019.

Kita bisa melihat sendiri bagaimana tumpukan sampah domestik yang ada di Indonesia. ini dalam bentuk skala nasional, bagaimana jika kita melihat lebih sempit lagi. Yaitu hanya pada wilayah sekitar kita, bagaimana keadaan sampah tersebut. Setiap hari masyarakat Indonesia menghasilkan sampah dengan jumlah yang sangat banyak. Dan ini belum bisa di selesaikan secara maksimal. Namun sekarang pemerintah malah melakukan impor sampah, tentu hal ini menjadi sebuah polemik.

Sampah-sampah yang melimpah ini tentu memiliki berbagai jenis. Ada sampah yang mudah terurai dan dapat di daur ulang. Namun ada pula sampah yang sulit terurai dan tak dapat di daur ulang. Sampah yang sulit terurai ini lah yang dapat merusak lingkungan dan ekosistem secara perlahan. Contohnya seperti kaleng aluminium, popok bayi, styrofoam, kantong plastik, botol plastik, dan lain sebagainya. Namun sampai saat ini masih sulit bagi sebagian besar masyarakat untuk mengurangi beberapa jenis penggunaan wadah ini.

Perlu di ketahui bahwa, salah satu contoh sampah di atas seperti kaleng aluminium meski bisa di daur ulang tetapi jika sudah di buang membutuhkan waktu sekitar 80 sampai 200 tahun untuk bisa terurai. Bisa di bayangkan ketika manusia mulai bertambah tua, namun sampah yang kita gunakan bertahun-tahun yang lalu masih “awet muda” dan mengotori bumi. Dan ini hanyalah sebagian kecil dari banyaknya sampah-sampah yang sulit terurai.Hari ini seharusnya pemerintah lebih memfokuskan pada pengurangan sampah agar lingkungan tetap sehat, bukan malah mengimpor sampah yang membuat masyarakat semakin resah. Akan lebih baik jika pemerintah menangani pengelolaan sampah dengan lebih maksimal dan meminimalisir penggunaan sampah plastik serta sampah-sampah yang sulit terurai.Sampah harus di kelolah dengan baik agar tidak mengganggu kesehatan manusia dan ‘kesehatan’ bumi.

Islam dalam Menjaga Kebersihan dan Pengelolaan Sampah

Islam adalah agama yang sempurna, tidak ada satu hal dalam kehidupan kita melainkan Islam telah memberikan arahan dan petunjuknya. Semua kandungan ajaran dalam Islam bertujuan untuk menjadikan manusia hidup bahagia dan sejahtera di dunia dan akhirat. Selain masalah kebersihan diri, Islam juga sangat memperhatikan kebersihan lingkungan yang ada di sekitar kita. Karena sebagai agama yang menjadi rahmat bagi sekalian alam, Islam tidak akan membiarkan manusia merusak atau mengotori lingkungan sekitarnya. Lantas bagaimana kah islam dalam menjaga kebersihan dan mengelolah sampah?

  1. Individual

Islam mendorong kesadaran individu terhadap kebersihan hingga level asasi dan prinsipal yaitu keimnan terhadap surga dan neraka. “Islam itu bersih, maka jadilah kalian orang yang bersih. Sesungguhnya tidak masuk surga kecuali orang-orang yang bersih” (HR. Baihaqi). Pemahaman tentang kebersihan yang mendasar ini menumbuhkan kesadaran individual untuk pemilahan sampah dan pengelolaan sampah rumah tangga secara mandiri. pengurangan sampah secara individual dapat di lakukan dengan mengonsumsi sesuatu secukupnya, makanan misalnya. Upaya minimalisir juga tertancap dalam gaya hidup Islami karena setiap kepemilikan akan ditanya tashoruf-nya (pemanfaatannya). Bernilai pahala atau berbuah dosa.

  1. Komunal

Pada kondisi-kondisi tertentu, upaya individual menjadi sangat terbatas dalam pengelolaan sampah. Karena itulah upaya pengelolaan sampah komunal di perlukan. “sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik dan menyukai kebaikan, bersih dan menyukai kebersihan, mulia dan menyukai kemuliaan, bagus dan menyukai kebagusan. Oleh sebab itu, bersihkanlah lingkunganmu”. (HR. At-Tirmidzi). Pengelolaan sampah komunal di lakukan dengan prinsip taawun, bekerja sama dalam kebaikan. Bahkan bisa jadi antar masyarkat terdapat aghniyaa’ (orang kaya) yang bersedia mewakafkan tanahnya untuk mengelola sampah komunal. Masyarakat dapat di bebani kewajiban membakar, memilah atau mengelola secara bergantian.

  1. Peran Pemerintah

Sejak Kekhilafahan Islam telah mencatat pengelolaan sampah sejak abad 9-10 M. Pada masa Bani Umayah, jalan-jalan di Kota Cordoba telah bersih dari sampah karena ada mekanisme menyingkirkan sampah di perkotaan yang idenya di bangun oleh Qusta ibn Luqa, ar-Razi, Ibn al-Jazzar dan al-Masihi. Tokoh-tokoh muslim ini telah mengubah konsep sistem pengelolaan sampah yang sebelumnya hanya di serahkan pada kesadaran masing-masing orang, karena di perkotaan padat penduduk telah berpotensi menciptakan kota yang kumuh (Lutfi Sarif Hidayat, 2011). Sebagai perbandingan, kota-kota lain di Eropa pada saat itu belum memiliki sistem pengelolaan sampah. Sampah-sampah dapur di buang penduduk di depan-depan rumah mereka hingga jalan-jalan kotor dan berbau busuk. (Mustofa As-Sibo’i, 2011).

Kebersihan membutuhkan biaya dan sistem yang baik, namun lebih dari itu perlu paradigma mendasar yang menjadi moral keseriusan pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah merupakan upaya preventif dalam menjaga kesehatan. Edukasi masyarakat dapat di lakukan pemerintah dengan menyampaikan pengelolaan sampah yang baik merupakan amal salih yang di cintai Sang Pencipta. Oleh karena itu kesadaran untuk menggunakan sistem yang langusng berasal dari Sang Khaliq adalah menjadi hal yang urgen untuk menjadikan Indonesia dan dunia lebih baik.

 

Wallahu’alam.

ITB Kembangkan Garuda Bike, Sepeda Berbasis IoT

BANDUNG (Jurnalislam.com)– Sepeda merupakan alat transportasi atau olahraga yang masih banyak digunakan di Indonesia.

 

Bahkan di kota-kota besar seperti Bandung, bersepeda kini sudah menjadi gaya hidup. Banyak fitur teknologi yang digunakan saat bersepeda, terutama untuk kepentingan berolahraga.

 

Para pesepeda biasa menggunakan alat pengukur detak jantung, pengukur kalori, maupun Global Positioning System (GPS) untuk melihat rute perjalanan.

 

Perkembangan Internet of Things (IoT) turut memberikan banyak manfaat yang memaksimalkan kegiatan bersepeda.

 

Gabungan antara kegiatan bersepeda, kebutuhan pesepeda akan data, dan jaringan internet dalam bentuk IoT menjadi peluang yang dimanfaatkan oleh Laboratorium IoT dan Perkembangan Ekonomi Digital Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mengembangkan startup bernama Garuda Bike.

 

Garuda Bike merupakan program Bike Sharing sepeda yang dikombinasikan dengan teknologi IoT di antaranya GPS, sistem otomatis, dan alarm.

 

Sepeda ini ditargetkan untuk digunakan pada area tanpa kendaraan bermotor, seperti kampus dan area khusus sepeda.

 

Pada pelaksanaannya, sepeda ini digunakan pada area tertentu yang dibatasi, terhubung dengan Wi-Fi dan satu server untuk mengumpulkan data aktivitas yang dilakukan selama bersepeda dalam bentuk Big Data.

 

Big Data kemudian dianalisis untuk mendapatkan berbagai prediksi terkait kesehatan, pola kegiatan masyarakat, tingkat polusi udara, bahkan prediksi bencana.

 

Project Manager Garuda Bike, Taufiqurrahman Akmal, menjelaskan tentang Garuda Bike dan kegunaan tiap sensor yang dipasang.

 

“Tiga tahap utama yang dilakukan Garuda Bike yaitu sensing, understanding, and acting. Kita gunakan sensor dulu, kita analisis datanya, baru nanti kita pahami hasil data ini. Hasilnya bisa kita manfaatkan kemana saja. Misalnya dengan tau area mana saja yang biasa dilewati pesepeda, kita tahu area yang ramai, sehingga cocok untuk berjualan makanan atau minuman,” ujar Taufiqurrahman saat ditemui di Lab IoT ITB, belum lama ini.

 

Untuk pengembangan jaringan, proyek Garuda Bike sedang melakukan kerjasama dengan Dishub Kota Bandung dan Indosat. Garuda Bike saat ini sudah siap diuji coba dan dijual prototype-nya pada bulan Juli 2019.

 

Rencananya, Garuda Bike akan dicoba pada skala kampus di ITB serta menjalin kerjasama dengan pemerintah kabupaten Ambarawa.

Sumber: itb.ac.id

 

Tren Hijrah Milenial Tingkatkan Pasar Reksadana Syariah

JAKARTA (Jurnalislam.com) — Tren hijrah milenial menjadi momentum meningkatnya pasar reksa dana syariah. Syariah Financial Planner, Putri Madarina menyampaikan momen ini harus dimanfaatkan untuk pendalaman pasar industri pasar modal syariah.

“Bagi kalangan muslim, tren hijrah milenial kini mempengaruhi aspek lain di luar gaya hidup, salah satunya dalam pengelolaan keuangan,” kata perempuan yang akrab disapa Puma ini melalui siaran persnya, Kamis (11/7).

Menurutnya, salah satu dampak dari tren hijrah milenial ini adalah kemunculan produk-produk investasi berbasis syariah, salah satunya reksa dana. Meskipun produk reksa dana syariah sudah ada sejak tahun 1997, kenaikan dana kelolaan yang signifikan baru terasa di beberapa tahun belakangan.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bulan Juni tahun menunjukkan dana kelolaan reksa dana syariah sudah mencapai sekitar Rp 33 triliun. Naik signifikan jika dibandingkan dengan posisi dana kelolaan tahun 2014 yang sebesar Rp 11 triliun.

Secara populasi, pasar Indonesia cukup potensial untuk pertumbuhan instrumen investasi syariah. Namun demikian, kenyataannya penetrasi reksa dana syariah masih belum mampu bersaing dengan reksa dana konvensional.

“Ini artinya, perlu lebih banyak lagi upaya market deepening dari berbagai pelaku bisnis untuk melayani pangsa pasar Muslim di Indonesia,” kata dia.

Puma menambahkan, sebetulnya langkah pemerintah sudah cukup agresif dalam membangun infrastruktur industri pasar modal syariah dari segi kebijakan. Indonesia punya Roadmap Pasar Modal Syariah hingga tahun 2019.

Sejak tahun 2015, OJK telah menerapkan relaksasi aturan bagi penerbitan efek syariah, sehingga semakin banyak emiten yang menerbitkan efek syariah. Bertambahnya efek syariah membantu perusahaan manajer investasi untuk menciptakan berbagai jenis produk sehingga persaingan produk pun semakin kompetitif.

Dampak kebijakan tersebut kini menghasilkan 408 efek syariah yang resmi terdaftar di Daftar Efek Syariah (DES) yang diterbitkan oleh OJK dan diawasi oleh DSN-MUI.

Puma mengatakan keberadaan DSN-MUI sangat penting sebagai regulator pendamping yang menjadi rujukan pelaksanaan prinsip syariah di pasar modal.

sumber: republika.co.id

 

MOS Jangan Jadi Ajang ‘Bully’ Siswa Baru

PADANG PARIAMAN (Jurnalislam.com)–Wakil Gubernur Sumatra Barat Nasrul Abit mengingatkan pelajar sekolah, terutama tingkat SMP dan SMA sederajat, agar tidak menjadikan momen Masa Orientasi Siswa (MOS) sebagai ajang untuk bullying apalagi tindak kekerasan kepada pelajar baru.

Ia menyebut MOS adalah momen untuk mendidik para pelajar junior tentang kedisiplinan dan pengenalan suasana baru yang positif untuk menunjang aktivitas belajar.

“MOS itu untuk pembinaan kedisiplinan, pembinaan budi pekerti, dan kreativitas,” kata Nasrul di Kabupaten Padang Pariaman, Ahad (14/7).

Nasrul mengingatkan pelajar yang menjadi panitia MOS bahwa kekerasan di sekolah akan terancam dengan pidana. Ia mengatakan, pelaku kekerasan saat MOS akan berurusan dengan aparat penegak hukum.

Nasrul tak ingin mendengar warganya berurusan dengan kepolisian karena melakukan tindak kekerasan dan bullying saat MOS. Apalagi, kalau MOS sampai berujung pada kekerasan yang menghilangkan nyawa.

“Saya mendengar yang lalu-lalu ada MOS menyebabkan siswa meninggal dunia. Jangan sampai ada yang seperti itu di Sumatra Barat,” ujar Nasrul.

Senin (15/7) adalah hari pertama sekolah di tingkat SD, SMP, dan SMA. Untuk SMP dan SMA sederajat memang sudah ada kegiatan MOS sebagai tahapan tahunan. Biasanya, panitia MOS berada di bawah naungan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dan para guru pembina.

Sebelumnya diberitakan seorang siswa meninggal dunia usai mengikuti MOS di SMA Taruna Palembang. Siswa bernama DBJ (14 tahun) itu diduga meninggal karena kelelahan.

sumber: republika.co.id

Gerakan Peduli Perempuan Kembali Gelar Aksi Tolak RUU P-KS di CFD Bandung

BANDUNG (Jurnalislam.com)_-Dianggap mengakomodir tindak pelanggaran moral, Gerakan Peduli Perempuan (GPP) Bandung kembali menggelar aksi tolak Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS).

Aksi tolak RUU P-KS ini berlangsung di Car Free Day (CFD) jalan Dago Ahad pagi (14/7). Para peserta melakukan longmarch di sepanjang jalan Dago dan menjelaskan kepada masyarakat terkait penolakan RUU P-KS.

Dalam penjelasannya kepada masyarakat, Marcia mengatakan bahwa makna kekerasan seksual yang terdapat didalam RUU P-KS masih sangat luas sekali,.

“Jangan sampai Indonesia menjadi negara yang amoral karena RUU tersebut,”katanya.

Hal ini juga ditegaskan oleh Wana, peserta aksi penolakan RUU P-KS.

“Karena RUU P-KS jika dikaji lebih mendalam tidak membicarakan norma, moral, dan adab. Seperti memberi celah pintu bebasnya prostitusi dan LGBT. Jadi saya memilih tolak RUU P-KS,”tambahnya.

Pernyataan serupa juga dikeluarkan oleh peserta yang lain ”kami menangkap intensi awal tujuan dibentuk RUU ini untuk melindungi korban kekerasan seksual.

Namun, ketika mereka  telusuri dan memaknai secara mendalam dan perlahan, bahasan utama mengenai “kekerasan seksual” ini sudah sangat ambigu.

“Hingga berpeluang untuk membolehkannya kejahatan seksual seperti perzinaan dan LGBTQ” tambah Endah.

Bahkan Erlin, salah seorang Mahasiswi yang ikut aksi berseloroh sambil menyindir betapa terselubungnya tujuan RUU P-KS.

Ia mengumpamakan produk susu beruang isinya susu sapi, di-branding susu beruang tapi nyatanya zat yang terkandungnya susu sapi.

“Bilangnya menghapus kekerasan seksual, nyatanya mengandung redaksi yang mampu memperkaya jenis-jenis prilaku menyimpang seksual,” katanya.

Selain itu jalannya aksi terlihat damai ditengah-tengah riuh pagi Ahad, dan juga aksi ini mendapat antusias yang tinggi dari masyarakat seperti mengambil gambar, menanyakan langsung kepada peserta terkait isu RUU P-KS.

Kontributor: Andri OK

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PBNU Sambut Baik Pertemuan Jokowi-Prabowo

JAKARTA(Jurnalislm.com) – Nahdlatul Ulama (NU) menyambut gembira bertemunya calon presiden terpilih Joko Widodo dan calon presiden 02 Prabowo Subianto. Pertemuan Joko Widodo dan Prabowo Subianto menjadi investasi besar bagi iklim demokrasi Indonesia yang matang.

 

“Ini sangat penting dan menggembirakan kita bersama,” kata Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Helmy Faishal Zaini, melalui siaran pers yang diterima Jurnalislam.com, Sabtu (13/07/2019).

 

Ia mengatakan bahwa Jokowi dan Prabowo memberikan sumbangan besar dan berharga bagi pembelajaran serta pendewasaan politik di Indonesia.

 

Keduanya, kata dia, akan dicatat oleh sejarah republik telah menyumbangkan investasi jalan cerah menuju Indonesia yang berdaulat, makmur, demokratis, dan berkeadilan.

 

Pertemuan dua pihak, menurut Helmy, merupakan momentum penting, bersejarah, dan indah yang dinantikan segenap bangsa Indonesia.

 

“Akhirnya keduanya, baik Pak Joko Widodo maupun Bapak Prabowo Subianto, menujukkan kelas kenegarawanannya,” kata Helmy.

 

Keduanya, kata dia, sepakat bahwa kepentingan nasional lebih diutamakan di atas segalanya demi membangun bangsa yang lebih maju dan berperadaban.

 

“Mari bersama kita hentikan segala syak wasangka dan prasangka buruk. Cukup bagi kita untuk memaknai peristiwa bertemunya dua tokoh ini sebagai ajang pembelajaran dan pendewasaan bagi bangsa dan negara,” katanya.

 

Bagi segenap pihak yang selama ini menciptakan konten yang cenderung memecah belah bangsa, kata dia, agar menghentikan narasi-narasi itu.

 

“Jangan ada lagi narasi dan opini yang cenderung mengarah pada narasi adu domba yang mengancam persatuan dan mengoyak rasa kemanusiaan dalam berbangsa dan bernegara,” kata Helmy.

 

Setiap pihak, kata dia, agar menatap ke depan secara optimistis untuk menuju Indonesia yang lebih baik, lebih cerah, dan senantiasa hidup rukun dalam bingkai kebinekaan.

 

“Momentum ini mari kita jadikan sebagai wahana penyatuan kembali persatuan dan kesatuan bangsa,” kata Helmy.