Film ‘The Santri’ dan Aroma Liberalisme

Oleh:  Ainul Mizan*

(Jurnalislam.com)–Film The Santri besutan Livi Zheng yang diinisiasi oleh PBNU, direncanakan akan tayang di bulan Oktober mendatang, bertepatan dengan peringatan Hari Santri (www.m.cnnindonesia.com, Senin 16/9/2019). Film ini akan dibintangi sejumlah pendatang baru seperti Azmi Iskandar, Wirda Mansur dan Veve Zulfikar.

Sinopsis film The Santri ini mengisahkan kehidupan di sebuah pondok pesantren yang lagi mempersiapkan peringatan Hari Santri. Pada momen itu pula akan diumumkan 6 orang santri terbaik yang akan diberangkatkan dan bekerja di Amerika Serikat. Pertanyaannya, mengapa yang dipilih adalah Amerika Serikat?

Hal ini sejalan dengan pernyataan Livi Zheng bahwa film terbarunya, The Santri akan dipasarkan ke Amerika Serikat. Menurutnya di Amerika Serikat akan lebih mudah menembus pasar. Sebelumnya Livi Zheng mengungkapkan bahwa ia mempromosikan eksotisme Bali di AS melalui filmnya, Beats of Paradise (www.poskotanews.com, 15 Agustus 2019).

Sedangkan Livi Zheng sendiri memang seorang sutradara dari Indonesia yang pernah meraih penghargaan “Culture Ambassador” di Amerika Serikat. Tentunya film – film besutannya termasuk The Santri menjadikan AS sebagai barometernya. Konsekwensinya di dalam film The Santri tidak bisa dilepaskan dari nilai – nilai yang sejalan dengan nilai yang berlaku di AS.

Dengan menjadikan cita – cita dan keinginan seorang santri untuk bekerja di AS, di dalam adegan film The Santri, ini saja sudah memberikan indikasi adanya propaganda menjadikan AS sebagai kiblat modernitas kaum milenial.

Di samping adanya kecenderungan yang menguat dari  kaum Muslimin, terutama kaum milenialnya untuk dekat dengan Islam. Maraknya fenomena hijrah di tengah para artis, yang menandakan kejenuhan akan gaya hidup liberal. Begitu pula, adanya sikap apatis terhadap Demokrasi yang semakin hari semakin karut marut, ditandai dengan pemerintahan yang abai terhadap rakyatnya. Di lain sisi, semakin menguatnya Islam Politik. Hal demikian bisa dilihat dari kebarakaran jenggotnya para petinggi negeri ini terhadap menguatnya fenomena bendera Tauhid dan Khilafah. Artinya nilai – nilai AS melemah secara drastis, kalau tidak boleh dibilang sudah tidak diminati.

Pada aspek yang lain, menguatnya China menjadi pesaing ekonomi AS di kawasan. Mega proyek OBOR China mampu memberikan tekanan ke beberapa negara dengan utang yang ditawarkannya. Indonesia pun harus kepincut dengan menandatangani 28 proyek yang akan diikutkan OBOR (www.m.liputan6.com, 29 April 2019). Parahnya, pemindahan ibu kota ke Kalimantan pun disinyalir mendekati jalur sutra OBOR.

Dengan kata lain, AS sedang sibuk memperkuat pengaruhnya dan memperbaiki citranya di Indonesia.

Langkah strategisnya adalah dengan menanamkan nilai dan peradabannya. Penulis melihat bahwa ada 2 (dua) nilai utama yang kental dalam film The Santri, yaitu Liberalisme dan Sinkretisme.

Menurut Wikipedia, paham Liberalisme merupakan sebuah paham yang mencita – citakan terbentuknya suatu masyarakat yang bebas, dengan dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi individu. Maka yang lahir adalah liberalisme budaya dan perilaku.

Salah satu bentuk liberalisme budaya dan perilaku yang ada di dalam The Santri adalah aktivitas pacaran. Dibuatlah sebuah prototype baru seorang santri jaman milenial. Tidak tabu bagi mereka untuk sekedar berinteraksi dengan lawan jenis, apalagi hanya sekedar main mata.

The Santri, sebuah film yang akan dirilis di Hari Santri mendatang 22 Oktober 2019, telah menggeser jauh idealisme seorang santri. Seorang santri yang berkomitmen menimba ilmu agama dengan baik, menjaga perilaku islami, dan senantiasa berkhidmat kepada para ulama pejuang yang mukhlisin. Seketika Hadrotusy Syaikh Hasyim Asyari menyerukan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945, segera kaum santri menyambutnya dengan gempita. Mereka bertekad mengusir penjajah.

Semangat mengusir penjajahan dalam segala bentuknya patutnya untuk selalu menjadi komitmen santri. Merekalah yang diharapkan menjadi pelita – pelita umat. Bukan justru kaum santri menjadikan AS sebagai kiblat pemikiran dan budayanya.

Bagaimanakah kaum santri saat ini akan menjadi pelita umat yang di tangan mereka terletak harapan besar untuk membebaskan umat dari penjajahan bila mereka dijejali dengan budaya hedonis dan liberal?

Bagaimanakah pula kaum santri akan mencurahkan pikirannya untuk kemajuan umat, bila kaum santri disibukkan dengan memikirkan cinta dan harta?

Bagaimanakah kaum santri bisa dicetak sebagai kader yang bisa menjadi contoh sebagai muslim yang bertaqwa, sementara itu perilakunya menerjang batasan – batasan syariat Islam?

Ketika propaganda Liberalisme budaya dan perilaku sudah menjadi trend kehidupan kaum muda,maka masuklah propaganda Liberalisme Aqidah  dan Keyakinan. Di dalam filmThe Santri ini digambarkan bahwa tatkala ke-6 santri terbaik ini diterbangkan ke AS, mereka membawa tumpeng syukuran untuk diberikan kepada para pendeta di sebuah gereja.

Memang agenda Liberalisme aqidah dan keyakinan akan berhasil efektif dilakukan dengan mengajak anak – anak kaum Muslimin untuk sekedar berjalan – jalan ke luar negeri. Tentunya ke luar negeri ini adalah ke negara – negara yang menjadi kiblat modernisasi dan liberalisme seperti Amerika Serikat, Perancis, Inggris dan yang lainnya.

Dengan melihat keteraturan dan kecanggihan kota dan kehidupan toleransi yang bebas di sana, diharapkan mereka mempunyai pandangan yang bersahabat dengan dunia barat dan peradabannya.

Adalah Rufa’at At Tahthowi dan Khoiruddin at Tunisi yang merupakan dua pelajar muslim di era Khilafah Utsmaniyyah, dikirimkan untuk program pertukaran pelajar. Sekembalinya, keduanya kemudian menjadi corong – corong ide Nasionalisme yang selanjutnya menjadi racun mematikan bagi kesatuan wilayah ke-Khilafahan Islam.

Tidak jauh berbeda dengan Rufa’ah dan Khoiruddin at Tunisi, sekembalinya dari luar negeri, tiba – tiba mereka menjadi orang  yang inklusif dengan peradaban barat. Ambil contoh, Muhammad Abduh yang menyatakan bahwa pemerintahan Inggris itu lebih islami. Atau ungkapan yang senada dengan itu, misalnya ‘kami sudah menemukan Islam di Amerika, Jepang dan lainnya’. Biasanya di Indonesia, kalangan yang getol menyuarakan liberalisme berkedok modernism adalah Kalangan Islam Liberal dan kawan – kawannya.

Puncaknya, bahaya yang paling besar dari liberalisme Aqidah dan Keyakinan adalah Sinkretisme Agama. Idealisme bahwa Islam adalah satu – satunya agama yang diridhoi di sisi Allah SWT, akhirnya luntur. Kaum muslimin tidak lagi merasa keberatan untuk sekedar mengucapkan selamat hari raya kepada penganut agama lain. Mereka bersedia untuk duduk bersama di gereja guna merayakan Hari Natal bersama. Mereka pun sudah berani mengatakan bahwa semua agama itu benar dan tidak boleh ada klaim kebenaran satu agama tertentu atas yang lain. Tentunya yang dimaksudkan adalah Islam.

Ya, mereka inilah yang akan dipasang menjadi ikon – ikon kebebasan dan permusuhan terhadap upaya perjuangan penerapan Syariat Islam secara paripurna.

Entri poin yang dituju adalah kaum muslimin itu sendiri. Mereka menjadi antipati terhadap ajaran agamanya sendiri. Tentunya hal demikian merupakan penikaman terhadap ajaran – ajaran Islam yang mulia.

  • Penulis tinggal di Malang

Tayangkan Film Diduga Pro LGBT, Warga Semarang Tolak Festival Kota Lama

SEMARANG(Jurnalislam.com)- Perwakilan Forum Ummat Islam Semarang mendatangi festival kota lama terkait akan diputarkannya film kontroversi “ Kucumbu Tubuh Indahku” digedung marabunta jl cendrawasih,kota lama semarang, Ahad (15/9/2019)

Dari perwakilan ormas Islam meminta agar film tersebut tidak diputar, karena didalamnya mempertontonkan kampanye homo yang mana akan merusak generasi muda khusnya di Semarang.

“Kami tidak menolak festivalnya, tapi kami menolak kontennya, karena film yang berjudul kucumbu tubuh indahku itu identik dengan hubungan sejenis, dan itu tidak sesuai dengan norma masyarakat semarang,” ucap marzuki dari divisi hisbah Jamaah Ansharusy Syariah Semarang.

Dari komunitas tobater yang sering mengadakan pengajian pemuda merasa miris dengan diputarnya film tersebut, karena LGBT menurutnya lebih parah darisekedar kenakalan remaja pada umumnya

“Ketika kami berjibaku mengajak para pemuda untuk bertaubat, ngadakan hapus tatto gratis tapi dilain pihak malah ada komunitas pemuda yang mempomosikan LGBT dengan dikemas dalam bentuk film,” tutur Prasetyo.

Menanggapi penolakan ormas-ormas Islam Semarang tersebut, Sutradara Film kucumbu tubuh indahku, Garin Nugroho bersikukuh agar film tetap diputar dengan alasan sudah mengantongi izin.

“Kami sudah prosedural, sudah lulus badan sensor film dan ijin pemerintah kota semarang, “katanya

Selain semarang, Film kontroversi ini juga dilarang diberbagai wilayah mulai dan pemerintahan dan elemen  masyarakat seperti MUI kota depok, Bu Pati Kubu Raya Kalimantan Barat dan Ormas Islam.

Ini Alasan Elemen Ormas Islam Tolak RUU P-KS

SEMARANG (Jurnalislam.com)—Aktivis ormas Islam Semarang mendatangi kantor DPRD Jawa Tengah untuk menolak RUU P-KS, di  Semarang, Senin (16/9/2019)

Agus A, SHi dari LBH Pelita Ummat Jawa Tengah menyampaikan bahwa RUU P-KS sangat berbahaya jika dilegalkan.

Dicontohkan pada pasal 14 terkait penggunaan kontrasepsi yang menurutnya siapapun boleh menggunakannya walaupun bukan suami Istri asal tidak dipaksa.

“Ini sangat berbahaya jika RUU ini dilegalkan, seperti pasal 14 berkenaan kontrasepsi, intinya dipoin ini ada kata pemaksaan, itu artinya jika tidak dipaksa itu berati boleh dan tidak dijelaskan apakah suami istri atau bukan, maka siapapun yang menggunakan kontrasepsi berati sah, yang tidak boleh adalah dipaksa,” jelasnya.

Redaksi yang hampir sama juga dituliskan dipasal 15, bahwa yang dilarang adalah orang yang dipaksa aborsi, karena menurutnya jika itu tidak dipaksa itu menjadi boleh.

“Ketika orang tidak dipaksa atau ingin aborsi secara sukarela pasangan tidak sah kemudian ingin mengaborsi itu sah dalam pandangan pasal 15 dan ini sangat berbahaya sekali,” khawatirnya.

Kunjungan rombongan dari FUIS tersebut diterima Agung Budi Margono di ruang Fraksi PKS lantai 5 gedung DPRD Jateng, dalam penuturannya bahwa PKS sejak awal sudah berkomitmen dalam menolak RUU P-KS.

“Sudah banyak kalangan yang menolak RUU ini, bukan hanya ummat Islam, tapi termasuk juga non Islam,” tuturnya.

Dalam  Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dalam salah satu frasenya yaitu menjadikan Jawa Tengah ini menjadi provinsi yang religius.

Dimaksudkan isu-isu progam keumatan itu secara konstitusional masuk dalam perda, Agung menambahkan bahwa pemerintah tinggal melihat kemana arah pandangan masyarakat.

“Tinggal masyarakat ini mau kemana, kalau ummat ini tidak peduli maka sekuler yang akan mengambil,” pungkas sosok yang juga mejabat sebagai Wakil ketua DPRD Jawa Tengah

Ormas Islam Semarang Desak DPR Tolak Pengesahan RUU P-KS

SEMARANG (Jurnalislam.com)–Dalam rangka mensupport Anggota Dewan dalam menolak Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS), Forum Ummat Islam Semarang (FUIS) mendatangi kantor DPRD Jawa tengah Jl Pahlawan kota Semarang, Senin (16/9/2019).

Pada kunjungan tersebut, FUIS diterima oleh fraksi PKS.

“Agenda ini merupakan silaturrahmi ke Anggota dewan dan memberi dukungan dalam menolak maupun merevisi RUU P-KS,” ucap Wahyu Kurniawan ketua FUIS.

Wahyu beralasan RUU yang sedang dibahas di DPR tersebut sarat akan penyelewengan oleh pihak-pihak tertentu, khususnya kelompok liberal.

“RUU ini kelihatan baik bahasanya, tapi jika ditelaah lebih dalam, ini bahasa yang multi tafsir, bisa dimanfaatkan kelompok liberal maupun sekuler untuk kepentingan tertentu yang bertentangan dengan syariat,” jelasnya.

Agus A, SHi dari LBH Pelita Ummat Jawa Tengah saat kunjungannya bersama FUIS di DPRD menyampaikan bahwa RUU P-KS sangat berbahaya jika dilegalkan.

Dicontohkan pada pasal 14 terkait penggunaan kontrasepsi yang menurutnya siapapun boleh menggunakannya walaupun bukan suami Istri asal tidak dipaksa.

“Ini sangat berbahaya jika RUU ini dilegalkan, seperti pasal 14 berkenaan kontrasepsi, intinya dipoin ini ada kata pemaksaan, itu artinya jika tidak dipaksa itu berati boleh dan tidak dijelaskan apakah suami istri atau bukan, maka siapapun yang menggunakan kontrasepsi berati sah, yang tidak boleh adalah dipaksa,” jelasnya.

Warga Gunung Kidul Mengaku Kesulitan Akses Air Bersih

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com)– Air bersih menjadi sesuatu yang sangat berharga di Dusun Salam dua Desa Song Banyu Kecamatan Girisubo Gunung Kidul.

 

Kemarau panjang yang sudah berlangsung beberapa bulan terakhir memaksa warga dusun tersebut membeli air dari truk tangki.

 

Menurut warga Paino (70 tahun) mengatakan bahwa kalau musim kemarau, mereka membeli air dari truk tangki yang berjarak kurang lebih 3 Km.

 

Satu truk tangki dengan kapasitas 5000 liter air seharga Rp. 120.000 – 150.000, dan bahkan bisa mencapai Rp. 3.500 perliter jika warga membeli eceran.

 

“Kami membeli air satu tangki seharga 120 ribu rupiah sampai 150 ribu rupiah tergantung antrian” ujar bapak dua anak tersebut.

 

“Kami berharap ada solusi yang tepat dari Pemerintah untuk mengatasi kekurangan air disini”

 

Senada dengan Paino, Kepala Dusun Salam 2, Isnawan berharap Pemerintah bisa proaktif dan memberikan solusi terbaik bagi dusun ini untuk mendapatkan air bersih.

 

“Saya berharap krisis air bersih disini bisa cepat terselesaikan dengan pengadaan air dari pihak terkait  dengan program Pamsimas” ungkapnya kepada, Jurniscom Ahad (15/9/2019)

 

“Semoga di tahun yang akan datang dapat terealisasi program Pamsimas dengan pembukaan pendaftaran peserta baru,” pungkasnya.

Antusiasime Anak Muda Hadiri Solo Hijrah Day

SUKOHARJO (Jurnalislam.com)- Hijrah akan lebih mudah dilakukan saat bersama dengan teman daripada sendirian, itulah yang ingin diterapkan dalam kegiatan Solo Hijrah Day (SHD) 2nd di Graha Setyowati, Gentan Sukoharjo, pada senin,  (16/9/2019).

 

Bertajuk ‘Moving with Everybody’ Solo Hijrah Day 2 sukses menyedot ratusan anak muda Soloraya yang ingin belajar tentang Islam, terutama yang dalam fase hijrah menuju lebih baik lagi dari sebelumnya.

 

Alhamdulillah kita kumpul bersama komunitas Hijrah, ngumpul jadi satu bukan cuma anak muda tapi kita libatkan juga dari golongan sesepuh untuk membantu kita, dan kemudian kita mengelorakan islam disini,” kata ketua panitia Taufan Wahyu Ilahi kepada Jurniscom.

 

Dalam kegiatan SHD 2 yang diadakan ditempat terbuka dengan nuansa alam tersebut, menghadirkan pemateri founder komunitas YukNgaji ustaz Cahyo Ahmad Irsyad dan ustaz Felix Siauw serta founder moslembikers ustaz Ridwanullah.

 

“Kemudian menjadikan hijrah itu sebuah trendnya anak muda, dan acara itu ndak harus kaku dan nggak harus di masjid, dan kita nyari tempat yang anak muda banget, di taman kayak gini kan kayak pesta kebun gitu,” ujarnya.

 

Hal itu dinilai Taufan akan lebih menarik kaum muda terutama yang ingin berhijrah, namun mempunyai masih merasa minder dan takut.

 

“Alhamdulillah dengan begini kemudian bisa menaikan bahwa hijrah itu bukan sesuatu yang nyeremin, hijrah itu temen temen masih bisa riding bareng, bahwa untuk hijrah itu kita harus sama sama, bareng bareng,” ungkapnya.

 

“Makanya ini kita kumpulin, kemudian temen temen bisa ketemu dengan teman hijrah yang lain dan dari situlah bahwa hijrah itu akan lebih mudah, kalau sendirian pasti lebih sulit,” tandas Taufan.

 

Dalam kegiatan SHD 2, ada sekitar puluhan komunitas yang ikut meramaikan kegiatan tersebut, diantaranya YukNgaji, Leren Nakal, Indonesia Tanpa Pacaran, Semut Ibrahim, Jogla Dakwah, Expreso, Pemuda Peduli Umat dan lain sebagainya.

DSN MUI Sebut Baru 5 Hotel Kantongi Sertifikat Syariah

JAKARTA (Jurnalisam.com)– Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) melaporkan hingga saat ini baru ada lima hotel yang mengantong sertifikat syariah.

Ketua Bidang Industri Bisnis dan Ekonomi Syariah DSN MUI, Moch. Bukhori Muslim menyampaikan diantaranya belum ada yang berbintang empat maupun lima.

“Total hotel dengan sertifikat syariah sudah ada lima, semuanya bintang tiga,” kata dia baru-baru ini.

Menurut Bukhori, DSN selalu siap melakukan sertifikasi hotel sesuai standar dan prosedur yang ada. Jika semua syarat telah terpenuhi, prosesnya cukup pendek hanya sekitar 14 hari.

Hotel yang sudah mengantongi sertifikat halal diantaranya Hotel Syariah Solo, Sofyan Betawi Menteng Jakarta, Sofyan Tebet dan dua hotel lagi di Aceh. Dalam waktu dekat, diharapkan jumlahnya bisa meningkat pesat.

“Kita ingin tahun ini ada 50 hotel,” kata Bukhori.

Salah satu upayanya adalah dengan sosialisasi dan edukasi, mengajak para pelaku usaha untuk mulai serius garap prospek wisata halal tersebut.

Pada 10 Oktober mendatang, DSN turut serta dalam seminar internasional wisata halal di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Bukhori menyampaikan, proses sertifikasi hotel syariah DSN mengacu pada fatwa nomor 108 tentang pedoman penyelenggaraan pariwisata berdasarkan prinsip syariah

Dalam poin syariah, ditetapkan ketentuan terkait hotel syariah.

Diantaranya, tidak boleh menyediakan fasilitas yang bertentangan, seperti tindak asusila, maksiat, dan musyrik. Selain itu memiliki sertifikasi halal untuk makanan dan minuman yang disediakan.

Kemudian, menyediakan sarana dan prasarana memadai untuk ibadah, termasuk fasilitas bersuci.

Pengelola dan karyawan menggunakan pakaian yang sesuai syariat, memiliki standar prosedur pelayanan yang sesuai syariah, dan menggunakan asa lembaga keuangan syariah.

Sumber: republika.co.id

 

DSKS Sebut Disertasi Abdul Aziz Menyimpang, IAIN Surakarta Didesak Bersikap Tegas

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Paska munculnya disertasi milik Dosen Fakultas Syariah IAIN Surakarta Abdul Aziz yang menimbulkan polemik, Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) mendatangi kampus Insitut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta pada Senin (9/9/2019). 

Disertasi berjudul “Konsep Milk Al-Yamin Muhammad Syahrur sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Non Marital” itu dinilai membolehkan seks di luar pernikahan.

Dalam silaturahim yang diterima langsung oleh Rektor IAIN Surakarta Prof. Dr. H. Mudofir itu, DSKS menyampaikan beberapa poin yang dipermasalahkan dalam disertasi tersebut.

Pertama, DSKS menilai Abdul Aziz salah dalam memahami makna budak di beberapa ayat Al-Qur’an. 

“Abdul Aziz memperluas makna budak dengan menjadi semua orang yang diikat oleh kontrak hubungan seksual,” kata Humas DSKS, Endro Sudarsono.

Kedua, pengambilan referensi bukan dari Ahli Agama (Ulama), mengingat Muhammad Syahrur berkompeten di bidang teknik.

Terakhir, disertasi tidak sesuai dengan UU perkawinan no 1 tahun 1974 4.  “Disertasi yang membolehkan kumpul kebo, mut’ah dan mengarah pada perzinahan,” ujarnya.

Oleh sebab itu, DSKS meminta Rektor IAIN Surakarta Prof. Dr. H. Mudofir untuk memberi sanksi tegas terhadap semua pihak di lingkungan IAIN Surakarta yang menyebaran pemahaman menyimpang dari ajaran Islam.

“Termasuk memberhentikan tidak hormat kepada Abdul Aziz atas disertasi yang telah dinyatakan menyimpang (Al-Afkar Al Munharifah) oleh MUI Pusat,” tegas Endro.

Menanggapi hal tersebut, Rektor IAIN Surakarta Prof. Dr. H. Mudofir mengatakan, pihaknya tidak memiliki kewenangan secara legal untuk memberhentikan karena itu adalah kewenangan Kementerian Agama.

“Jadi rektor tidak punya kewenangan untuk memecat, jadi jangan laporkan ke rektor, tapi langsung ke menteri agama,” katanya.

Kendati demikian, Prof Mudofir menegaskan disertasi Abdul Aziz tidak mewakili institusi IAIN Surakarta. “Dan tidak ada penyebaran ini secara sistemis, karena kami terikat dengan lembaga dakwah, jadi tidak ada di IAIN gerakan sistematis yang mengembangkan aliran sesat,” pungkasnya.

Pihak kampus juga telah memberikan teguran kepada Abdul Aziz untuk merevisi hasil disertasinya.

“Kita sudah memberikan surat teguran kepada yang bersangkutan untuk tidak berbicara dengan media, mematuhi revisi yang disarankan oleh tim penguji,” tandasnya.

Peluang Bisnis Syariah Indonesia Masih Sangat Besar

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Chief Executive Officer (CEO) Syariah Indonesia (SI) LLC, Hartadinata Harianto menilai peluang bisnis syariah di Indonesia sebenarnya sangat besar.

Namun, pria yang tinggal New York, Amerika Serikat (AS) ini heran mengapa bisnis berbasis syariah di Malaysia justru lebih berkembang.

Padahal, menurut dia, Indonesia sepuluh kali lebih besar dari Malaysia dan memiliki penduduk yang sangat  besar.

“Orang AS mengira Malaysia lebih besar dibanding Indonesia. Padahal justru sebaliknya. Karena itu saya ingin Indonesia maju. Saya ingin bantu pertumbuhan ekonomi di Indonesia,” ujar Hartadinata, Ahad (8/9).

Untuk membantu Indonesia, pria berusia 25 tahun ini dalam waktu dekat ini akan menjalankan proyek pembangunan berbasis syariah di Indonesia, yang pembiayaannya didanai oleh Syariah Indonesia (SI) LLC.

Adapun proyek pembangunan berbasis syariah tersebut, meliputi bidang Properti Syariah, HealthCare Syariah (Rumah Sakit & Klinik), Halal Tourism (Haji & Umroh ) dan Agro Bisnis.

Hartadinata berpandangan bahwa dalam ekonomi syariah terdapat cara bisnis yang baik, mengedepankan win-win, dan bukan untuk merugikan. Karena itu, dia memilih untuk mengembangkan ekonomi berbasis syariah di Indonesia.

“Di Amerika, banyak sekali investment company yang orientasinya hanya mengejar profit semata. Secara bisnis dan keuangan, memang itu strategi yang efektif. Tapi saya, ayah saya, serta tim saya, merasa bisnis yang orientasinya semata profit bukan bisnis yang baik. Saya tidak mau ada satu pihak yang diuntungkan secara maksimal, tapi disisi lain ada pihak yang dirugikan,” ucap Hartadinata.

Jika memahami prinsip fundamental dari syariah, win- win for every one menjadi sebuah alasan utama kenapa Hartadinata tertarik dengan syariah. Hartadinata mengaku tidak tertarik jika prinsip menang hanya untuk dirinya, sedangkan orang lain kalah.

“Sejak kecil saya sudah diajarkan oleh ayah saya, untuk tidak melukai dan merugikan orang lain. Saya bisa menerima kerugian, tapi saya tak boleh merugikan orang lain,” kata CEO Stern Group (SR) ini.

Sumber: republika.co.id

 

Pemerintah Dinilai Kurang Serius Kembangkan Industri Halal

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Neraca perdagangan Indonesia dengan negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) pada 2018 membukukan defisit sebesar 1,87 miliar dolar AS.

Defisit tersebut disebabkan oleh ekspor yang minim serta belum seriusnya perhatian pemerintah terhadap pembangunan industri halal nasional.

Pengamat Perdagangan Internasional dari Universitas Indonesia Fithra Faisal menyampaikan, melorotnya neraca perdagangan Indonesia ke negara-negara OKI sangat disayangkan di tengah terciptanya ikatan ideologis terhadap negara-negara tersebut.

Menurut dia, determinasi atau penentu perdagangan dalam model ekonomi internasional harusnya lebih diuntungkan dengan terciptanya ikatan ideologis tersebut.

Hanya saja hal ini tak terealisasi dengan baik sebab pemerintah lalai dalam membangun industri halal dalam negeri.

“Kita punya ikatan ideologis, tapi sayangnya pemerintah kita belum serius membangun tingkat industri halalnya,” kata Fithra, Jumat (6/9).

Di dalam negeri, dia menjabarkan, tingkat industri halal hanya sebatas kajian dan penerapan sertifikasi oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Padahal peluang pasar produk halal dinilai sangat besar namun harus diimbangi dengan kemampuan industri halal yang memadai.

Pembangunan industri halal ini ke depannya diproyeksi mampu memacu ekspor produk halal Indonesia.

Sebagai catatan, berasarkan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal disebutkan mengenai kewajiban sertifikasi produk halal.

Beleid tersebut mulai berlaku pada 17 Oktober 2019 mendatang sambil menunggu aturan teknis yang masih digodok Kementerian Agama (Kemenag).

Berdasarkan catatan Kementerian Perdagangan (Kemendag), ekspor produk halal Indonesia ada 2018 ke negara-negara OKI tercatat sebesar 45 dolar AS atau 12,5 persen dari total perdagangan nasional sebesar 369 miliar dolar AS.

Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia, ekspor produk halal Indonesia masih tertinggal jauh.

Sedangkan pemerintah Indonesia cenderung berbelit dan defensif serta kurang terkoneksi antara satu dengan kementerian teknis terkait.

sumber: republika.co.id