Masih Hadirnya Orang Mushlih, Sebab Tidak Diazabnya Suatu Kaum

Masih Hadirnya Orang Mushlih, Sebab Tidak Diazabnya Suatu Kaum

Jurnalislam.com – Orang shalih adalah orang-orang yang melakukan kebaikan bagi dirinya sendiri sedangkan orang mushlih adalah orang-orang yang melakukan perbaikan yang dengannya orang-orang menjadi baik.

Muslih inilah yang menjadi sebab keselamatan masyarakat bahkan negara dari kehancuran. Mereka itu takdir baik Allah yang menolak takdir buruk Allah, yakni takdir perbaikan yang menangkal takdir kematian.

Nabi shallallahu alaihi wassalam mengumpamakannya dengan kapal yang ditumpangi dua kelompok, ada yang di dek atas dan di dek bawah. Penumpang dek atas tidak mengizinkan dek bawah mengambil air. Akhirnya penumpang dek bawah berinisiatif melubangi kapal untuk mengambil air laut.

Apa yang terjadi apabila tidak ada satupun penumpang yang mengingatkan agar dek bawah tidak melubangi kapal. Apa yang terjadi jika dek atas tetap bersikukuh tidak memberikan air pada dek bawah? Tentu kapal akan karam lalu semua orang akan tenggelam.

Seperti itulah karakteristik sosial masyarakat dalam Islam, harus ada pihak yang mengingatkan agar masyarakat tidak jatuh dalam kehancuran masif. Usaha mengingatkan inilah yang disebut amar maruf nahi mungkar yang mencakup dakwah Al-Quran sebagai salah satu komponen terpenting.

Harus terdapat sekelompok manusia yang membaktikan dirinya mendakwahkan Al-Quran pada masyarakat.

Apabila mereka ikhlas karena Allah semata, mereka akan menjadi unsur-unsur kekebalan dan antibodi yang mencegah dan mengepung virus perusak seperti CORVID-19.

Mereka bagaikan klep pengaman masyarakat; menyelamatkan masyarakat luas dari tenggelam dalam lautan nilai-nilai kerendahan terkubur dalam azab Allah. Klep pengamanan ini banyak yang tidak disadari fungsinya, keberadaannya seperti tidak diindahkan tetapi justru menjadi tim penyelamat dalam diam. Allah ta’ala berfirman:

فَلَوْلَا كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ

“Seandainya saja di antara umat-umat yang ditimpa azab sebelum kalian ada sisa-sisa orang yang melarang umat-umat tersebut dari berbuat kerusakan di muka bumi.” (Q.S Hud: 116)

Dihancurkannya kaum sebelum kita disebabkan tidak ada manusia yang bergerak melakukan dakwah.

Mereka seperti penumpang dalam kapal yang hanya mementingkan syahwat dan hawa nafsu mereka sendiri tanpa ada seorangpun yang memberi peringatan. Akhirnya Allah binasakan mereka karena perbuatan mereka sendiri.

Tetapi apabila masih ada sekelompok orang yang menerjunkan dirinya dalam dakwah dengan motivasi karena Allah, keberadaannya akan menjadi pengaman dari azab. Paling tidak, jika azab Allah turun – kita berlindung dari kemurkaan Allah -, kita tidak seluruhnya hancur. Seperti yang dijanjikan Allah ta’ala:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ

“Dan Rabbmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang mushlih.” (Q.S Hud: 117)

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close X