Korban Tsunami Selat Sunda Gelar Doa Bersama di Malam Tahun Baru

Korban Tsunami Selat Sunda Gelar Doa Bersama di Malam Tahun Baru

BANTEN (Jurnalislam.com) — Pengungsi bencana tsunami Selat Sunda di Posko Induk Kementerian Sosial, Pandeglang, Banten menggelar acara istighosah dan doa bersama untuk menyambut malam tahun baru 2019 pada Senin (31/12) malam.

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com di lokasi, acara baru dimulai pukul 20.45 WIB. Para pengungsi yang terdiri dari para pria, perempuan dan anak-anak turut memenuhi lapangan futsal yang disulap menjadi tempat pengungsian sementara.

Mereka tampak berjejer memenuhi sisi depan yang menghadap para ustaz yang mengisi acara tersebut.

Istighosah tersebut dipimpin oleh seorang ustaz bernama Ali Ridwan. Lantunan Surat Al-Fatihah dan dzikir terus dilantunkan dari pengeras suara yang diikuti oleh para peserta.

Hasbunallah Wanikmal Wakil Nikmal Maula Wanikman Nasir,” lantun ustaz Ali yang diikuti oleh para pengungsi.

Acara istighosah itu semakin syahdu karena diselingi suara hujan deras yang turun di sekitar Labuan, Banten sejak sore hari hingga malam ini.

Istighosah dan doa bersama itu dilakukan sebagai terapi psikologis untuk memberikan kekuatan batin kepada para pengungsi.

“Acara ini dilakukan agar cobaan kita diberikan pertolongan, agar jalan kita ke depannya dimudahkan,” kata pembawa acara yang juga inisiator acara tersebut, Twi Adi melalui pengeras suara.

Twi menjelaskan bahwa acara tersebut diinisiasi oleh Posko Kementerian Sosial dan Dinas Sosial Pemerintah Provinsi Banten untuk mengisi tahun baru bagi para pengungsi.

“Kita ketahui bersama karena tahun depan adalah pergantian tahun, agar tahun depan kita diberikan iman, islam dan sejahtera,” kata dia.

Salah satu pengungsi yang mengikuti istighosah, Suryana (26), menyatakan dirinya sengaja mengikuti acara tersebut untuk berdoa agar mendapatkan kemudahan dalam menghadapi keberlanjutan kehidupan keluarganya di tahun depan.

“Saya berharap bisa pengen cepet kumpul lagi sama keluarga di rumah yang baru, karena rumahnya hancur, ini sekaligus membuat hati tenang,” kata Suryana.

Pengungsian yang dikelola oleh Kementerian Sosial ini bermukim sekitar 1.432 pengungsi per 30 Desember 2018. Jumlah tersebut diperkirakan sudah berangsur berkurang.

Para pengungsi sengaja meninggalkan rumah sejak tsunami menerjang pada Sabtu malam, 22 Desember 2018. Sebagian lainnya mengungsi karena khawatir adanya tsunami susulan.

Sumber : cnnindonesia

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close X