Kisah Masjid Al Aqsha dari Seorang Muazin

21 April 2017
Kisah Masjid Al Aqsha dari Seorang Muazin

JERUSALEM (Junalislam.com) – Selama setengah abad terakhir, Sheikh Khader al-Aweiwi yang berusia 73 tahun telah mengabdikan dirinya untuk melayani ikon Yerusalem, Masjid Al-Aqsha, yang merupakan tempat tersuci ketiga di dunia bagi umat Islam setelah Mekkah dan Madinah.

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Anadolu Agency, al-Aweiwi menceritakan banyak peristiwa bersejarah yang dia saksikan saat bertugas di Al-Aqsha – sebagai penjaga, pemadam kebakaran dan muazin – dari tahun 1968 sampai 2011.

Dia pertama kali mulai bekerja di kompleks Masjid Al-Aqsha sebagai penjaga pada tahun 1968 – satu tahun setelah Israel mencaplok Tepi Barat (termasuk Yerusalem Timur), yang sebelumnya dikuasai oleh tetangga Yordania.

“Saya tidak pernah menjadi pegawai Al-Aqsha,” kata al-Aweiwi. “Bagi saya, itu bukan hanya pekerjaan – itu adalah cara hidup.”

Pada tahun 1969, al-Aweiwi menyaksikan serangan pembakaran yang terkenal di Masjid Al-Aqsha, yang dilakukan oleh ekstremis Kristen Australia.

Serangan tersebut, yang sebagian besar menghancurkan mimbar masjid berusia 1.000 tahun (mimbar), menginspiracian pembentukan Organisasi Kerjasama Islam-OKI (the Organization of Islamic Cooperation-OIC) pada tahun yang sama.

“Saya sedang berlibur saat serangan terjadi,” kenang al-Aweiwi. “Ketika saya mendengar tentang apa yang terjadi, saya mencoba mencapai kompleks masjid meskipun ada hambatan yang dibangun oleh Israel.”

“Warga [Al-Quds] terkejut dan marah,” katanya. “Polisi Israel menghentikan pemadam kebakaran untuk mencapai daerah tersebut. Sehingga warga Palestina setempat harus membawa air untuk memadamkan api.”

Al-Alweiwi juga ingat bagaimana, segera setelah kejadian tersebut, pihak berwenang Israel mencoba merekrut pemuda Palestina untuk membantu mengamankan lokasi tersebut.

“Mereka [Israel] menawarkan saya gaji tiga kali lipat jika saya bekerja sebagai polisi untuk mereka daripada penjaga masjid,” katanya.

“Tapi saya menolak tawaran itu,” katanya kepada Anadolu Agency. “Saya mengatakan kepada mereka, ‘Saya tidak akan mengganti lencana saya [penjaga Al-Aqsha] dengan Bintang Daud [polisi Israel]’.”

Dia menambahkan: “Saya ingin dikenang sebagai seseorang yang melayani Al-Aqsha – bukan sebagai seseorang yang membantu polisi pendudukan [Israel].”

Serangan destruktif tersebut mengilhami al-Aweiwi untuk mulai bekerja sebagai pemadam kebakaran di kompleks Al-Aqsha – sebuah pekerjaan yang dia lakukan selama tiga tahun ke depan.

“Saya mengikuti banyak kursus pemadam kebakaran, beberapa di antaranya melibatkan latihan berisiko yang membuat takut para trainee lainnya,” katanya.

Al-Aweiwi juga menggambarkan bagaimana dia melihat “banyak warga Palestina menjadi martir selama bertahun-tahun” di dalam dan sekitar kompleks Al-Aqsha.

“Dalam salah satu pembantaian Israel di tahun 1990an, saya melihat tentara penjajah zionis menyeret seorang pria – yang mengalami cedera kepala fatal – dari Gerbang Singa [Kota Tua],” kenangnya.

Dia juga menyaksikan semakin seringnya penyerangan oleh pemukim Yahudi ekstrem ke tempat keagamaan, meski ada keberatan dari para jamaah Muslim.

“Sejak Al-Quds diduduki pada tahun 1967, kami telah melihat pemukim Yahudi memaksa masuk ke kompleks tersebut dalam jumlah yang terus bertambah,” katanya.

“Kami dulu punya kekuatan untuk melawan mereka,” tambahnya. “Tapi sekarang jumlah mereka sangat banyak, dan biasanya dilindungi oleh polisi Israel.”

Namun, meski eskalasi Israel terus berlanjut, al-Aweiwi mengatakan bahwa dia tetap “berkomitmen penuh” untuk berjuang – dan membela – Masjid ikonik tersebut.

Dia juga bertugas sebagai muazin masjid, bertanggung jawab untuk menyiarkan panggilan sholat Muslim (adzan) lima kali sehari.

Al-Aweiwi ingat bagaimana, suatu saat, seorang perwira Israel memintanya untuk menunda adzan karena sebuah festival Yahudi sedang berlangsung pada saat bersamaan.

“Saya menolak,” kata al-Aweiwi. “Saya mengatakan kepada petugas dengan tegas bahwa adzan itu suci.”

Seiring dengan tugasnya sebagai muazin masjid, al-Aweiwi juga unggul di kalangan warga Palestina setempat karena membaca Al-Qur’an secara melodis.

Pada tahun 2010, ketika angkatan laut Israel menyerang sebuah armada bantuan Turki yang menuju Gaza membunuh 10 aktivis Turki di kapal, al-Aweiwi menyampaikan sebuah khotbah fajar di mana dia menghormati para martir dan mengutuk para penyerang.

“Saya segera dipanggil oleh petugas intelijen Israel yang menuduh saya menghasut kekerasan,” katanya.

Al-Aweiwi akhirnya pensiun pada 2011, tapi tidak mengakhiri tugasnya di Al-Aqsha.

“Ketika saya pensiun, saya bertanya kepada Awqaf [Kementerian Wakaf Keagamaan Yordania, yang bertanggung jawab untuk mengawasi tempat-tempat suci Muslim dan Kristen di Yerusalem] untuk mengizinkan saya menyuarakan adzan setiap kali muazin baru tidak ada,” katanya.

Permintaannya dihormati dan dia terus menyerukan adzan sesekali, terutama pada bulan puasa Ramadhan.

Majd al-Hadmi, yang sekarang bertanggung jawab untuk menyiarkan panggilan untuk sholat di Al-Aqsha, menggambarkan al-Aweiwi sebagai “lebih dari sekadar seorang muazin”.

“Dia sama terkenalnya dengan Farouk Hadrawi dari Madinah dan Ali Ahmed Mulla dari Mekah,” kata al-Hadmi kepada Anadolu Agency, merujuk pada dua muazin paling terkenal di dunia Arab.