Responsive image

Kerap Kecolongan, Peran Pencegahan Aparat Dipertanyakan

Kerap Kecolongan, Peran Pencegahan Aparat Dipertanyakan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pengamat terorisme dari The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya menyayangkan kinerja aparat yang masih kecolongan dengan aksi-aksi penyerangan serupa.

Padahal, kata dia, aparat mempunyai semua instrumen untuk melakukan pencegahan aksi terorisme, dari mulai undang-undang, SDM hingga teknologi.

“Ada BIN, BAIS, BNPT, Intelkam Polri, Densus88, dll, mereka ada payung UU, ada anggaran, SDM, teknologi canggih, deteksi dini idealnya berjalan maksimal agar bisa lakukan langkah antisipasi bahkan pre-emptif,” kata Harist kepada Jurnalislam.com, Rabu (13/10/2019)

Selain itu, lanjutnya, aparat juga sudah banyak melakukan penangkapan dalam beberapa bulan terakhir akan tetapi aksi teror masih terjadi.

“Kali ini publik bisa saja mengkritisi aparat kecolongan, alasannya cukup rasional; sudah banyak yang ditangkap dalam beberapa bulan terakhir. Tapi masih juga ada aksi teror,” kata Harits.

Sebagaimana diketahui, ledakan bom bunuh diri terjadi di area parker Mapolrestabes Medan pagi in, Rabu (13/11/2019).

Peristiwa itu menewaskan pelaku dan melukai enam orang lainnya, 5 diantaranya aparat kepolisian dan 1 orang sipil.

Pelaku diketahui bernama Rabbial Muslim Nasution, pemuda 24 tahun dengan status pekerjaan Pelajar/Mahasiswa.

Saat melakukan aksinya, Rabbial mengenakan jaket ojek online.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, pelaku melilitkan bom di tubuhnya.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close X