Jumlah Pasukan Khusus Filipina Yang Tewas di Tangan Mujahidin Moro Meningkat, 64 Pasukan Tewas

FILIPINA (Jurnalislam.com) – Front Pembebasan Islam Moro (MILF) mengatakan bahwa pemerintah Filipina melanggar perjanjian gencatan senjata ketika pasukan polisi khusus melakukan operasi menjelang fajar di wilayah mereka, mengakibatkan kematian sedikitnya 43 pasukan komando polisi.

Robert Maulana Alonto, seorang pemimpin senior MILF, mengatakan dalam sebuah pernyataan kepada Al Jazeera pada hari Senin (26/01/2015) bahwa polisi gagal berkoordinasi dengan pengamat gencatan senjata ketika mereka meluncurkan serangan di pulau Mindanao pada hari Ahad (25/01/2015).

Pada Senin malam, seorang sumber di provinsi Maguindanao, tempat bentrokan itu, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa jenazah 43 polisi telah ditemukan. Tapi jumlah pasukan khusus yang telah tewas kemungkinan sebanyak 64, menurut laporan media lokal.

Alonto mengatakan pasukan MILF bertindak "membela diri" ketika polisi mulai menembak. Setidaknya lima anggota mereka juga tewas.

"Ini hanyalah reaksi alami pasukan MILF untuk mempertahankan wilayah mereka ketika diserang oleh unsur-unsur bersenjata, terutama saat dini hari atau larut tengah malam."

Menteri dalam negeri Filipina Manuel Roxas III menyebut pertempuran tersebut sebagai "salah sasaran" dan memerintahkan penyelidikan atas bentrokan itu, yang merupakan kehilangan terbesar dalam pertempuran satu hari bagi pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.

Insiden mematikan tersebut mengancam perjanjian damai yang ditandatangani tahun lalu oleh pemerintah dan MILF, kelompok pejuang Muslim terbesar di Filipina. Kongres saat ini memperdebatkan undang-undang yang mengatur wilayah otonomi Muslim.

Laporan setempat mengatakan polisi mengejar Basit Usman, komandan kelompok sempalan MILF, Bangsamoro Islamic Freedom Fighters (BIFF), dan tersangka pemboman Malaysia, Zulkifli bin Hir, yang diyakini bersembunyi di sekitar daerah tersebut.

Pria berkebangsaan Malaysia yang juga dikenal sebagai Marwan tersebut, telah diidentifikasi sebagai pemimpin Jemaah Islamiyah, afiliasi al-Qaeda terbesar di Asia Tenggara. AS telah menawarkan $ 2 juta untuk penangkapan Usman, dan $ 5 juta untuk Marwan.

Menurut laporan media, Marwan mungkin telah dibunuh oleh pasukan komando polisi selama serangan itu, namun jenazahnya belum ditemukan. Namun MILF mengatakan ia bahkan tidak ada di daerah tersebut, dan membantah akan hal tersebut.

Alonto menuduh polisi bergegas menangkap Marwan "dalam perlombaan untuk menangkap target 'berharga'" tersebut dan mendapatkan reward hadiah.

Dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera, sebuah sumber militer yang tidak ingin disebutkan identitasnya juga menyalahkan polisi karena gagal berkoordinasi dengan militer, dalam melaksanakan surat perintah penangkapan Usman dan Marwan.

"Mungkin karena mereka adalah target bernilai tinggi, mereka ingin mendapat pujian tanpa melibatkan militer, kata sumber itu.

"Tapi ketika Anda pergi ke sana tanpa pemberitahuan, Anda mengharapkan pertarungan besar. Dan jika Anda tidak siap untuk sebuah pertarungan besar, Anda seharusnya tidak naif untuk berpikir bahwa mereka akan menyerah secara damai, karena mereka bersenjata lengkap."

Sumber tersebut juga mengatakan bahwa polisi mungkin telah mengesampingkan koordinasi dengan perwakilan gencatan senjata MILF, "agar tidak membahayakan operasi."

"Tapi dalam situasi seperti itu, Anda harus siap untuk terkejut. Dan itulah yang terjadi."

Sebelum kesepakatan damai ditandatangani pada tahun 2014, MILF telah melakukan perlawanan dengan pemerintah selama empat dekade dalam konflik yang mengakibatkan setidaknya 120.000 korban, sebagian besar warga sipil.

Deddy |  Al Jazeera | Jurniscom

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.