TEHERAN (jurnalislam.com)- Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Ahad (17/01/2026) melontarkan peringatan keras bahwa setiap serangan yang menargetkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, akan dianggap sebagai deklarasi perang terhadap bangsa Iran. Pernyataan ini memperkeras ketegangan antara Teheran dan Washington di tengah meningkatnya tekanan ekonomi serta gelombang protes domestik.
“Serangan terhadap pemimpin besar negara kita sama artinya dengan perang skala penuh melawan Iran,” tegas Pezeshkian dalam pernyataan resminya melalui platform X.
Pezeshkian menegaskan bahwa krisis ekonomi yang melanda Iran mulai dari melonjaknya harga kebutuhan pokok hingga merosot tajamnya nilai mata uang rial bukan disebabkan oleh kegagalan internal semata, melainkan akibat permusuhan panjang Amerika Serikat dan sekutunya.
“Jika rakyat Iran hari ini menghadapi kesulitan dan tekanan hidup, salah satu penyebab utamanya adalah sanksi tidak manusiawi dan kebijakan permusuhan Amerika Serikat yang telah berlangsung selama puluhan tahun,” ujarnya.
Pernyataan Presiden Iran ini muncul tak lama setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan komentar bernada penghinaan dalam wawancaranya dengan media Politico. Trump menyebut Ali Khamenei sebagai “orang sakit”, menggambarkan Iran sebagai “tempat terburuk untuk ditinggali”, serta secara terbuka menyatakan bahwa Iran membutuhkan kepemimpinan baru.
Sebelumnya, pada Sabtu, Khamenei juga menuding Trump sebagai aktor utama di balik korban jiwa dan kerusakan yang terjadi dalam gelombang protes terbaru di Iran.
Demonstrasi anti-pemerintah mulai pecah di Teheran pada akhir bulan lalu, dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi dan anjloknya nilai rial. Aksi tersebut kemudian meluas ke berbagai kota di Iran.
Situasi memanas pada 8 Januari ketika protes berubah menjadi kerusuhan, menyusul seruan dari putra mantan Shah Iran yang bermukim di Amerika Serikat, yang mengajak rakyat turun ke jalan untuk menentang pemerintahan yang sah.
Ketegangan ini menambah daftar panjang konfrontasi politik dan retorika keras antara Iran dan Amerika Serikat, sekaligus menegaskan bahwa Iran tidak akan mentolerir ancaman terhadap simbol kepemimpinan dan kedaulatannya. (Bahry)
Sumber: TRT