TEHERAN (jurnalislam.com)— Lebih dari 3.000 orang dilaporkan tewas dalam gelombang protes nasional yang melanda Iran sejak akhir Desember lalu. Data tersebut disampaikan oleh kelompok pemantau hak asasi manusia, Human Rights Activists News Agency (HRANA), pada Sabtu (16/01/2026).
HRANA yang berbasis di Amerika Serikat menyebut telah memverifikasi sedikitnya 3.090 korban jiwa, di mana 2.885 di antaranya merupakan demonstran. Laporan itu muncul di tengah indikasi bahwa penindakan keras aparat keamanan telah meredam aksi protes untuk sementara waktu.
Sejumlah warga Iran mengatakan kepada Reuters bahwa situasi di ibu kota Teheran relatif tenang selama empat hari terakhir. Meski demikian, aktivitas pengawasan masih terlihat, termasuk keberadaan drone yang berpatroli di langit kota. Tidak ada laporan aksi unjuk rasa besar pada Kamis maupun Jumat.
Kondisi serupa juga dilaporkan terjadi di wilayah utara Iran, dekat pesisir Laut Kaspia. Seorang warga setempat menyebut jalan-jalan tampak lengang dan situasi relatif terkendali.
Gelombang protes nasional di Iran pecah pada 28 Desember, dipicu oleh tekanan ekonomi yang semakin berat. Aksi tersebut dengan cepat berkembang menjadi demonstrasi luas yang menentang kebijakan pemerintah, dan diwarnai bentrokan dengan aparat keamanan.
Sementara itu, akses internet di Iran dilaporkan masih sangat terbatas. HRANA mencatat konektivitas nasional baru mencapai sekitar dua persen dari kondisi normal, meskipun terdapat sedikit peningkatan setelah pemadaman hampir total selama delapan hari.
Beberapa warga Iran yang tinggal di luar negeri melaporkan melalui media sosial bahwa mereka mulai dapat mengirim dan menerima pesan dari pengguna di dalam Iran pada Sabtu pagi, menandakan adanya pelonggaran terbatas terhadap pembatasan komunikasi.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa pemerintah Iran telah membatalkan rencana eksekusi massal terhadap para demonstran. Sebelumnya, Trump sempat mengancam akan mengambil “tindakan yang sangat keras” jika Iran melanjutkan eksekusi.
“Saya sangat menghargai fakta bahwa semua eksekusi yang dijadwalkan yang seharusnya berlangsung kemarin dan melibatkan lebih dari 800 orang telah dibatalkan oleh kepemimpinan Iran,” tulis Trump melalui akun media sosialnya.
Namun hingga kini, otoritas Iran belum mengumumkan secara resmi adanya rencana eksekusi massal tersebut maupun konfirmasi bahwa kebijakan itu telah dibatalkan. (Bahry)
Sumber: TRT