Kezaliman
Terlalu banyak pembodohan, kezaliman dan ketidakadilan yang telah dipertontonkan oleh rezim hari ini. Maka, sudah seharusnya para civitas akademica, khususnya mahasiswa berpikir untuk mengembalikan dan juga mengubah keadaan kearah yang positif serta tidak menghilangkan jati dirinya sebagai mahasiswa.
Dosen dan mahasiswa bukanlah orang-orang yang terlarut asyik dengan dirinya sendiri tetapi memiliki tanggung jawab sosial yang tak bisa dibendung ataupun dilawan oleh hati nuraninya.
Ilmu yang dimiliki akan membimbingnya untuk menyelamatkan umat, mengungkap dengan jelas berbagai kesalahan dan kejahatan serta menyelamatkan umat dari berbagai mara bahaya lainnya.
Jati diri inilah yang terkikis oleh roda kehidupan sekuler. Para intelektual terbawa arus kelelahan yang belum tentu berkontrisbusi untuk kebangkitan umat.
Kontribusi yang dilakukan malah semakin mengokohkan bahkan menjadi corong rezim arogan sekuler ini.
Sandera arogansi rezim islamophobia di kampus dapat dihentikan dengan mengembalikan “fitrah” civitas akademika, yaitu kembali pada Islam.
Salan satu jati diri atau “fitrah” para civitas akademica adalah berpihak pada kebenaran bukan pembenaran dan menebarkan kebaikan.
Dosen dan mahasiswa adalah sosok insan berkualitas yang akan memimpin dan mengisi peradaban sebuah bangsa atau negeri sampai mencapai puncak kejayaannya. Ilmu dan kekritisannya digunakan untuk memisahkan secara jelas antara yang haq dan batil, memperbaiki masyarakat serta memajukan peradaban.
Perubahan sebuah masyarakat tidak bisa lepas dari kampus dan civitas akademicanya. Mereka adalah orang-orang yang visioner. Mereka memiliki gambaran masa depan masyarakat ideal yang ingin mereka wujudkan.
Kita perlu menggaris bawahi tentang realitas civitas akademica hari ini yang tersandera oleh arogansi rezim islamofobia. Tindakan kezaliman kepada para civitas akademica yang kritis dan pro Islam akan terus terjadi selama rezim islamofobia ini masih kuat berkuasa. Kondisi ini menjadi lahan perjuangan bagi para civitas akademica untuk meraih kemuliaan dan menjadi pembela Islam.
Perlawanan harus ditunjukkan oleh para intelektual.
Gerak, suara juga karya intelektual sudah semestinya menjadi karya yang akan menjadi bukti kontribusi keberpihakan pada kebenaran, melawan ketidakadilan, memberikan kebaikan pada umat, pembelaan terhadap Islam dan perjuangan mengembalikan kejayaan Islam.
Untuk para civitas akademica, khususnya kepada para calon intelektual muda muslim dan muslimah yang dimuliakan Allah swt. Tetaplah istiqomah, yakin akan janji Allah dan takutlah hanya kepadaNya, meskipun sandera arogansi rezim islamophobia semakin menancapkan kuku-kuku tajamnya.
Percayalah dengan bekal ilmu dan juga kesadaran ideologis yang kita miliki akan menjadi kekuatan yang akan menggebuk dan membebaskan intelektual dari rantai sandera rezim islamophobia. Allah akan memenangkan yang haq dan mengalahkan yang bathil.
“Dan katakanlah: Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap, Sesungguhnya yang batil adalah sesuatu yang pasti lenyap” (Q.S Al Isra: 18).
Wallahu a’lam bi asshawwab.
One thought on “Intelektualisme dan Kampus dalam Cengkraman Rezim Islamofobia”