Gus Lilur Soroti Relasi NU dan Kekuasaan: “NU Menjadi Komoditas Politik”

JAKARTA (jurnalislam.com)— Kiai Nahdlatul Ulama (NU) Khalilur R Abdullah Sahlawiy alias Gus Lilur tidak hanya mengungkap dugaan aliran dana dalam Muktamar ke-35 NU. Dalam podcast Madilog Forum Keadilan, ia juga menyoroti hubungan antara kepengurusan NU dengan posisi sejumlah tokoh di pemerintahan.

Gus Lilur bahkan menyebut NU telah menjadi komoditas politik.

Pernyataan itu disampaikan ketika ia menunjukkan sebuah foto berukuran besar yang dibawanya ke studio podcast. Kepada host Darmawan Sepriyossa, Gus Lilur menjelaskan makna foto tersebut.

“Foto ini menunjukkan bahwa NU menjadi komoditas imbal balik,” ujar Gus Lilur.

Ia kemudian menjelaskan pandangannya dengan menyinggung sejumlah tokoh yang memiliki latar belakang kepengurusan NU dan kemudian menduduki jabatan di pemerintahan.

Gus Lilur menyebut Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, serta Juri Ardiantoro.

“Nusron Wahid tidak akan menjadi Menteri ATR BPN kalau dia bukan wakil ketua umum NU,” kata Gus Lilur.

Ia juga menyinggung Saifullah Yusuf.

“Syaifullah Yusuf adalah Sekjen PBNU hasil Muktamar Lampung. Saat Prabowo-Gibran mengumumkan susunan kabinet, Syaifullah Yusuf adalah Sekjen PBNU,” ujarnya.

Selain itu, Gus Lilur menyebut Juri Ardiantoro.

“Juri Ardiantoro, dia adalah pejabat harian di PBNU, jadi saat dipilih menjadi wamen sesneg posisi-nya pengurus PBNU,” katanya.

Dari hubungan tersebut, Gus Lilur kemudian menyampaikan analisisnya mengenai kemungkinan kepentingan para tokoh tersebut mempertahankan posisi penting di lingkungan NU.

“Tiga menteri ini saya rasa membaca bahwa kalau dia tidak lagi menjabat jabatan penting di NU, maka 2029 nanti dia tidak akan duduki jabatan menteri lagi,” ujar Gus Lilur.

Menurutnya, kondisi tersebut kemudian mendorong adanya konsolidasi dan lobi untuk mempertahankan pengaruh di lingkungan NU.

“Karena itu makanya kemudian mereka bertiga ini melakukan konsolidasi, lobi-lobi agar NU yang mereka jadikan komoditas politik bisa diatur-atur lagi untuk mengantar mereka agar menjadi penguasa lagi,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut merupakan analisis dan pandangan Gus Lilur yang disampaikannya dalam podcast. Tidak semua hubungan yang ia uraikan secara otomatis membuktikan adanya konsolidasi politik dengan tujuan sebagaimana yang ia tuduhkan.

Gus Lilur juga mengaitkan persoalan tersebut dengan dinamika Muktamar ke-35 NU di Jombang serta dugaan peredaran uang dalam jumlah besar yang sebelumnya ia ungkap.

Kontributor: Bahry