Gerombolan Budhis Myanmar Lempari Batu ke Seorang Muslim Rohingya Hingga Tewas

6 Juli 2017
Gerombolan Budhis Myanmar Lempari Batu ke Seorang Muslim Rohingya Hingga Tewas

MYANMAR (Jurnalislam.com) – Segerombolan ekstremis Budhis melempari seorang pria Muslim Rohingya sampai tewas dan melukai enam lainnya di negara bagian Rakhine bagian barat negara itu, kata pemerintah Selasa malam, lansir Anadolu Agency Rabu (5/7/2017).

Ketujuh orang tersebut diserang setelah meninggalkan kamp pemindahan mereka di pinggiran ibukota negara bagian Sittwe untuk memberikan sebuah pernyataan dalam kasus pengadilan pidana.

Mereka didampingi dua petugas polisi saat kunjungan pengadilan. Kemudian, mereka mengunjungi sebuah dermaga untuk mendiskusikan pembelian kapal nelayan dan diserang, menurut sebuah pernyataan dari Kantor Penasihat Negara Aung San Suu Kyi.

“Di dermaga kapal, ketegangan meningkat,” laporan Global New Light of Myanmar melaporkan. “Mereka diserang oleh beberapa orang dengan batu bata.”

Tidak jelas apakah petugas polisi hadir saat serangan tersebut terjadi.

Kantor Suu Kyi mengatakan Maung Nu, 55, tewas saat gerombolan sekitar 100 orang Buddha Rakhine melempari kendaraan yang dinaiki orang-orang Rohingya tersebut.

Dua dari enam orang yang terluka dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis intensif, pernyataan tersebut menambahkan, dan empat lainnya luka-luka.

Muslim Rohingya di Rakhine yang tertindas secara efektif ditolak kewarganegaraannya dengan undang-undang kewarganegaraan 1982 yang diundangkan oleh Ne Win, seorang militer yang melakukan kudeta dan yang kepemimpinannya pada 1962-1988 melihat penerapan kebijakan Islamophobia.

Ribuan dari muslim Rohingya berlindung di kamp-kamp pengungsian sejak kekerasan komunal melanda negara bagian Rakhine pada pertengahan 2012.

Negara bagian ini menampung sekitar 1,2 juta orang muslim Rohingya, yang telah lama diberi label “Bengali” – sebuah istilah yang menunjukkan bahwa mereka adalah imigran ilegal dari negara tetangga Bangladesh – dan ditolak kewarganegaraannya padahal mereka telah tinggal disana dari generasi ke generasi.