Responsive image

Didukung Turki dan Iran, Pasukan Irak akan Rebut Wilayah Otonom Kurdistan

Didukung Turki dan Iran, Pasukan Irak akan Rebut Wilayah Otonom Kurdistan

IRAK (Jurnalislam.com) – Irak berencana untuk menguasai perbatasan wilayah otonom Kurdistannya “dalam koordinasi” dengan Iran dan Turki, kata kementerian pertahanan Irak.

Diterbitkan pada hari Jumat (29/9/2017), pernyataan kementerian tersebut tidak memberikan rincian lebih lanjut atau mengindikasikan secara khusus apakah pasukan Irak berencana untuk bergerak menuju pos perbatasan eksternal yang dikendalikan oleh Pemerintah Daerah Kurdistan (the Kurdistan Regional Government-KRG) dari pihak Iran dan Turki.

Langkah untuk merebut pos perbatasan adalah tanggapan terhadap referendum Kurdi pada hari Senin yang menghasilkan pemungutan suara yang mendukung pemisahan diri dari Irak.

Setelah pemungutan suara, Irak, Iran dan Turki menuntut agar KRG menyerahkan kontrol atas penyeberangan perbatasan eksternal dengan Turki, Iran dan Suriah.

Didukung oleh Ankara dan Teheran, pemerintah Irak menuntut agar pimpinan Kurdi membatalkan hasil referendum atau menghadapi kemungkinan sanksi, isolasi internasional dan kemungkinan intervensi militer.

KRG menolak untuk menyerahkan kontrol terhadap penyeberangan perbatasannya, TV Rudaw yang berbasis di Erbil mengatakan pada hari Jumat, mengutip seorang pejabat Kurdi.

Kementerian pertahanan Irak mengatakan, pelaksanaan keputusan pemerintah pusat untuk mengambil alih pengelolaan semua pos perbatasan dan bandara “berjalan sesuai rencana berkoordinasi dengan pemerintah terkait dan negara-negara tetangga, dan tidak ada penundaan dalam prosedur”.

Erdogan Peringatkan Jatuhkan Sanksi pada Rencana Referendum Kurdi Irak

Televisi pemerintah Irak mengatakan sebuah delegasi militer Irak telah mengunjungi perbatasan wilayah Kurdistan dari sisi Iran. Pasukan Irak juga ditempatkan di sisi perbatasan Turki sebagai bagian dari latihan gabungan dengan tentara Turki.

Sebelumnya pada hari Jumat, sebuah larangan yang diberlakukan oleh pemerintah pusat Irak atas penerbangan internasional ke Kurdistan mulai berlaku setelah KRG menolak permintaan untuk menyerahkan kendali bandara internasionalnya di Erbil dan Sulaimaniya.

Larangan tersebut mulai berlaku pada pukul 6:00 (15:00 GMT) di hari Jumat. Perusahaan penerbangan asing menghentikan penerbangan ke wilayah Erbil dan Sulaimaniya, mematuhi sebuah pemberitahuan dari pemerintah di Baghdad, yang mengendalikan ruang udara Irak.

Penerbangan domestik masih diperbolehkan, sehingga pelancong diperkirakan akan melakukan perjalanan ke Kurdistan sebagian besar melalui bandara Baghdad, yang akan mendapat tekanan akibat lalu lintas ekstra.

Bandara Erbil lebih sibuk dari biasanya pada hari Jumat saat penumpang bergegas untuk mengejar penerbangan terakhir.

Hoda Abdel-Hamid dari Al Jazeera, yang melaporkan dari Bandara Internasional Erbil, mengatakan: “Kami melihat banyak orang sepanjang hari yang pergi lebih awal dari jadwal semula karena mereka takut diblokir di sini dan tidak dapat kembali ke rumah mereka, atau karena mereka tidak ingin pergi melalui Baghdad demi mengejar penerbangan internasional.”

Pembatasan dimaksudkan untuk mencegah kunjungan oleh pengusaha dan ekspatriat Kurdi dan mempengaruhi sejumlah industri, termasuk hotel, layanan keuangan, transportasi dan real estat.

Lebih dari 400 perusahaan perjalanan dan pariwisata Kurdi terkena dampak langsung dari larangan terbang dan 7.000 perusahaan lainnya juga berisiko, kata Rudaw TV.

Bagikan
Close X