JENEWA (Jurnalislam.com) – Kubu utama oposisi Moderat Suriah telah tiba di Jenewa untuk menilai niat rezim dalam melaksanakan langkah-langkah kemanusiaan yang bisa menjadi pertimbangan mereka untuk bergabung dengan negosiasi politik, Aljazeera melaporkan Sabtu (30/01/2016).
Sebuah tim Higher Negotiation Committee (HNC) yang kuat beranggota 17 orang termasuk tiga pemimpin oposisi, tiba di Swiss pada hari Sabtu, delegasi mengatakan kepada Al Jazeera.
Editor diplomatik Al Jazeera James Bays, melaporkan dari Jenewa, mengatakan ada sedikit keterlambatan dalam kedatangan mereka, karena beberapa anggota masih harus menunggu visa ke Swiss.
Pada hari Jumat, anggota HNC Farah Atassi mengatakan delegasi itu datang "bukan untuk bernegosiasi" dengan pemerintah, tapi untuk berbicara dengan para pejabat PBB setelah menerima jaminan dari PBB.
Atassi berbicara di sebuah hotel Jenewa tidak jauh dari kantor PBB di mana utusan PBB untuk Suriah Staffan de Mistura dan duta Suriah untuk PBB Bashar Jaafari bertemu.
Juru bicara HNC Monzer Makhous mengatakan bahwa oposisi tidak merubah keputusan sebelumnya bahwa mereka tidak akan melakukan perjalanan ke Swiss jika kondisi tertentu untuk pembicaraan politik tidak dipenuhi.
"Ya, kita akan pergi ke Jenewa untuk hadir tapi kami tidak akan menghadiri pembicaraan sama sekali kecuali rezim memenuhi tuntutan kemanusiaan kita, yaitu mengakhiri pemboman dan kelaparan penduduk sipil di daerah terkepung sebagai syarat," kata Makhous.
"Hari ini kami menerima jaminan bahwa selain transisi politik kekuasaan masalah ini juga akan dibahas. Kami tidak akan menerima apa-apa lagi kecuali kita melihat tuntutan ini dipenuhi di lapangan."
Mistura mengatakan ia yakin akan bertemu HNC pada hari Ahad.
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Gennady Gatilov dikutip oleh kantor berita Interfax Rusia mengatakan bahwa tidak ada pembicaraan langsung yang diharapkan di Jenewa, hanya pembicaraan proxy.
Gatilov mengatakan tidak ada prasyarat bagi pembicaraan Suriah dan bahwa Moskow menyambut baik keputusan koordinator oposisi HNC, Riad Hijab, untuk mengambil bagian dalam pembicaraan di Jenewa.
Pembicaraan ini adalah yang pertama sejak dua putaran perundingan runtuh pada tahun 2014. Konflik Suriah telah menewaskan lebih dari 250.000 orang, jutaan pengungsi ke Eropa.
Pertemuan merupakan bagian dari proses yang diuraikan dalam resolusi PBB bulan lalu yang merencanakan sebuah jadwal berjangka waktu 18-bulan untuk transisi politik, termasuk penyusunan konstitusi baru dan pemilihan.
Deddy | Aljazeera | Jurnalislam