AFGHANISTAN (Jurnalislam.com) – Seorang pembom martir meledakkan mobilnya di dekat konvoi intelijen Afghanistan pada hari Kamis (26/7/2018), menewaskan sedikitnya lima orang dan mencederai enam lainnya, kata polisi, dalam serangan mematikan terakhir.
Jurubicara Komando Keamanan Kabul Hashmat Stanikzai mengatakan serangan itu terjadi di sekitar daerah Bagh Daud di distrik polisi ke-5 di Kabul, lansir Aljazeera.
Sedikitnya lima orang tewas, termasuk empat anggota Direktorat Keamanan Nasional (the National Directorate of Security-NDS), sementara lima personel NDS dan seorang warga sipil terluka.
Penyerang itu “kemungkinan besar” mengendarai kendaraan yang membawa bahan peledak, Stanikzai menambahkan.
Baru Dipuji Jenderal AS Tentang Kemampuan Militer Afghanistan, Taliban Rebut 2 Distrik di Paktika
Taliban mengaku bertanggung jawab atas serangan itu, yang menurut juru bicara polisi Stanikzai terjadi pukul 5:00 pagi (0030 GMT) pada hari Kamis.
Gafoor Azizi, seorang kepala polisi distrik di Kabul barat, mengatakan dua kendaraan terbakar.
Serangan itu terjadi ketika kelompok-kelompok bersenjata berusaha meningkatkan serangan di provinsi-provinsi penting dan kota-kota Afghanistan, termasuk ibu kotanya, Kabul, selama beberapa bulan terakhir.
Serangan itu terjadi dua hari setelah lima roket ditembakkan di daerah pemukiman Kabul, melukai sedikitnya tiga orang. Tidak ada klaim tanggung jawab.
Pada hari Ahad, seorang pembom martir meledakkan dirinya di dekat bandara internasional Kabul, menewaskan sedikitnya 23 orang, termasuk pengendara Agence France Press, Mohammad Akhtar. Sedikitnya 107 orang terluka.
Kepulangan Wakil Presiden Afghanistan ‘Jenderal Dostum’ Disambut Bom, 14 Tewas
Serangan itu diklaim oleh kelompok Islamic State (IS), yang mengatakan telah menargetkan Wakil Presiden Afghanistan Abdul Rashid Dostum, yang kembali ke Kabul setelah lebih dari satu tahun di pengasingan.
Taliban dan kelompok IS walaupun saling meyerang namun mereka telah berulang kali melakukan serangan mematikan pada pasukan Afghanistan di ibukota, mengubahnya menjadi salah satu tempat paling berbahaya di negara itu.
Menurut PBB, perang Afghanistan telah mencatat total 1.692 orang telah tewas pada paruh pertama tahun 2018, dengan 3.430 orang lagi terluka – angka tertinggi sejak catatan mulai disimpan pada tahun 2009.