Berita Terkini

PBNU Pastikan Akan Kritis Terhadap Pemerintahan Jokowi

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Penunjukkan Menteri Agama (Menag) dari kalangan militer masih terus menuai kontroversi.

PBNU menilai kebijakan itu menciderai para masyayikh dan kiai Nahdlatul Ulama (NU).

“Kekecewaan para masyayikh dan kiai NU sangat beralasan. Kementerian Agama dijabat oleh militer tidak lazim saat ini, karena terkesan setengah-setengah,” kata cucu pendiri NU KH Hasyim Asy’ari yang juga Ketua PBNU, Aizzudin Abdurrahman, Senin 28 Oktober 2019.

Padahal, katanya, tanggung jawab keumatan yang diemban kiai dan masyayikh yang tidak ringan.

Apalagi, menurutnya, menilik sejarah perjuangan dan peran NU hingga saat ini sebagai ormas keagamaan yang konsisten terhadap komitmen kebangsaan, NKRI dan Pancasila.

Aizzudin menyampaikan kekecewaannya dan kekecewaan para Kiai dan masyayikh NU di berbagai daerah terkait dengan pemilihan menteri agama dari kalangan militer.

“Menghormati hak prerogratif Presiden satu hal, tapi jika yang dimaksudkan sebagai upaya rekonsiliasi ataupun akomodasi pasca pilpres seharusnya diretas dengan lebih bijak,” sambung Aizzudin yang biasa disapa Gus Aiz

Selain itu, ekonomi keumatan yang digagas oleh Wakil Presiden, KH Ma’ruf Amin juga dapat dipastikan akan mengalami tantangan yang tidak mudah.

Jika perannya dikebiri oleh kepentingan kelompok tertentu dan partai-partai.

Sikap NU

“Dapat dipastikan sikap NU ke depan akan lebih kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah. Tidak bisa sekadar amar makruf tapi juga menekankan nahi mungkar. Jangan su’udzon terhadap NU, tidak sederhana sekedar masalah jabatan, tapi tanggung jawab pemahaman dan pengambilan keputusan terkait keagamaan yang berdampak luas secara sosial kemasyarakatan”, tegas Gus Aiz.

Pernyataan Gus Aiz ini merespons permintaan maaf Presiden Jokowi sejumlah pihak yang tidak terakomodasi di dalam Kabinet Indonesia Maju.

Jokowi menyampaikan, hanya ada 34 kementerian sehingga tidak mungkin membuat semua pihak senang.

“Artinya, pasti yang kecewa lebih banyak dari yang senang dan mungkin juga sebagian dari yang hadir ada yang kecewa. Jadi saya mohon maaf tidak bisa mengakomodasi semuanya,” kata Jokowi saat peresmian pembukaan Musyawarah Besar ke-10 Pemuda Pancasila (PP) di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu, 26 Oktober 2019.

sumber: sindonews

Hijab Bergaya Budaya Lokal Diprediksi Akan Jadi Tren

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Model hijab dengan motif-motif yang kental dengan unsur budaya lokal diprediksi akan menjadi tren tahun depan.

Vice President Elzatta, Tika Mulya mengatakan, saat ini semakin banyak label modest wear lokal yang mengeluarkan koleksi terinspirasi dari unsur-unsur budaya lokal.

“Bisa dari kulturnya, motif yang diangkat,” kata Tika seusai jumpa pers dan bersama Elzatta Hijab di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (28/10).

Sementara itu, dari segi warna, Tika melihat akan muncul banyak warna-warna tanah (earthy) seperti hijau zaitun, cokelat, oranye kecokelatan, dan lainnya.

Hal ini juga senada dengan kampanye-kampanye fesyen berkelanjutan (sustainable fashion) yang digaungkan banyak label.

Ia mengatakan, hijab polos yang mudah dipadu padan juga akan selalu disukai.

Menurutnya, pemakai hijab semakin modern dan hijab polos dianggap sebagai salah satu item yang mendukung tampilan modern tersebut.

“Biasanya saat makin modern, mereka makin simple, praktis, look juga lebih clean. Di situ mereka pakai polos,” ujarnya.

Meski begitu, Tika meyakini masih ada pasar bagi hijab bermotif. Pemilihan hijab kerap diseragamkan dengan busana yang digunakan.

Misalnya, hijab polos untuk melengkapi tampilan dengan busana bermotif ramai, dan sebaliknya.

sumber:kontan.co.id

 

Potret Kabinet, Singkirkan yang Lemah Ambil yang Kuat

Oleh: Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

JURALISLAM.COM – Jokowi sudah umumkan para pembantunya yang duduk di kabinet. “Tidak ada visi menteri, yang ada adalah visi presiden dan wakil presiden,” kata Jokowi saat memberi pembekalan kepada para pembantunya itu.

Ada 34 menteri. 16 (47 %) dari parpol, 18 (53%) dari profesional. Yang dimaksud profesional itu tidak otomatis bahwa mereka itu punya kompetensi di bidangnya sehingga bisa kerja secara profesional. Sebagian kementerian diserahkan kepada orang-orang yang justru diragukan kompetensinya. Siapa diantaranya? Analisis sendiri!

Hal ini tidak hanya berlaku di kabinet Jokowi. Tapi juga sering terjadi di pemerintahan sebelum Jokowi. “Bagi-bagi kue” untuk timses dan bohir tetap menjadi unsur yang tak bisa dihindari. Melihat fakta ini, maka profesional tidak selalu punya arti bahwa mereka dipilih sesuai dengan kompetensi di bidangnya.

Kata profesional lebih tepat diartikan sebagai “menteri non parpol”. Dilihat dari sini maka ada kesalahan istilah yang perlu diluruskan. Karena kata “profesional” tidak merepresentasikan sepenuhnya kompetensi mereka.

Sementara dari parpol ada 16 menteri. Hampir semua partai pengusung mendapat jatah. Lima untuk PDIP. Masing-masing tiga menteri untuk Golkar dan Nasdem. PKB dapat jatah dua menteri. PPP dapat satu menteri.

Ini wajar untuk stabilitas politik. Semua presiden terpilih akan melakukan hal yang sama. Tapi, akan jauh lebih ideal jika utusan dari parpol ini adalah orang-orang profesional. Maksudnya, orang-orang yang direkomendasikan parpol mesti memiliki kompetensi sesuai posisinya. Jadi, presiden sudah seharusnya memberi syarat “integritas dan kapasitas” terhadap orang-orang yang direkomendasi parpol. Sayangnya, faktanya tidak seperti itu.

Selain parpol pengusung, Gerindra dapat jatah dua kursi menteri. Yaitu Menhan untuk Prabowo dan KKP untuk Edhy Prabowo. Hebat dong? Jadi pembantu kok hebat sih mas…mas.. Pembantu tetap pembantu. Takdirnya ada di telunjuk presiden. Kapan saja bisa diresuffle. Apalagi sudah diancam veto oleh Menkopolhukam dan dikawal wakil menteri dari pendukung Jokowi.

Saat ini Prabowo dibutuhkan Jokowi untuk memastikan bahwa Gerindra tak oposisi. Bisa merepotkan. Jika nanti keadaan politik sudah stabil dan Jokowi tak lagi butuh Gerindra, bisa saja dua menteri dari Gerindra ini disingkirkan. Apalagi jika Prabowo neko-neko. Ganti!

Dengan jumlah 34 menteri, tentu Jokowi tak bisa mengakomodir semua pendukung dan mereka yang ikut berkontribusi terhadap pemenangannya di pilpres. Karena itu, Jokowi memprioritaskan mereka yang bisa memberi kekuatan politik untuk lima tahun kedepan. Yang tak dibutuhkan? Goodbye.

Diantara mereka yang tak dianggap memberi kekuatan politik adalah pertama, parpol seperti Hanura, PBB, Perindo, PSI dan PKPI. Meski all out dukung Jokowi, tapi lima partai ini tak punya anggota di parlemen. Karenanya, Jokowi tak merasa perlu untuk melibatkan mereka.

Selain lima partai tersebut, Demokrat dan PAN juga tak dibutuhkan Jokowi. Meski sempat merapat ke istana segera setelah hasil quick count diumumkan, tapi gayung tak tersambut. AHY yang isunya digadang-gadang jadi Menpora, lewat. Demikian juga dengan PAN. Teriakan Bara Hasibuan, kader PAN yang terus berupaya menembus dinding istana, gagal total. Apakah kedua partai ini mau oposisi? Demokrat Sepertinya tidak. Jokowi pasti sudah menghitungnya. Dengan kasus yang rumornya melibatkan anggota keluarga Cikeas, Demokrat sepertinya lebih aman kalau tak oposisi. PAN? Jika harus oposisi, terpaksa. Tentu gaungnya di mata rakyat beda dengan PKS yang dari awal tetap konsisten memilih berada di luar pemerintahan. Faktor Amien Rais yang selalu lantang membuat Jokowi tak nyaman. Toh kalau mau oposisi, PAN tak dianggap akan membahayakan bagi Jokowi.

Kedua, Jokowi juga tak memberi jatah menteri kepada tokoh-tokoh NU, Ansor dan Banser. Zainuttauhid yang dipilih sebagai wamenag lebih mewakili PPP dari pada NU. Menteri agama yang biasanya jadi jatah NU, pun diberikan kepada militer. Kondisi ini membuat sejumlah aktifis dan para kiai NU menyayangkan. Apakah ini bertanda bahwa Jokowi tak lagi butuh NU? Boleh jadi. Karena Jokowi sudah tak butuh dukungan untuk nyapres di 2024.

Ketiga, sejumlah orang yang tak diragukan kinerjanya saat pilpres. TGB, Ngabalin dan Kapitra adalah sebagian sosok yang “luar biasa” pembelaannya terhadap Jokowi. Tinggalkan habitatnya untuk merapat dan memperjuangkan kemenangan Jokowi. Ada juga Wiranto dan Moeldoko, dua mantan panglima yang orasinya berapi-api. Mereka tak diakomodir. Kenapa? Mungkin tak lagi punya kekuatan yang jadi alasan bagi Jokowi untuk membutuhkan mereka.

Dari komposisi Kabinet Indonesia Maju ini kita bisa menilai bahwa Jokowi hanya butuh empat kekuatan politik. Pertama, kekuatan Luhut Binsar Panjaitan (LBP). LBP adalah kekuatan utama Jokowi. Posisinya masih number one. Tetap Menko Maritim, bahkan ditambah kewenangannya mengurusi investasi. Selain itu, Jokowi juga mengakomodir Mahfudz MD sebagai Menkopolhukam dan Fachrur Rozi sebagai Menteri Agama. Dua tokoh ini dikenal sebagai kolega dan orang dekat LBP. Dari sisi ini, nampak Jokowi masih sangat tergantung kepada -dan tak bisa lepas dari- LBP. The real presiden, kata nitizen.

Kedua, PDIP. 128 kursi di parlemen tak bisa diabaikan oleh Jokowi. Meski dalam sejumlah hal, Jokowi seringkali tak nyaman dan sejalan dengan Megawati. Ini bisa dilihat dari Pilgub 2018. Jokowi dan Mega sering berbeda dukungan calon. Kendati terbanyak anggota parlemennya dan punya Jenderal Budi Gunawan di BIN, Megawati tetap tak mampu menggeser posisi dan pengaruh lekuatan LBP yang punya sejarah panjang dalam perjuangan dengan Jokowi.

Ketiga, sejumlah partai pengusung seperti Golkar, Nasdem, PKB dan PPP. Meski tak sekuat LBP dan PDIP, partai-partai ini dibutuhkan untuk mengamankan suara di parlemen. Gerindra? Yang penting tak oposisi. Sepertinya, tak lebih dari itu kebutuhan Jokowi terhadap Prabowo.

Dan keempat adalah institusi kepolisian. Dengan diangakatnya Jenderal Tito Karnavian sebagai menteri Dalam Negeri dan calon Kapolri diserahkan kepada Komjen Idham Aziz, orang dekat Tito, menunjukkan Jokowi membangun formasi kekuatan yang tak banyak berubah dari periode sebelumnya.

Kecuali tradisi kementerian Agama yang digeser dari jatah NU dan Kemendikbud yang hilang dari kader Muhammadiyah. Dua bidang ini yaitu urusan agama dan pendidikan terbuka peluang untuk mengalami perubahan. Ke arah sekularisasi? Banyak pihak yang menilai seperti itu.

Jakarta, 26/10/2019

Muhammadiyah Buka Peluang Bangun Rumah Sakit Nuklir

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Meski memerlukan pengkajian panjang, Muhammadiyah tidak menutup kemungkinan untuk membuka Rumah Sakit Nuklir di masa depan. ‎

“Kami sangat serius untuk mempelajarinya dari Pakistan, selain itu kami juga ingin belajar mengenai perumusan Judicial Law,” kata Ketua Lembaga Hubungan dan Kerjasama Internasional (LHKI) PP Muhammadiyah Muhyidin Djunaidi Menyambut kunjungan Duta Besar Pakistan H.E Abdul Salik, Jumat (25/10).

Bersama mantan Menteri Lingkungan Hidup Pakistan Mr. Akif, H.E Abdul Salik datang ke Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Jakarta, di depan Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas dirinya juga memuji Muhammadiyah sebagai organisasi Islam paling representatif di bidang sosial, kesehatan, pendidikan dan pembangunan Sumber Daya Manusia.

“Bagi kami, peran Muhammadiyah sangat penting. Kami ingin hubungan antara Pakistan-Muhammadiyah lebih dekat dan bersahabat lebih dalam,” kesan Abdul Salik.

Menyinggung tentang pengembangan Rumah Sakit Nuklir, Pakistan membuka lebar kesempatan kepada Muhammadiyah. Mantan Menteri Lingkungan Hidup Pakistan Mr. Akif, berharap Indonesia telah memiliki regulasi yang baik mengenai penggunaan nuklir dalam bidang pengobatan.

Meski terdengar asing, Rumah Sakit yang menggunakan nuklir sebagai pengobatan bukanlah hal baru. RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, RS Gading Pluit Jakarta, MRCC Siloam, RS dr. Soetomo Surabaya  dan RS Murni Teguh Medan tercatat telah menggunakan tenaga nuklir dalam radioterapi penyakit kanker dibawah pengawasan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten).

“Ini adalah bagian mempererat hubungan Pakistan dan Indonesia, terutama dengan organisasi Islam. H.E Abdul Salik mendorong Muhammadiyah melakukan kerjasama di bidang agama dan sumber daya manusia, beliau juga mengapresiasi kinerja Muhammadiyah,” tambah Bendahara Umum PP Muhammadiyah Suyatno.

Sumber: muhammadiyah.or.id

 

Mahfud Klaim Presiden Minta Program Deradikalisasi

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Mahfud MD mengatakan, akan menjalankan program deradikalisasi.

Hal tersebut merupakan pesan Presiden Joko Widodo dalam menghadapi paham radikalisme yang terjadi di Indonesia.

“Itu salah satu pesan presiden, kita diminta melakukan deradikalisasi,” kata Mahfud di Kompleks Kantor Gubernur DIY, Yogyakarta, Senin (28/10/2019).

Ia menegaskan, kelompok radikal bukan berarti orang Islam.

Ia pun mengajak agar pemikiran bahwa orang yang radikal merupakan orang Islam untuk diubah.

“Kelompok radikal itu bisa Islam bisa tidak. Dimana-mana banyak orang radikal. Oleh sebab itu jangan dibelok-belokkan. Karena radikalisme bukan orang Islam juga, jadi jangan dikacaukan,” katanya.

Ia menjelaskan, radikalisme berarti gerakan atau paham yang ingin menawarkan alternatif lain terhadap ideologi dengan cara kekerasan. Untuk itu perlu adanya upaya deradikalisasi.

“Radikal itu lawannya gradual. Gradual itu bertahap,” lanjut Mahfud.

Sumber: republika.co.id

Hari Sumpah Pemuda, Mendikbud Nadiem Soroti Pornografi hingga Pergaulan Bebas

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim memimpin upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda yang bertepatan dengan hari ini, Senin 28 Oktober 2019 di depan Gedung A Kemendikbud, Jakarta.

Dalam pidatonya, Nadiem menegaskan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para tokoh pemuda tahun 1928 yang telah mendeklarasikan Sumpah Pemuda.

Sehingga menjadi pelopor untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia, sekaligus menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dia mengatakan, pesatnya perkembangan teknologi informasi seperti dua mata pisau.

Di satu sisi dia memberikan kecepatan informasi sehingga pemuda Indonesia dapat meningkatkan kapasitas kemampuan dalam pengembangan sumber daya dan daya saing.

Namun di sisi lain, katanya, perkembangan ini memiliki dampak negatif, yakni informasi destruktif mulai dari pornografi, narkoba, hingga pergaulan bebas.

“Pemuda yg memiliki karakter tangguh adalah yang karakter bermoral dan kinerja. Pemuda yang beriman dan bertakwa dan berintegritas tinggi jujur bertanggung jawab disiplin kerja ikhlas. Tuntas. Pemuda harus intelektual dan skill kepemimpinan. Kewirausahaan dan Kepeloporan yang mumpuni. Pemuda haru berperan aktif dalam kancah internasional,” kata Nadiem, Senin (28/10/2019).

Pendiri Gojek ini juga menegaskan saat ini di belahan dunia lahir generasi pemuda yang punya pola pikir yang cenderung cepat serba instan, cenderung individualistik dan dramatik.

sumber:cnbcindonesia.com

Nadiem Makarim: Pemuda Karakter Tangguh Itu Bermoral, Beriman, dan Bertakwa

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim memimpin upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda yang bertepatan dengan hari ini, Senin 28 Oktober 2019 di depan Gedung A Kemendikbud, Jakarta.

Dia mengatakan, pesatnya perkembangan teknologi informasi seperti dua mata pisau.

Di satu sisi dia memberikan kecepatan informasi sehingga pemuda Indonesia dapat meningkatkan kapasitas kemampuan dalam pengembangan sumber daya dan daya saing.Namun di sisi lain, katanya, perkembangan ini memiliki dampak negatif, yakni informasi destruktif mulai dari pornografi, narkoba, hingga pergaulan bebas.

“Pemuda yg memiliki karakter tangguh adalah yang karakter bermoral dan kinerja. Pemuda yang beriman dan bertakwa dan berintegritas tinggi jujur bertanggung jawab disiplin kerja ikhlas. Tuntas. Pemuda harus intelektual dan skill kepemimpinan. Kewirausahaan dan Kepeloporan yang mumpuni. Pemuda haru berperan aktif dalam kancah internasional,” kata Nadiem, Senin (28/10/2019).

Pendiri Gojek ini juga menegaskan saat ini di belahan dunia lahir generasi pemuda yang punya pola pikir yang cenderung cepat serba instan, cenderung individualistik dan dramatik.

“Ilmu pengetahuan dan teknologi serta mudahnya akses pada sosmed telah menjelma jadi tempat favorit berkumpulnya pemuda lintas agama. Interaksi mereka di medsos real time 24 jam dan di sini diharapkan peran pemuda dapat bersaing secara dalam hal positif,”katanya.

sumber:cnbcindonesia.com

Ricuh 22 Mei, Komnas HAM Sebut Polri Lemah dalam Keadilan dan Manajemen Penyelidikan

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Peristiwa kerusuhan 21-22 Mei 2019 lalu masih menyisakan banyak pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia ( Komnas HAM) mengungkap hasil investigasi tim pencari fakta terkait peristiwa kerusuhan pada bulan Mei yang terjadi di sejumlah titik di pusat Jakarta.

Adapun hasil temuan disimpulkan dalam beberapa poin, diantaranya pertama, dalam kerusuhan Mei lalu terdapat 10 warga sipil meninggal dunia. 9 orang korban berasal dari Jakarta, dan satu orang di kota Pontianak.

“Empat korban dari 10 orang yang meninggal adalah anak-anak,” ujar Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara dalam konferensi pers di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Senin (28/10).

Kedua, TPF Komnas HAM RI menerima laporan dari masyarakat, jika pasca peristiwa 21-23 Mei lalu, sebanyak 70 orang diduga hilang, kemudian menyusut menjadi 32 orang.

“Ke 32 korban tersebut ada yang ditangkap dan ditahan oleh Polri. TPF Komnas HAM berpendapat, bahwa munculnya laporan ini dikarenakan lemahnya keadilan dan manajemen penyidikan Polri. Sampai saat ini masih ada korban yang belum memberikan keterangan kepada kami. Salah satu kesulitan kami untuk melakukan pengecekan, karena mereka tidak memberikan data dan alamat yang jelas,” ujar Beka.

Ketiga, terkait peristiwa 21-23 Mei, ada seorang ‘master mind’ yang membuat aksi orasi menjadi jadi aksi rusuh.

”Kami menduga ada pihak yang ingin membuat instabilitas keamanan. Kita semua tahu jika aksi demo telah selesai jam 9 malam. Setelah itu, mulai terjadi kerusuhan,” papar Beka.

Terkait dugaan tersebut, TPF Komnas HAM akan mengirimkan secara resmi temuan fakta-fakta yang ada kepada Presiden dan Kapolri.

Dengan harapan peristiwa serupa tidak terulang kembali, serta untuk kedepannya aksi demonstrasi bisa dilakukan secara damai agar tidak ada yang menunggangi dan memanfaatkan dalam konteks politik.

Ricuh 22 Mei, Komnas HAM: 32 Korban Hilang, 10 Tewas, 4 Diantaranya Anak-anak

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Peristiwa kerusuhan 21-22 Mei 2019 lalu masih menyisakan banyak pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia ( Komnas HAM) mengungkap hasil investigasi tim pencari fakta terkait peristiwa kerusuhan pada bulan Mei yang terjadi di sejumlah titik di pusat Jakarta.

Adapun hasil temuan disimpulkan dalam beberapa poin, diantaranya pertama, dalam kerusuhan Mei lalu terdapat 10 warga sipil meninggal dunia. 9 orang korban berasal dari Jakarta, dan satu orang di kota Pontianak.

“Empat korban dari 10 orang yang meninggal adalah anak-anak,” ujar Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara dalam konferensi pers di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Senin (28/10).

Kedua, TPF Komnas HAM RI menerima laporan dari masyarakat.

Jika pasca peristiwa 21-23 Mei lalu, sebanyak 70 orang diduga hilang, kemudian menyusut menjadi 32 orang.

Kasus RIcuh 22 Mei, Komnas HAM Kirim Rekomendasi Kepada 6 Institusi

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Komnas HAM mengirimkan rekomendasi untuk enam institusi terkait fakta-fakta dari kericuhan pesta demokrasi 21-23 Mei 2019.

“Hari ini kami kirimkan secara resmi temuan rekomendasi fakta-fakta yang ada agar bisa ditindaklanjuti,” kata Wakil Ketua Komnas HAM Beka Ulung Hapsara, di Jakarta, Senin (28/10).

Rekomendasi pertama dikirimkan ke Presiden Joko Widodo, supaya mengupayakan dan mengambil Iangkah-langkah strategis untuk mencegah terulangnya peristiwa serupa dengan Peristiwa 21-23 Mei 2019.
Presiden perlu memastikan institusi Polri menindaklanjuti proses hukum terhadap semua pelaku yang telah mendorong terjadinya kekerasan.

Dalam rekomendasi tersebut juga berisi agar pemerintah membenahi sistem Pemilu dan Pilpres agar menjadi lebih baik dan ramah HAM, terutama mendorong partai-partai Politik untuk Iebih mengutamakan program politik dan mencegah penyebaran kebencian (hate speech).

Rekomendasi kedua dikirimkan ke Kepolisian RI, agar polisi mengungkap pelaku utama yang merancang dan bertanggung jawab atas terjadinya kekerasan dalam peristiwa tersebut.

Kepolisian juga direkomendasikan supaya melanjutkan penyelidikan dan penyidikan atas jatuhnya 10 orang korban jiwa, sampai pelaku penembakan dan penyokong aksi penembakan tersebut terungkap.

“Hal ini untuk mencegah terus berkeliarannya pemegang senjata api gelap di tengah masyarakat. Polisi juga harus memberikan sanksi dan hukuman kepada anggota Polri yang melakukan tindakan dan kekerasan yang berlebihan di Iuar kepatutan,” kata dia.

Polri lanjut dia, juga perlu meningkatkan pengetahuan dan kapasitas anggotanya dalam menangani aksi demonstrasi dan kerusuhan massa sehingga mampu mencegah terjadinya pelanggaran hak asasi manusia.

Kementrian

Kemudian, Komnas HAM merekomendasikan agar Menteri Kesehatan RI untuk menyediakan pelayanan di tiap-tiap rumah sakit guna memastikan pelayanan di situasi politik krisis.

“Rekomendasi keempat, Menteri Komunikasi dan Informasi RI perlu meningkatkan peran sebagai lembaga pengelola dan penyedia informasi yang otoritatif dan kredibel sehingga bisa menjadi acuan oleh masyarakat di saat-saat kritikal serta bisa menangkal sebaran hoaks,” katanya.

Rekomendasi kelima, Komisi Pemilihan Umum sebagai penyelenggara menurut dia, perlu lebih cermat dan responsif dalam penyelenggaraan pemilihan umum supaya aspirasi dan keluhan masyarakat bisa tersalurkan melalui mekanisme demokrasi yang tersedia.

Kemudian rekomendasi terakhir dikirimkan ke Gubernur DKI Jakarta agar memastikan adanya standar operasional prosedur layanan kesehatan dalam situasi tertentu sehingga korban bisa tertangani secara prima.