Berita Terkini

Tujuh Kunci Sukses Sekolah Berkemajuan

SOLO (jurnalislam.com)– Tujuh kunci sukses sekolah berkemajuan. Hal itu disampaikan Sri Sayekti dalam menerima studi tiru Dabin Kasembadan Kangkaesti Kecamatan Karangdowo Klaten Jawa Tengah dengan moderator Wakasek bidang Humas Dwi Jatmiko, Senin (19/5/2025).

Dalam kegiatan yang dilaksanakan secara tatap muka di aula sekolah sehat. Kepala SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta Jawa Tengah ini menyampaikan sekolah tidak akan menjadi unggul apabila guru atau staf yang memilik fixed mindset dalam bekerja.

“Sekolah yang di tolak siswa atau customer. Building Image yang kurang menarik. Maka, ada tujuh kunci sukses sekolah berkemajuan,” ujarnya.

Sayekti mengungkapkan perlu adanya bagaimana memanajemen Sumber Daya Manusia. Manajemen Loyalitas. Manajemen Pelayanan. Manajemen Kurikulum. Manajemen Pengembangan Inovasi dan Teknologi Feature. Manajemen Marketing dan Promotion. Manajemen Doa.

“Recharging mindset karakter dan kulaitas sumberdaya manusia terutama guru dan karyawan. Kesuksesan adalah 95% mindset, 5% strategi. Kesalahannya banyak orang menjadikan 5% mindset, 95% strategi. Proyeksi sekolah berkemajuan bisa diawali dengan mimpi sekolah sukses, PPDB 100%, sekolah budget, dan sekolah sesuai dengan kondisi masing-masing,” jelasnya.

Dia menjelaskan ubah perilaku agar laku. “Jangan-jangan gak laku, karena jeleksnya perilaku. Terlalu kaku, terlalu aku. Semua yang kita kerjakan akan dimintai pertanggungjawaban. Di setiap kesulitan ada kemudahan. Allah tidak akan membebani manusia melebihi kemampuannya,” jelasnya, sambil tersenyum.

Oleh karena itu, sambungnya, kita harus manajemen loyalitas. Tidak akan pernah menggigit lengan orang yang pernah membantunya. Tidak akan melubangi kapalnya sendiri.

“Tidak akan meludahi piring tempat ia makan, sumur tempat dia minum. Loyalitas tanpa batas. Loyalitas sama dengan royalitas yang artinya kesejahteraan,” sambung anggota tim Diksuspala Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah.

Sementara itu, Ketua Dabin Aulia GS menyampaikan, “Kami, segenap rombongan dengan jumlah anggota 45 yang terdiri dari 1 Kordinator wilayah, 11 Kepala Sekolah, 11 Guru Fase A, 11 Guru Fase B, dan 11 Guru Fase C, mengucapkan terima kasih atas sambutannya. Dan semangat untuk mempraktikan pada prinsip Amati, Tiru, Modifikasi (ATM) dari pada hasil studi tiru,” ucap Aulia, penuh semangat.

MDI Banten Gelar Kajian Tazkiyatun Nafs: Meraih Hati yang Bersih, Jalan Menuju Ridho Allah

SERANG (jurnalislam.com)- Suasana penuh kekhusyukan terasa sejak pagi hari di lingkungan Masjid Daarul Ayman Citraland, Ciracas, Serang pada Ahad, (18/5/2025).

Ratusan jamaah dari berbagai kalangan hadir mengikuti kajian bertema “Meraih Hati yang Bersih, Jalan Menuju Ridho Allah” yang merupakan bagian dari rangkaian program Tazkiyatun Nafs.

Kajian ini menghadirkan narasumber utama yakni Ustadz Aden Nova, seorang praktisi ruqyah syar’iyyah yang telah dikenal luas karena kontribusinya dalam menyebarkan ilmu syar’i seputar terapi Qur’ani dan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs).

Dengan gaya penyampaian yang lugas dan menyentuh, Ustadz Aden mengajak jamaah untuk mulai memperhatikan kondisi hati sebagai kunci utama meraih keberkahan hidup.

“Jika hati bersih, maka seluruh anggota tubuh akan mengikuti dalam kebaikan. Tapi jika hati rusak, maka rusaklah semuanya. Inilah pentingnya kita terus membersihkan hati dari penyakit batin,” ungkapnya.

Tema tazkiyatun nafs diangkat karena relevansi yang sangat kuat dengan kondisi umat hari ini, dimana banyak individu merasa kosong secara spiritual meski hidup di tengah kemajuan teknologi. Melalui kajian ini, peserta diajak untuk kembali kepada nilai-nilai keikhlasan, tawadhu, sabar, serta muhasabah diri sebagai bentuk penyucian jiwa.

Selain materi ceramah, peserta juga dibimbing langsung oleh Ustadz Aden dalam sesi praktik ruqyah mandiri, termasuk pembacaan dan penghafalan doa-doa ruqyah syar’iyyah. Sesi ini menjadi daya tarik tersendiri karena memberikan manfaat langsung yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam menjaga diri dan keluarga dari gangguan sihir, jin, dan penyakit nonmedis.

“Kami bersyukur bisa ikut kajian ini. Selain ilmunya bermanfaat, saya juga jadi tahu bagaimana meruqyah diri sendiri dengan cara yang benar menurut syariat,” ujar salah satu peserta, ibu rumah tangga asal Serang.

Acara yang dimulai pukul 08.00 WIB dan berlangsung hingga siang hari ini diselenggarakan oleh Masjid Daarul Ayman bekerja sama dengan komunitas dakwah Imron Rosadi dan Mimbar Dakwah Indonesia (MDI). Kajian ini terbuka untuk umum dan diharapkan menjadi agenda rutin demi meningkatkan kualitas keimanan masyarakat.

Mengakhiri acara, panitia menyampaikan harapannya agar kegiatan seperti ini dapat terus dilanjutkan. Sebagai penutup, disampaikan kutipan hadits Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam.

“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Netanyahu Sesumbar Akan Menang di Gaza, Abaikan Proses Gencatan Senjata

TEL AVIV (jurnalislam.com)– Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menegaskan tekadnya untuk meraih kemenangan atas kelompok pejuang Palestina, Hamas, di Jalur Gaza. Hal ini disampaikannya melalui sebuah pernyataan video yang dirilis pada Senin (19/5/2025), saat pasukan Israel memperluas operasi militernya di tengah stagnasi negosiasi gencatan senjata di Doha, Qatar.

“Ada dua tujuan yang saling terkait untuk operasi ini, yaitu melenyapkan Hamas dan membebaskan para sandera, dan kami akan mencapai keduanya,” ujar Netanyahu, seperti dikutip dari Al Jazeera.

Netanyahu tidak menyinggung soal perkembangan perundingan yang tengah berlangsung, dan justru menekankan rencana militer Israel ke depan. Ia mengatakan bahwa pemerintahnya juga akan membangun penghalang permanen di sepanjang perbatasan timur negara itu.

“Kami akan membangun penghalang di sepanjang Sungai Yordan dari Dataran Tinggi Golan yang diduduki hingga Eilat, untuk mencegah infiltrasi teroris dan sel-selnya,” tambahnya.

Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya tekanan internasional terhadap Israel agar menghentikan serangan brutal di Jalur Gaza, yang telah menewaskan puluhan ribu warga sipil Palestina sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023. Sementara itu, proses negosiasi yang dimediasi Qatar dan Mesir terus mengalami kebuntuan, terutama terkait tuntutan gencatan senjata dan pembebasan sandera. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Hamas Tawarkan Gencatan Senjata 60 Hari, Israel Lanjutkan Serangan Darat di Gaza

DOHA (jurnalislam.com)– Kelompok pejuang Palestina, Hamas, dikabarkan bersedia membebaskan antara tujuh hingga sembilan sandera Israel sebagai imbalan atas gencatan senjata selama 60 hari serta pembebasan 300 tahanan Palestina. Hal ini diungkap oleh seorang pejabat yang enggan disebutkan namanya kepada CNN pada Ahad (18/5/2025).

Menurut sumber tersebut, salah satu syarat pembebasan sandera adalah penarikan pasukan Israel ke jalan Salah al-Din, jalur utama yang membentang dari utara ke selatan Jalur Gaza.

Pernyataan ini muncul bersamaan dengan dilanjutkannya kembali perundingan antara Hamas dan Israel di Doha, ibu kota Qatar. Meski begitu, dari pihak Israel, seorang sumber mengindikasikan bahwa mereka hanya akan melanjutkan perundingan jika Hamas bersedia mengakhiri perang dengan menyerah tanpa syarat.

Sumber itu juga menyebut bahwa delegasi Israel akan berada di Doha dalam waktu terbatas, dan bahwa operasi militer akan kembali ditingkatkan jika tidak ada kemajuan berarti dalam waktu dekat.

Di sisi lain, kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa tim perunding Israel tengah meninjau proposal yang lebih luas, termasuk penghentian total permusuhan, pembebasan seluruh sandera, pencopotan Hamas dari kekuasaan, serta pelucutan senjata Jalur Gaza poin-poin yang selama ini ditolak oleh Hamas.

Sementara proses negosiasi berlangsung, militer Israel justru meluncurkan serangan darat besar-besaran pada Ahad (18/5) di bagian utara dan selatan Gaza. Operasi ini diberi nama “Operasi Kereta Perang Gideon”.

Dalam pernyataannya, militer Israel menyebut bahwa serangan ini melibatkan pasukan reguler dan cadangan. Sebagai persiapan, serangan udara telah dilakukan selama sepekan terakhir dengan menargetkan lebih dari 670 lokasi yang disebut sebagai milik Hamas, termasuk jaringan terowongan, gudang senjata, dan titik peluncuran senjata anti-tank.

Seiring meningkatnya intensitas serangan, krisis kemanusiaan di Gaza terus memburuk. Data dari otoritas kesehatan Gaza mencatat setidaknya 3.193 orang tewas dan 8.993 lainnya terluka sejak serangan kembali meningkat pada Maret 2025. Sejak dimulainya perang pada 7 Oktober 2023, jumlah korban jiwa di Gaza telah mencapai 53.339 orang, dengan 121.034 orang mengalami luka-luka. (Bahry)

Sumber: Shafaq

Gaza Darurat Kemanusiaan, 68 Pusat Distribusi Bantuan Hancur Jadi Sasaran Militer Israel

GAZA (jurnalislam.com)– Kantor Media Pemerintah Gaza melaporkan bahwa sejak dimulainya agresi militer Israel pada Oktober 2023, sedikitnya 68 pusat distribusi bantuan telah menjadi sasaran serangan tentara Israel.

Laporan yang dirilis Sabtu (17/5/2025) menyebutkan bahwa dari total serangan tersebut, 39 menargetkan pusat distribusi makanan dan bantuan, sementara 29 lainnya adalah bank makanan yang menyediakan kebutuhan pokok harian bagi warga Gaza.

Serangan terbaru terjadi di sebuah gudang bantuan makanan di Deir al-Balah, Gaza tengah. Serangan itu menyebabkan sedikitnya lima orang tewas dan sejumlah lainnya luka-luka. Tidak disebutkan secara spesifik waktu serangan tersebut.

Insiden tragis lainnya di wilayah yang sama terjadi pada Maret tahun lalu, dalam peristiwa yang kemudian dikenal sebagai “Pembantaian Tepung.” Saat itu, pasukan Israel menembaki ratusan warga Palestina yang sedang mengantri bantuan makanan, menyebabkan 112 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka.

Dalam pernyataan resminya, Kantor Media Pemerintah Gaza menuduh Israel melakukan “kejahatan sistematis” dengan menargetkan fasilitas bantuan dan kegiatan solidaritas sosial, serta menyebut penggunaan makanan sebagai senjata perang sebagai pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional.

“Serangan terhadap pusat-pusat bantuan dan rumah perawatan telah mengakibatkan kematian ratusan warga sipil yang tengah berusaha memperoleh bantuan. Ini mencerminkan skala bencana kemanusiaan yang dialami rakyat Gaza,” tegas pernyataan tersebut.

Israel diketahui telah memberlakukan pengepungan total terhadap Gaza sejak 2 Maret, menghentikan masuknya seluruh bantuan kemanusiaan hingga kembali melanjutkan serangan brutal pada 18 Maret, yang mengakhiri gencatan senjata selama dua bulan.

Blokade yang terus berlangsung itu memperburuk kondisi kemanusiaan yang telah memburuk sejak awal perang, dengan puluhan warga termasuk anak-anak dilaporkan meninggal akibat kelaparan.

Pemerintah Gaza menyerukan kepada masyarakat internasional, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Dewan Keamanan PBB, serta lembaga-lembaga kemanusiaan untuk segera mengambil langkah konkret menghentikan “pembantaian brutal,” menjamin keselamatan pusat-pusat distribusi bantuan, serta membuka jalur kemanusiaan tanpa hambatan.

Sejak 7 Oktober 2023, lebih dari 53.000 warga Gaza dilaporkan tewas, sebagian besar merupakan warga sipil. Ribuan lainnya masih hilang dan diyakini terkubur di bawah reruntuhan bangunan. Sebagian besar wilayah Gaza kini telah hancur, dan hampir seluruh dari 2,3 juta penduduknya terpaksa mengungsi. (Bahry)

Sumber: TNA

Balita Gaza di Antara Pisau Bedah dan Dentuman Bom

GAZA (jurnalislam.com)- Di tengah gemuruh perang yang tak kunjung padam, harapan seakan menjadi barang langka di Gaza. Namun, bagi Haitham Abu Daqa dan keluarganya, harapan itu sempat tumbuh meski hanya sekejap ketika putri mereka yang baru berusia lima bulan, Nevine, berhasil menjalani operasi jantung terbuka di Yordania.

Dengan tubuh mungil yang masih rapuh, Nevine menjadi bagian dari sekelompok anak Palestina yang dievakuasi untuk mendapatkan perawatan medis. Ibunya menyertainya, menyingkir sementara dari reruntuhan dan debu perang demi sebuah kesempatan hidup yang lebih baik bagi anaknya.

Namun, usai operasi yang berjalan sukses, secercah cahaya itu seakan dipadamkan. Ketika sang ibu memohon kepada otoritas Yordania agar diizinkan tinggal demi pemulihan sang buah hati, jawabannya tegas: mereka harus pulang.

“Bagaimana saya bisa merawat gadis itu sementara saya tinggal di tenda, dan pada saat yang sama, pengeboman tidak berhenti,” isak Daqa.

“Beraninya mereka mengirimnya kembali? Jika ada perawatan di Gaza untuk kasusnya, mengapa mereka membawanya sejak awal?”

Nevine hanyalah satu dari 17 anak Palestina yang dipulangkan setelah menerima pengobatan di Amman. Sebuah keputusan yang mengundang keprihatinan dari kelompok hak asasi manusia, karena memulangkan anak-anak ke wilayah perang disebut melanggar hukum internasional. Di tempat di mana rumah sakit menjadi sasaran, dan fasilitas kesehatan hampir lumpuh, bagaimana mungkin seorang anak bisa pulih?

Negeri-negeri Arab pun gamang. Yordania yang telah lama menampung jutaan pengungsi Palestina menolak memberikan suaka permanen. Alasan mereka bukan tanpa dasar: keseimbangan demografi yang rawan, perekonomian yang goyah, dan ketakutan akan hilangnya hak kembali para pengungsi ke tanah air mereka.

Namun, bagi keluarga Daqa, kepulangan itu bukanlah jalan kembali menuju rumah. Itu adalah perjalanan ke medan luka yang belum sembuh. Pada hari ketika istri dan putrinya menyeberang kembali ke Gaza, rumah sakit tempat mereka akan bernaung justru luluh lantak dihantam bom.

Menurut Dr. Reyad Al-Sharqawi, Nevine telah dalam kondisi sangat baik saat dipulangkan. Ia dan tiga anak lainnya kembali dengan biaya hidup yang ditanggung rumah sakit hingga kepergian mereka. Tapi bahkan perawatan terbaik pun tak bisa bertahan menghadapi deru pesawat tempur dan kelangkaan obat-obatan.

Inisiatif pengobatan ini diluncurkan oleh Raja Abdullah II, sekutu dekat Amerika Serikat. Sebuah janji kemanusiaan di tengah diplomasi yang rumit. Tapi kebijakan tak selalu sejalan dengan nurani. Seorang pejabat Yordania mengakui, “Kami tidak akan membiarkan warga Palestina mengungsi ke luar Gaza,” menegaskan bahwa misi mereka hanya memberikan perawatan, bukan perlindungan permanen.

Bagi kelompok hak asasi manusia, tindakan ini adalah sebuah ironi tragis. “Ada larangan mutlak untuk mengembalikan mereka ke tempat di mana mereka akan mengalami perlakuan yang kejam, merendahkan martabat, atau tidak manusiawi, apalagi yang membahayakan nyawa mereka,” kata Omer Shatz, pengacara hak asasi manusia dari Paris.

Sementara itu, ketakutan akan pengulangan sejarah 1948 saat ratusan ribu warga Palestina terpaksa meninggalkan rumah mereka masih menghantui. Kini, generasi keturunannya hidup tersebar di kamp-kamp pengungsi, jumlah mereka mencapai enam juta jiwa.

Perjalanan pulang dari Yordania ke Gaza bukan sekadar perjalanan geografis. Itu adalah jalan berliku yang melewati pos pemeriksaan bersenjata, tempat tentara menyita ponsel dan uang para pengungsi. Kembali ke tanah yang belum tentu menyambut mereka dengan aman.

Arafat Yousef adalah satu dari sedikit ayah yang tak punya pilihan baik. Putranya yang berusia 12 tahun kehilangan kaki akibat serangan udara. Ia harus menanti delapan bulan di Yordania untuk mendapatkan kaki palsu. Namun, enam anak lainnya menantinya di Gaza.

“Saya ingin anak saya menyelesaikan pengobatannya,” ucap Yousef. “Namun di saat yang sama, saya ingin kembali ke tanah air saya. Saya tidak ingin meninggalkan anak-anak saya sendirian di tengah pengeboman ini.”

Di antara langit yang dipenuhi suara dentuman dan tanah yang tak menjanjikan perlindungan, anak-anak Gaza terus berjuang. Mereka adalah tubuh-tubuh kecil yang dipaksa tumbuh dalam bayang-bayang kehancuran. Tapi dalam tatapan Nevine yang mungil, mungkin masih tersisa harapan harapan bahwa dunia tak akan terus memalingkan wajah. (Bahry)

Sumber: TNA

Hamas Sambut Baik Hasil KTT Liga Arab ke-34 di Baghdad

GAZA (jurnalislam.com) — Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) menyampaikan apresiasi terhadap hasil Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Liga Arab ke-34 yang digelar di Baghdad. Dalam siaran pers resminya pada Sabtu, 17 Mei 2025, Hamas menyambut baik sikap para pemimpin Arab yang menyerukan diakhirinya perang pemusnahan di Jalur Gaza, penghentian agresi secara segera, pembukaan jalur perbatasan, serta masuknya bantuan kemanusiaan.

Hamas juga menghargai kecaman tegas para pemimpin Arab terhadap agresi Israel dan dukungan terhadap hak-hak rakyat Palestina. Termasuk di antaranya adalah penolakan terhadap pemindahan paksa, penekanan pentingnya perjuangan Palestina, hak kembali, kebebasan, penentuan nasib sendiri, serta pembentukan negara Palestina merdeka dengan Yerusalem sebagai ibu kota.

“Penolakan terhadap kebijakan pendudukan seperti Yahudisasi, pembangunan permukiman ilegal, dan penggunaan kelaparan sebagai senjata perang sebagaimana tercantum dalam deklarasi akhir KTT adalah posisi yang kami hargai tinggi,” bunyi pernyataan Hamas.

Gerakan perlawanan itu juga menyerukan agar semua sikap dan komitmen dalam Deklarasi Baghdad diterjemahkan ke dalam langkah konkret. Di antaranya: penghentian segera agresi Israel, pencabutan blokade Gaza, pengaktifan rencana pemulihan Arab-Islam, pendanaan rekonstruksi Gaza, serta perawatan anak yatim dan korban luka.

Hamas turut mendesak implementasi keputusan KTT Arab-Islam di Riyadh (November 2023) yang menuntut dihentikannya pengepungan dan percepatan masuknya bantuan ke wilayah Palestina yang terkepung.

Mengakhiri pernyataannya, Hamas menyatakan kembali dukungannya terhadap seruan untuk mewujudkan persatuan nasional Palestina. Hamas menegaskan perlunya membangun proyek perjuangan komprehensif yang mencerminkan kehendak rakyat Palestina demi mencapai kemerdekaan penuh dan mendirikan negara Palestina berdaulat dengan Yerusalem sebagai ibu kota.

KTT Liga Arab ke-34 Hasilkan Deklarasi Baghdad: Dukung Palestina Merdeka, Hentikan Kejahatan Perang Israel

BAGHDAD (jurnalislam.com)– Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Liga Arab ke-34 dan KTT Pembangunan Ekonomi dan Sosial ke-5 resmi ditutup di Baghdad pada Sabtu (17/5/2025), menghasilkan Deklarasi Baghdad yang mencerminkan sikap kolektif negara-negara Arab terhadap konflik Gaza, Suriah, Lebanon, hingga isu keamanan dan pembangunan kawasan.

Diselenggarakan oleh Presiden Irak Abdul Latif Rashid dan Perdana Menteri Mohammed Shia al-Sudani, forum ini dihadiri oleh para kepala negara, menteri luar negeri, serta utusan senior dari seluruh dunia Arab.

Solidaritas Penuh untuk Palestina

Deklarasi Baghdad dibuka dengan seruan gencatan senjata segera di Gaza dan desakan pengiriman pasukan penjaga perdamaian PBB ke seluruh wilayah Palestina. Para pemimpin Arab menuding Israel melakukan kejahatan perang, termasuk pemindahan paksa, penggunaan kelaparan sebagai senjata, dan pemboman tanpa pandang bulu.

KTT ini juga menegaskan kembali dukungan terhadap negara Palestina merdeka berdasarkan perbatasan 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota. Para pemimpin memuji keputusan Majelis Umum PBB pada Mei 2024 yang mendukung keanggotaan penuh Palestina dan mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengesahkan langkah tersebut.

Negara-negara Arab sepakat membentuk dana gabungan Arab-Islam untuk mendukung rekonstruksi Gaza dan Lebanon, dengan Irak memberikan kontribusi awal. Program “Pemulihan Harapan” dari Yordania bagi korban luka di Gaza juga mendapat apresiasi khusus.

Deklarasi tersebut turut menyuarakan penolakan terhadap segala upaya mengubah status hukum dan sejarah Yerusalem secara sepihak, serta mendukung hak asuh Yordania atas situs Islam dan Kristen di kota suci itu, bersama kepemimpinan Maroko dalam Komite Al-Quds.

Mereka juga menyambut baik gugatan genosida Afrika Selatan terhadap Israel di Mahkamah Internasional dan memuji negara-negara seperti Spanyol, Irlandia, dan Norwegia atas pengakuan resmi terhadap negara Palestina.

Isu Regional: Dari Suriah hingga Libya

Deklarasi Baghdad juga membahas krisis di Suriah, memuji pencabutan sanksi AS terhadap negara itu serta upaya Arab Saudi dalam mendorong rekonsiliasi regional. Para pemimpin mendorong transisi politik inklusif dan dialog nasional yang diusulkan berlangsung di Baghdad di bawah pengawasan Liga Arab.

Serangan Israel di wilayah Suriah dikutuk sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan, dan PBB didesak untuk bertindak. Dukungan penuh juga diberikan bagi kedaulatan Lebanon serta pelaksanaan Resolusi PBB 1701, termasuk penarikan Israel dari wilayah yang disengketakan.

Untuk krisis di Sudan, Yaman, dan Libya, para pemimpin menyerukan penyelesaian damai, reformasi politik, serta pemilu yang kredibel, sambil mendorong penarikan seluruh pasukan asing dan tentara bayaran.

Kerja Sama Keamanan, Ekonomi, dan Isu Global

Deklarasi tersebut menetapkan keamanan air sebagai prioritas regional, menjanjikan dukungan terhadap Irak, Mesir, Sudan, dan Suriah dalam mengelola sumber daya air bersama. Para pemimpin Arab juga menegaskan komitmen mereka terhadap Timur Tengah bebas senjata nuklir dan mendorong semua negara bergabung dalam Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir.

Terorisme dalam berbagai bentuk, termasuk dari ISIS, dikutuk keras. Dukungan diberikan pada pendirian Pusat Nasional Penanggulangan Terorisme dan Ekstremisme Kekerasan di Irak serta usulan Saudi mengenai pembentukan Dewan Keamanan Siber Regional. Isu kejahatan terorganisir, narkoba, dan ancaman siber juga menjadi sorotan.

Kampanye melawan ujaran kebencian, sektarianisme, dan ekstremisme menjadi bagian dari komitmen Arab untuk mempromosikan toleransi, dialog antaragama, dan kohesi sosial.

Diplomasi, Perubahan Iklim, dan Visi Masa Depan

Para pemimpin menegaskan komitmen terhadap pendekatan diplomatik dalam isu global, menyambut negosiasi nuklir baru antara AS dan Iran, serta menghargai peran Oman sebagai mediator.

KTT juga memberikan penghormatan kepada mendiang Paus Fransiskus atas upayanya dalam membangun perdamaian, dan menyambut penggantinya, Kardinal Robert Francis Prevost.

Sebagai penutup, Deklarasi Baghdad menegaskan tekad bersama negara-negara Arab untuk mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB (SDGs), inisiatif iklim regional, keamanan pangan dan air, serta penggunaan energi nuklir secara damai—sebagai bagian dari visi Arab yang bersatu menuju stabilitas dan ketahanan jangka panjang. (Bahry)

Sumber: Shafaq

KTT Liga Arab ke-34, Presiden Palestina Abbas: Hamas Harus Serahkan Gaza

BAGHDAD (jurnalislam.com)– Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyampaikan peringatan keras mengenai masa depan perjuangan bangsa Palestina yang kini menghadapi “ancaman eksistensial.” Hal ini disampaikannya dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Liga Arab ke-34 yang digelar di Baghdad pada Sabtu (17/5/2025).

Dalam pidatonya, Abbas menuduh Israel menjalankan strategi “pembunuhan dan pemindahan paksa” yang secara sistematis menghancurkan harapan atas solusi dua negara. Ia menekankan pentingnya penyatuan otoritas dan kekuatan keamanan di bawah Otoritas Palestina.

“Harus ada satu otoritas yang sah dan satu aparat keamanan. Saya menyerukan kepada Hamas dan seluruh faksi untuk menyerahkan senjata kepada Otoritas Palestina,” ujarnya.

Abbas juga mengusulkan penyelenggaraan konferensi internasional di Kairo guna membiayai rekonstruksi Jalur Gaza yang hancur akibat agresi Israel, serta menyerukan dukungan negara-negara Arab untuk program reformasi dan pembangunan di Tepi Barat dan Yerusalem.

Ia mendesak penghentian tindakan sepihak Israel, termasuk perluasan permukiman dan pemindahan paksa warga Palestina, serta menyerukan peluncuran proses politik yang terikat waktu untuk mewujudkan solusi dua negara.

Dalam pernyataan penting lainnya, Abbas mengumumkan kesiapan untuk menyelenggarakan pemilihan legislatif pada tahun 2025, sebagai bentuk komitmen terhadap legitimasi demokrasi.

“Setiap kelompok yang ingin bergabung dengan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) harus mengakuinya sebagai satu-satunya perwakilan sah rakyat Palestina,” tegasnya.

Sumber: Shafaq

PM Lebanon Desak Dunia Tekan Israel dan Tolak Penghancuran di Gaza

BAGHDAD (jurnalislam.com)– Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, menyerukan tekanan internasional terhadap Israel agar menarik diri dari seluruh wilayah Lebanon yang masih diduduki. Seruan itu disampaikannya dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Liga Arab ke-34 yang digelar di Baghdad pada Sabtu (17/5/2025).

Dalam pidatonya, Salam juga mengutuk keras operasi militer Israel yang sedang berlangsung di Jalur Gaza. Ia menegaskan bahwa Lebanon berkomitmen penuh terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 dan perjanjian gencatan senjata tahun 2006.

“Keputusan terkait perang dan damai sepenuhnya berada di tangan pemerintah Lebanon yang sah,” ujar Salam, menegaskan kedaulatan nasional di tengah meningkatnya ketegangan di perbatasan selatan.

Pernyataan itu muncul setelah serangan pesawat tak berawak Israel dilaporkan menewaskan seorang warga sipil di Lebanon selatan, menurut data dari Kementerian Kesehatan Lebanon.

Terkait isu Palestina, Salam kembali menolak segala bentuk pemindahan paksa warga Palestina, serta menyatakan dukungan terhadap Prakarsa Perdamaian Arab 2002 sebagai solusi komprehensif. Ia juga menekankan pentingnya penentuan nasib sendiri bagi rakyat Palestina dan menyerukan pembaruan upaya diplomatik internasional.

“Israel terus melakukan pelanggaran dan penghancuran sistematis di Gaza. Ketika tidak ada akuntabilitas internasional, kekerasan akan terus berlanjut,” tegas Salam.

Di akhir pernyataannya, Perdana Menteri Lebanon juga menyatakan kesiapan pemerintahnya untuk bekerja sama dengan Suriah dalam memfasilitasi pemulangan sukarela para pengungsi.

Sumber: Shafaq