Berita Terkini

Mendagri Sampaikan Dua Skenario Jika Covid-19 Berlanjut hingga 2021

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian memaparkan dua opsi skenario khusus dalam menangani Covid-19, jika pandemi tersebut terus berlanjut sampai 2021.

Hal itu ia sampaikan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) secara virtual, Kamis (30/4).

“Karena harus melakukan perencanaan di tengah ketidakpastian, sekali lagi meskipun kita berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar krisis ini bisa berakhir di tahun ini juga, namun kita harus juga siapkan juga dua skenario jika ini berlanjut,” ujar Tito dalam keterangan tertulisnya.

Opsi pertama, jika wabah ini masih berlanjut maka fokus tetap pada penanganan Covid-19.

Mulai dari mencegah penyebarannya, memperkuat sistem kekebalan tubuh warga, memperkuat kapasitas dan sistem kesehatan, ketahanan pangan, pengembangan industri alat kesehatan, dan juga mendukung jaring pengaman sosial.

Jaring pengaman sosial dilakukan melalui bantuan-bantuan sosial kepada warga yang sulit. Selain itu, lanjut Tito, pemerintah menjaga agar dunia usaha tetap bisa hidup agar ekonomi tetap berjalan meskipun lamban dibandingkan sebelumnya.

Opsi kedua, apabila Covid-19 ini masih tetap berlangsung sampai tahun 2021. Maka yang harus diprioritaskan adalah program-program yang mendesak bagi skala nasional.

Strategis sifatnya dan kemudian program yang mendesak untuk tingkat kewilayahan atau daerah itu sendiri yang tidak bisa ditunda. Sedangkan, bila pandemi Covid-19 ini berakhir tahun ini, maka 2021 pemerintah harus fokus pada pemulihan ekonomi.

“Tahun 2020 selesai krisis ini maka di tahun 2021 kita harus fokus pada pemulihan, terutama pemulihan ekonomi, pemulihan sektor-sektor yang dapat memajukan kesejahteraan rakyat,” kata Tito.

Ia menuturkan, ada lima program pembangunan Indonesia lima tahun ke depan yang menjadi patokan bagi pemerintah daerah dalam menyusun Rencana Kerja Pembangunan Daerah. Akan tetapi, rencana itu terkendala karena adanya wabah virus corona.

“Semua itu berubah atau terkendala dengan adanya fenomena dunia yang tidak diprediksi sebelumnya yakni krisis yang dipicu oleh Covid-19,” tutur Tito.

Lima program itu di antaranya pembangunan sumber daya manusia, pembangunan infrastruktur, perbaikan regulasi, penyederhanaan birokrasi untuk mendorong investasi, dan transformasi ekonomi. Tito menambahkan, pemerintah akan tetap melanjutkan program-program tersebut.

Sumber: republika.co.id

 

Pemda Diminta Waspada Pemudik Nakal

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Tindakan sebagian masyarakat yang nekat mudik, bahkan sampai mencoba mengelabui razia petugas, dinilai sebagai tindakan yang egois.

Pemerintah daerah (Pemda) diminta untuk bersiaga jika di daerahnya terjadi penyebaran virus akibat pemudik nakal tersebut.

“Itu nyata-nyata tindakan yang sangat egois, tidak berpikir keselamatan diri sendiri, apalagi mementingkan keselamatan orang yang ditemui selama perjalanan, dan keluarga di desa,” jelas Wakil Ketua Umum PKPI, Keke Parawansa, dalam keterangannya, Jumat (1/5).

Ia menyebutkan, saat ini muncul kecenderungan arus penyebaran Covid-19 mulai bermigrasi dari Jabodetabek ke daerah-daerah lainnya.

Jika hal itu diperparah dengan mudik, maka bukan tidak mungkin akan menyebabkan gelombang penyebaran yang lebih masif dan sulit untuk dikontrol. Pemda pun diminta untuk bersiaga akan hal itu.

“Pemerintah daerah sudah harus siaga, apabila terjadi pandemi di daerahnya akibat pemudik nakal. Mengingat rumah sakit (RS) dan fasilitas kesehatan yang terbatas di daerah, terutama ketersediaan unit ventilator yang dibutuhkan saat penderita dalam tahap kritis,” terangnya.

Menurut Keke, pemerintah telah mendistribusikan hampir 8.500 ventilator ke 2.867 RS seluruh Indonesia, di mana mayoritas RS di Pulau Jawa. Jika dihitung, setiap RS tersebut hanya memperoleh dua sampai tiga unit ventilator. Ia menilai, itu tentu masih di bawah jumlah ideal dari kebutuhan darurat.

Dia mengatakan, kesadaran masyarakat yang besar serta gerakan membantu pemerintah diperlukan untuk menghentikan wabah Covid-19 ini. Menurut dia, oknum yang masih mencoba mudik sebaiknya ditindak tegas. Apabila sudah berada di desa, maka oknum tersebut harus benar-benar dikarantina.

“Kalau ketahuan sudah di desa, harus di karantina, kalau perlu di jauhkan oleh tetangga. Jangan jadi pemudik nekat, kecuali mau cepat-cepat lihat akhirat!” ungkap dia.

Sumber: republika.co.id

Bacalah Al Qur’an, Ia Akan Memudahkanmu Shalat Malam di Bulan Ramadhan

(Jurnalislam.com) – Ulama mengatakan: level ibadah tertinggi adalah tilawah Al-Quran dalam shalat, level kedua tilawah Al-Quran di luar shalat, level ketiga puasa sedangkan level keempat zikir.

 

Bulan ramadhan mengumpulkan seluruh ibadah tersebut dalam satu waktu. Artinya siapa yang mengerjakan shalat malam dia *telah mendapatkan kenikmatan yang sangat-sangat besar* karena mengumpulkan berbagai macam ibadah teragung dalam satu waktu.

 

من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

 

“Barangsiapa yang shalat dalam Ramadhan (dengan niat) iman (ibadah) dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu” (Muttafaq alaih)

 

Para ulama membagi shalat malam di bulan ramadhan menjadi dua; dengan berjamaah yang disebut terawih dan shalat sendirian disebut tahajud.

 

Menurut Imam Asy-Syafii rahimahullah waktu paling afdhal shalat tahajud setelah bangun tidur.

 

Tahajud merupakan ibadah shalat malam yang paling agung *bertingkat-tingkat martabatnya sesuai dengan waktu*. Tingkatan tertinggi tahajud Nabi Dawud:

 

كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ

 

”Beliau biasa tidur di pertengahan malam dan bangun pada sepertiga malam terakhir dan beliau tidur lagi pada seperenam  malam terakhir.”

 

Selain itu ada waktu lain, yaitu *tahajud di akhir sepertiga malam* dan tidak tidur supaya tidak terlewat sahur.

 

Martabat tahajud paling rendah adalah shalat malam *antara waktu maghrib dan isya*. Setelah shalat maghrib dia mengerjakan tahajud.

 

Sebagian ulama memperbolehkan hal ini dengan hujah, setelah maghrib sudah masuk waktu malam. Firman Allah:

 

ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

 

”Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (Al-Baqarah: 187)

 

Maksudnya, sempurnakan puasa sampai malam. Al-Quran menyebut waktu maghrib berbuka sudah masuk waktu malam dan bila telah masuk malam shalatlah termasuk tahajud. Dalil yang lainnya:

 

*كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ*

 

“Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam.” (Az-Zariyat: 17)_

 

Sebagian salaf menafsirkan dengan shalat malam antara maghrib dan isya.

Dari sini bisa dipahami, waktu tahajud sangatlah panjang. Mulai dari bada shalat maghrib hingga azan subuh.

 

*Sebab itu janganlah seseorang tertinggal dari shalat malam meskipun hanya membaca empat puluh ayat, seperti yang dilakukan oleh Imam Syafii.*

 

Beberapa ahlul ilmi saat ditanya tentang orang yang tidak shalat malam menjawab: Dia tidak akan bisa menghafal Al-Quran. *Kebiasaan shalat malam seseorang bisa dinilai dari berapa sering interaksinya dengan Al-Quran.*

 

Jadi, bacalah selalu Al-Quran agar dimudahkan munajat dalam tahajud.

 

(Zen Ibrahim Abu Asad)

 

Update Corona 1 Mei: 10.551 Kasus Positif, 800 Kematian

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Pemerintah mencatat adanya penambahan kasus baru pasien positif virus Corona atau Covid-19 di Indonesia, sebanyak 433 orang, sehingga total pasien terkonfirmasi Covid-19 menjadi 10.551 kasus.

Juru Bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan data tersebut diperoleh hingga siang ini, Jumat (1/5/2020).

Menurutnya, data terbaru itu dihimpun dari seluruh rumah sakit yang merawat pasien Covid-19 di seluruh Indonesia. Penambahan kasus positif Covid-19 itu diperoleh dari hasil pemeriksaaan polymerase chain reaction (PCR).

“Maka, total pasien yang positif kini yang telah terkonfirmasi menjadi 10.551 kasus,” jelas Yuri, sapaan Yurianto, dalam konferensi pers, Jumat (1/5/2020).

Selain itu, ada penambahan kasus meninggal sebanyak 8 orang. Dengan demikian, hingga saat ini sudah ada 800 orang yang meninggal akibat virus SARS-CoV-2 di Indonesia.

Di sisi lain, ada sebanyak 69 pasien yang dinyatakan sembuh. Dengan begitu, total ada 1.591 pasien yang telah sembuh.

“Kasus pasien positif Covid-19 yang sembuh tertinggi ada di DKI Jakarta,” ujarnya.

Yuri menyatakan masih tingginya kasus baru positif Covid-19 menunjukkan bahwa masih ada orang yang terpapar Covid-19 di sekitar masyarakat.

Oleh karena itu, Yuri meminta masyarakat untuk mematuhi imbauan pemerintah yaitu cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, menggunakan masker, menjaga jarak sosial, dan menghindari kerumunan.

Sumber: bisnis.com

 

64 Persen Responden Alamai Depresi Karena Corona

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) melayani swaperiksa masalah psikologis terkait pandemi Covid-19 secara daring melalui situs resmi www.pdskji.org.

Saat ini, 64,3 persen (1.305 responden) dari 1.522 responden yang telah swaperiksa, memiliki masalah psikologis cemas atau depresi.

“Ada 1.522 orang yang sudah melakukan pemeriksaan masalah psikologis ini, dan ternyata didapatkan ada 64,3 persen yang mengalami gangguan cemas dan depresi,” ujar psikiater dari Pengurus Pusat PDSJKI, Dr Lahargo Kembaren dalam konferensi pers virtual di Youtube BNPB, Jakarta, Sabtu (1/5).

Ia menuturkan, mereka mengalami gejala-gejala diantaranya rasa takut, khawatir yang berlebihan, merasa tidak bisa untuk rileks dan nyaman, adanya gangguan tidur, kewaspadaan yang berlebihan, bahkan adanya gangguan stres pascatrauma psikologis.

Sebanyak 80 persen dari hasil periksa, responden mengatakan, mengalami suatu trauma psikologis terkait dengan kondisi ini.

Gejala seperti adalah merasa jauh dan tidak terhubung dengan orang lain, serta merasa terus menerus waspada dan berjaga-jaga.

Lahargo mengatakan, PDSKJI memberikan dukungan psikososial kepada masyarakat di tengan wabah virus corona dengan mengerahkan 1.000 psikiater yang tersebar di seluruh Indonesia.

Para psikiater tersebut siap melakukan pendampingan psikososial secara daring, salah satunya akun Instagram @pdskji_Indonesia. Mereka juga membuka konsultasi secara gratis melalui aplikasi Sehatpedia milik Kementerian Kesehatan.

Dengan demikian, ia mengajak masyarakat memeriksakan kesehatan jiwa apabila timbul kecemasan atau kekhawatiran yang berlebihan saat pandemi Covid-19. Padahal, menjaga kesehatan jiwa juga sama pentingnya dengan kesehatan fisik dalam menghadapi wabah virus corona ini.

“Sehingga kita tetap bisa berkonsultasi dengan baik kepada profesional dan apa yang kita rasakan saat ini. Jangan ragu-ragu berkonsultasi ke profesionalnya apabila dibutuhkan,” kata Lahargo.

Sumber: republika.co.id

Masjid di Australia Buka Layanan ‘Drive-Through’ untuk Buka Puasa

AUSTRALIA(Jurnalsilam.com)–Komunitas Muslim di Gold Coast, Australia mengatakan telah membuka apa yang disebutnya sebagai layanan drive-through pertama di Australia yang menyediakan makanan buka puasa.

Perhimpunan Islam Gold Coast, dengan ketuanya Hussin Goss mengatakan pandemi virus corona telah memaksa mereka untuk berpikir kreatif dalam menggelar kegiatan di bulan Ramadan.

“Kami harus menemukan ide untuk memberi makan orang puasa di tengah bulan suci Ramadan,” katanya.

“Seperti restoran cepat saji McDonalds yang punya layanan ‘drive-through’, kami juga punya ‘drive-through’ bagi orang-orang berbuka puasa.”

Layanan ‘drive-through’ ini dilayani oleh tujuh orang, terdiri dari dua koki yang menyiapkan sekitar 400 makanan, sementara dua orang lainnya yang menyiapkan wadah ‘takeaway’.

Dengan donasi yang terkumpul, mereka membagikan makanan seperti nasi, roti, dan kari dengan daging domba, sapi dan ayam.

Hussin tidak menyangka akan melihat antrean panjang untuk mendapatkan makanan ini, termasuk dari kalangan mahasiswa internasional.

“Banyak mahasiswa internasional, seperti yang kita sudah tahu, mereka tidak punya pekerjaan sehingga tidak ada penghasilan yang masuk.”

Salah satu mahasiswa yang mengakses bantuan ini adalah Junaid Ali, yang merasa sedih karena tidak bisa merayakan Ramadan dengan keluarganya.

“Bulan Ramadan adalah salah satu bulan terbaik dalam setahun. Saya berdoa agar pandemi ini cepat berakhir.”

Menurut Hussin, bulan suci Ramadan menjadi kesempatan untuk berbagi dan menunjukkan rasa belas kasihan.

“Bantuan ini terbuka bagi siapapun di komunitas kami yang membutuhkan.”

sumber: republika.co.id

Kepala Daerah Diminta Amankan Rantai Distribusi Kebutuhan Pokok

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo meminta para menteri ekonomi dan semua kepala daerah untuk peduli sekaligus mengamankan rantai distibusi bahan kebutuhan pokok masyarakat.

Efektivitas koordinasi harus terus diperbaiki dan ditingkatkan. Penerapan pembatasan sosial hingga pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tidak boleh memutus atau merusak rantai distribusi bahan kebutuhan pokok.

“Semua kepala daerah jangan hanya fokus pada penerapan pembatasan sosial atau PSBB saja, tetapi juga peduli dan sensitif terhadap stok kebutuhan pokok masyarakat. Untuk mencegah panic buying, kekurangan stok setiap bahan kebutuhan pokok tidak boleh mencapai skala yang ekstrim,” ujar Bamsoet di Jakarta, Kamis (30/4).

Mantan Ketua DPR RI menuturkan, Presiden Joko Widodo telah menerima laporan tentang defisit bahah kebutuhan pokok di sejumlah daerah atau provinsi. Misalnya, defisit stok beras terjadi di tujuh provinsi.

Stok jagung defisit di 11 provinsi, stok cabai besar defisit di 23 provinsi, stok cabai rawit defisit di 19 provinsi, stok telur ayam defisit di 22 provinsi dan stok gula pasir defisit di 30 provinsi.

“Kekurangan stok bahan kebutuhan pokok di beberapa daerah itu mestinya bisa dihindari. Karena ketersediaannya di dalam negeri dilaporkan lebih dari cukup. Telur ayam melimpah di pasar. Begitu juga gula pasir dan ketersediaan jagung. Bahkan stok beras dilaporkan surplus hingga Juni 2020,” urai Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia ini menilai, jika ada daerah yang mengalami defisit beras, jagung, telur ayam hingga gula pasir, masalahnya tentu pada lalu lintas informasi antar-institusi yang tidak efektif.

Akibatnya, komoditas yang tersedia tidak terdistribusikan ke daerah yang butuh atau daerah defisit.

“Masalah lain yang perlu diwaspadai adalah kemungkinan terganggunya rantai distribusi dari daerah surplus ke daerah defisit akibat penerapan pembatasan sosial. Hal ini harus segera diatasi oleh para menteri dan kepala daerah untuk mencegah kepanikan di masyarakat,” pungkas Bamsoet.

Sumber: republika.co.id

Survei BPS Selama Pandemi: Kebutuhan Kuota Meningkat, Pemasukan Turun

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, pandemi virus corona baru (Covid-19) telah mengubah pola konsumsi rumah tangga di Indonesia, terutama dari ragam kebutuhan masyarakat. Data ini didapatkan melalui Survei Sosial Demografi Dampak Covid-19yang kini sedang dikerjakan BPS.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, kebutuhan untuk alat kesehatan seperti obat, vitamin dan sanitasi, mengalami kenaikan.

Sebanyak 73,28 responden mengaku mengalami perubahan pengeluaran dengan memasukkan alat kesehatan sebagai kebutuhan sehari-hari mereka saat ini.

Kondisi serupa terjadi dengan pulsa yang kini semakin dibutuhkan seiring peningkatan penggunaan internet setelah kebijakan work from home (WFH). Sebanyak 56,55 persen responden mengaku, kebutuhan mereka terhadap pulsa bertambah setelah pandemi.

Di sisi lain, Suhariyanto menambahkan, kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) justru tidak berubah.

Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diindikasikan menyebabkan masyarakat semakin jarang melakukan mobilisasi dengan kendaraan.

Dampaknya, tingkat pengeluaran mereka untuk konsumsi BBM masih sama, atau bahkan cenderung turun.

“Bisa dilihat, Covid-19 tidak hanya mengubah perilaku masyarakat, tapi juga mempengaruhi pola konsumsi rumah tangga,” tutur Suhariyanto dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR secara virtual, kemarin.

Survei ini bertujuan melihat persepsi dan pemahaman masyarakat mengenai Covid-19 serta dampak yang dirasakan masyarakat. Suhariyanto mengatakan, BPS berupaya menangkap poin tersebut, sehingga pemerintah mampu mengantisipasi dan berusaha memahami apa yang dilakukan masyarakat dalam menghadapi pandemi.

Melalui data ini, Suhariyanto mengatakan, pemerintah dapat membuat kebijakan untuk mengakomodir barang-barang yang kini menjadi kebutuhan masyarakat.

Sebab, ketika permintaan meningkat, sedangkan ketersediaan terbatas, tentu akan mengganggu kehidupan sosial dan ekonomi.

Dari survei yang sama, BPS juga menemukan, sebanyak 56 responden menyatakan adanya peningkatan pengeluaran.

Sedangkan, hanya 0,96 persen responden yang mengalami kenaikan pemasukan. Lebih dari 50 persen di antara mereka justru mengalami penurunan pemasukan.

Dengan berbagai kondisi ini, Suhariyanto mengatakan, pemerintah harus terus melakukan refocusing dan realokasi APBN sebagai respons mengatasi dampak pandemi.

“Sebab, gimanapun, kita harus utamakan keselamatan dan kesehatan, meski juga perlu memikirkan perekonomian,” ucapnya.

Sumber: republika.co.id

 

Global Zakat – ACT: Zakat Fitrah Atasi Krisis Pangan Saat Pandemi

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Salah satu syariat yang dijalankan di bulan Ramadan adalah menunaikan zakat fitrah.

Pada Ramadan ini, peran zakat fitrah kian penting untuk menopang kebutuhan pangan umat. Hal ini mengingat besarnya dampak sosial ekonomi bagi masyarakat prasejahtera akibat pandemi Covid-19.

MUI pun mengeluarkan fatwa yang membolehkan menunaikan zakat fitrah di awal waktu sebagai bagian dari penanggulangan wabah Covid-19 di bidang sosial ekonomi.

Global Zakat-ACT turut mengajak muslim untuk berzakat di awal Ramadan ini. Ajakan ini disampaikan dalam peluncuran program zakat bertema “Zakat Fitrah Kita, Solusi Pangan Umat” untuk memenuhi ketahanan pangan, Kamis (30/4).

Ahyudin selaku Presiden Global Islamic Philanthropy sekaligus Ketua Dewan Pembina ACT menyampaikan, saat ini Indonesia sedang menghadapi realitas atas kondisi di mana banyak orang yang kelaparan dan makin banyaknya masyarakat yang tidak lagi punya pendapatan. Bersama Global Zakat – ACT, zakat masyarakat yang disalurkan secara tunai ini akan dikonversikan jadi beras berkualitas terbaik.

Di awal Ramadan, Global Zakat-ACT sudah dapat memenuhi 100 ton beras. Artinya, jika semua warga muslim dapat menunaikan zakat fitrah dengan lebih awal, maka akan semakin banyak mustahik yang terpenuhi kebutuhan pangannya.

“Ramadan harus kita yakini sebagai solusi untuk dampak besar dari musibah ini. Tidak hanya untuk kaum muslimin, tetapi juga untuk kemanusiaan secara umum. Kita harus menjadikan ibadah-ibadah di bulan Ramadan ini bukan hanya sebuah ritual. Namun, Ramadan sebagai sebuah solusi untuk kebutuhan sosial, karena dalam Ramadan ini kita bisa melakukan zakat mal, zakat fitrah dan sedekah lainnya yang menjadi ibadah sosial di bulan suci ini. Kita harus bisa mengelaborasi ibadah ini menjadi gerakan kedermawanan untuk sosial,” tambah Ahyudin.

Kebutuhan yang paling mendasar di tengah pandemi saat ini adalah pangan. Hal ini mengingat banyak orang yang kehilangan pekerjaan sehingga jumlah masyarakat miskin bertambah secara signifikan.

Presiden ACT Ibnu Khajar menyatakan bahwa zakat fitrah menjadi instrumen filantropi yang bisa mengatasi problematika umat. Selain menyucikan harta, zakat fitrah juga menjadi jembatan silaturahmi dengan saudara yang membutuhkan.

Ibnu Khajar juga menambahkan, muzaki yang memiliki kemampuan finansial dapat membayarkan zakat bagi mereka yang kurang mampu menunaikannya.

“Bila kita membayarkan zakat fitrah tidak hanya untuk diri sendiri dan keluarga, maka insyaallah, keberkahan akan semakin besar mengalir ke mana saja. Insyaallah, kita akan menemukan fitrahnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri telah mengajarkan kita sebagai manusia yang paling dermawan. Ramadan adalah surganya para dermawan. Semoga kedermawanan kita di bulan Ramadan secepat angin yang berhembus,” ujarnya.

Dengan tema “Zakat Fitrah Kita, Solusi Pangan Umat”, program ini menjadi medium dalam menyempurnakan ibadah masyarakat muslim di bulan Ramadan.

Hal ini karena dengan menunaikan zakat fitrah dan memaksimalkannya di tengah kondisi yang sedang krisis ini, menjadi hal utama.

Keutamaan dua ibadah sekaligus akan terpenuhi yakni hubungan kepada Tuhan semesta alam dan sesama manusia yang membutuhkan.

Ketika Astronot Menjalani Bulan Ramadhan di Luar Angkasa

RIYADH(Jurnalislam.com) –– Buku Seven Days in Space atau Tujuh Hari di Ruang Angkasa membuka jendela tentang pengalaman lima astronaut dan pesawat Discovery pada 1985. Di dalamnya dituliskan pengalaman dan penemuan dalam perjalanan yang membuat sang penulis mengatakan dirinya menjadi seorang pemimpin yang manusiawi.

Pangeran Arab Saudi Sultan bin Salman merupakan sosok penulis sekaligus ketua Dewan Direktur Komisi Antariksa negara. Ia mengaku ingat perjalanannya ke ruang angkasa 35 tahun lalu itu bertepatan dengan Ramadhan. Hal itulah, yang membuatnya semakin meningkatkan kedekatan dengan Tuhan yang Mahakuasa.

Saat Sultan bersama dengan para astronaut lainnya memulai perjalanan ke luar angkasa, ia merasa sangat bahagia menjadi bagian dari sejarah menjadi umat Muslim pertama yang pergi ke sana. Ada rasa puas yang begitu besar saat ia bisa menjalankan ibadah sholat, puasa, dan membaca Alquran selama berada di atas pesawat.

Untuk pertama kalinya dalam misi luar angkasa, Sultan menuliskan pengalaman dalam bukunya tentang ibadah-ibadah tersebut di luar angkasa. Ia mengenang momen bagaimana tetap menjalankan puasa dan sholat, bahkan menyelesaikan membaca seluruh isi Alquran hingga ia memberitahukan ini kepada sang ayah, Raja Salman.

Sultan merupakan anggota aktif dari misi NASA bernama Space Shuttle Discovery pada 1985. Ramadhan menjadi momen di mana orang-orang di Arab Saudi mengingat sejarah tak terlupakan perjalanan astronaut negara Timur Tengah itu ke luar angkasa.

Selama Ramadhan, umat Muslim berpuasa antara fajar (waktu matahari akan terbit) hingga matahari terbenam. Di bulan suci ini, umat Islam sering mengisi waktu dengan sholat tarawih dan membaca Alquran. Karena itu, banyak yang ingin mengetahui bagaimana rasanya berpuasa di misi luar angkasa yang tentu kondisinya berbeda.

Sultan menjawab dalam buku yang ditulisnya, bahwa ia sangat kagum karena memperoleh kekuatan dari Allah SWT untuk melakukan ibadah selama Ramadhan. Sebelum misi dimulai, sang pangeran pernah mendapat saran dari Imam Besar Arab Saudi Sheikh Abdulaziz Bin Baz bahwa selama bertugas di luar angkasa, puasa boleh tidak dilakukan, namun ia harus menggantinya.

Namun, Sultan memilih tetap berpuasa mulai dari hari-hari pelatihan dan persiapan pendahuluan di NASA Johnson Space Center di Houston, Amerika Serikat (AS). Saat itu, pejabat badan antariksa tersebut memberitahu Sultan akan memantau kondisi kesehatannya dan astronaut pengganti Abdul Mohsen Al-Bassam pada pekan pertama pelatihan di bulan Ramadhan.