Berita Terkini

Muslim Inggris Sambut Persiapan Ramadhan di Tengah Pandemi

LONDON(Jurnalislam.com) — Bagi Muslim Inggris, Ramadhan 2021 tampaknya akan menjadi yang kedua diadakan di bawah bayang-bayang pandemi dan lockdown. Tetapi sebuah masjid di Inggris menyatakan, bahwa pandemi tidak akan bisa menyurutkan semangat muslim menyambut bulan Ramadhan

“Virus Corona terus menyebar di kota-kota kami, dan sekali lagi kami harus bersiap untuk menghabiskan Ramadan lagi di dalam rumah kami,” kata Nusaybah Naeem, editor di Pusat Komunitas dan Masjid Green Lane (GLMCC) Birmingham, dilansir dari Arab News, Sabtu (6/2).

Tahun ini, kata Naeem, mereka ingin memastikan umat Islam bisa menjalankan Ramadhan seperti biasanya. Untuk membantu komunitas muslim memanfaatkan Ramadhan sebaik-baiknya meskipun ada tantangan. Salah satu masjid terbesar di Inggris meluncurkan kampanye mempersiapkan bulan suci lebih awal, bersama teman dan keluarga.

“Orang-orang saleh di masa lalu diketahui memulai persiapan Ramadhan enam bulan sebelumnya,” jelas Naeem.

“Untuk mengikuti jejak mereka, kami juga memulai persiapan kami lebih cepat dari biasanya untuk memastikan bahwa kami siap secara rohani untuk bulan Ramadhan.”

Acara berbasis komunitas seperti solat jamaah bersama dan buka puasa setiap hari tidak akan mungkin dilakukan tahun ini. Tetapi, kata Naeem, agama Islam sangat fleksibel.

Pihaknya telah merencanakan lebih dari 20 jenis aktivitas yang nantinya diselenggarakan acara online. Di antara aktivitas itu termasuk kompetisi untuk anak-anak yang akan membantu mereka memasuki semangat Ramadhan. Dia juga mengatakan, mereka sedang dalam pembicaraan dengan dewan tentang kemungkinan menyambut dengan aman sejumlah jamaah ke masjid.

Sumber: republika.co.id

BAZNAS Diminta Buat Terobosan untuk Tingkatkan Muzaki

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Wakil Presiden Ma’ruf Amin meminta Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) mencari cara dan inisiatif baru untuk meningkatkan jumlah umat pembayar zakat atau muzaki.

Dengan potensi populasi umat Islam di Indonesia, seharusnya jumlah pembayar zakat bisa lebih besar dari saat ini yang berkisar empat juta dari 200 juta lebih Muslim.

“Saya meminta Baznas membuat inovasi, terobosan dan inisiatif untuk memperbanyak muzaki. Jumlah muzaki masih terbilang sedikit, sekitar empat juta orang dari total umat Islam yang berjumlah 200 juta orang lebih,” kata Wapres Ma’ruf dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (5/2).

Pendistribusian zakat kepada orang yang berhak tidak mengalami kendala tertentu, menurut Wapres. Namun, pengumpulan zakat itu sendiri masih sangat terbatas di Indonesia.

Dalam menyalurkan zakat, lanjut Wapres, terdapat dua sasaran, yaitu konsumtif dan pemberdayaan. “Terdapat dua sasaran dalam mendistribusikan zakat. Pertama yang sifatnya konsumtif pada orang-orang yang sangat fakir dan kedua adalah pemberdayaan, agar mengubah penerima zakat menjadi pemberi zakat,” tuturnya.

Wapres menilai proses pengambilan dana yang efektif masih menjadi persoalan, sehingga harus segera dicari jalan keluarnya karena itu merupakan bagian dari ekosistem pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.

“Saya meminta kita semua, terutama para jajaran pengurus Baznas, dapat bekerja dengan cepat, tepat, manfaat. Memiliki target menaikkan zakat dengan angka yang signifikan untuk hasil kerja yang lebih produktif,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Baznas Noor Achmad mengatakan terjadi peningkatan pendapatan zakat sebesar 25 hingga 30 persen sejak 2015 hingga 2020. Dia berharap target penerimaan zakat di 2021 bisa mencapai 100 persen.

“Target kami, kalau saat ini Baznas nasional baru mencapai Rp 385 miliar, maka in syaa Allah di 2021 ini sudah mendekati Rp 550 miliar. Kemudian di 2022 bisa di atas Rp 1 triliun,” kata Noor Achmad.

Sumber: republika.co.id

BPJPH – BI Perkuat Ekosistem Halal di Kampus

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama dan Bank Indonesia (BI) mendiskusikan penguatan ekosistem halal di perguruan tinggi. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari sinergi akselerasi implementasi UU Nomor 33 Tahun 2014 Tentang Jaminan Produk Halal (JPH) dalam bentuk pengembangan ekosistem halal di perguruan tinggi yang telah dijalankan sejak 2020 lalu.

Program ini melibatkan 3 perguruan tinggi binaan yaitu Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Padjadjaran, dan Institut Agama Islam Tazkia.

Diskusi diawali dengan laporan progres pengembangan Halal Center dan Kantin Halal oleh tiga kampus binaan tersebut. Kepala BPJPH Sukoso mengapresiasi progres yang ada, dan berharap upaya pengembangan terus dilakukan sehingga ekosistem halal dapat terbangun optimal.

“Ini potensi luar biasa. Dengan adanya Kantin Halal dan Halal Center, maka upaya ini harus menjadi pengembangan ekosistem halal di lingkungan perguruan tinggi,” kata Sukoso melalui video conference, Jum’at (05/02).

Untuk itu, profesor di bidang Bioteknologi itu juga memberikan sejumlah saran. Pertama, kantin halal sebagai kantin akademik selain untuk menyediakan makanan minuman yang halal dan thayyib, juga harus berfungsi sebagai laboratorium lapangan, pusat pelatihan, sekaligus contoh bagi UMK dalam menerapkan standar halal.

“Kantin halal ini merupakan wujud nyata dari memaknai halal. Secara dokumentatif SOP dan instruksi kerjanya harus jelas. Ke depannya kita juga bicara tentang Sistem Manajemen Halal,” tambah Sukoso.

Kedua, visi, misi, tujuan dan program harus terkonsep dengan jelas. “Ini dimaksudkan agar program atau schedule yang dilaksanakan dapat terhubung dengan kampus. Kelengkapan itu juga untuk memudahkan evaluasi.

“Pengelolaannya secara manajerial di dalam perguruan tinggi juga harus jelas pertanggungjawabannya,” lanjut Sukoso.

Ketiga, peran riset dilibatkan dengan optimal. Hal ini mengingat ekosistem halal berkaitan dengan supply chain dan value chain. Data riset dari berbagai sektor di lapangan yang saling berkaitan tentu akan sangat membantu upaya pengembangan ekosistem halal.

“Contoh sederhananya, pelaku UMK yang memproduksi bakso, maka yang paling krusial adalah bahan dagingnya. Pertanyaannya, dagingnya diperoleh dari mana? Disembelih dengan cara bagaimana? RPHnya mana? dan sebagainya,” kata Sukoso.

Dalam konteks itu, lanjutnya, dapat diperoleh data bahwa pemenuhan kebutuhan daging halal di lapangan masih perlu perhatian serius. Ini juga merupakan potensi lapangan kerja yang dapat dipenuhi dengan melibatkan SDM yang lebih luas. Misalnya dengan memberdayakan SDM masjid sebagai Juru Sembelih Halal. “Ini tentu sekaligus dapat menjadi sumber daya kerja yang luar biasa,” imbuh Sukoso.

Sukoso juga mengharapkan agar melalui Kantin Halal dan Halal Center yang dimiliki, perguruan tinggi berperan dalam penguatan penyelia halal dan pendampingan pelaku UMK. “Nantinya pendampingan dalam proses produk halal ini diatur di dalam PP (Peraturan Pemerintah) dari Undang-Undang Cipta Kerja, yang dapat dilakukan oleh Ormas Islam atau Lembaga Keagamaan Islam berbadan hukum, juga organisasi pemerintah termasuk perguruan tinggi,” terang Sukoso.

Terlebih, lanjut Sukoso, pihaknya mendapati di lapangan masih banyak UMK yang belum siap bersertifikasi halal. Sehingga pendampingan tersebut menjadi solusi untuk percepatan sertifikasi halal.

“Di masa pandemi Covid-19 ini, digitalisasi juga merupakan hal yang penting dilakukan agar kegiatan ekonomi dapat tetap berjalan. Namun jangan memaksa UMK untuk melakukan digitalisasi, dan ini kesempatan Halal Center untuk me-wrap up itu semua untuk membantu produk mereka menjadi terdigitalisasi,” tambah Sukoso.

Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) BI, Prijono, mengatakan bahwa BI melalui program Sertifikasi Makanan Halal selama tahun 2020 telah memberikan kontribusi berupa pembangunan kantin halal dan pelatihan penyelia halal di tiga Perguruan Tinggi. “Program ini akan kembali direplikasi pada periode kerja 2021,” kata Prijono.

Dalam rangka upaya itulah, lanjut Priyono, BI terus bekerja sama dengan BPJPH. Kerja sama diakukan dengan ruang lingkup untuk mendukung akselerasi implementasi UU JPH, seperti pelaksanaan sertifikasi produk halal Indonesia, pendampingan proses sertifikasi produk halal, edukasi dan sosialisasi terkait sertifikasi produk halal, pembinaan dan peningkatan kompetensi auditor halal dan penyelia halal atau pihak lain, mendorong pengembangan Lembaga Pemeriksa Halal (LPH), Halal Center, Kantin Halal, dan lainnya.

“Kami mengapresiasi progres pengembangan Kantin Halal di kampus-kampus Bapak Ibu semua. Namun BI tak bisa seumur-umur di sini karena nantinya ketika program ini sudah mandiri dan kuat maka kami akan ke kampus-kampus yang lainnya untuk bergantian disupport,” lanjut Prijono.

“Dan ketika sudah mandiri, tugas Bapak Ibu juga kemudian untuk dapat mendorong yang lainnya di lingkungan Bp Ibu. Ini penting dilakukan agar tujuan kita Bersama tercapai,” pesan Prijono kepada ketiga peserta.

Prijono juga menegaskan, Eksyar (Ekonomi Syariah) adalah salah satu solusi untuk menjawab tantangan yang ada sekarang ini. “Termasuk dalam upaya mewujudkan cita-cita untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat produk halal dunia,” tandasnya.

Hadir dalam diskusi tersebut Rektor IAI Tazkia Murniati Mukhlisin, Direktur Inovasi dan Korporasi Universitas Padjadjaran Diana Sari, Wakil  Dekan I Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran Robi Andoyo, Ketua Halal Center Universitas Jenderal Soedirman Ketua Halal Center dan Koordinator Pusat Penelitian Pangan, Gizi, dan Kesehatan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (Puslit PGK LPP

 

80 Ribu Babinsa Dikerahkan untuk Lacak Penyebaran Covid-19

JAKARTA(Jurnalislam.com) —Pemerintah melibatkan personel TNI-Polri untuk melakukan pelacakan kontak erat Covid-19. Sebanyak 80.400 tenaga yang bersumber Bintara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtibmas) dan Bintara Pembina Desa (Babinsa) didukung unsur lainnya dikerahkan untuk membantu tracing penyebaran Covid-19 di masyarakat.

“Kami menambah 80.400 tenaga pelacak (tracker) yang disebar di seluruh kecamatan. Dan juga menggandeng Babinsa, Babinkamtibmas untuk bersama membantu melakukan tracing dan nanti juga bantu memonitoring isolasi,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dr Siti Nadia Tarmizi di Jakarta, Jumat (5/2).

Selain itu, pemerintah juga melibatkan tokoh masyarakat dan juga pemuka agama untuk mendorong pelacakan kasus kontak erat pasien Covid-19 agar lebih efektif. Nadia menyebut, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menginstruksikan untuk memperkuat pelacakan kontak erat pasien dan juga tes Covid-19.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 tersebut mengatakan, pelacakan kontak erat yang saat ini baru dilakukan lima hingga delapan orang dari pasien positif Covid-19. Nantinya, angka itu ditingkatkan menjadi 15 hingga 20 orang yang dilacak dan dites dalam satu orang yang terkonfirmasi positif Covid-19.

Nadia menuturkan, pemerintah bakal memperkuat puskesmas untuk menggelar hal tes Covid-19 dengan mendistribusikan alat rapid test antigen. “Kalau dulu harus ambil usapan (swab), lalu kirim ke laboratorium untuk PCR, sekarang bisa langsung dengan pemeriksaan antigen (di puskesmas),” ujar Nadia.

Menkes Budi Gunadi mengatakan, penemuan kasus Covid-19 di masyarakat maupun di lapangan harus dilakukan lebih dini untuk menekan angka penularan dan juga menekan tingkat keparahan pasien.

Sumber: republika.co.id

Kemenag Siapkan Beasiswa S3 untuk Dosen Ma’had Aly

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas bahkan menjadikan kemandirian pesantren sebagai salah satu program prioritas dalam kepemimpinannya.

Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama (Kemenag) Waryono Abdul Ghafur mengatakan, ada sejumlah program pemberdayaan pesantren yang akan dilakukan sepanjang 2021. Program-program itu sebagian dilaksanakan Kemenag dan ada yang berbasis penguatan sinergi lintas kementerian dan lembaga negara (K/L).

Waryono mencontohkan, di antara program pemberdayaan tersebut adalah afirmasi terhadap Ma’had Aly atau perguruan tinggi model pesantren.

Pada 2021 ini, Kemenag akan memberikan beasiswa doktoral (S3) bagi dosen Ma’had Aly. Selain itu, telah disiapkan pula bantuan pembangunan dan pengembangan perpustakaan Ma’had Aly.

“Kemenag akan perkuat akreditasi Ma’had Aly sehingga bisa sampai pada level mumtaz atau ‘A’,” ujar Waryono Jakarta, Sabtu (6/2/2021).

Menurutnya, saat ini tercatat ada 60 Ma’had Aly di seluruh Indonesia. Sebanyak 14 di antaranya, sudah terakreditasi Mumtaz. Kemenag juga tengah memproses pendirian 15 Ma’had Aly. Dengan demikian nantinya akan ada 75 Ma’had Aly  yang dimiliki Indonesia.

“Setiap Ma’had Aly memiliki spesifikasi keilmuan masing-masing. Kami sedang membahas rencana seleksi penerimaan mahasantri secara nasional untuk memudahkan akses santri dari seluruh Indonesia,” tutur Waryono.

Waryono mengungkapkan, program afirmasi lainnya adalah penyiapan bantuan infrastruktur senilai Rp400 juta untuk 14 Ma’had Aly. Pemberian bantuan akan dilakukan melalui seleksi terbuka.

 

Innalillahi, Rektor Universitas Paramadina Prof Firmanzah Meninggal Dunia

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Innalillahi wainnailaihi rojiun. Rektor Universitas Paramadina Prof Firmanzah (44 tahun) dilaporkan wafat di Jakarta pada Sabtu (6/2).

Firmanzah merupakan rektor Universitas Paramadina yang menggantikan Anies Rasyid Baswedan pada 2015. Firmanzahmenggantikan Anies yang terpilih sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan pada 2014.

“Beliau wafat pagi tadi. Kabarnya karena vertigo. Beliau orang baik, dan mohon doanya,” kata dosen Universitas Paramadina Khoirul Umam, Sabtu.

Firmanzah yang lulusan University of Lille (2005) merupakan Staf Khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Bidang Ekonomi (2012-2014), dan pernah menjadi dekan termuda Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia periode 2009-2013.

sumber: republika.co.id

Gelorakan Semangat Kemanusiaan, Kalangan Milenial Dirikan Masjid Di Palu

PALU(Jurnalislam.com)–Dua tahun silam, bencana terburuk terjadi di Sulawesi Tengah, empat kota terdampak langsung, Palu, Donggala, Sigi dan Parigi Moutong. Gempa, Tsunami dan Likuifaksi melanda di wilayah Sulawesi Tengah, sehingga menghancurkan berbagai sarana dan prasarana publik, seperti masjid yang tidak hanya sebagai sarana dakwah namun juga pendidikan.

 

Maka itu pemulihan pasca bencana tidak terlepas dari peran serta masyarakat Indonesia dalam aksi kemanusiaan. Hari ini (Jumat, 05/02) menjadi contoh semangat gerakan kemanusiaan dari para milenial dalam membangun kembali Masjid yang sempat rubuh akibat bencana kala itu.

 

Satu tahun waktu dalam pembangunan Masjid Al-Istiqomah, hasil patungan milenial akhirnya berdiri di Palu, Sulawesi Tengah. Hal tersebut ditandai dengan diresmikannya masjid pada Jumat (05/02) oleh Walikota Palu, Hidayat. Peresmian juga dihadiri oleh Direktur Mobilisasi Zakat Infaq Sedekah dan Wakaf (ZISWAF) Dompet Dhuafa, Doni Marlan.  Juga perwakilan milennial sekaligus musisi Indonesia yaitu V1mast dan Roby Geisha yang juga telah aktif mengajak anak muda bergabung dalam gerakan Millenial Bangun Masjid (MBM).

 

“Ini luar biasa ya, Millenial Bangun Masjid. Jadi anak muda tapi sangat peduli dengan masjid. Semoga MBM ini bisa sampai ke seluruh penjuru negeri,” tukas Walikota Palu, Hidayat, dalam sambutannya.

 

Masjid Al-Istiqomah sendiri adalah masjid pertama yang berhasil dibangun dari progam Millenial Bangun Masjid (MBM). Progam yang diinisiasi dalam rangka mengajak anak muda bersama menolak stigma bahwa membangaun rumah ibadah adalah urusan orang tua.

 

“Ini adalah kebanggaan  tersendiri bagi kami mewakili millenial di seluruh Indonesia. Kebetulan masjid ini diberi nama Al-Istiqomah yang berarti konsisten. Harapannya semoga MBM ini tetap konsisten membangun masjid di berbagai penjuru negeri,” ujar Viza sang Vokalis dari V1mast sesaat sebelum prosesi peresmian.

 

Berawal dari gampa Palu pada 2018 lalu, masjid di Pondok Pesantrean Assyakur di. Jl. Lagarutu II, Palu rubuh tak tersisa. Padahal tempat tersebut menjadi lokasi utama warga untuk beribadah dan menimba ilmu agama. Dompet Dhuafa melalui Millenial Bangun Masjid berinisiastif untuk membangun kembali masjid di lokasi tersebut dibantu oleh musisi seperti Vimast dan Roby Geisha, akhirnya hari ini, Masjid Al-Istiqomah resmi berdiri.

 

“Saya sangat berterimakasih kepada Dompet Dhuafa. Masjid selain menjadi pusat ibadah warga sekitar, juga menjadi tempat kegiatan santri menyetor hafalan,” terang Andi Toba, Ketua Pengurus Pesantren Assyukur Palu.

 

Dibangunnya masjid Al-Istiqomah ini diharapkan bisa memberikan pesan positif kepada anak muda lain di Indonesia untuk ikut bergabung dalam progam Millenial Bangun Masjid selanjutnya. Selain peresmian, ada juga penyaluran Al-Quran kepada santri Pesantren Assyukur dan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Donggala dalam acara tersebut

 

Pemanfaatan Teknologi dalam Ujian Praktik untuk Penguatan Karakter

SURAKARTA(Jurnalislam.com)–Ujian Praktik kala pandemi kali ini berbeda. SMP Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta menggelar ujian praktik kelas IX secara virtual pada Senin hingga Jumat (1-5/2/2020). Bukan hanya sekadar ujian praktik untuk mendapatkan nilai, penguatan karakter menjadi target dalam pelaksanaannya.

 

Aryanto selaku humas sekolah menyampaikan bahwa jadwal pelaksanaan ujian praktik kelas IX tahun 2020/2021 berdasarkan kurikulum adalah awal Februari. Meskipun kondisi pandemi dan siswa belajar dari rumah, kami menerapkan ujian praktik ini secara totalitas baik guru maupun siswa.

 

“Terdapat 10 mata pelajaran (mapel) yang diujikan meliputi mapel umum, agama, dan muatan lokal. Setiap mapel memberikan tagihan tugas sesuai kompetensi yang dicapai berupa video yang diupload di media sosial berupa tiktok, youtube, dan instagram. Bahkan ada mapel yang menggunakan aplikasi-aplikasi lain. Target dari ujian praktik bukan hanya siswa mendapatkan nilai, melainkan juga terdapat penguatan karakter seperti kejujuran, kerja keras, percaya diri, ketelitian, tanggung jawab, dan sebagainya,” papar Aryanto di sela-sela mengajar.

 

Aplikasi Strava dan Zoom saat Praktik Lari

Aryanto pun menambahkan hal yang menarik terlihat pada ujian praktik mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK). Terdapat materi ujian kebugaran jasmani berupa lari 1,2 km dan senam irama berupa senam jantung sehat. Untuk mendapatkan nilai ujian praktik tersebut, siswa harus lari dan melakukan gerakan senam sesuai contoh.

“Bagaimana cara menilai aktivitas siswa lari sedangkan mereka beraktivitas di rumah masing-masing. Apakah hanya mengirim foto dan laporan? Tentu tidak untuk kami. Oleh guru olahraga, Ustazah Cahyaningtyas mengarahkan siswa untuk menggunakan aplikasi strava dan zoom dalam pelaksanaannya. Hal itu agar kegiatan bisa dipantau dan bisa melihat tingkat kejujuran dan kerja keras siswa,” jelasnya.

Sementara itu, Ustazah Cahyaningtyas menjelaskan target ujian praktik ini adalah kami ingin memperoleh nilai secara utuh dari keterampilan siswa hingga kejujuran dan kerja keras siswa. Maka dari itu, kami menggunakan aplikasi strava dan zoom dalam pelaksanaan ujian.

“Siswa membuka aplikasi strava dan memfollow akun Ustazah lalu kami mulai kegiatan meliputi pemanasan, lari sejauh 1,2 km, dan pendinginan. Setiap sesi tersebut para siswa mengirimkan foto dan merecord melalui aplikasi. Kami juga ikut mengawasi dan mendampingi siswa lari melalui aplikasi zoom,” jelasnya.

Menurutnya, selama ujian praktik siswa terlihat jujur dan sudah berusaha menenuhi tugas dengan kerja keras. Untuk menilai karakter tersebut, Ustazah Cahyaningtyas memantau melalui aplikasi tersebut karena yang tidak jujur akan terlihat.

“Data dalam aplikasi tersebut cukup akurat. Siswa yang lari maka waktu tempuh akan terpantau. Misal ada siswa yang tidak jujur seperti naik sepeda maka waktu tempuh dan jarak tidak akurat. Saya pernah mencoba record lari, tetapi naik sepeda dalam jarak 2, 5 km maka di strava akan terekam 9 menit. Sebaliknya, saya lari 2 km maka waktu tempuh 26 menit. Nah kejanggalan yang muncul akan kita tabayunkan ke siswa,” jelasnya.

Guru PJOK tersebut menambahkan untuk praktik senam irama, ia mencuplikan dari senam irama jantung sehat seri 4 selama 3 menit. Praktik senam irama menggunakan aplikasi zoom.

“Kami open zoom, play audio, siswa mengikuti gerakan sesuai contoh yang dihafalkan sebelumnya. Disitu terdapat penilaian karakter. Jika anak kerja keras dan sungguh-sungguh, hafal gerakan, gerakan tepat sesuai dengan nada dan tempo maka nilai A. Praktiknya kita bagi ke dalam dua kloter yaitu absen 1-15 untuk kloter pertama dan 16 -30 kloter kedua,” jelasnya.

Praktik berikutnya adalah senam lantai yaitu kayang dan sikap lilin. Ujian ini hasilnya berupa produk. Siswa mengirimkan produk video gerakan kayang dan sikap lilin melalui link drive dan youtube.

“Penguatan karakter berupa kejujuran, antusias, semangat, dan kerja keras ini yang kami cari. Jadi tidak asal mengerjakan tugas saja,” tandasnya.

 

Mahasiswa KKN UIN Walisongo adakan pendampingan TPQ

NGAWI(Jurnalislam.com)–Mahasiswa KKN mandiri inisiatif terprogram dari rumah angkatan ke-11 (KKN MIT DR Ke-11) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang yang tergabung dalam kelompok 1 mengadakan kegiatan pendampingan TPQ secara gratis di Desa Macanan Kecamatan Jogorogo Kabupaten Ngawi pada hari kamis 4 februari 2021.

Pendidikan TPQ merupakan pendidikan yang menanamkan nilai-nilai keagamaan serta mengajarkan untuk mebiasakan diri untuk rajin beribadah kepada Allah SWT. Kegiatan mengajar di TPQ Thoriqul Huda ini dilakukan sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat di daerah masing-masing. Kegiatan ini diikuti oleh anak-anak mulai dari usia empat tahun sampai dengan sepuluh tahun. Kegiatan ini dilaksanakan mulai pukul 15.30 WIB sampai dengan 16.30 WIB.

Kegiatan pendampingan TPQ ini dilaksankan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yaitu dengan tetap memakai masker, mencuci tangan sebelum masuk masjid dan juga menjaga jarak untuk memutus mata rantai penyebara virus covid-19.

Kegiatan pendidikan TPQ ini tidak hanya pendampingan para santri dalam mebaca Al-Qur’an saja, tetapi mahasiswa KKN UIN Walisongo semarang juga mendampingi para santri untuk menghafalkan surat-surat pendek, asmaul husna, bacaan sholat dan doa-doa sehari-hari.

Pendampingan TPQ ini disambung dengan baik oleh para santri dan ustadzah di TPQ Thoriqul Huda. “para santri sangat antusias dan senang dengan ke datang mahasiswa KKN UIN Walisongo semarang, sehingga kegiatan TPQ ini menjadi jauh lebih berwarna dan menyenangkan. Harapan ke depannya semoga para santri TPQ menjadi lebih semangat dalam mengikuti kegiatan TPQ”, ungkap ustadzah munayah.

 

 

Wakaf Uang-BSI, Yes – Syariat Islam, Yes or No?

Oleh: Abu Muas T (Pemerhati Masalah Sosial)

 

Terlihat sangat antusias memasuki tahun 2021 yang berkaitan dengan “uang” sedang menjadi fokus urusan penentu kebijakan negeri ini. Diawali dengan peluncuran Gerakan Nasional Wakaf Uang (GNWU) Senin (25/1/2021) menyusul kemudian merger tiga Bank Syariah BUMN yang efektif 1 Februari 2021 ke satu wadah bernama Bank Syariah Indonesia (BSI)

 

Jika kita cermati ada sebuah perubahan paradigma memasuki tahun 2021 ini. Pada tahun-tahun sebelumnya terasa sangat alergi di negeri ini dengan istilah-istilah yang bernuansa kearab-araban. Hingga puncaknya ada deklarasi Islam Nusantara, konon idenya menciptakan Islam dengan kearifan lokal negeri +62.

 

Padahal, dalam perjalanan dakwahnya mengemban risalah Islam selama tidak kurang dari 23 tahun, belum pernah kita membaca sejarah Rasulullah SAW baik saat di Makkah menamakan Islam Makkah maupun pada saat di Madinah menamakan Islam Madinah.

 

Kembali pada istilah-istilah yang berbau kearab-araban yang selama ini seolah-olah mau didegradasi, apakah istilah wakaf dan syariah bukan berasal dari bahasa Arab? Ada apa di balik perubahan paradigma memasuki tahun 2021 ini, dimana negeri +62 mau kembali mengabdosi istilah-istilah Arab pada hal-hal tertentu saja?

 

Patut diduga perubahan paradigma ini khususnya hanya yang berkaitan dengan “uang”. Sepertinya yang selama ini alergi dengan istilah yang berbau kearab-araban mengatakan, biarlah untuk kali ini istilah tersebut digunakan karena merupakan “lahan basah”, sehingga ada istilah “Wakaf Uang dan Bank Syariah -Yes? Kalau Syariat Islam yang lain, sorry? Padahal Syariat Islam telah mengatur seluruh aspek kehidupan bukan hanya mengurusi soal keuangan saja.

 

Jika telah tahu dan atau mendengar Syariat Islam itu mengatur seluruh aspek kehidupan, kenapa para penentu kebijakan negeri ini tidak melaksanakan aturan-Nya secara keseluruhan, malah hanya pilih-pilih yang dinilai lahan basah?

 

Jika demikian kondisinya, apa bedanya dengan watak Bani Israil atau Yahudi yang menyatakan, “Sami’na wa ‘Ashaina” (Kami mendengar, tapi tidak menaati) (QS. Al Baqarah, 2:93).