Berita Terkini

Pakar Tantang Jokowi Copot Moeldoko: Kecuali Dia Merestui!

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat dalam sebuah versi kongres luar biasa (KLB) di Deli Serdang, Sumatra Utara, Jumat (5/3) lalu.

Menanggapi itu, Direktur Eksekutif Indonesian Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah menyarankan agar Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencopot Moeldoko dari jabatan yang diemban saat ini.

“Secara vulgar nama baik Istana dan Presiden tercederai, akan sangat baik jika Presiden tanpa berjeda segera membebastugaskan Moeldoko dari KSP, kecuali Jokowi ingin dikenang publik merestui langkah Moeldoko lakukan sabotase Demokrat,” kata Dedi Ahad (7/3).

Menurutnya, kisruh Demokrat berbeda dengan peristiwa yang pernah ada di partai politik lain. Kondisi yang terjadi di  Partai Demokrat tidak bisa dianggap konflik internal semata mengingat telah terpilihnya nonkader sebagai ketua umum.

Dia pun memprediksi bahwa hasil KLB Partai Demokrat di Deli Serdang akan mendapatkan legitimasi pemerintah. Dari sisi akses, Moeldoko memungkinkan akan mendapat legitimasi pemerintah, terlebih Menkopolhukam Mahfud MD sudah mengatakan soal syarat kelengkapan dokumen.

“Tetapi, Menko melupakan  hal fundamental, yakni legitimasi KLB abstain persetujuan ketua majelis tinggi partai. Dari sisi ini, semestinya Menko secara tegas mendeklarasi jika KLB Demokrat inkonstitusional, bukan justru membuat narasi seolah hanya soal dokumen pengajuan ke Menkumham,” tuturnya.

Dia pun mengapresiasi langkah Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang melakukan perlawanan. Menurutnya, persoalan ini bukan hanya soal Demokrat. “Tetapi, soal bagaimana negara menjamin keamanan parpol untuk hidup dalam independensinya,” ungkapnya

Sumber: republika.co.id

Komisi X Sayangkan Agama Tak Dilibatkan dalam Peta Jalan Pendidikan Nasional

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menyayangkan belum adanya frasa agama pada draft awal Peta Jalan Pendidikan (PJP) Nasional 2020-2035 yang disusun oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Menurutnya, keseimbangan antara pendidikan keagamaan, moral, karakter, dan pendidikan kebangsaan mutlak diperlukan.

“Sehingga (frasa agama) ini perlu dimasukkan secara terstruktur dan terintegrasi,” kata Hetifah, Senin (8/3).

Politikus Partai Golkar itu mengatakan, Komisi X DPR mendorong Kemendikbud RI untuk membuat skema pendidikan karakter dalam Peta Jalan Pendidikan yang di dalamnya ada nilai agama. Selain itu, Komisi X DPR juga mendorong, Kemendikbud RI untuk menambahkan unsur keluarga dan rumah ibadah dalam komponen pendidikan dalam Peta Jalan Pendidikan.

“Mengingat unsur keluarga dan rumah ibadah merupakan komponen penting sebagai pusat pembentukan akhlak, rohani dan kepribadian yang sangat penting dalam pembentukan karakter anak,” ucapnya.

Hetifah juga mengungkapkan, dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan PGRI beberapa waktu lalu, para guru  mengungkapkan bahwa dalam pra konsep PJP yang dibuat oleh Kemendikbud dinilai belum memuat latar belakang/cara berpikir filosofis, historis, dan yuridis yang telah berkembang lama dan mengakar kuat dalam masyarakat Indonesia.

“Empat persoalan pendidikan yaitu akses, mutu, relevansi dan tata kelola tidak menjadi pijakan PJP. Sehingga, progam dan kegiatan yang disusun dalam PJP sulit dicapai efisiensi dan efektivitasnya,” ujarnya.

Oleh karena itu, Hetifah mengatakan, berdasarkan hasil kajian dan masukan dari para narasumber stakeholder pendidikan bahwa Panja Peta Jalan Pendidikan telah menghasilkan 25 rekomendasi yang berisi beberapa hal-hal substantif yang perlu dilakukan dekonstruksi dalam penyusunan Peta Jalan Pendidikan 2020-2035.

Dia memaparkan, rekomendasi yang disampaikan Panja PJP meliputi enam aspek, yaitu filosofis, yuridis, sosiologis, prosedur kebijakan dan tata kelola pendidikan, anggaran, dan keterlibatan masyarakat.

Sumber: republika.co.id

Saudi Belum Umumkan Haji, Pemerintah Tetap Bersiap

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Kerajaan Arab Saudi  masih belum mengeluarkan pernyataan terkait pelaksanaan ibadah haji 2021. Meski demikian, persiapan pelaksanaan haji tetap dilakukan Pemerintah Indonesia.

Konsul Haji KJRI Jeddah, Endang Jumali, menyebut hingga saat ini masih belum ada negara yang melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan penyedia layanan di Saudi untuk pelaksanaan haji.

“Belum ada. Sampai saat ini komunikasi tetap jalan. Namun belum ada kepastian,” katanya, beberapa hari lalu.

Untuk diketahui, tahun 2020 lalu Indonesia sudah sempat melakukan survei terhadap beberapa penyedia layanan di Saudi. Namun, seiring perkembangan Covid-19 di dunia dan imbauan Saudi untuk menunda penandatanganan kontrak, maka Indonesia belum memberikan keputusan lebih lanjut.

Terkait kewajiban vaksinasi bagi jamaah haji, Endang menyebut masih belum menerima keterangan resmi atas hal tersebut. Saudi sebelumnya mengeluarkan pernyataan akan mempertimbangkan mewajibkan vaksinasi bagi jamaah.

“Kami belum menerima informasi terkait hal tersebut. Kementerian Kesehatan Saudi hari ini baru merilis kalau vaksin tersedia di apotek,” ujarnya.

Perihal dibukanya kembali pintu masuk bagi jamaah umrah dari Indonesia, ia juga menyebut masih belum ada informasi. Ia menegaskan hingga saat ini umrah masih berjalan normal dan dilakukan oleh negara-negara yang tidak masuk daftar

Sumber: republika.co.id

Fotografer Turki Akan Gelar Pameran Kota Islam di Uzbekistan

TURKI(Jurnalislam.com)– Fotografer Turki, Orhan Durgut akan membuka pameran di Uzbekistan. Pameran kedua dari proyek “Kota Islam” akan diadakan di Provinsi Termez.

Dia menjelaskan proyek tersebut muncul setelah pengamatannya di Makkah, Arab Saudi. Muslim yang datang ke Makkah berasal dari berbagai negara dan berkomunikasi serta membantu satu sama lain. Lewat proyek ini, dia bertujuan untuk memperkenalkan dunia Islam.

Usai dari Arab, dia melanjutkan perjalanan ke Aleppo dan Damaskus di Suriah. “Kami telah mengidentifikasi 100 kota dari 40 negara yang memiliki tempat dalam sejarah Islam. Sejauh ini kami telah menyelesaikan pemotretan di 64 kota,” kata Durgut.

Pameran pertama Durgut diadakan di Provinsi Bukhara, Uzbekistan atas undangan dari Pusat Penelitian Imam Bukhari.

“Kami memotret pertemuan kota-kota pada Jumat. Ini adalah salah satu tempat paling umum di kota Islam. Beberapa negara memiliki masjid. Semua orang berkumpul di masjid-masjid ini. Kami memotret gaya hidup Islami di sana. Kami memotret gerakan indah seseorang sehingga mereka dapat menjadi teladan bagi orang lain,” ujar dia.

Durgut dan timnya juga melakukan pemotretan di Baghdad, Najaf, Kufa, dan Karbala di Irak. Selain itu di Mesir, Tunisia, Marko, Mali, dan Somalia pun dia lakukan pemotretan. “Anda tidak dapat memperkenalkan seluruh geografi Islam dengan 64 kota tapi Anda dapat memperkenalkan spektrum yang luas,” tambah dia.

Dilansir Anadolu Agency, Sabtu (6/3), pemotretan ini berperan penting dalam menciptakan memori. Nantinya, dia akan mengadakan pameran lain di Tashkent, ibu kota Uzbekistan. Sementara itu, timnya akan mengadakan dua pameran di Palestina, di Hebron dan Yerusalem yang akan menampilkan 90 foto.

Selain menyelesaikan proyek “Kota Islam,” Durgut mulai membuat proyek “Atlas Alquran.” Durgut akan membuat album yang berisi foto dari tempat-tempat yang disebutkan dalam Alquran, khususnya di negara di Timur Tengah.

“Orang tidak mengerti Alquran hanya dengan membacanya. Mereka harus membaca arti dan interpretasinya. Penting untuk membayangkan hal-hal yang kita baca dan pahami. Kami ingin menjadikan album ini sebagai sumber mimpi itu,” tambah dia.

sumber: republika.co.id

Sri Lanka Larang Cadar dan Impor Buku Agama Islam

KOLOMBO(Jurnalislam.com)—Kementerian Pertahanan Sri Lanka mengeluarkan larangan masuk buku-buku agama Islam, kecuali yang telah disetujui kementerian.

Larangan ini dirilis tak lama setelah keputusan pencabutan peraturan wajib kremasi bagi jenazah Covid-19, yang dikecam secara global.

Sebagai gantinya lahan penguburan pasien Covid-19 hanya diizinkan secara selektif, kebanyakan di pulau kecil di timur negara itu. Hal ini juga memicu protes dari masyarakat Tamil, penduduk asli pulau, dan Muslim. Kebijakan ini juga dipandang sebagai taktik pemerintah untuk menimbulkan ketegangan diantara komunitas mereka.

Saat ini, Sri Lanka juga telah mengusulkan adanya larangan cadar, dipandang sebagai pembatasan kebebasan beragama bagi Muslim. Namun pemerintah menampiknya, justru mengatakan bahwa cadar merupakan ancaman bagi keamanan nasional.

sumber: republika.co.id

 

Kisah Ki Bagus Hadikusumo Menolak Minum Sake Kaisar Jepang

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Selasa, (2/3) Pemerintah memutuskan mencabut aturan mengenai investasi industri minuman keras dalam lampiran Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2021.

Keputusan tersebut diambil setelah Pemerintah mendapat desakan dan penolakan keras dari berbagai pihak termasuk Muhammadiyah. Muhammadiyah pun segera memuji keputusan tepat Pemerintah.

Sikap Muhammadiyah terhadap miras (minuman keras) telah teruji sejak lama. Pada Sidang Tanwir Muhammadiyah tanggal 16-20 Desember 1981 di Yogyakarta misalnya, Muhammadiyah mendukung penuh kebijakan pemerintah yang melarang pembuatan dan penjualan minuman keras.

Merunut ke belakang, sikap itu tercatat secara tegas oleh sikap Ketua Hoofdbestuur (sekarang disebut “Pimpinan Pusat”) Muhammadiyah Ki Bagus Hadikusumo saat menemui Kaisar Tenno Haika di Jepang bersama Soekarno dan Hatta.

 

Ridho Al-Hamdi dalam Paradigma Politik Muhammadiyah mencatat bahwa Ki Bagus Hadikusumo, Soekarno dan Moh. Hatta mendapatkan undangan menghadap Kaisar Jepang pada 10 November 1943.

Rhien Soemohadiwidjojo dalam Bung Karno Sang Singa Podium (2013) menulis bahwa kunjungan tiga delegasi Indonesia ke Jepang tersebut berjalan selama 17 hari. Pertemuan utamanya dilakukan untuk mempercepat proses kemerdekaan Indonesia.

Setelah sampai di Jepang, tiga utusan Indonesia ini diminta mengikuti sembahyang di Kuil upacara termulia bersama Kaisar Jepang. Salah satu rukun upacara sakral itu adalah harus meminum air sake (arak) dalam cangkir.

“Beliau tidak mau minum sakai [sake, red] karena ajaran agama Islam mengharamkan minuman keras. Kemudian, Ki Bagus Hadikusumo menumpahkan arak itu ke lantai (karena tangannya gemetar). Tentu saja hadirin menjadi berdebar-debar, termasuk pembesar-pembesar militer Jepang,” demikian tulis Sutrisno Kutoyo dalam Kiai Haji Ahmad Dahlan dan Persyarikatan Muhammadiyah (1998).

Kekhawatiran hadirin tentu saja berkaitan dengan sikap keras prajurit Jepang untuk memenggal siapa pun yang menolak perintah. Apalagi yang ditolak Ki Bagus bukan permintaan biasa, melainkan dari seorang Kaisar.

Sebelumnya, Ki Bagus adalah tokoh utama yang mengajak umat Islam Indonesia menolak ritual wajib dari kolonial Jepang untuk melakukan Seikerei, yaitu sikap ruku’ menghadap ke arah matahari terbit setiap pukul tujuh pagi sebagai tanda ketundukan pada Kaisar Jepang.

Seruan Ki Bagus menolak Seikerei meluas hingga ke Sumatera. Akibatnya, Ki Bagus berurusan dengan Gunsaikan atau gubernur militer Jepang di Yogyakarta. Namun atas kepandaiannya menjelaskan ajaran Islam, Gunsaiken memahami dan membolehkan umat Islam tidak melakukan Seikerei lagi.

Sama halnya dengan kasus Ki Bagus menolak Seikerei, Ki Bagus Hadikusumo menjelaskan alasannya menolak minum sake kepada Kaisar dan pejabat militer Jepang.

Atas kepandaiannya memberi penjelasan, Kaisar Hirohito pun tidak marah dan merasa takjub sehingga menghadiahkan cangkir dan cawan yang dipakai tempat Sake kepada Ki Bagus Hadikusumo.

Tak hanya mendapatkan hadian cawan, Ki Bagus Hadikusumo bersama Soekarno dan Hatta mendapatkan kehormatan untuk bertemu langsung dan berjabatan tangan dengan Kaisar.

Ki Bagus, Soekarno dan Hatta juga mendapatkan penghargaan Bintang Ratna Suci dari Kaisar. Soekarno mendapatkan lencana kelas dua (Kun Nito Juiho-Sho), sementara Ki Bagus Hadikusumo dan Hatta mendapatkan lencana kelas tiga (Kun Santo Juiho-Sho).

Lencana penghargaan itu bernilai sangat tinggi, karena penerimanya dianggap dekat dengan anggota keluarga Kekaisaran. Arniati Prasedyawati Herkusumo sendiri dalam Chūō Sangi-in: Dewan Pertimbangan Pusat pada masa pendudukan Jepang (1984) mencatat bahwa penghargaan itu utamanya diberikan atas jasa ketiga tokoh ini dalam membantu kebijakan Jepang di Indonesia.

Demikianlah sikap tokoh Muhammadiyah dalam menampakkan keteguhan dan kebersihan akidah. Selain tegas, tokoh Muhammadiyah seperti Ki Bagus juga mengutamakan hikmah dan ilmu dalam menampakkan ketegasan imannya.

Sumber: Muhammadiyah.or.id

 

DQ Salurkan Bantuan Untuk Banjir dan Longsor di Lumajang

LUMAJANG (Jurnalislam.com)–Meluapnya sungai Bondoyudo akibat tingginya curah hujan pada 27 Februari 2021 mengakibatkan banjir dan longsor di beberapa lokasi di Kabupaten Lumajang. Kecamatan Sukodono dan Kecamatan kota Lumajang adalah daerah-daerah yang paling terdampak dari banjir sedangkan Desa Sarawan Kulon Kecamatan Kedungjajang adalah daerah yang mengalami musibah longsor.

Akibat Banjir dan longsor 7 Rumah warga hancur terbawa arus dan 1 mushola rusak parah. Selain itu jembatan gambiran juga sempat ditutup akibat retak karena terjangan banjir. Aktivitas warga pun menjadi terganggu akibat air yang masuk rumah hingga setinggi 2 meter.

Dompet Al-Qur’an Indonesia (DQ) yang mengetahui adanya informasi bencana banjir dan longsor ini langsung melakukan respon cepat dengan menyalurkan bantuan logistik guna memenuhi kebutuhan sehari-hari warga seperti beras, mie instan, dan pakaian layak pakai. Bantuan ini disambut warga dengan antusias.

Toni, 48 tahun, salah satu warga terdampak banjir yang sempat dievakuasi mengaku senang dengan bantuan logistik dari DQ. “Alhamdulilah, saya sangat senang dengan respon cepat dari DQ. Saya dan keluarga sangat terbantu dengan adanya bantuan logistik dari DQ,” ungkap Toni.

Di pihak lain, Dompet Al-Qur’an Indonesia melalui Manager Media dan Pendayagunaan Al Iklas Kurnia Salam mengaku mengetahui musibah itu dari relawan dan donatur DQ yang ada di Lumajang. “Ada beberapa relawan dan donatur DQ di Lumajang yang melapor pada kami. Mereka melaporkan dengan menyertakan foto dan video mengenai banjir dan longsor yang sedang terjadi. Kami langsung merespon dengan menyalurkan bantuan untuk warga terdampak bencana,” ungkap Al Iklas.

Al Iklas menambahkan, bantuan ini merupakan bagian dari program Humanity Care, suatu program yang digagas untuk membantu warga korban bencana alam dan kemanusiaan yang terjadi di Indonesia.

“Banyaknya bencana yang terjadi di Indonesia membuat DQ menggagas program Humanity Care. Program ini sebagai bentuk komitmen kami untuk merespon bencana-bencana yang terjadi di indonesia. Semoga program ini bisa meringankan beban warga yang terdampak bencana seperti warga Lumajang yang kini terkena musibah banjir dan longsor” tutup Al Iklas sembari tersenyum.

Menag Harap Masjid Sheih Zayed Solo Jadi Simbol Moderasi Beragama dan Persahabatan

SOLO(Jurnalislam.com) — Masyarakat Solo, akan segera memiliki masjid megah berarsitektur modern, bernama Masjid Raya Sheikh Zayed Solo. Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyebut, keberadaan masjid ini nantinya akan menjadi simbol moderasi beragama dan persahabatan.

Hal ini disampaikan Menag saat peletakan batu pertama pembangunan replika Masjid Sheikh Zayed Solo di Kampung Gilingan, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Solo, Jawa Tengah (Jateng), Sabtu (6/3/2021).

“Masjid Raya Sheikh Zayed Solo akan menjadi salah satu mercusuar syiar Islam di Nusantara dan simbol moderasi beragama dalam rangka mewujudkan perdamaian dunia dan keadilan sosial,” ujar Menag .

Ia menambahkan masjid yang akan dibangun dengan hibah penuh dari Putra Mahkota Persatuan Emirat Arab bukan hanya menjadi tempat untuk shalat berjamaah, tetapi juga berfungsi sebagai pusat kegiatan dakwah, sosial dan pembinaan umat serta destinasi wisata religi yang menjunjung tinggi nilai kesucian masjid.

“Saya ingin menekankan di sini bahwa masjid adalah “lembaga risalah” yang memiliki fungsi fundamental sebagai tempat pembinaan persatuan dan kesatuan umat serta kerukunan bangsa. Masjid adalah bangunan peradaban yang memancarkan nilai, makna dan pencerahan kepada masyarakat luas,” kata Menag.

“Masjid merupakan sarana terpenting dalam upaya kita merawat moral dan mentalitas masyarakat yang bertakwa sejalan dengan misi kerisalahan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi alam semesta,” sambung Menag.

Turut dalam peletakan batu pertama Ketua Otoritas Umum Bidang Urusan Islam dan Wakaf Uni Emirat Arab (UEA) Mohammed bin Matar Al Kaabi, Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Energi dan Industri UEA Suhail Mohammed Al Mazrouei, Wakil Gubernur Jawa Tengah Gus Taj Yasin Maimoen dan Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka.

 

Platform Digital Berbasis Kitab Kuning Sedang Dikembangkan

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Khazanah keilmuan Islam di Indonesia tidak terlepas dari kitab kuning atau kitab turats, baik karya ulama-ulama dunia maupun nusantara, yang banyak diajarkan di pesantren. Untuk mempermudah dan memperluas akses masyarakat, Kemenag akan mengembangkan platform digital berbasis kitab kuning.

Rencana ini dibahas bersama dalam Focus Group Discusion (FGD) Desain Pengembangan Rumah Kitab, sebuah platform digital pembelajaran berbasis Kitab Kuning. FGD ini berlangsung tiga hari, 3-5 Maret 2021, di Bogor.

“Insya Allah (aplikasi) ini akan menjadi perangkat yang sangat bermanfaat bagi kita semua. Al-Mukhaafadhatu ‘alal qadiimis-shaalih wal akhdzu bil jadiidil-ashlah. Merawat tradisi (kitab kuning), mengawal inovasi (platform digital). Dan ini adalah sebuah platform digital interaktif pembelajaran kitab kuning terlengkap yang ada,” terang Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Waryono di Bogor, Rabu (3/3/2021).

“Rumah Kitab akan mengenalkan pembelajaran berbasis kitab kuning kepada masyarakat umum yang ingin belajar Islam dari sumber yang memiliki otoritas dan kapasitas keilmuan yang jelas dan memiliki sanad keilmuan pesantren yang tersambung,” lanjutnya.

Hadir sebagai narasumber, Pengasuh Ngaji Online Kitab Ihya’ Ulumuddin, Ulil Abshar Abdalla, menyatakan, Rumah Kitab harus menjadi rujukan keilmuan yang lengkap. Tidak hanya kitab kuning yang diajarkan di pesantren saja tetapi juga harus diisi dengan referensi yang lain. Sehingga, Rumah Kitab dapat memberikan perspektif yang lebih luas dalam khazanah keilmuan Islam. Hal penting lainnya, Rumah Kitab harus menjadi tempat pembelajaran yang menyenangkan.

“Platform digital ini, jangan hanya berisi kitab-kitab kuning saja tetapi juga harus diisi dengan kitab-kitab putih. Agar lebih lengkap. Bahkan kalau perlu diberikan giveaway bagi santri-santri online nanti yang mengikuti pembelajaran dari Rumah Kitab ini,” terang Ulil.

Meneruskan gagasan Ulil Abshar, Nurman Hakim, Sutradara Film Bid’ah Cinta yang juga alumnus Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak mengungkapkan bahwa selain konten atau materi kitab kuning, penyajian dalam pembelajarannya pun harus dikemas dengan sebaik mungkin dengan menampilkan sisi sisi sinematografi.

“Dalam mengemas isi kitab kuning nanti untuk menjadi pembelajaran yang interaktif jangan melupakan sisi-sisi sinematografinya, mulai dari hal teknik, pengambilan gambar, penggunaan lensa, kamera movement, pencahayaan, komposisi, penggunaan filter dan hal-hal teknis lainnya,” ungkap Nurman.

Direncanakan, platform digital Rumah Kitab ini, akan berisi berbagai fitur. Selain kajian dan evaluasi pembejaran kitab kuning, juga berisi fitur digitalisasi kitab kuning. Penyediaan naskah atau konten kitab kuning dalam format digital yang dapat diakses secara daring maupun luring.

Juga ada fitur layanan live streaming (ngaji live) kitab kuning. Konten streaming dapat berupa kajian kitab kuning tertentu atau kajian lain yang berbasis kitab kuning. Penyedia konten dapat berasal dari pengasuh pesantren langsung atau sumber lain yang memiliki otoritas dengan kapasitas keilmuan yang jelas dan sanad keilmuan yang tersambung. Setiap sesi live streaming kitab kuning dapat diikuti oleh santri dan masyarakat luas.

 

Pembangunan Masjid Pangeran UEA di Solo Makan Biaya Rp 8 Triliun, Selama 12 Tahun

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Mulai Sabtu (6/3/2021), proyek pembangunan Masjid Agung Sheikh Zayed di Solo, Jawa Tengah, resmi dimulai. Pembangunan masjid yang merupakan pemberian Pangeran Uni Emirat Arab (UEA) Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan untuk Presiden Joko Widodo tersebut ditandai dengan acara peletakan batu pertama (groundbreaking) di lokasi proyek Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo.

Peresmian pembangunan ditandai dengan peletakan batu pertama. Hadir Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas, Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Energi dan Industri UEA Suhail Mohamed Faran Al Mazrouei, Kepala Otoritas Umum Urusan Islam dan Wakaf UEA, Dubes UEA untuk Indonesia Mohammed Abdullah Al Ghfeli, Dubes Indonesia untuk UEA Husin Bagis, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin, dan Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka.

Selain menjadi penanda dimulainya pembangunan, groundbreaking Masjid Agung Sheikh Zayed ini menjadi momentum penting adanya kedekatan dan penguatan hubungan bilateral antara pemerintah Indonesia dengan UEA.

“Pembangunan Masjid Agung Sheikh Zayed di Solo ini menunjukkan kedekatan dan hubungan harmonis antara Indonesia dan Uni Emirat Arab, khususnya antara Presiden Jokowi dan Pangeran Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan yang semakin intensif dalam dua tahun terakhir,” ujar Menag Yaqut  saat peresmian groundbreaking, di Solo, Sabtu (6/3/2021).

Menurut Menag, pendirian masjid ini juga memberi arti khusus bagi kedua negara. Apalagi hak intelektual desain masjid ini juga milik Pangeran Mohammed bin Zayed Al Nahyan. Desain masjid ini juga persis menyerupai Sheikh Zayed Grand Mosque, di Abu Dhabi, yang dikenal sebagai masjid terindah di dunia.

Masjid Agung Sheikh Zayed di Solo yang luasnya 3 hektare direncanakan mampu menampung hingga sekitar 10.000 jamaah. Waktu pembangunan memakan waktu selama 1,5 tahun sehingga ditargetkan masjid megah ini siap digunakan pada akhir 2022 mendatang.

“Replika Masjid Agung Sheikh Zayed di Solo ini memang tidak akan sebesar masjid asli, Sheikh Zayed Grand Mosque di Abu Dhabi yang mampu menampung 40.000 jamaah. Namun desainnya sama persis dan semua biaya pembangunan masjid ini diberikan oleh pemerintah UEA,” ujar Menag Yaqut.

Menag mengungkapkan, Masjid Agung Sheikh Zayed di Abu Dhabi yang luasnya 22.412 meter persegi membutuhkan waktu pembangunan hingga 12 tahun dan menelan biaya mencapai sekitar USD545 juta atau setara Rp8 triliun. Sedangkan anggaran pembangunan Masjid Agung Sheikh Zayed di Solo mencapai USD20 juta atau hampir Rp300 miliar yang seluruhnya ditanggung pemerintah UEA. Pembangunan Masjid Agung Sheikh Zayed di Solo juga akan dilengkapi dengan Islamic Center.

Menag Yaqut menambahkan, acara Groundbreaking Replika Masjid Agung Sheikh Zayed di Solo juga menjadi puncak dari rangkaian kegiatan bertajuk Indonesia-Emirates Amazing Week (IEAW) 2021 yang berlangsung 1-8 Maret 2021 di empat Kota, yakni Jakarta, Bandung, Solo, dan Surabaya.

IEAW 2021 didukung Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Agama, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pariwisata, BKPM dan BUMN, serta seluruh kementerian/lembaga terkait. Selain pembangunan masjid, beberapa kesepakatan kerja sama antar kedua negara, baik yang melibatkan pemerintah dan swasta juga terlaksana dengan baik. Kerjasama tersebut meliputi bidang lingkungan hidup, ekonomi kreatif, pelabuhan laut, kedirgantaraan, dan agrobisnis.