Berita Terkini

120 Terluka saat Bentrokan Warga Muslim Kashmir dengan Polisi India

indian-army-kashmir-muharram_1KASHMIR (Jurnalislam.com) – Sekitar 120 pengunjuk rasa dan polisi terluka dalam bentrokan Jumat karena pemerintah India berusaha untuk memblokir aksi yang dilakukan oleh kelompok perlawanan Muslim Kashmir yang menentang kekuasaan India, kata para pejabat, World Bulletin melaporkan Sabtu (30/07/2016).

Jam malam terus diberlakukan di sebagian besar wilayah untuk hari Sabtu yang menandakan hari ke-22 berturut-turut.

Sekolah dan bisnis tetap tutup dan layanan internet ditangguhkan, meskipun jaringan seluler sebagian telah diaktifkan.

Kashmir terbagi antara perseteruan India dan Pakistan sejak kedua negara merebut kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1947. Kedua negara mengklaim wilayah itu secara keseluruhan.

Beberapa kelompok perlawanan Muslim Kashmir, termasuk Hizbul Mujahidin, selama beberapa dekade telah berjuang melawan tentara India yang diperkirakan berjumlah 500.000 yang dikerahkan di wilayah yang bergolak itu, menuntut kemerdekaan atau bergabung dengan Pakistan.

Puluhan ribu, sebagian besar penduduk sipil Muslim Kashmir, tewas dalam pertempuran sejak tahun 1989 ketika pejuang bersenjata melakukan perlawanan terhadap kekuasaan India di wilayah Himalaya dimulai.

India secara teratur menuduh Pakistan mempersenjatai dan mengirim pejuang melintasi perbatasan de facto yang dikenal sebagai Garis Kontrol, untuk memulai serangan terhadap pasukannya.

Islamabad membantah tuduhan itu, dan mengatakan bahwa mereka hanya memberikan dukungan diplomatik dan moral bagi perjuangan Muslim Kashmir memperjuangkan hak mereka untuk menentukan nasib sendiri.

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

Korban Kudeta Turki Dapat Bantuan Dana Pemerintah Hingga $ 59.000

ATTENTION EDITORS - VISUAL COVERAGE OF SCENES OF INJURY OR DEATH - People react as bodies draped in Turkish flags are seen on the ground during an attempted coup in Ankara, Turkey July 16, 2016. REUTERS/Stringer ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. EDITORIAL USE ONLY. NO RESALES. NO ARCHIVES. TURKEY OUT. NO COMMERCIAL OR EDITORIAL SALES IN TURKEY. TEMPLATE OUT

ANKARA (Jurnalislam.com) – Turki akan membayar kompensasi dan gaji bulanan kepada keluarga korban meninggal dan warga sipil yang menjadi cacat akibat kudeta 15 Juli, Lembaga Jaminan Sosial negara mengumumkan Jumat (29/07/2016).

Sedikitnya 246 orang tewas dan lebih dari 2.100 lainnya terluka selama kudeta gagal yang dilakukan oleh pengikut tokoh berbasis AS, Fetullah Gulen.

Seperti yang dilansir Anadolu Agency, Jumat, Lembaga Jaminan Sosial mengatakan korban dan keluarga mereka akan menerima tunjangan satu kali sekitar 17.719 lira Turki ($ 6000) hingga 177.192 lira Turki ($ 59.000).

Selain itu, keluarga warga sipil yang tewas oleh pasukan selama melawan kudeta akan diberikan hak tenaga kerja di kantor pelayanan publik.

Manfaat kesehatan, tunjangan wali, pinjaman perumahan bebas bunga, bantuan pendidikan, transportasi umum gratis dan diskon untuk listrik dan air juga akan diberikan kepada para korban dan keluarga mereka, katanya.

Selain kompensasi, gaji minimum bulanan 3.203 lira Turki ($ 1062) akan dibayar untuk seumur hidup penerima manfaat.

Warga sipil yang menjadi cacat akan menerima gaji bulanan hampir tiga kali upah minimum negara itu, yang saat ini berjumlah sekitar 1.300 lira Turki ($ 430).

Perdana Menteri Turki baru-baru ini meluncurkan sebuah inisiatif resmi untuk mengumpulkan dana bagi keluarga warga sipil yang menjadi korban kudeta yang gagal. Sebuah kampanye amal untuk membantu korban diluncurkan pada tanggal 25 Juli.

Saat ini, berdasarkan hukum Turki, korban terorisme akan menerima kompensasi. Hak bekerja di kantor pelayanan publik dan gaji juga diberikan kepada mereka yang terkena dampak.

Gulen dituduh telah lama menyebarkan kampanye untuk menggulingkan negara melalui infiltrasi lembaga Turki, khususnya militer, polisi dan peradilan, dan membentuk negara paralel.

Pemerintah Turki menyalahkan Organisasi Teroris Fetullah (Feto) melakukan upaya kudeta yang mematikan.

 

Rumah Sakit Bersalin di Provinsi Idlib Dibom

idlib-hospital-4IDLIB (Jurnalislam.com) – Salah satu rumah sakit bersalin terbesar di daerah Suriah yang dikuasai mujahidin Suriah dibom, meninggalkan korban yang tidak diketahui jumlahnya, World Bulletin melaporkan Sabtu (30/07/2016).

Save the Children, yang mendukung rumah sakit di Idlib, mengatakan pintu masuk diserang pada Jumat sore.

Foto menunjukkan bagian bangunan yang hancur, meninggalkan tumpukan puing-puing di jalan dan kamar perawatan penuh dengan puing-puing.

Rumah sakit tersebut adalah yang terbesar di daerah dan melahirkan lebih dari 700 bayi setiap bulan.

Tidak ada konfirmasi segera dari pelaku serangan, namun pasukan rezim Bashar al-Assad atau sekutu Rusia dicurigai karena sering melakukan penyerangan terhadap rumah sakit.

Kota Idlib terletak di provinsi yang memiliki nama sama yang hampir sepenuhnya di bawah kendali mujahidin Suriah, termasuk kehadiran kuat kelompok Jabhat al-Nura al-Qaeda.

Jabhah Nusrah mengatakan telah berpisah dari Al Qaeda pada hari Kamis dan merubah nama menjadi Jabhat Fateh al-Sham (Front Penaklukan Syam) yang merupakan upaya untuk menggalang persatuan yang lebih besar dari kelompok perlawanan anti rezim Syiah Nushairyah Assad.

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

 

 

29 Tersangka Anggota Islamic State Ditangkap di Istanbul

thumbs_b_c_002b4bfc6e8528fb0eafc0424de13f83ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Polisi khusus Turki menahan 29 tersangka kelompok Islamic State (IS) di Istanbul pada hari Jumat, dimana 22 dari mereka adalah orang asing, sumber polisi mengatakan kepada Anadolu Agency Sabtu (30/07/2016).

Penangkapan itu dilakukan di distrik Basaksehir, yang terletak di kota pelabuhan sisi Eropa.

Menurut sumber, yang berbicara dengan syarat anonim karena pembatasan berbicara kepada media, orang asing tersebut terutama berasal dari Kirgistan, Uzbekistan dan Turkmenistan.

Para tersangka diyakini merencanakan serangan teror besar di negara itu setelah kudeta 15 Juli yang digagalkan ketika mereka tertangkap oleh polisi.

Tujuh tersangka akan dikirim ke pengadilan, sementara 22 orang asing akan dideportasi, sumber tersebut menambahkan.

Polisi juga menyita beberapa dokumen dan file digital dari tersangka.

 

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurnalislam

Fredy Taubat Nasuha Sebelum Dieksekusi, Persis: Semoga Jadi Penebus Dosa

Fredy Budiman
Fredy Budiman

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Wakil Ketua Umum Persatuan Islam (Persis), Dr Jeje Zaenudin mengapresiasi pertaubatan Fredy Budiman. Fredy adalah terpidana mati kasus narkoba yang dieksekusi pada Kamis (28/7/2016) kemarin di Pulau Nusakambangan, Cilacap.

“Sebesar apapun dosa seorang hamba di dunia ini jika kemudian ia mati dalam keadaan bertauhid, tidak menyembah tuhan lain selain Allah, maka ia tetap berpeluang mendapat ampunan di akhirat,” katanya kepada Jurnalislam, Jum’at (29/7/2016).

Mantan pimpinan pemuda Persis itu juga mengatakan, kesungguhan pertaubatan Freddy yang diakhiri oleh pengeksekusiannya adalah sebagai bagian dari penebus dosa.

“Jika benar bahwa saudara Fredy Budiman telah bertaubat dengan taubatan nasuha, taubat yang sungguh sungguh dan memenuhi persyaratannya, maka Insya Allah kematiannya dengan ditembak sebagai bagian dari penebus dosanya, sehingga ia terbebas atau setidaknya meringankan azabnya diakhirat,” terang ulama asal Garut itu.

Ustadz Jeje melanjutkan, pelaksanaan hukuman mati dinilai masih sangat efektif membuat penjahat bertaubat kembali kepada agama yang lurus.

“Itu sangat penting serta sangat bermakna bagi orang yang percaya adanya hari akhirat. lain lagi bagi kaum yang kafir pada akhirat, mereka tidak melihat manfaat yang besar dalam hukuman mati,” pungkas Da’i Asia Tenggara itu.

Reporter: Muhammad Fajar | Editor: Ally Muhammad Abduh

Taliban Terus Peroleh Banyak Wilayah di Afghanistan

88d0c881e4f54a98bb19599e67b72a24_18KABUL (Jurnalislam.com) – Pemerintah Afghanistan kembali kehilangan kontrol wilayahnya ke tangan Taliban (Imarah Islam Afghanistan) sejak awal tahun ini, menurut laporan pengawas tinggi pemerintah AS mengenai Afghanistan, Aljazeera melaporkan Jumat (29/07/2016).

Diterbitkan pada hari Jumat oleh Inspektur Jenderal Khusus untuk rekonstruksi Afghanistan (the Special Inspector General for Afghanistan Reconstruction-SIGAR), laporan itu mengatakan bahwa daerah yang semula berada di bawah kendali atau pengaruh pemerintah Afghanistan menurun menjadi 65,6 persen pada akhir Mei dari 70,5 persen tahun lalu, berdasarkan data yang diberikan oleh pasukan AS di Afghanistan.

Komandan pasukan AS di Afghanistan, Jenderal TNI John Nicholson, mengatakan sebagian besar daerah yang dikuasai Taliban adalah pedesaan.

“Mereka percaya mereka akan mampu merebut dan menguasai medan, dan mereka berusaha untuk melakukannya,” kata Nicholson briefing Pentagon melalui video link pada hari Kamis.

Para pejabat Afghanistan mengatakan angka sebenarnya tidak dapat diukur karena perang melawan Taliban masih berlangsung.

“Ini bukan hanya Taliban tetapi banyak kelompok-kelompok perlawanan di Afghanistan yang berjuang untuk mendapatkan wilayah, dan kami bertempur untuk mendorong mereka mundur, jadi kami tidak bisa benar-benar mengukur seberapa banyak daerah yang berada dalam kendali Taliban atau kelompok-kelompok perlawanan lainnya,” General Dawlat Waziri , juru bicara kementerian pertahanan Afghanistan, mengatakan kepada Al Jazeera pada hari Jumat dari Kabul.

“Namun, kita bisa memastikan bahwa Taliban tampaknya hadir pada sebagian besar di daerah pedesaan, bukan di kota-kota strategis.”

AS telah melatih dan mempersenjatai pasukan Afghanistan sebelum menarik mundur pasukan Amerika dari negara itu, namun Afghanistan tetap kekurangan personil dan persenjataan berat.

Laporan itu mengutip pasukan AS di Afghanistan mengatakan hilangnya kontrol tersebut karena, “Pasukan Afghanistan ditugaskan ke daerah dengan prioritas yang lebih rendah untuk melakukan operasi ofensif, mendapatkan dan mempertahankan inisiatif, memanfaatkan peluang, dan mengkonsolidasikan keuntungan taktis.”

Mengakui bahwa kondisi di Afghanistan tetap genting dan mujahidin Taliban telah memperoleh tanah di beberapa tempat, Presiden AS Barack Obama berencana untuk menyisakan 8.400 tentara Amerika di Afghanistan pada akhir masa jabatannya – meningkat dari rencana sebelumnya, mencerminkan kesulitan yang tergambar akibat kehadiran AS di negara itu.

Obama juga menyetujui memaksa otoritas baru AS untuk mendukung pasukan Afghanistan, sambil memungkinkan penggunaan serangan udara AS yang lebih besar.

Sebelumnya, Nicholson, yang memerintahkan misi Resolute Support yang dipimpin NATO dan misi khusus AS secara terpisah, diizinkan untuk mengambil tindakan terhadap Taliban hanya jika “mereka menimbulkan ancaman langsung kepada pasukan koalisi AS atau jika pasukan Afghanistan menghadapi bencana kegagalan.”

Aturan ini belum diangkat oleh otoritas baru.

Afghanistan tetap menjadi salah satu negara yang neniliki paling banyak ranjau darat di dunia, setelah konflik berlangsung hampir 40 tahun.

 

Deddy | Aljazeera | Jurnalislam

Erdogan Kecam Jenderal AS atas Komentarnya Pasca Kudeta

thumbs_b_c_63dd5f5e6714d033e316d1f117a558d8

ANKARA (Jurnalislam.com) – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Jumat mengecam kepala Central Command AS atas pernyataannya menyusul kudeta 15 Juli yang gagal, lansir Anadolu Agency, Jumat (29/07/2016).

Pada hari Kamis (28/07/2016), berbicara di Aspen Security Forum, sebuah think tank, di Colorado, Jenderal Joseph Votel mengatakan: “Kami sudah pasti memiliki hubungan dengan banyak pemimpin Turki – pemimpin militer pada khususnya.”

“Saya prihatin tentang apa dampaknya pada hubungan tersebut,” katanya.

Votel merujuk kepada beberapa petugas Turki – yang sekarang berada di dalam penjara – karena peran mereka dalam upaya kudeta.

Dia menyuarakan keprihatinan bahwa jangka panjang kudeta dan upaya Ankara untuk membersihkan militer pendukung kudeta akan berdampak pada operasi AS di wilayah tersebut.

“Saya prihatin bahwa itu akan berdampak pada tingkat kerjasama dan kolaborasi yang kita miliki dengan Turki yang terus terang sangat baik,” kata Votel.

Sebagai tanggapan, Erdogan mengecam Votel, mengatakan Jenderal AS tersebut tidak dalam posisi untuk membuat komentar dan mencampuri urusan internal Turki.

“Apakah Anda orang yang memutuskan (penjara) ini? Siapa Anda? Anda harus mengetahui tempat Anda,” kata Erdogan dalam konferensi pers Jumat setelah kunjungan ke Operasi Khusus Departemen Kepolisian di ibukota Ankara, yang diserang berat selama upaya kudeta.

“Bukannya berterima kasih kepada pemerintah (Turki) karena menggagalkan upaya kudeta dan (mempertahankan) pemerintah yang sah, Anda malah berdiri bersama Gulen,” kata Erdogan.

Presiden juga mengecam Washington karena menampung Fetullah Gulen, yang dituduh sebagai dalang dari plot kudeta yang mematikan.

“Gulen sudah ada di negara Anda, Anda membela dia. Ini adalah fakta yang diketahui,” kata Erdogan.

“Anda tidak pernah bisa menipu orang-orang saya. Orang-orang saya tahu siapa yang terlibat dalam plot ini, dan siapa yang menjadi dalang. Dengan pernyataan tersebut, Anda hanya mengungkapkan diri. Turki tidak akan ditipu,” tambahnya.

Turki telah memulangkan sedikitnya 1.684 anggota Angkatan Bersenjata atas peran mereka dalam kudeta yang gagal ketika faksi militer mencoba untuk menggulingkan pemerintah terpilih pada 15 Juli.

Tiga kepala staf militer, termasuk dari angkatan darat, udara dan laut, mempertahankan posisi teratas mereka setelah pertemuan Dewan Agung Militer Kamis.

Pemerintah Turki telah berulang kali mengatakan upaya kudeta yang mematikan, yang menewaskan sedikitnya 246 orang dan melukai lebih dari 2.100 orang lain, dilakukan oleh pengikut Gulen.

Gulen juga dituduh telah lama menyebarkan kampanye untuk menggulingkan negara melalui infiltrasi lembaga Turki, khususnya militer, polisi, dan pengadilan, dan negara paralel.

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurnalislam

 

Berpisah dengan Al Qaeda, Inilah Rilisan Terjemahan Lengkap Syeikh al Jaulani

IMG-20160728-WA015

JURNALISLAM.COM – Syeikh Abu Muhammad al-Jaulani muncul di kamera untuk pertama kalinya, mengumumkan pisahnya tandzim Jabhah Nusrah dengan Al Qaeda dan juga merubah namanya menjadi Jabhat Fath al Syam, atau pasukan pembebasan Syam yang berjuang untuk kepentingan kaum Muslim Syam, Jihad dan Revolusi rakyat Syam.

Berikut ini adalah rilisan terjemahan lengkap Syeikh Abu Muhammad al Jaulani:

Kepada saudara muslim saya di manapun… kepada orang-orang Suriah yang kami hormati

Assalamualaykum wa rahmatullah wa barakatuh..

Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada saudara kita, komandan al Qaeda global, Dr Syeikh Ayman al-Zawahiri dan wakil nya, terutama Syeikh ahmad hasan abu al khayr, semoga Allah melindungi mereka.

Kami berterima kasih untuk sikap mereka, di mana mereka memberi prioritas pada kepentingan rakyat Syam, jihad mereka, revolusi mereka serta penilaian yang tepat dari manfaat umum jihad, sikap mulia ini akan disimpan dalam sejarah.

Kepemimpinan penuh berkah yang mereka miliki, akan dan tetap menjadi sebuah contoh menempatkan kebutuhan dan kepentingan umat lebih tinggi dari kepentingan kelompok manapun.

Mereka praktis telah melaksanakan kata-kata Syeikh Usamah bin Ladin rahimahullah (semoga Allah merahmatinya).

Ia selalu mengatakan, “kepentingan umat didahulukan lebih dari kepentingan negara manapun; kepentingan negara lebih diutamakan daripada kepentingan jamaah (kelompok) manapun; kepentingan jamaah (kelompok) lebih diutamakan daripada kepentingan individu manapun.”

Kami, pusat komando Jabhah Nusrah, selalu bertindak sesuai dengan manhaj/pedoman umum dan arahan dari pimpinan kami Al Qaeda.

Kewajiban kami adalah melayani masyarakat Syam dan jihad mereka, meringankan berat di pundak rakyat, tanpa mengorbankan atau meruntuhkan keyakinan yang solid, atau melemahkan kelangsungan jihad Syam, yang secara berkelanjutan akan melindungi, menggunakan segala cara Islam untuk membantu dalam pencapaian tujuan tersebut atau berakhir dalam tercapainya tujuan mulia ini ketika kita berniat untuk menjembatani kesenjangan antara faksi-faksi jihad dan diri kita.

Kami berharap dari tubuh kami yang terpadu, yang pusatnya adalah Syariah Islam, menyatukan seluruh rakyat Syam, membebaskan tanah mereka, memberikan kemenangan kepada iman mereka dan menegakkan kesaksian iman mereka .. memenuhi permintaan rakyat Syam untuk mengekspos penipuan masyarakat internasional, para pemimpin AS dan Rusia, pemboman tanpa henti dan mengungsinya kaum Muslim Syam secara massal dengan dalih menargetkan Jabhah Nusrah afiliasi al Qaeda.

Untuk alasan tersebut, kami mendeklarasikan membatalkan seluruh operasi di bawah nama Jabhah Nusrah, menjadi kelompok baru yang beroperasi di bawah nama Jabhat Fath al Syam

Tandzim baru ini tidak memiliki afiliasi terhadap seluruh entitas eksternal

Tandzim baru ini bertujuan untuk memenuhi beberapa hal berikut;

  1. Berjuang menuju pembentukan agama Allah Swt, menegakkan Syariah (hukum) Islam sebagai undang-undang, membangun keadilan di antara semua orang.
  2. Bergerak menuju kesatuan dengan semua kelompok, dalam rangka menyatukan jajaran mujahidin dan membebaskan tanah Syam dari kekuasaan tiran thoghut Bashar dan sekutu-sekutunya. Allah Swt mengatakan, “Dan berpegang teguhlah pada tali agama Allah semua bersama-sama dan jangan berpecah belah (Qs Ali Imran 103).
  3. Melindungi jihad Syam dan menjamin kontinuitas, memanfaatkan segala cara Islam yang sah untuk melakukannya.
  4. Berupaya untuk melayani kaum Muslim, hadir memenuhi kebutuhan sehari-hari dan meringankan kesulitan mereka dalam setiap cara yang mungkin.
  5. Memastikan keamanan, stabilitas, dan kehidupan yang terhormat untuk kaum Muslim dan masyarakat umum.

 

Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta Alam

Saudaramu, Abu Muhammad al Jaulani

 

Deddy | Jurnalislam

 

Zionis Hancurkan 168 Rumah, 740 Warga Termasuk 384 Anak Palestina Kehilangan Tempat Tinggal

TEPI BARAT (Jurnalislam.com) – Sekitar 740 warga Palestina, termasuk 384 anak-anak, kehilangan tempat tinggal selama enam bulan pertama tahun 2016 setelah militer zionis meruntuhkan struktur perumahan mereka di Tepi Barat yang diduduki, menurut angka terbaru, lansir Aljazeera, Kamis (28/07/2016).

Dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada Rabu, organisasi HAM Israel B’Tselem mengatakan 168 rumah Palestina dihancurkan di Area C antara 1 Januari hingga 30 Juni – lebih banyak dari sepanjang tahun 2015.

Area C, yang mengambil 60 persen wilayah Tepi Barat dan merupakan rumah bagi sekitar 300.000 warga Palestina, berada di bawah kontrol penuh militer, keamanan dan administratif zionis yahudi.

Data terpisah B’Tselem mencatat penghancuran selama dekade terakhir menunjukkan bahwa sebagian besar kerusakan itu dilakukan terhadap masyarakat kecil yang kurang mampu jauh dari pusat kota, di daerah seperti Hebron Hills di Selatan dan Jordan Valley.

“Mereka menargetkan wilayah Palestina yang jarang penduduknya, saat orang-orang di sana tidak memiliki kekuatan politik,” kata juru bicara B’Tselem Sarit Michaeli kepada Al Jazeera.

“Pendudukan Israel ingin mereka pindah ke Area B untuk perluasan pemukiman Area C. Itulah inti dari masalah ini.”

Area B, yang mengambil sekitar 22 persen wilayah Tepi Barat, berada di bawah kendali jajahan Israel, sementara Otoritas Palestina menjalankan urusan sipil.

Israel menduduki Tepi Barat setelah Perang Arab-Israel tahun 1967. Sejak itu, Israel telah membangun 125 permukiman khusus Yahudi di Area C, yang dianggap ilegal berdasarkan hukum internasional, menurut laporan B’Tselem.

Lebih dari setengah juta warga Yahudi Israel tinggal di pemukiman tersebut di tanah Palestina, dengan rencana lanjutan untuk memperluas pemukiman tersebut.

aec620a4a731424fb6e769e363c03cd7_6

Alaa Tartir, direktur program Jaringan Kebijakan Palestina Al-Shabaka, sebuah think tank independen, mengatakan penghancuran rumah tersebut harus dipahami dalam gambaran yang lebih luas bahwa Israel melakukan penindasan dan taktik pemindahan paksa.

“Ekspansi Teritorial dan aneksasi masih menjadi inti proyek Zionis dan menghancurkan rumah-rumah adalah salah satu alat yang meeka gunakan,” kata Tartir kepada Al Jazeera dari Jenewa, Swiss.

“Dengan setiap rumah yang dihancurkan Israel, perdamaian menjadi lebih sulit dipahami dan tak terjangkau.”

 

AS: Jabhah Nusrah atau Jabhah Fath al-Syam Tetap Menjadi Target

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Departemen Luar Negeri AS mengatakan pada hari Kamis (28/07/2016) bahwa jihadis Jabhah Nusrah atau Jabhah Fath al-Syam tetap menjadi target bagi AS dan pesawat tempur Rusia di Suriah meskipun mereka memutuskan hubungan dengan al-Qaeda dan mengubah namanya menjadi Jabhat Fatah al-Sham, lansir Aljazeera.

Juru bicara Departemen Luar Negeri John Kirby mengatakan pengumuman Jabhah Nusrah mungkin saja hanya sebagai rebranding dan Amerika Serikat akan menilai dengan tindakan, tujuan dan ideologi mereka.

Kirby juga mengatakan aksi kemanusiaan Rusia dan Suriah di sekitar Aleppo pada hari Kamis tampaknya benar-benar menjadi sebuah upaya untuk memaksa evakuasi warga sipil dan penyerahan kelompok jihad.

Sementara itu, Syeikh Abu Muhammad Jaulani membuat pernyataan setelah Al-Qaeda global merestui perpisahan kepada cabangnya di Suriah, Jabhah Nusrah, jika tidak berpisah hal itu bisa mengganggu hubungan dengan organisasi jihad global yang berusaha melestarikan persatuan dan melanjutkan pertempuran di Suriah, dalam sebuah pernyataan audio yang dirilis pada hari Kamis.

IMG-20160728-WA015

“Anda dapat mengorbankan ikatan organisasi dan tandzim ini tanpa ragu-ragu jika mereka bertentangan dengan kesatuan dan perjuangan sebagai satu tubuh,” kata pemimpin al-Qaeda global Syeikh Ayman al-Zawahri dalam sebuah pernyataan audio kepada Jabhah Nusrah.

“Persaudaraan Islam di antara kita lebih kuat daripada afiliasi organisasi … persatuan Anda dan unifikasi lebih penting bagi kami daripada link organisasi.”

Terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat dan Rusia, Jabhah Nusrah dikeluarkan dari pembicaraan gencatan senjata Rusia dan Amerika Serikat di Suriah pada bulan Februari yang juga membahas koordinasi yang lebih erat untuk menargetkan Jabhah Nusrah.

Berbicara sebelum pengumuman hari Kamis, Charles Lister, seorang ahli di Middle East Institute, mengatakan bahwa walaupun oposisi moderat Suriah selalu menuntut Jabhah Nusrah meninggalkan al Qaeda, kekuatan Barat tidak mungkin untuk mengubah penilaian mereka terhadap Jabhah Nusrah.

Menteri Luar Negeri AS John Kerry telah mengusulkan kerjasama yang lebih erat dengan Rusia melawan Jabhah Nusrah, termasuk berbagi informasi intelijen untuk mengkoordinasikan serangan udara terhadap pasukannya.

Aymenn Jawad Al-Tamimi, seorang peneliti di lembaga think tank AS, Forum Timur Tengah, mengatakan bahwa lepasnya secara formal dengan al-Qaeda dan kemungkinan pembentukan koalisi baru pejuang dengan berkat al-Qaeda bisa dibilang merupakan hasil terburuk dari perspektif AS.

Dia mengatakan,”Upaya menargetkan tokoh jihadis jauh lebih sulit karena mereka akan semakin tertanam dalam perlawanan yang lebih luas.”

“Sebuah koalisi besar antara Jabhah Nusrah dan kelompok lain kemudian akan dengan cepat dan mudah membongkar banyak kelompok yang didukung AS di antara kelompok oposisi Suriah di utara,” tulisnya.

Jabhah Nusrah didirikan tak lama setelah perlawanan terhadap Assad pecah pada tahun 2011.

Mereka diberi sanksi oleh Dewan Keamanan PBB, meskipun di banyak bagian Suriah mereka sering bertempur di sisi yang sama dengan kelompok mainstream yang disukai oleh Washington dan sekutu Arabnya.

Kelompok yang berjuang di bawah bendera Tentara Pembebasan Suriah (FSA) telah membantah koordinasi langsung dengan Jabhah Nusrah, Jabhah Nusrah juga telah memerangi dan menghancurkan beberapa kelompok pemberontak yang didukung Barat (AS dan sekutunya).

Al-Nusra_Front_fighters,_SyriaSetelah menahan diri di hari-hari awal gencatan senjata Februari, Jabhah Nusrah kembali muncul di medan perang saat diplomasi telah dilanggar oleh serangan udara Rusia dan pasukan Nushairiyah Assad, Jabhah Nusrah juga menjadi ujung tombak serangan baru melawan milisi Syiah Iran pro-rezim Assad di dekat Aleppo, komandan Jabhah Nusrah dan oposisi lainnya mengatakan.

Proposal untuk menjauhkan Jabhah Nusrah dari al-Qaeda telah melayang sebelumnya. Tahun lalu, sumber mengatakan kepada Reuters bahwa para pemimpin kelompok itu mempertimbangkan pemutusan hubungan dengan al Qaeda untuk membentuk entitas baru yang didukung oleh beberapa negara-negara Teluk Arab yang berusaha menggulingkan Assad.