Berita Terkini

MUI Bogor: Pemerintah Jangan Takut Melanggar HAM Vonis Syiah Sesat

Bogor (Jurnalislam.com) – Resah dengan aktivitas kelompok Syiah di wilayah Bogor. Ratusan masa dari elemen umat Islam se-Bogor Raya adakan aksi damai di depan kantor Balaikota Bogor, Jumat (23/9/2016).

Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Bogor Bidang Aliran Sesat, meminta kepada pemerintah untuk melakukan tindakan tegas terhadap aliran Syiah dengan tidak ragu menjatuhkan vonis sesat terhadap kelompok tersebut.

“Karna kalau dinyatakan sesat pengikutnya akan kembali lagi, seperti Gafatar, Ahmadiyah, dan lain sebagainya, itu yang kita harapkan,” kata ustad Wilyudin Dhani kepada jurniscom.

Lebih lanjut ustadz asal Bogor ini meminta kepada pemerintah untuk tidak khawatir terhadap isu pelanggaran Hak Asasi Manusia ketika bersikap tegas terhadap Syiah, karna menurutnya Syiah sudah semestinya dilarang di Indonesia.

“Jangan takut HAM, HAM cuma tipu-tipu itu, mereka juga melanggar HAM, tapi diam saja. Masa kita untuk menegakkan kebenaran, melindungi tanah tumpah darah dari penyimpangan dan penyesatan masa takut. Jangan takut Allah bersama kita,” tegasnya.

Aksi yang dimulai lepas shalat Jum’at ini dihadiri beberapa tokoh umat Islam, diantaranya ustadz Abu Muhammad Jibriel (MMI), ustadz Wildan (Jamaah Ansharusy Syariah), Ustadz Ahmad Iman (Ketua Forkami), Ustadz Abdul Halim (DDII), Ustadz Najamudin (DPRD Kota Bogor).

Reporter: Miswanto

Dikhitan, Lucas Senyum Bangga Menjadi Muslim Sempurna

MENTAWAI (Jurnalislam.com) – Lucas ( 27 tahun) sumringah. Sebagai laki-laki, Ia baru saja menyempurnakan keislamannya. Lucas baru saja dikhitan oleh tim medis Islamic Medical Service (IMS).

“Alhamdulillah lega rasanya setelah dikhitan. Sebagai laki-laki sempurnalah ke-islaman saya karena telah mengikuti salah satu kewajiban yang dicontohkan Nabi. Semoga dengan khitan ini semakin sehat dan mantap keyakinan saya,” ujar Lucas seusai dikhitan, Sabtu (17/9/2016) silam.

Lazimnya bagi laki-laki Muslim, dikhitan biasanya dilakukan saat usia anak-anak atau remaja. Namun, Lucas yang dikhitan pada usia dewasa ini, bukan karena Ia menunda-nunda dikhitan. Melainkan Lucas adalah seorang mualaf. Ia baru memeluk Islam pada 2014 lalu.

Lucas yang setelah berislam berganti nama menjadi Sulaiman ini adalah warga pedalaman Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat yang hidup dibawah garis kemiskinan. Sehingga, meski sudah bersyahadat dua tahun lalu, baru saat ini Ia dikhitan. Lucas tidak memiliki uang untuk menyegerakan khitan.

Kehadiran tim IMS yang menggelar khitan massal gratis disambut gembira oleh Lucas dan puluhan mualaf Mentawai lainnya.
IMS menyelenggarakan khitan massal di Kepulauan Mentawai adalah untuk kesekian kalinya.

Kegiatan khitan massal kali ini dirangkai dengan momen kegiatan Idul Adha 1437 Hijriah. Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama IMS dan Yayasan Sosial dan Dakwah Mentawai yang didukung penuh oleh Mandiri Amal Insani (MAI).

Ustadz Irwan Rahman, Ketua Yayasan Sosial dan Dakwah Mentawai mengucapkan terima kasihnya kepada berbagai pihak yang turut membantu memikirkan kesehatan para muallaf di Pedalaman. Beliau berharap kerjasama seperti ini bisa terus dilakukan, karena masih banyak para pria mualaf di Kepulauan Mentawai yang belum dikhitan.

“Belum lama ini 26 KK telah bersyahadat, mereka semua butuh pendampingan dan bimbingan agar paham dengan Islam yang benar. Sudah bisa dipastikan bahwa para prianya belum dikhitan. Didata kami ada sekitar 75 mualaf yang belum dikhitan dan jumlah ini akan terus bertambah,” jelas Ustadz Irwan.

Sementara itu, IMS juga mendistrubusikan hewan kurban ke sejumlah daerah Pada tahun ini ada 4 lokasi pedalaman yang mampu dijangkau oleh IMS. Diantaranya adalah Papua, Mentawai, NTT dan Mahakam Ulu. Selain ke empat lokasi tersebut, hewan kurban juga didistribusikan ke Parung Panjang Bogor, Jawa Barat.

Adapun kegiatan yang akan dilakukan dalam waktu dekat adalah khitanan massal mualaf pedalaman di Mahakam Ulu. Kegiatan ini dalam rangka menyambut Tahun Baru 1438 Hijriyah, sudah terdaftar 200 peserta mualaf.

Taliban Pakistan Publikasi Pelatihan Pasukan Khusus di Barat Laut Pakistan

PAKISTAN (Jurnalislam.com) – Taliban di Pakistan mempromosikan “Pasukan Khusus” dan mengatakan bahwa kelompok itu berlatih dan beroperasi di distrik Swabi barat laut Pakistan, yang terletak dekat dengan ibukota Islamabad.

The Long The Journal mengutip Umar Media, outlet media resmi Gerakan Taliban di Pakistan (Tehrik-e-Taliban Pakistan atau TTP), menerbitkan video, Kamis (22/09/2016) di YouTube yang menunjukkan pelatihan “Kelompok khusus Swabi Taliban” dengan granat roket. Para pejuang kelompok khusus itu menampilkan bagaimana mengatur RPG dan menembakkannya dari posisi yang berbeda, dan menginstruksikan bagaimana menyerang tank untuk melumpuhkan dan menghancurkannya. Setelah pelatihan, para pejuang Taliban menembakkan hulu ledak RPG ke arah target yang ditempatkan di lereng gunung.

Kelompok khusus adalah unit pasukan khusus versi TTP dan sering disebut sebagai “mujahidin kelompok khusus” dan “Satuan Tugas Khusus.” Unit ini bertugas melakukan pembunuhan tokoh militer dan politik Pakistan, serta melakukan serangan bunuh diri dan serangan yang lebih terorganisir, seperti serangan September 2015 di sebuah kamp angkatan udara di Peshawar.

Di masa lalu TTP telah mempromosikan Mujahidin Kelompok Khusus dan telah merilis rekaman saat mereka menerima instruksi di “Mehdi Alaih Rizwan Training Center.” Lokasi kamp pelatihan belum diungkapkan, namun diyakini terletak di wilayah kesukuan Pakistan.

Militer Pakistan telah mengklaim bahwa kabupaten barat laut seperti Swabi, Swat, Mardan, dan Nowshera telah dibersihkan dari Taliban. Antara 2007 dan 2009, Taliban menguasai sejumlah besar daerah barat laut Pakistan, termasuk Swabi dan Swat. Video mujahidin yang tampaknya sedang melakukan pelatihan dan menembakkan RPG di tempat terbuka di Swabi menunjukkan bahwa Taliban Pakistan telah kembali.

Bappenas Incar Dana Zakat, Bazda Provinsi Banten: ‘Tidak Sekarang’

SERANG (Jurnalislam.com) – Rencana Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro, menggunakan dana zakat umat untuk program pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan dikritisi oleh sejumlah pihak.

Badan Amil Zakat Daerah (Bazda) Provinsi Banten, melalui wakil ketua II HM Suri Usman mengatakan, rencana Bappenas itu terkesan terburu-buru dan tidak melihat kondisi Badan Amil Zakat di daerah-daerah.

“Pada dasarnya kami setuju dengan program tersebut. Hanya waktunya panjang, tidak untuk sekarang, ini masih sangat jauh. Butuh langkah yang pasti untuk diterapkan,” katanya kepada jurniscom saat ditemui di Kantor Bazda Provinsi Banten, Jl. Veteran No. 31 B Serang, Kamis (22/9/2016).

Pimpinan SMK Walisongo Pandeglang itu menilai, Bazda tidak bermasalah jika Bappenas melirik dana zakat untuk pengentasan kemiskinan, tapi harus dibuat perarturan yang jelas.

“Jika tidak didukung dengan regulasi yang jelas dan terarah kita juga resikonya berat. Berhadapan dengan audit, syariah dan perbankan yang diatur oleh kementerian keuangan. Aturan harus jelas karena masalah uang ini sensitif,” ucapnya.

Suri mengatakan, dalam acara Seminar Nasional Baznas bulan lalu di Museum Nasional, Ketua Bappenas, Bambang Brodjonegoro menyinggung soal penggunaan dana zakat untuk program pengentasan kemiskinan. Suri menilai pemaparan Bambang waktu itu cukup bagus karena menyangkut umat secara nasional. Akan tetapi, untuk menyukseskan rencana pengentasan kemiskinan melalui zakat ini harus direalisasikan dengan benar dan terarah.

“Estimasi jika umat Islam Indonesia yang mampu untuk berzakat sebesar 217 Triliun, sebuah nilai yang besar untuk menyukseskan pengentasan kemiskinan. Tapi sosialisasi untuk umat saja kita belum mampu, bagaimana untuk skala nasional?” cetusnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, asas kemiskinan sendiri adalah kurangnya pendidikan umat sehingga tidak dapat bersaing, berujung kepada kemiskinan.

“Itu adalah tugas negara untuk mencerdaskan masyarakat, tanpa pendidikan “No”. Umat manusia harus diselamatkan, jangankan manusia kucing mati kelaparan dosa pemiliknya,” pungkasnya.

Siswi Muslimah Spanyol Perjuangkan Jilbab di Kampusnya

SPANYOL (Jurnlislam.com) – Dalam pekan yang sama saat jilbab dan busana muslim membuat debut yang menakjubkan di catwalk New York Fashion Week, Amerika Serikat, wanita di Spanyol memilih untuk mengenakan jilbab memperjuangkan kemenangan kecil mereka sendiri.

Takwa Rejeb, 22, seorang mahasiswi pariwisata yang penuh semangat, menjadi berita utama di seluruh negeri ketika ia mengecam sebuah sekolah di Valencia, di pantai timur Spanyol, yang melarang dia mengenakan jilbab, lansir World Bulletin, Kamis (22/09/2016).

“Saya tidak bisa menemukan kelas saya, jadi saya menemui kepala sekolah, yang saat itu ada di sana, dan dia mengatakan kepada saya kelas saya mulai di sore hari. Lalu dia berkata, “Asal tahu saja, Anda tidak akan dapat belajar dengan itu, dan aku bertanya, dengan apa?” Dan dia menjawab, “Dengan jilbab itu,” Rejeb mengatakan kepada media Jumat lalu.

Meskipun sekolah itu, Benlliure High School, mengatakan ada tiga siswi lain yang tidak diizinkan belajar dengan jilbab, ia merasa itu adalah pelanggaran hak-haknya. Alih-alih menerima atau pindah ke sekolah lain, ia memutuskan untuk menantang larangan tersebut.

Bersama-sama dengan pengacara dari SOS Racismo, sebuah organisasi payung kelompok anti-rasis, ia membawa kasus ini ke Departemen Pendidikan Valencia. Otoritas Valencia awalnya mengatakan kepada harian Spanyol, El Pais bahwa sekolah berhak memutuskan dress code (aturan berpakaian).

Kepala Sekolah Benlliure mengatakan aturan berpakaian di sekolah itu “masuk akal dan secara luas diterima” oleh siswa, dengan alasan “homogenitas dan kesehatan” untuk membenarkan larangan bagi semua tutup kepala, menurut El Pais.

Namun, pemerintah Valencia mengumumkan pada hari Senin bahwa mereka akan “menjamin hak pendidikan” bagi siswa. Pada hari Kamis, seorang pejabat pemerintah Valencia mengatakan kepada El Pais bahwa pemerintah daerah akan menjamin jilbab diizinkan di setiap lembaga yang didanai oleh pemerintah Valencia.

 

Pasukan Assad Gelar Operasi Penangkapan Massal terhadap Pemuda di Deir Ez Zour

SURIAH (Jurnalislam.com) – Pasukan rezim Nushairiyah Assad melakukan operasi penangkapan massal terhadap para pemuda di kota Deir Ez-Zour untuk mengumpulkan sebanyak mungkin rekrutan untuk membantu militer Assad dalam pertempuran, lansir ElDorar AlShamia, Kamis (22/09/2016).

Penangkapan itu terkonsentrasi di lingkungan “al-Jura” dan “al-Qosour” di mana mereka telah mendirikan pos pemeriksaan di jalan-jalan utama dan ke rumah-rumah.

Sekitar 60 pemuda yang berusia antara 17 sampai 32 tahun ditangkap, sumber media melaporkan.

Sumber tersebut mengatakan bahwa penangkapan terjadi bertepatan dengan gerakan kelompok Islamic State (IS) di wilayah tersebut dan memperkuat front pertempuran, terutama di sekitar “Jabal al-Thardeh” dan Deir Ez-Zour Airport.

Turki Tidak akan Ikut dalam Operasi Merebut Raqqa Jika PYD dan YPG Berpartisipasi

ANKARA (Jurnalislam.com) – Turki tidak akan berpartisipasi dalam operasi yang kemungkinan akan dilaksanakan untuk merebut kota Raqqa di Suriah utara dari Islamic State (IS) selama operasi tersebut mendapat dukungan dari milisi PYD, sayap Suriah dari kelompok ekstremis PKK, dan YPG, Juru Bicara Presiden Ibrahim Kalin mengatakan Kamis (22/09/2016), lansir World Bulletin.

“Bergabung dalam operasi bersama PYD/YPG benar-benar tidak mungkin. Pada prinsipnya, kami mendukung pembersihan Raqqa dan kota-kota Suriah lainnya dari kelompok IS. Namun, prinsip-prinsip dan ketentuan kami tentang masalah ini jelas,” katanya dalam sebuah wawancara dengan jaringan berita milik negara TRT Haber.

Juru bicara itu menjawab pertanyaan tentang kemungkinan operasi gabungan AS-Turki untuk membebaskan Raqqa, yang dibahas oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden AS Barrack Obama selama KTT G20 di Cina awal September.

Kalin mengatakan negosiasi masih berlangsung, dan belum ada ketetapan.

Pendekatan Turki untuk setiap operasi di Raqqa akan mirip dengan pendekatan dalam operasi Manbij atau Jarabulus, tambahnya.

Kalin juga mengomentari proses menawarkan kewarganegaraan untuk warga Suriah “yang memenuhi kriteria tertentu” dan mengatakan Turki akan terus menerima pengungsi Suriah, meskipun “bukan merupakan negara terkaya di dunia.”

“Namun, Turki adalah negara yang menjadi tuan rumah bagi pengungsi dalam jumlah terbesar,” katanya, menambahkan Turki juga menduduki puncak daftar teratas dalam hal bantuan kemanusiaan yang ditawarkan relatif terhadap pendapatan per kapita.

Turki menjadi tuan rumah pengungsi Suriah jumlah terbesar di dunia – yaitu sejumlah 2,7 juta – dan sejauh ini telah menghabiskan sekitar $ 10 miliar untuk pengungsi di Turki.

Faksi Perlawanan Suriah: Kami akan Fasilitasi dan Lindungi Kiriman Bantuan ke Warga Sipil

SURIAH (Jurnalislam.com) – Faksi perlawanan Suriah menegaskan lagi pada Rabu, dalam pernyataan bersama, bahwa mereka akan memfasilitasi dan melindungi konvoi kemanusiaan yang dikirim untuk warga sipil di Suriah, ElDorar AlShamia melaporkan Kamis (22/09/2016).

Faksi menolak sepenuhnya setiap upaya yang menargetkan konvoi kemanusiaan, menyerukan PBB dan masyarakat internasional untuk mengambil tanggung jawab dan menghukum mereka yang terlibat dalam pemboman, yang menargetkan konvoi Bulan Sabit Merah di pedesaan barat Aleppo.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa rezim Syiah Assad telah berulang kali mengganggu masuknya bantuan kemanusiaan ke daerah-daerah yang terkepung, dan tidak menanggapi resolusi Dewan Keamanan, dalam sabotase terbaru terhadap konvoi bantuan kemanusiaan yang dikirim ke distrik Muadamiyat al-Sham yang dikepung.

31 Korban, termasuk 12 petugas Bulan Sabit Merah Suriah tewas dalam pemboman udara rezim yang menargetkan 20 truk yang membawa bahan bantuan kemanusiaan yang dikirim PBB, dan di bawah pengawasan Bulan Sabit Merah Suriah.

Lebih dari 20.000 Pengungsi Suriah di Turki Kembali ke Kota Jarablus

TURKI (Jurnalislam.com) – Lebih dari 20.000 warga Suriah telah kembali ke Jarabulus dekat perbatasan Turki, beberapa pekan setelah Tentara Pembebasan Suriah yang didukung Angkatan Darat Turki membebaskan kota Suriah utara di provinsi Aleppo, kata seorang pejabat daerah kepada Anadolu Agency, Kamis (22/09//2016).

Selama sebulan Operasi Perisai Efrat, sekitar 1.200 kilometer persegi (745 mil) wilayah Suriah utara telah dibersihkan dari unsur-unsur kelompok Islamic State (IS) di wilayah tersebut. Sekitar 900 posisi IS diserang 4.000 kali setelah pengambilalihan Jarabulus, sumber tersebut menambahkan.

Sebagai hasil dari operasi, populasi Jarabulus sekarang membengkak menjadi 25.000 dari 3.500, menurut seorang anggota dewan lokal di kota Suriah. Ratusan keluarga akan pulang dari Azaz di pedesaan utara Aleppo dan Manbij, kata seorang pejabat yang berbicara dengan syarat anonimitas karena masalah keamanan.

Pasukan oposisi Suriah baru-baru ini mengambil alih distrik Tal-ar kota Cobanbey di provinsi barat laut Aleppo, yang telah diduduki oleh pasukan IS.

Operasi Perisai Efrat dimulai bulan lalu dan Tentara Pembebasan Suriah, yang didukung oleh militer Turki, merebut kembali Jarabulus dari IS.

Turki mengatakan operasi mereka bertujuan untuk meningkatkan keamanan perbatasan, mendukung pasukan koalisi dan menghilangkan ancaman yang ditimbulkan oleh milisi, terutama IS dan PYD dukungan AS. Operasi ini sejalan dengan hak negara untuk membela diri sesuai perjanjian internasional dan mandat yang diberikan kepada angkatan bersenjata Turki oleh parlemen pada tahun 2014, yang telah diperpanjang satu tahun lagi di September 2015.

Helikopter Rezim Suriah Serang Warga Sipil dengan Bom Barel, 11 Tewas

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Sebelas orang tewas dan puluhan lainnya terluka pada hari Kamis ketika helikopter rezim Suriah menjatuhkan bom barel di wilayah yang dikuasai para pejuang di barat laut kota Aleppo, Suriah, kata sumber-sumber medis setempat, lansir Anadolu Agency, Kamis (22/09/2016).

Menurut sumber dari rumah sakit lapangan lokal yang berbicara secara anonim karena takut akan keselamatan mereka, sedikitnya sembilan warga sipil tewas di distrik Al-Sokkari Aleppo sementara dua lainnya tewas di distrik Al-Ansari.

Sementara itu, Najib al-Ansari, seorang pejabat pertahanan sipil yang berbasis di Aleppo, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa pesawat tempur Rusia dan rezim Assad telah melakukan 150 serangan udara terpisah di Aleppo pada hari Rabu.

“Pesawat Rusia menyerang kawasan Bustan al-Qasr [Aleppo] dengan bom fosfor, mengakibatkan beberapa bangunan tempat tinggal terbakar,” kata al-Ansari.

Suriah telah terkunci dalam perang global sejak awal 2011, ketika rezim Nushairiyah Assad menumpas para pengunjuk rasa – yang meletus sebagai bagian dari gerakan “Arab Spring” – dengan keganasan militer yang tak terduga.

Pusat Penelitian Kebijakan Suriah, sebuah LSM yang berbasis di Beirut, melaporkan jumlah korban tewas akibat konflik enam tahun di Suriah lebih dari 470.000.