Berita Terkini

Gelombang Kecaman untuk Ahok Sampai di Semarang

SEMARANG (Jurnalislam.com) – Gelombang protes dan kecaman untuk petahana Ahok tidak bisa dibendung, mulai dari Ibukota DKI Jakarta hingga berbagai daerah. Semarang misalanya, siang ini ratusan umat Islam di Semarang mengadakan aksi damai menuntut aparat untuk segera memenjarakan Ahok.

Ratusan umat Islam yang tergabung dari berbagai ormas Islam seperti Jama’ah Ansharusy Syariah, HTI, MCI dan Jama’ah sholawat dan Maulud itu berunjuk rasa dari Masjid Baiturrahman Simpang Lima menuju Bundaran Air Mancur di Jl. Pahlawan, Semarang, Jum’at (21/10/2016) siang.

“Tujuan aksi ini menuntut supaya Ahok segera diadili dan mendukung fatwa MUI pusat munghukum Ahok karena melecehkan Al-Qur’an dan ulama,” kata kordinator aksi, Marjuki kepada jurniscom disela-sela aksi.

Sementara itu, Abu Sumayyah salah satu orator mengatakan gemuruh takbir berkumandang di seluruh pelosok negeri, merespon dugaan penistaan agama oleh petahana DKI itu. Ia khawatir, umat Islam dengan semangat jihad akan bertindak represif jika kepolisian tidak bertindak cepat atasi Ahok.

Orasi di Semarang menuntut Kepolisian percepat adili ahok

“Kami khawatir akan muncul generasi-generasi Islam seperti Muhammad bin Maslamah ketika pekikan takbir tidak dihiraukan oleh Kapolri untuk memenjarakan Ahok,” tegasnya.

“Kami berdiri disini menuntut dipenjarakannya Ahok laknatullah,” cetusnya lagi.

Pantauan jurniscom, beberapa diantara para peserta memberikan selebaran kepada pengguna jalan. dan membentangkan spanduk bertuliskan “Minta Maaf Boleh Saja Tapi Proses Hukum Harus Berlanjut”, ” Tangkap Ahok Demi Harga Diri Umat dan Bangsa” dan ” Fatwa MUI Bahwa Ahok Harus Diproses Hukum”.

Acara yang dihadiri ratusan umat Islam itu berakhir menjelang sholat ashar dan membubarkan diri secara tertib.

Aksi di Solo Raya Mendesak Kepolisian untuk Tidak Tebang Pilih Menjalankan Roda Hukum

SURAKARTA (Jurnalislam.com) – Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) dan sejumlah Elemen Islam Solo Raya kembali menggelar aksi unjuk rasa, mendesak Kapolri untuk mengadili Basuki Tjahya Purnama alias Ahok. Massa meminta surat yang telah di keluarkan MUI segera di laksanakan.

Elemen Islam Solo Raya yang terdiri dari ribuan umat Islam itu melakukan Aksi mulai dari Masjid Agung Surakarta di Jln. Masjid Agung, Baluwarti, Pasar Kliwon menuju Masjid Baitussalam Tipes Solo pada Jum’at (21/10/2016) siang.

“Kami berharap surat MUI Pusat yang terkait dengan pelecehan dan penistaan terhadap Al-Qur’an oleh petahana Ahok untuk segera diproses secara hukum secepatnya. Semua warga negara memiliki kedudukan yang sama di mata hukum” ujar kordinator aksi, Edy Lukito di perempatan Singosaren Plaza.

Dalam orasinya itu Edy mengatakan, kemarahan umat Islam terhadap Ahok sudah tidak dapat dibendung lagi. Aparat penegak hukum dinilai lamban untuk memproses hukuman Ahok.

“Kami selaku umat Islam sangat marah akan ucapan Ahok, ia dengan jelas menistakan Al Qur’an. Akan tetapi kami juga marah akan lambannya Kapolri memproses Ahok secara hukum,” tegasnya.

Untuk itu, ketua LUIS mendesak kepolisan untuk tidak tebang pilih dalam menjalankan roda hukum. Tidak menilai dari strata tertentu.

“Jangan hanya orang yang miskin dan lemah saja yang di proses secara hukum, sedangkan orang-orang yang berduit, pejabat, konglomerat hukum menjadi tumpul,” pungkasnya.

Aksi diakhiri dengan sholat ashar berjamaah di Masjid Baitussalam Tipes dan para peserta membubarkan diri dengan tertib.

Sebagaimana diketahui, hari ini puluhan ribu umat Islam dari berbagai daerah melakukan unjuk rasa, mengecam aparat penegak hukum untuk mengadili Ahok.

Reporter : Rommy, Ridho Asfariy

Amir Ansharusy Syariah Nusra: Kami Akan Kawal Proses Hukum Ahok

BIMA (Jurnalislam.com) – Menanggapi kasus pelecehan dan penistaan terhadap Al-Qur’an yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Amir Jamaah Ansharusy Syariah Wilayah Nusa Tenggara, Ustadz Abdul Hakim menegaskan akan mengawal proses hukum kasus tersebut.

“Kami akan terus mengawal proses hukum terhadap Ahok, jangan sampai terkesan polisi menutup mata, sehingga dikhawatirkan akan muncul lagi aksi yang lebih masif,” katanya kepada Jurniscom, Kamis (20/10/2016).

Ustadz Abdul Hakim menyatakan, Ahok telah menghina kitab suci umat Islam dan telah merendahkan para ulama.

“Oleh karena itu sudah menjadi tanggung jawab setiap dari umat muslim ketika dia tahu agamanya dihina, kitab sucinya dihina, ulamanya dihina, maka tidaklah benar kalau kemudian kita diam,” lanjutnya.

Ia mengingatkan Ahok agar tidak bermain api dengan kaum muslimin. “Umat Islam dilarang oleh nabinya mencari musuh, tetapi jangan coba-coba ganggu agamanya, dan siapapun yang melakukan hal itu dia pasti akan dikalahkan,” tegasnya.

Ustadz Abdul Hakim khawatir, jika aparat dan pemerintah tidak mengambil langkah tegas atas perilaku Ahok, umat Islam sendiri yang akan menghakimi Ahok.

“Kalau ini dibiarkan maka kami khawatir si Ahok akan menghadapi pengadilan jalanan,” ujarnya.

“Hukum adalah panglima tertinggi, jangan sampai hukum itu tumpul ke atas dan tajam ke bawah, maka jangan hanya mempermainkan dan memaniskan kata, tetapi tnjukanlah bukti nyata,” pungkasnya.

Kekhawatiran Meningkat akan Kemungkinan Konflik Sunni-Syiah di Mosul

ANKARA (Jurnalislam.com) – Saat operasi militer untuk memperebutkan kota Mosul di utara Irak dari Islamic State (IS) dimulai awal pekan ini, beberapa pihak telah menyuarakan keprihatinan mereka akan konsekuensi yang mungkin muncul dari konflik Sunni-Syiah di wilayah tersebut.

Mereka telah menyuarakan peringatan terhadap keterlibatan langsung milisi Syiah dalam membebaskan kota menyusul laporan bahwa IS telah melakukan kekejaman terhadap penduduk Sunni di bagian lain Irak.

“Ada risiko konflik internal antara pasukan Peshmerga dan Hashd al-Shaabi [milisi Syiah] setelah IS sepenuhnya keluar dari Irak,” kata mantan Kepala Staf Umum Irak Babekir Zebari.

“Posisi terlemah di Irak adalah Sunni Arab dan Turkmen,” tambah Abdul-Nasir al-Mahdawi, mantan gubernur provinsi Diyala Irak.

“Kurdi mendapatkan dukungan internasional dan Syiah yang berkuasa saat ini; Turkmen tidak memiliki kekuatan yang melindungi mereka. Sehingga sangat normal jika Turki peduli dengan mereka,” katanya.

Mahdawi menyarankan agar Irak dan Turki bekerja sama untuk memastikan bahwa tidak ada kelompok etnis di wilayah tersebut yang menjadi target.

Peran Turki dalam operasi itu telah menciptakan ketegangan antara Ankara dan Baghdad, yang telah meminta bantuan Turki setelah jatuhnya Mosul ke tangan IS pada Juni 2014.

Sejak itu, pasukan Turki telah melatih ribuan pejuang Irak dan Peshmerga di sebuah kamp di Bashiqa, sebelah timur laut Mosul.

Tapi Baghdad baru-baru ini mulai mengeluh tentang kehadiran pasukan Turki dan bulan lalu pertengkaran diplomatik meletus mengenai masalah ini.

Presiden Recep Tayyip Erdogan telah berulang kali menekankan bahwa pasukan Turki akan tetap berada di Bashiqa.

Erdogan menunjuk kekhawatiran Turki atas kepentingan penduduk Arab dan Turkmen Sunni di Mosul.

Sekretaris Jenderal Turkish-Arab Dialogue Platform dan penasihat dari Abdullah Gul, mantan Presiden Turki, Ersat Hurmuzlu juga berpendapat bahwa Turki tidak bermain dengan sektarianisme di wilayah tersebut.

“Ada Sunni dan Syiah Turkmen di Tal Afar [kabupaten di Provinsi Nineveh barat laut Irak],” katanya, dan mengutip Erdogan saat mengatakan: “Tal Afar milik orang-orang yang berada di sana.”

Hurmuzlu menekankan bahwa integritas teritorial Irak sangat signifikan bagi Turki.

Pemimpin Iraqi Turkmen Front Irsyad Salihi juga menunjuk kehadiran warga di Mosul dari berbagai agama dan etnis.

Menggarisbawahi “sensitivitas” masalah ini, Salihi mengatakan: “Kami berharap tidak ada hal buruk yang terjadi di Mosul, yang akan menguntungkan IS.”

“Mereka yang mendorong IS di wilayah ini adalah kekuatan yang ingin melihat Irak terbagi, Muslim didorong pada konflik sektarian, dan runtuhnya perekonomian daerah,” tegasnya.

Awal pekan ini, pasukan Irak, yang didukung oleh serangan udara, melancarkan serangan untuk mengambil kembali Mosul – benteng terakhir IS di Irak utara, yang dikuasai oleh IS sejak pertengahan 2014.

Imam Masjid Agung Taipei: Ibadah Boleh Sesuka Hati Namun Dukungan Keuangan dari Negara Tidak Ada

TAIWAN (Jurnalislam.com) – Imam Masjidil Haram Taipei mengatakan bahwa umat Islam diperlakukan setara di negara pulau kecil yang otonom, meskipun ia mengatakan mereka tidak mendapatkan dukungan keuangan dari pemerintah.

Dalam sebuah wawancara dengan Anadolu Agency, Kamis (20/10/2016) Ibrahim Gao mengatakan bahwa sekitar 200.000 Muslim di Taiwan bebas untuk beribadah sesuka hati.

“Umat setiap agama dapat dengan bebas melakukan kegiatan mereka sendiri di bawah kerangka konstitusional dan hukum,” katanya.

Dia menyoroti kesamaan sistem Taiwan, tetapi mengeluh tentang kurangnya dukungan keuangan dari pemerintah yang mengatakan bahwa mereka yang mempraktekkan Islam merupakan “minoritas kecil dari [keseluruhan] penduduk” yang berjumlah 23 juta.

Dari 200.000 Muslim di negara itu, hanya setengah yang merupakan penduduk setempat, kata Gao, dengan sisanya adalah migran yang tiba di negara itu karena alasan pekerjaan.

Karena mereka tidak hidup sebagai satu komunitas, “mereka secara politik lemah,” katanya.

Imam juga mengangkat isu kurangnya perwakilan Muslim di parlemen dan lembaga-lembaga negara.

Masjid Agung Taipei adalah yang terbesar dan paling terkenal di antara tujuh masjid Taiwan.

Bagaimanapun peran Masjid tersebut dalam masyarakat lokal lebih besar daripada di banyak komunitas Muslim lainnya karena sekolah Taiwan tidak menawarkan pendidikan agama, baik itu Islam, Kristen, atau Budha.

“Ini adalah tanggung jawab orang tua untuk pendidikan agama Islam bagi anak-anaknya,” kata Gao, menambahkan bahwa mereka juga mengatur kegiatan pendidikan di Masjid-masjid.

Warga sipil Aleppo Tolak untuk Meninggalkan Kota

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Unjuk rasa meletus pada Kamis malam di distrik-distrik timur Aleppo yang terkepung, di mana penduduk daerah tersebut mengkonfirmasi mereka menguasai kota dan menyatakan penolakan mereka untuk pergi, ElDorar AlShamia melaporkan, Kamis (20/10/2016).

Aksi dukungan menyambut faksi Syrian Resistance yang menggagalkan serangan sengit terhadap kota, mengecam serangan yang dilakukan oleh pasukan Syiah Nushairiyah Assad dan sekutunya (Rusia dan Iran), untuk menekankan kepatuhan penduduk terhadap mereka – namun mereka bertekad untuk tinggal di lingkungan mereka dan tetap bertahan.

Koalisi pejuang Suriah di Aleppo mengatakan, tujuan Moskow dan rezim Syiah Bashar al-Assad adalah mengosongkan warga sipil di daerah yang dikuasai mujahidin dan para pejuang oposisi sehingga mereka dapat mengambil alih seluruh kota.

“Mereka berbicara tentang koridor kemanusiaan, tapi mengapa mereka tidak mengirimkan bantuan makanan dan obat-obatan untuk masuk ke Aleppo timur yang terkepung meringankan penderitaan kami? Kami hanya ingin pembom Rusia menghentikan pembunuhan anak-anak kami. Kami tidak ingin pergi,” kata Ammar al-Qaran, penduduk di distrik Sakhour kepada Aljazeera.

Bagian Timur Aleppo yang terkepung mulai hidup dalam keadaan tenang setelah gencatan senjata diumumkan oleh Rusia, yang akan diperpanjang dalam upaya menekan rakyat dan faksi perlawanan untuk keluar menuju provinsi Idlib, tapi di hari pertama gencatan senjata tidak ada keluarga yang pergi ke arah jalur keluar.

Perang Hari Ke-5: Pengakuan Warga Sipil Mosul kepada Al Jazeera

IRAK (Jurnalislam.com)Al Jazeera berbicara kepada penduduk yang terjebak di dalam kota saat pertempuran untuk merebut kembali Mosul memasuki hari kelima.

Keluarga di Mosul, Irak, mengatakan mereka hidup dalam ketakutan dan putus asa saat operasi militer untuk merebut kembali Mosul dari Islamic State (IS) semaakin intens.

Berbicara kepada Al Jazeera di telepon dari dalam Mosul, Kamis (20/10/2016), Abu Yazan, 36, yang tidak mau nama sebenarnya digunakan karena takut akan pembalasan dari kelompok IS, mengatakan “tidak mungkin” melarikan diri Mosul pada tahap ini.

“.. Tidak ada jalan keluar bagi kami sebagai keluarga. Bahkan jika kita berpikir untuk melarikan diri dari kota, yang tidak mungkin pada saat ini. Kami sedang dijadikan sandera; IS menjadikan seluruh kota Mosul sebagai sandera,” kata ayah dari tiga orang anak itu.

Abu Yazan mengatakan satu-satunya jalan yang bisa ditempuh keluarga adalah ke negara tetangga Suriah melalui jalan barat Mosul yang memotong melalui padang gurun. “Saya memiliki tiga anak, yang termuda berusia 4 tahun, dan yang tertua adalah 11 tahun. Saya tidak akan pernah mempertaruhkan nyawa mereka dan menyeberangi gurun dengan mereka. Kami mungkin akan menjadi target, bisa mati kehausan, atau bahkan tersesat.”

Sejak operasi dimulai, Abu Yazan mengatakan IS “meningkatkan jumlah pasukan mereka di kota dan juga meningkatkan penjagaan di pos pemeriksaan,” menambahkan bahwa kelompok itu “memaksa siapa saja yang memiliki kendaraan untuk mengganti plat mobil mereka dengan yang dibuat oleh IS, yang bertuliskan ‘Negara Niniwe’ “, untuk mencerminkan Niniwe Governate – dimana Mosul adalah ibukota khalifah yang mereka proklamirkan sendiri.

Abu Yazan adalah salah satu dari 1,5 juta warga sipil yang terperangkap di dalam kota. Saat Irak, Kurdi dan pasukan koalisi mendorong ke kota, badan-badan bantuan internasional telah memperingatkan konsekuensi potensial terhadap kehidupan sipil.

ac055cc3ec854594a2668a66fdaacb36_18“Ada kekhawatiran nyata bahwa serangan untuk merebut kembali Mosul bisa menghasilkan bencana manusia yang mengakibatkan salah satu krisis perpindahan manusia yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir,” William Spindler, juru bicara badan bantuan PBB, mengatakan.

PBB memperkirakan sebanyak satu juta warga Irak mungkin meninggalkan rumah mereka dalam hitungan pekan.

Mosul, kota terbesar kedua di Irak, jatuh ke tangan IS pada bulan Juni 2014 dan saat ini merupakan kubu besar terakhir di negara itu. Walaupun usaha untuk mengambil kembali kota ini dilihat sebagai langkah positif bagi pemerintah Irak, operasi itu memliki risiko yang mengancam hidup warga sipil yang mencoba melarikan diri dari bawah kendali IS atau terjebak dalam baku tembak.

Meskipun banyak ancaman yang berasal dari pasukan IS, organisasi hak asasi manusia telah menemukan bahwa warga sipil juga rentan terhadap penganiayaan oleh milisi Syiah Irak pada Unit Mobilisasi Populer (Popular Mobilisation Units-PMU) yang disponsori negara.

PMU, yang sebagian besar terdiri dari milisi Syiah tetapi juga terdapat kelompok Sunni dan kelompok lain, secara resmi ditunjuk sebagai bagian dari angkatan bersenjata Irak pada bulan Februari 2016, setelah mengambil peran utama dalam memerangi IS sejak tahun 2014.

PMU telah dilaporkan menculik, membunuh, dan menyiksa warga sipil dalam operasi terakhir mereka untuk merebut kembali wilayah dari IS di Ramadi.

Abu Yazan mengatakan penduduk Mosul berharap pasukan PMU “tidak diperbolehkan memasuki kota.”

“Kami terjebak. Tidak ada tempat aman di Mosul. Kami takut akan pemboman acak, kami kuatir jika milisi sektarian Syiah masuk ke dalam Mosul.”

Sebuah laporan terbaru yang dirilis oleh kelompok hak asasi yang berbasis di Inggris, Amnesty International, merinci kebrutalan yang dialami warga sipil di tangan IS, Milisi Syiah Irak, dalam konfrontasi sebelumnya.

ccbcec3019e94bb9ab08bfb046fc010e_9

“Sangat penting bahwa semua pasukan yang terlibat – Irak, Kurdi, dan koalisi pimpinan AS – tidak menargetkan warga sipil dan melakukan segala upaya untuk menghindari serangan yang tidak proporsional di daerah pemukiman sipil, dan memastikan agar warga sipil yang ingin melarikan diri memiliki rute aman untuk melarikan diri,” Donatella Rovera, penasihat respon krisis senior untuk Amnesty, mengatakan kepada Al Jazeera, Rabu.

Menurut PBB, sekitar 3,3 juta warga Irak, atau 10 persen dari 33 juta penduduk Irak, telah mengungsi dari rumah mereka sejak awal krisis pada bulan Januari 2014, ketika IS menguasai sejumlah besar wilayah negara.

Lebih dari satu juta warga Irak mengungsi antara tahun 2006 dan 2008 akibat perang sektarian di Irak, menyusul invasi pimpinan AS dan penjajahan pada tahun 2003. Operasi Mosul ini diperkirakan akan menghasilkan eksodus massal warga sipil lain, yang paling menderita selama konflik.

Abu Yazan mengatakan ia berharap serangan militer akan berakhir secepat mungkin. “Mungkin satu-satunya cara yang mengakhiri penderitaan kita adalah ketika operasi dilakukan dan tentara Irak memegang kontrol atas Mosul.

Setelah Duduki 12 Desa, Pasukan Peshmerga Terus Bergerak Menuju Kota Mosul

IRAK (Jurnalislam.com) – Pasukan Peshmerga pada hari Kamis (20/10/2016) merebut beberapa desa di sebelah timur laut Mosul pada hari keempat operasi militer besar untuk “membebaskan” Mosul dari kelompok Islamic State (IS), menurut sumber-sumber militer.

“Pasukan kami membebaskan 12 desa di tiga sumbu sepanjang perjalanan menuju Mosul dari timur laut,” Younis Al-Quran, seorang perwira militer Peshmerga, kepada Anadolu Agency, Kamis.

Awal pekan ini, pasukan Irak, yang didukung oleh serangan udara koalisi pimpinan AS, melancarkan serangan untuk merebut kembali Mosul – benteng terakhir IS di Irak utara, yang dikuasai mereka Sejak pertengahan 2014.

Enam dari desa yang direbut hari Kamis tersebut terletak di sepanjang sumbu Nawran, lima di sepanjang sumbu Bashiqa dan satu sepanjang sumbu Tel Saqf, kata Al-Quran.

“Dengan pembebasan desa Khorsabad pada sumbu Nawran, pasukan Peshmerga sekarang berada di 12 kilometer sebelah utara Mosul,” kata Al-Quran.

Menurut sumber Peshmerga yang berbicara dengan Anadolu Agency pada kondisi anonimitas karena pembatasan berbicara kepada media, kemajuan mereka didukung oleh kekuatan koalisi udara yang dipimpin AS.

Odai al-Hamdani, seorang perwira tentara Irak, mengatakan kepada Anadolu Agency pada hari Kamis bahwa pasukan khusus Irak telah tiba di daerah Al-Khazir (terletak sekitar 40 kilometer di sebelah timur Mosul) sebelum merencanakan merebut kota lain yang dikuasai IS.

Dalam perkembangan terkait, Departemen Pertahanan Irak mengumumkan bahwa tujuh desa di selatan Mosul telah jatuh ke pasukan Irak, Rabu.

“Pasukan Polisi Federal maju dari selatan sepanjang sumbu Qayyarah dan berhasil merebut kembali desa Al-Bijwaniyah, Al-Bijwaniyah al-Thalitha, Al-Daraj, Al-bikr al-Owla, Al-bikr al-Thaniya, Al-Mankouba dan Al-Raflah,” kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan, Kamis.

Ia menegaskan bahwa milisi IS telah mengalami “kekalahan besar” selama pertempuran.

Pada hari Rabu, Kementerian Dalam Negeri mengumumkan bahwa pasukan Irak telah menguasai total 352 kilometer persegi wilayah selatan Mosul sejak operasi untuk merebut kembali Mosul secara resmi dimulai akhir Ahad malam.

Presiden Irak Fuad Masum menyatakan bahwa Mosul – setelah direbut kembali dari IS – akan “diadministrasikan oleh penduduk Mosul itu sendiri dari semua latar belakang agama dan etnis.”

Dalam sebuah pernyataan hari Kamis, Masum menekankan kebutuhan untuk mempertahankan persatuan Irak dengan tujuan mencapai “penghapusan akhir” IS dan membangun “Irak yang stabil dan makmur.”

Mosul akan dibebaskan “oleh rakyat Irak”, tegasnya, dan akan dijalankan oleh orang Irak dari “semua ras dan kepercayaan.”

IS merebut Mosul pada pertengahan 2014 sebelum menduduki sebagian besar wilayah di utara dan barat Irak.

 

Serangan Udara Turki Bunuh 200 Pasukan PKK-PYD di Suriah Utara

ANKARA (Jurnalislam.com) – Serangan oleh pesawat-pesawat tempur Turki menewaskan hingga 200 milisi PKK/PYD di Suriah utara, kata militer Turki, Kamis (20/10/2016), lansir Anadolu Agency.

Dalam sebuah pernyataan, Staf Umum Turki mengatakan antara 160 hingga 200 anggota kelompok teror tewas dalam serangan yang dilakukan sebagai bagian dari Operasi Periai Efrat (Euphrates Shield).

Pernyataan itu tidak menjelaskan lokasi tepat serangan tetapi PKK/PYD baru-baru ini mencoba untuk mengambil Al-Bab, sebuah kota sekitar 37 kilometer (23 mil) di timur laut Aleppo, dalam upaya untuk menyatukan dua wilayah yang mereka kendalikan – Afrin dan Manbij.

Menurut sumber lokal, yang berbicara dengan syarat anonim, serangan ini membawa PKK/PYD ke dalam konflik dengan Tentara Pembebasan Suriah (Free Syrian Army-FSA) yang didukung Turki pada hari Selasa dan Rabu.

Militer Turki tidak memberikan kerangka waktu serangan udara tetapi mengatakan 18 target hancur dalam serangan jet yang menjatuhkan 26 bom. Target termasuk sembilan bangunan yang digunakan sebagai kantor pusat, tempat penampungan dan gudang senjata serta sebuah mobil lapis baja, dua kendaraan bersenjata dan dua kendaraan tak bersenjata, kata pernyataan itu.

Dalam pernyataan sebelumnya yang dikeluarkan Kamis, militer mengatakan 11 target stasioner lain dan tujuh target bergerak hancur dalam serangan yang dilakukan pukul 21:11-23:59 waktu setempat (1811 dan 2059GMT) Rabu.

PYD cabang Suriah keduanya terdaftar sebagai kelompok ektremis yang didukung AS, dan Uni Eropa hanya melihat PKK saja yang dianggap sebagai organisasi teroris.

Operasi Perisai Efrat diluncurkan pada bulan Agustus untuk membersihkan daerah perbatasan utara Suriah dari ektremis. FSA serta tank, artileri dan pesawat Turki menargetkan kelompok IS dan PKK/PYD dalam operasi ini.

PKK melanjutkan operasi bersenjata puluhan tahun pada bulan Juli tahun lalu. Sejak itu, serangan teroris PKK menewaskan lebih dari 700 personel Turki dan juga merenggut nyawa banyak warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, sementara hampir 8.000 milisi PKK tewas dalam operasi militer.

Umat Islam Bima: Ahok Dapat Mengancam Disintegrasi dan Instabilitas Bangsa

BIMA (Jurnalislam.com) – Pernyataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di depan masyarakat Kepulauan Seribu, Rabu (28/9/2016) lalu, telah mengundang kontroversi. Dalam pidato itu, Ahok menyinggung surat Al-Maidah ayat 51 dengan ucapan ‘dibohongin pakai Surat Al-Maidah 51’. Menanggapi itu, umat Islam Bima membuat pernyataan sikap yang disampaikan kepada kepolisian (Polres) Bima Kota, Kamis (20/10/2016).

Dalam pernyataan itu, umat Islam Bima mengapresiasi serta mendukung penuh fatwa dan tanggapan resmi MUI Pusat terkait pernyataan petahana Ahok itu beberapa waktu lalu. Mereka menilai, Ahok dapat mengancam terjadinya disintegrasi bangsa dan instabilitas keamanan nasional.

Berikut pernyataan lengkap umat Islam Bima;

1. Mengapresiasi dan mendukung sepenuhnya ketegasan MUI pusat atas penistaan Al-Quran dan penghinaan terhadap umat islam oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
2. Mengutuk keras pelecehan kitab suci Al-Qur’an oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang dapat mengancam terjadinya disintegrasi bangsa dan instabilitas keamanan nasional.
3. Pernyataan Ahok yang telah menistakan Al-Quran telah menyinggung SARA.
4. Mendesak keras Kapolri untuk segera menangkap memproses serta mengadili Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sesuai undang-undang yang berlaku.
5. Bilamana tuntutan kami tidak dipenuhi oleh kapolri, maka umat islam akan melakukan gerakan secara massif.
6. Menyeru kepada seluruh umat Islam untuk bersatu padu melakukan gerakan protes secara masif atas penistaan Al-Quran dan penghinaan terhadap umat Islam.