MATARAM (Jurnalislam.com) – Aliansi Umat Islam (AUI) NTB akan menolak kedatangan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke NTB pada 22-23 November mendatang. Jokowi direncanakan membuka Pameran Teknologi Tepat Guna se-Indonesia yang akan dihelat di Lombok, NTB.
“Langkah penolakan ini merupakan bentuk kekecewaan masyarakat muslim NTB terhadap lambannya penyelesaian kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok),” kata Ketua AUI NTB, Deddy AZ kepada wartawan dikutip dari Samawera, Jumat (11/11/2016).
Ia menilai, pemerintah juga terkesan bertele-tele dalam menyelesaikan persoalan yang pada akhirnya memantik reaksi keras dari umat muslim se-Indonesia. Selain itu, langkah penolakan juga tak lepas dari keengganan presiden menemui jutaan massa aksi dalam demo akbar pada Jumat 4 November lalu.
Deddy melanjutkan, akan ada dua bentuk aksi yang rencananya dilakukan, dan hal ini tergantung sikap presiden dalam menyelesaikan persoalan Ahok.
“Kalau (Ahok) ditangkap sebelum tanggal 22, kita aksi simpatik dan terima kasih telah menangkap. Kami akan sambut Jokowi dengan karangan bunga,” ujarnya.
Akan tetapi, ia katakan, apabila sampai 22 November belum ada penangkapan terhadap Ahok, AUI NTB dengan tegas dan keras menolak kedatangan presiden ke NTB.
“Kalau belum ditangkap sebelum tanggal 22, kita aksi menolak Jokowi datang dan menginjakkan kaki di NTB,” tegasnya.
MOSUL (Jurnalislam.com) – Kelompok Islamic State (IS) telah meluncurkan beberapa serangan balik terhadap pasukan Irak di kota Mosul, menggarisbawahi pertempuran seterusnya akan berlangsung intens saat pasukan pemerintah Irak dan sekutu mereka bergerak masuk ke lingkungan padat penduduk, lansir World Bulletin, Sabtu (12/11/2106).
Seorang pembom mobil IS menargetkan tentara Irak di lingkungan Qadisiya di timur Mosul Sabtu dini hari, menimbulkan pertempuran sengit yang melibatkan mortir, tembakan, dan granat berpeluncur roket.
Petugas Irak mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa pertempuran juga berlangsung di daerah Arbajiya.
“Pertempuran berlangsung intens pagi ini. Kami sedang berusaha untuk membentengi posisi kami di Arbajiya sebelum melanjutkan serangan kami ke al-Bakr,” Kolonel Muntadhar Salem dari unit kontraterorisme mengatakan.
Salem kemudian menjelaskan bahwa tujuan mereka adalah mengelilingi kawasan al-Bakr, tapi tidak untuk saat ini.
Di sebelah selatan kota, polisi Irak setingkat militer mengatakan mereka datang dari jarak sekitar 5 km dari bandara Mosul, yang ditunjukkan gambar satelit telah dijaga ketat oleh ISIL.
Gambar, yang diambil awal bulan ini oleh perusahaan intelijen swasta Stratfor yang berbasis di AS, menunjukkan pasukan IS membersihkan medan dan meratakan bangunan di sekitar bandara dan bekas pangkalan militer terdekat di tepi barat Sungai Tigris.
Deretan barikade beton, gundukan tanah dan puing-puing bisa dilihat memblokir rute utama ke pusat kota.
KARACHI (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 43 orang tewas dan lebih dari 100 lainnya terluka dalam sebuah ledakan besar di sebuah kuil di barat daya Pakistan pada Sabtu malam, Menteri Dalam Negeri Balochistan, Sarfaraz Bugti mengatakan kepada wartawan Andolu Agency, Sabtu (12/11/2016).
Puluhan orang telah tewas dan lebih dari 100 lainnya luka-luka di barat daya Pakistan setelah ledakan bom yang diklaim oleh kelompok bersenjata Islamic State (IS) merobek sebuah kuil penuh jamaah Sufi, lansir Aljazeera.
Ledakan itu terjadi di tempat kelompok sufi Shah Noorani yang terletak di kawasan terpencil Lasbela di provinsi barat daya Balochistan, yang dikunjungi setiap tahun oleh ribuan orang dari seluruh Pakistan.
Tidak ada komentar yang segera muncul menanggapi ledakan itu. Namun, media lokal mengutip sumber-sumber intelijen menyatakan bahwa ledakan itu adalah tindakan seorang pembom yang meledakkan diri dengan rompi peledak di tengah pertemuan di halaman kuil.
Presiden Mamnun Hussain dan Perdana Menteri Nawaz Sharif mengutuk serangan biadab tersebut.
Ledakan itu menewaskan sedikitnya 30 orang dan melukai lebih dari 100 lainnya, Hakeem Laasi, seorang pejabat dari Edhi Foundation, sebuah lembaga bantuan kemanusiaan yang bergerak dalam operasi penyelamatan, mengatakan kepada wartawan.
Komisaris Kalat Hashim Gulzai menyebutkan korban tewas berjumlah 25 dan lebih dari 50 lainnya terluka.
Laasi mengatakan banyak yang terluka meninggal karena luka-luka mereka karena tidak dapat segera dialihkan ke rumah sakit karena terpencilnya lokasi kejadian.
Beberapa orang tewas dan terluka akibat kepanikan yang disebabkan oleh ledakan, katanya, menambahkan bahwa puluhan yang terluka diangkut ke rumah sakit dengan kendaraan pribadi oleh pengunjung yang selamat dari serangan.
Banyak mayat, dan korabn yang terluka, kata dia, masih tergeletak di lokasi karena kurangnya ambulans.
Mushtaq Ahmed, seorang wartawan lokal mengatakan kepada Anadolu Agency melalui telepon bahwa korban tewas mungkin meningkat menjadi lebih dari 500 orang.
tim penyelamat sedang menghadapi kesulitan dalam operasi mereka karena kegelapan, dan sifat situs yang berada di daerah pegunungan. Pengunjung umumnya harus berjalan dan mendaki bukit untuk mencapai kuil.
Kepala Angkatan Darat Jenderal Raheel Sharif mengatakan bahwa pasukan dan tim medis dikirim untuk bergabung dengan upaya penyelamatan.
MYANMAR (Jurnalislam.com) – Militer Myanmar mengatakan pasukannya menewaskan enam orang. Mereka juga kehilangan dua tentara dalam bentrokan dengan penyerang di negara bagian Rakhine, Sabtu, dalam bentrokan terbaru di wilayah yang dilanda krisis kemanusiaan tersebut, World Bulletin melaporkan, Sabtu (12/11/2106
Northern Rakhine, yang merupakan rumah bagi minoritas Muslim Rohingya dan berbatasan dengan Bangladesh, telah berada dalam kekuasaan militer sejak serangan kejutan di pos perbatasan yang menewaskan sembilan polisi Myanmar bulan lalu.
Tentara telah membunuh puluhan orang dan menangkap beberapa orang lainnya dalam memburu penyerang, yang menurut pemerintah adalah pejuang muslim Rohingya yang memiliki link dengan pejuang Islam di luar negeri.
Krisis dan laporan pelanggaran hak asasi berat yang dilakukan bersamaan dengan tindakan brutal tentara Myanmar telah menumpuk tekanan internasional terhadap pemerintah sipil baru Myanmar dan mengangkat pertanyaan tentang kemampuannya untuk mengendalikan tentara.
Pihak berwenang juga sangat membatasi akses ke daerah, sehingga secara independen sulit untuk memverifikasi laporan atau tuduhan pelecehan tentara pemerintah.
Pada hari Sabtu militer mengatakan bahwa mereka mendapat serangan baru di wilayah perbatasan, pertama oleh massa sekitar 60 orang bersenjatakan “senjata kecil dan pedang”.
Bentrokan pecah di pagi hari selama “Operasi pembersihan” di desa Ma Yinn Taung di kota Maungdaw, menurut sebuah pernyataan militer.
“Dalam bentrokan itu, enam mayat penyerang bersama dengan pistol yang dicuri penyerang pada 9 Oktober diambil,” katanya, menambahkan bahwa seorang tentara juga tewas sementara beberapa lainnya terluka.
Pasukan tentara kemudian mengikuti para penyerang ke desa terdekat Gwa Zona di mana mereka menghadapi gerombolan bersenjata sekitar 500 orang, kata militer.
“Tentara kembali menyerang tetapi kelompok itu sangat besar jumlahnya dan tentara harus menggunakan dua helikopter,” kata pernyataan itu, dengan menambahkan bahwa seorang perwira tewas dalam operasi itu.
Lebih dari 100.000 orang, sebagian besar warga Muslim Rohingya, didorong ke kamp-kamp pengungsian dengan pertumpahan darah sementara kelompok-kelompok hak asasi internasional telah berulang kali menyerukan Suu Kyi untuk memikirkan solusi untuk mereka.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan hari Jumat, Zainab Hawa Bangura, perwakilan khusus PBB untuk kekerasan seksual dalam konflik, mengatakan bahwa dia prihatin dengan laporan dan mengatakan sangat penting bagi pemerintah Myanmar untuk mengizinkan akses kemanusiaan ke daerah demi memberikan dukungan bagi korban yang selamat.
“Eskalasi kekerasan baru-baru ini dapat menyebabkan insiden kekerasan seksual yang lebih buruk, dan karena itu saya menyerukan kepada pemerintah Myanmar untuk mengambil langkah-langkah untuk menghentikan spiral kekerasan ini, khususnya terhadap perempuan dan anak perempuan,” katanya.
KABUL (Jurnalislam.com) – Pada Sabtu pagi (12/11/2016), pasukan pencari Syahid Imarah Islam Afghanistan (Taliban), Hafiz Muhammad Parwani, melakukan serangan istisyhad di dalam pangkalan udara Bagram NATO, berdasarkan informasi yang akurat dalam serangan tersebut 23 tentara Amerika termasuk perwira utama tewas dan 44 lainnya luka-luka serta beberapa pasukan Afghanistan juga tewas dan terluka, Al Emarah News melaporkan, Sabtu.
NATO membenarkan tewasnya beberapa korban dalam serangan yang jelas dilakukan Taliban di pangkalan militer AS terbesar di Afghanistan, Bagram Airfield dekat Kabul Sabtu pagi, lansir World Bulletin.
Abdul Shakoor Quddusi, kepala distrik Bagram, mengatakan sejumlah orang tewas dan 15 lainnya luka-luka dalam “ledakan kuat”, tapi tidak bisa mengkonfirmasi kebangsaan para korban.
Kementerian pertahanan Afghanistan mengatakan bahwa mereka menyadari ledakan tersebut tapi tidak bisa segera mengkonfirmasi korban.
“Kami dapat mengkonfirmasi bahwa ada ledakan di Bagram Airfield pagi ini setelah pukul 05:30 (0100 GMT). Ada korban,” kata koalisi militer dalam sebuah pernyataan singkat.
“Pasukan Perlindungan (Force Protection) kami dan tim medis telah menanggapi situasi ini,” tambahnya, tanpa menentukan apa penyebab ledakan.
Ledakan itu menyoroti memburuknya situasi keamanan hampir dua tahun setelah NATO secara resmi mengakhiri operasi tempur di Afghanistan.
Bagram Airfield, dekat dengan Kabul, telah sering diserang oleh Mujahidin Taliban.
Desember lalu, pembom istisyhad Taliban mengendarai sepeda motor menewaskan enam tentara AS di pangkalan militer AS terbesar di Afghanistan tersebut.
Malam sudah larut, namun Hermalina, wanita paruh baya itu masih asyik menyetrika baju koko dan sorban putih yang akan digunakan suaminya, Syachrie Oemar Yunan (65), pagi-pagi sekali akan berangkat mengikuti aksi damai Bela Islam menuntut keadilan bersama jutaan kaum muslimin lainnya di depan Istana negara.
Masih ingat dalam benak ibu tujuh anak ini, beberapa hari ini, suaminya nampak sangat berbeda dibanding hari-hari sebelumnya. “Bapak sangat semangat sekali, sampai mengajak tetangga-tetangga untuk berjihad. Beliau menyebut aksi tanggal 4 November sebagai jihad,” kenang Hermalina kepada anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU), Sabtu (5/11/2016) di kediamannya di bilangan Binong Kabupaten Tanggerang.
Malam itu, ditatapnya lamat-lamat wajah suaminya yang tak lagi muda, sedang pulas tertidur setelah ba’da isya berkeliling kampung mengajak warga untuk ikut membela Islam Jumat ini. Herlina tak kan pernah menyangka, malam itu akan menjadi malam terakhir bersama sang belahan jiwa.
“Saya benar-benar nggak pernah menyangka. Mungkin karena beliau benar-benar sudah ikhlas ingin berjihad, tidak ada pesan khusus apapun” kenang Hermalina. Namun, tetangga-tetangga yang didatangi Syahrie menyampaikan keanehan pada Syachrie. “Wajah bapak nampak cerah dan bercahaya malam itu,”kata Hermalina mengenang.
Syachrie Oemar Yunan, dikenal kerabat dan tetangga dengan panggilan karib Pak Oye. Beliau merupakan tokoh sepuh di RW 07 Binong Permai Kabupaten Tanggerang yang konsern pada umat apalagi ketika al Quran dinista.
Memang, pernah terjadi diskusi antara sejoli ini, mengapa Syachri yang sudah sepuh, berusia lebih dari kepala 6 harus capek-capek ikut aksi damai. “Kita ini membela al Qur’an dari si penista, jangan takut mati untuk membela kebenaran,” nasihat Syachrie bergebu-gebu kepada Harmalina yang terus terngiang-ngiang.
Jangan takut mati untuk membela kebenaran
Maka, pagi itu Syachrie Oemar berangkat sebagi seorang mujahid. “Beliau berkali-kali menyebut aksi damai itu adalah jihad membela al Qur’an,” kata Dede Winata, kerabat dekat Syachrie yang juga warga Tanggerang. Beberapa malam sebelum keberangkatan, di rumah Dede berkumpul para sesepuh yang akan melaksanakan aksi.
“Saya masih ingat kata-kata beliau yang begitu menyentuh,” kenang Dede. Kata-kata yang menurut Dede begitu membekas di hadapan para hadirin. Inilah kata-kata Syachrie yang kelak terwujud.
“Jika ada 1000 orang mujahid berjihad di jalan Allah, maka salah satunya adalah saya. Jika ada 100 orang mujahid berjihad di jalan Allah, maka salah satunya adalah saya. Jika ada 10 orang mujahid berjihad di jalan Allah, maka salah satunya adalah saya. Jika hanya tersisa seorang yang berjihad, maka seorang itu adalah saya”
Maka, pagi itu Syachrie Oemar Yunan berangkat sebagi seorang pejuang.”Doakan saya mau berjuang,” kata Syachrie menatap sang belahan jiwa setelah diam mematung cukup lama di depan pintu rumahnya. Itulah ucapan terakhir Syachrie kepada Herlina.
bupati tangerang bersama istri almarhum pak oye
Pagi itu, Syachrie sendiri yang menyetir mobil bermuatan enam orang itu. “Saya berangkat tujuh orang, bersama Pak Oye, Pak Acang, Pak Ganda, Istri dan dua anak saya si Ben sama Aurel,” kata Wawan, tetangga Pak Oye yang merupakan jamaah ustaz Subki.
“Beliau berangkat dalam keadaan sangat sehat dan bersemangat, mobil aja dia yang nyetir,” kata Wawan. Beberapa hari sebelumnya, memang kata Wawan, sebagai sesepuh kampung, Pak Oye terus mengajak warga untuk membela al-Qur’an.
“Padahal beliau bukan anggota parta politik apapun, bukan anggota ormas mana pun, beliau pencinta zikir dan shalawat, murni karena ingin membela al-Qur’an,” Dede Winata menambahkan. Saking semangatnya, Wawan, karibnya memutuskan untuk cuti kerja.
“Ini jihad kita membela al Quran, bahkan kalau harus mati kita jalanin,” Pak Oye membuat Wawan terenyuh dan memilih bergabung bersama massa. “Saya tanya istri, dia juga mau ikut, sekalian saya mau nengok ke rumah mertua saya,” kenang Wawan.
Maka, pagi itu Syachrie Oemar Yunan berangkat sebagi seorang pejuang. Semobil dengan Pak Oye, Wawan begitu takjub mendengar beliau hanya berzikir dan membaca shalawat tak henti-hentinya. “Saya sama istri diturunin di Kota Bambu, saya ajak beliau mampir makan dulu, tapi beliau bilang mau ke Tanah Abang, kan dia banyak teman di sana,” kata Wawan yang akhirnya berpisah dengan pak Oye.
Suganda, yang hingga detik-detik akhir bersama dengan Pak Oye mengisahkan semangat beliau dan nostalgia Pak Oye bersama kawan-kawannya di Tanah Abang. “Jam 08 pagi kita sudah sampai di Tanah Abang, entah kenapa beliau mau ketemu teman-teman lamanya yang sudah 15 taun nggak ketemu, kangen katanya,” kata Suganda.
Suganda memperhatikan Pak Oye benar-benar menikmati silaturahim dengan kawan-kawannya, karena Pak Oye merupakan orang asli Betawi. “Obrolan beliau sepertinya begitu membekas bersama kawan-kawannya. Kita lanjutin shalat Jumat di Masjid Istiqlal, tapi ga memungkinkan karena sepanjang jalan sudah penuh,” kata Suganda.
Akhirnya, Pak Oye dan Suganda shalat bersama di Masjid Ar Rahal di bilangan Abdul Muis. “Beres Jum’atan kita makan, kita bawa bekel. Kita makan kesukaan beliau, pepes ikan,” kata Suganda.
Suganda mengenang, Rabu malam, Suganda membawakan pepes ikan kembung dan dimakan lahap berdua bersama Pak Oye. “Sampe dia catet sendiri resepnya pake HP, eh sekarang dia bawa pepes,” kata Suganda. Usai makan, mereka bergerak, bersatu dengan lautan manusia menyusur Abdul Muis hingga jalan Budi Kemuliaan.
“Selama di perjalanan beliau sangat sehat, sangat bersemangat,” kata Suganda yang menemani perjalanan beliau. “Beliau tak henti-hentinya berzikir dan shalawat dengan semangat, memang beliau pencinta shalawat,”tambahnya.
Senja. Kuning keemasan, menaungi lautan manusia yang menyemut seakan tak berujung di sudut-sudut jalan protokol Ibu Kota. Suganda dan Pak Oye tiba di Patung Kuda, ujung Jalan Merdeka Barat dan Thamrin, bergabung dengan jutaan manusia yang terus menerus menyerukan keadilan.
Beristirahat sejenak, dengan semangat menggebu dan kondisi prima, Pak Oye berniat melanjutkan maju ke Istana, bersua dengan ulama mereka. “Saya baru teringat ucapan beliau di Patung Kuda, dia bilang mungkin bercanda.’Da, sampe sini aja kali ya kite, habis ini pisah kali ya’” katanya.
Suganda cuman bisa nyengir. “Maksudnya gimana? Jangan gitu dong, nanti kite balik yang nyetir siape?” kata Suganda sambil terkekeh. Mereka berdua menyusur lautan manusia hingga sampai di Ring 1 dekat para ulama dan habaib di depan. “Kira-kira di sebelah kanan para ulama, dekat monas,” kata Suganda.
Kumandang azan syahdu menggantung di langit Istana Merdeka, di hadapan jutaan massa aksi damai bela Islam. Pemandangan dramatis, saat jutaan manusia di jalanan bersama melafalkan kalam suciNya, berdiri, rukuk dan sujud dipimpin para ulama.
Selepas isya, Suganda masih bersama Pak Oye membelakangi Monas bersama lautan manusia. Sejauh mata memandang, para ulama itu masih dengan sejuk melafalkan takbir. Para demonstran pun berdiam rapi, termasuk Suganda dan Pak Oye.
Tetiba, insiden itu pecah. “Kami tiba-tiba ditembakkin gas air mata,” kata Suganda kaget. Padahal, posisinya di dekat monas dan para ulama merupakan kondisi yang damai dan tertib. Dalam kepanikan, suara tembakkan terus menggelegar di pelataran Istana. “Dor..dor…dor..”
“Saya kempit itu Pak Oye, saat itu saya udah perih banget, rasanya udah ampir setengah mati, kita tiba-tiba ditembakin gas air mata,” kenang Suganda yang berusaha melarikan diri tapi tak bisa karena massa penuh sesak.
Sedikit demi sedikit, ia merapat ke daerah pagar monas yang dirasa aman dari tembakkan. “Eh kita ke kanan malah ditembakin juga, saya bawa tuh Pak Oye,” katanya. Ia pun mundur sedikit dekat dengan pepohonan dan pagar. Di atas mobil, ulama terus berzikir, meminta massa agar tidak maju dan meninta polisi untuk berhenti menembak. (baca laporan pandangan wartawan anggota JITU di tempat kejadian)
Sejenak menepi dari tembakan yang terus menderu, Suganda hanya bisa menahan sesak dan mual. “Saya lihat ke sebelah saya, ternyata beliau sudah pingsan. ‘Ye bangun Ye’” Suganda menepuk-nepuk pipi Pak Oye. Di tengah kalap dan gemuruh, Oye meminta bantuan lima hingga enam orang sekitarnya.
“Saya bopong berlima, ke kiri, eh udah ada gas air mata. Kita ke kanan juga disemprotin gas air mata, kita sampe ke pagar tinggi, mau lewatin beliau, tapi ya Allah, di situ ada pagar ada tombaknya, ga mungkin kita lempar beliau ke sana,” lirih Suganda.
Massa semakin panik setelah polisi meringsek aksi damai dan menembakkan gas air mata ke arah para ulama yang menyerukan aksi damai. Suara takbir, tahlil hingga tahmid pecah. Suganda terpojok ke pertigaan monas, terpepet. “Saat itu ada coran pembatas mobil itu, saya terjatuh, tergeletak,” kata Suganda.
Sejak detik itu, entah ke mana jasad Pak Oye yang saat itu entah masih pingsan, sudah sadar atau ternyata meninggal. Saat bersusah payah bangun, Suganda melihat pemandangan yang begitu dramatis. “Saya lihat orang-orang pingsan, ga tua ga muda,” lirihnya.
Di tengah kepanikan massa, dan keteguhan para ulama yang terus bergeming walau ditembaki gas air mata, Suganda mencari-cari Pak Oye ke sana ke mari, bertanya-tanya hingga masuk ke dalam monas k epos medis. “Di Posko sudah nggak ada, ada yang bilang ke rumah sakit Polri Kramat jati,” katanya.
“Mulai saat itu tiba-tiba saya lemas, saya kehilangan jejak,” keluhnya. Tak hilang kendali, ia berusaha mengontak putra Pak Oye, Gilang, yang juga mengikuti aksi bela Islam. “Cing posisi di mana?” tanya suara di balik telepon sana yang baru bisa dihubungi, karena sejak tadi siang entah mengapa sinyal di sekitaran istana mati.”
“Jam Sembilan lewat tiga, saya dapat kabar dari warga Binong juga, ada kabar dari rumah sakit Gatot Subroto kalau beliau sudah meninggal. Seakan nggak percaya, innalillahi wa innailaihi rajiuun,” lirih Suganda mengenang kejadian yang begitu mengagetkannya.
“Wafatnya beliau mengajarkan kita bahwa walau beliau sepuh, beliau tetap ingin mengikuti perjuangan untuk membela al-Qur’an,” kata Dede Winata mengenang. Di pengujung usia senjanya, Pak Oye menorehkan jejak yang membuat keluarga, warga hingga pemerintah setempat bangga.
“Beliau salah satu orang yang terpilih dari sekian banyak yang akhirnya meninggal. Semua masyarakat merasa bangga. Di sini orang-orang pada bilang, cocoklah kalau Pak Syachrie yang dapat (syahid, red). Semua anak-anak dan warga bangga dengan beliau,” kata Hermalina tersenyum.
Cukuplah masjid Bina Ihsani yang ia rintis 20 tahun silam menjadi saksi atas penuh sesaknya shalat jenazah beliau. Cukuplah jutaan muslim yang ikut aksi bersama menjadi saksi bahwa dia menjadi bagian dari mereka. Cukuplah berbodong-bondong warga hingga Bupati menghormati kepergiannya.
Cukuplah orang-orang yang walau belum pernah menatap wajahnya, kini berdatangan dari pelbagai daerah di Indonesia ke lorong rumahnya yang tak terlalu lebar. Kisah heroik Pak Oye kini meluber, anak-anak muda di sudut-sudut gang membincang kisahnya, para remaja hingga orang dewasa.
“Insya Allah beliau Syahid,” kata Bupati Kabupaten Tanggerang M Aziz saat melayat ke kediamannya. Pak Oye, mengajarkan kita semua tentang makna perjuangan. “Ternyata Allah kabulkan ucapannya, jika ada satu mujahid yang gugur, maka itulah beliau,” tegas Dede disambut takbir hadirin yang memenuhi jalanan di depan kediamannya.
“Sungguh, kami semua iri dengan beliau, semoga kita semua dapat melanjutkan perjuangan beliau, doakan beliau agar Allah menerima amalNya dan mendapat surgaNya,” tutup Gilly, putra sulung Pak Oye menutup kisah tentang heroisme ayahnya.
JAKARTA (Jurnalislam.com) – Tudingan Presiden Jokowi bahwa ada aktor politik yang menunggangi aksi 411, meninggalkan pertanyaan di tengah masyarakat.
Sehari setelah aksi damai 411, pada Sabtu (5/11/2016) lalu, Jokowi menyebutkan bahwa Aksi 411 telah ditunggangi aktor politik.
“Penggunaan terminologi ‘aktor’ itu tidak tepat, karena demonstrasi sudah legal. Jadi aktornya pun sudah legal,” tegas Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah saat ditemui pada acara Kongres Nasional KA-KAMMI di Hotel Kartika Chandra Jakarta, pada Sabtu, (12/11/2016).
Menurut Fahri, istilah aktor itu patutnya disematkan pada kalimat seperti aktor kudeta atau aktor serangan bersenjata. “Nah, itu yang tidak boleh. Tapi kalau aktor demonstrasi itu tidak masalah,” tandasnya.
“Bahkan kalau buat PT Demonstrasi itu boleh, boleh didaftarkan di pasar modal,” sambung pendiri KAMMI itu.
Fahri juga menampik isu yang dihembuskan Boni Hargens (seorang pengamat politik yang telah ditunjuk Jokowi sebagai Dewan Pengawas Kantor Berita Antara) yang menyebut bahwa SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) lah aktor politik dibalik aksi 411.
“Itu sudah basi, itu pasal mati, nggak bisa dipakai lagi,” tegasnya.
JAKARTA (Jurnalislam.com) – Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) dan Keluarga Besar Persatuan Pelajar Indonesia (KB PII), mengadakan Malam Peringatan dan Doa untuk syuhada #Aksi411 di Masjid Al Furqon Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Jl. Kramat Raya 45, Jakarta, Jum’at malam (11/11/2016).
Acara tersebut diadakan untuk mendoakan Asy-syahid (kama nahsabuhu) Syahrie Oemar Yunan dan ratusan korban luka-luka, akibat serangan aparat saat melakukan #AksiBelaQuran di depan istana negara 4 November silam.
Gugurnya Syahrie saat membela al-Qur’an membuat banyak kaum muslimin iri, termasuk Ketua GNPF-MUI sendir, Ustadz Bachtiar Nasir (UBN).
“Kemarin betul-betul suci, yang dipilih Allah untuk mendapatkan sertifikasi syahadah, adalah Pak Syahcri itu. Ngiri saya,” ungkapnya.
Namun demikian, UBN mengingatkan, bahwa mati syahid adalah milik orang-orang yang menjaga shalat dengan berjama’ah, dan menjadikan hidup dan matinya hanya untuk Allah.
Oleh sebab itu, dia berwasiat kepada siapa saja yang menginginkan mati syahid untuk melakukan hal tersebut dalam hidupnya.
“Tapi itu hanya akan didapati oleh orang-orang yang tegak shalatnya. Tegak shalat jama’ahnya, selain sabar, hidupnya: inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin,” tuturnya.
JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ustadz Bachtiar Natsir, mengaku kagum dengan mental umat muslim Indonesia saat #AksiBelaQuran pada 4 Nopember silam.
Pimpinan AQL Islamic Center ini menceritakan, upayanya beserta para ulama yang memegang komando dalam membuat sabar kerasnya massa yang dihujani gas air mata bertubi-tubi, hingga memakan korban nyawa dan luka-luka untuk tidak membuat onar dan menyerang kembali aparat.
“Kalau bukan karena Allah yang memberi energi sabar kepada kita, sudah banyak yang mati,” kata dia saat menghadiri acara Malam Peringatan dan Doa untuk syuhada #Aksi411 di Masjid Al Furqon Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Jl. Kramat Raya 45, Jakarta, Jum’at malam (11/11/2016).
Menurut Sekjen Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia (MIUMI) itu, ia dan para ulama yang memegang komando tidak ingin aksi damai 411 dinodai dengan kerusuhan. Karena bisa berakibat buruk kepada perdamaian bangsa.
“Yang diuntungkan tentu orang yang menginginkan Indonesia rusuh. Demi Allah saya Bachtiar Nasir, tidak mau Indonesia ini rusuh,” ungkap dia
Karenanya, atas kesabaran umat Islam saat aksi tersebut, Ustadz Bachtiar menganggap umat Islam telah menang. “Karena kesabaran kita, aksi ini aksi damai, dan Allah menangkan kita dengan aksi damai dan sabar kita,” pungkasny.
JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dr. Yunahar Ilyas menyatakan, tantangan mubahalah yang dilontarkan aktivis liberal Ade Armando kepada kaum Muslimin anti Ahok menggambarkan bahwa Ade tak paham ajaran Islam.
Menurutnya, mubahalah (tantangan saling melaknat, red) itu berlaku antara Muslim dengan kafir. Tidak diperkenankan sesama Muslim saling melontar kata laknat dan mengancam dengan azab Allah SWT.
“Mubahalah itu jika kita berdialog dengan non-muslim, semua argumen sudah kita sampaikan. Kalau tidak mau menerima baru mubahalah,” ujar Yunahar seusai pengajian bulanan di PP Muhammadiyah, Jakarta pada Jumat (11/11/2016) malam.
Wakil Ketua MUI Pusat ini menjelaskan, jika sesama muslim ada perbedaan pendapat cukup diselesaikan dengan diskusi. Apalagi kalau terkait penafsiran ayat.
“Gak ada mubahalah-mubahalah. Itu cukup diskusi. Mana ada orang sedikit-sedikit mubahalah. Kalau sesama muslim ya diskusi,” tambah Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini.
Lebih jauh, Yunahar menyatakan bahwa kelakuan Ade Armando menantang kaum Muslimin anti Ahok sebagai orang yang tidak mengerti ajaran Islam.
“Itu orang yang gak ngerti aja. Gak usah dilayani. Orang gak paham nantang-nantang untuk apa?,” sambungnya.
Yunahar kemudian menyitir QS Al-Furqan: 63 yang berbunyi:
وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا [الفرقان : 63]
“Dan orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.”
“Jadi kalau ada orang bodoh menantangmu jawab baik-baik saja,” pungkasnya.