Berita Terkini

Ahli Hukum: Kasus Ahok Soal Pidana Biasa, Jangan Dibawa Kemana-mana

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Dosen Fakultas Hukum Universitas Al-Azhar, Agus Surono mengatakan, dalam konteks hukum perkara yang menimpa Gubernur DKI Jakarta nonaktif , Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sangat sederhana.

“Itu peristiwa hukum biasa saja, dan bisa kena ke siapa saja,” katanya dalam diskusi bertema ‘Bedah kasus penodaan agama, Layakkah Ahok Dipenjara?’ di Universitas Al-Azhar, Jakarta, Jum’at (11/11/2016).

Agus menyampaikan, jika ada proses hukum yang mengalihkan dari kasus pidana utama hal itu merupakan penyesatan. Menurutnya, kasus dugaan penistaan al-Qur’an yang menimpa Ahok menjadi rumit hanya karena dilakukan oleh seorang pejabat publik.

“Jangan dibawa ke ranah nonhukum,” jelasnya.

Ia menegaskan, kasus Ahok telah memenuhi unsur pidana, yakni pasal 156 dan 156a. Dimana menyampaikan pernyataan di muka umum yang masuk kategori penistaan agama.

“Siapapun bisa melakukan, dan bisa terkena. Deliknya formil dan memenuhi unsur pidana, serta bisa dimintai pertanggungjawaban hukum,” papar Agus.

Baginya, kasus tersebut sudah terang benderang merupakan kasus penistaan agama. Karenanya, ia menghimbau, agar masyarakat mengawal agar esensi perkara kasus tersebut tidak kabur.

“Harus dikawal, karena ini kasus hukum murni,” pungkasnya.

Reporter: Yahya Nasrullah/JITU

LUIS: Safari Politik Jokowi Berdampak pada Perpecahan Umat Islam

SURAKARTA (Jurnalislam.com) – Manuver politik yang dilakukan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo paska aksi 411 di Jakarta dengan mendatangi tokoh serta ormas Islam mendapat kritikan dari Sekjend LUIS, Yusuf Suparno. Menurutnya, langkah ini hanya akan memperkeruh kondisi internal umat Islam.

“Langkah yang dilakukan Jokowi justru akan memecah belah umat Islam,” katanya kepada jurniscom di Mapolresta Surakarta, Jum’at (11/11/2016).

Yusuf memaparkan, safari politik Jokowi ini dinilai tidak mengarah kepada akar masalah umat saat ini. Sebab, dengan langkah RI 1 itu akan memperluas masalah yang seharusnya diberikan solusi.

“Dan tentunya ini akan menjadi persoalan yang menganga karena Jokowi tidak menyelesaikan akar permasalahan akan tetapi malah melebar kemana-mana,” pungkasnya.

Lebih lanjut LUIS berharap Jokowi segera menyelesaikan proses hukum Basuki Tjahya Purnama dengan cepat dan tepat.

Siswa Muslimah Universitas California Jadi Target Serangan Pendukung Trump

CALIFORNIA (Jurnalislam.com) – Pihak berwenang di dua universitas di California mengatakan pada hari Kamis bahwa polisi sedang menyelidiki serangan terhadap mahasiswa Muslim perempuan, salah satunya digambarkan sebagai kejahatan rasial, lansir World Bulletin, Jumat (11/11/2016).

Kedua serangan terjadi pada hari Rabu, sehari setelah Donald Trump terpilih sebagai presiden pada akhir kampanye dimana partai Republik dikritik karena bahasa mereka yang memecah belah dan melukai Muslim.

Dalam salah satu insiden, dua penyerang mengkonfrontasi korban mereka di San Diego State University dan “melontarkan komentar tentang Presiden terpilih Trump dan komunitas Muslim,” menurut polisi kampus.

Dompet, ransel dan kunci mobil wanita itu kemudian dicuri. Dia pergi untuk mencari bantuan dan kembali ke lokasi penyerangan bersama polisi, lalu menemukan mobilnya telah dicuri, kata juru bicara polisi Ronald Broussard.

Kasus ini sedang diselidiki sebagai dugaan kejahatan rasial serta perampokan dengan senjat berat dan pencurian kendaraan, kata Broussard.

“Komentar yang dilontarkan kepada siswa tersebut menunjukkan ia menjadi sasaran karena ia seorang Muslim, termasuk pakaian muslimah dan jilbab yang dikenakannya,” presiden universitas Elliot Hirshman dan kepala polisi interim Josh Mays mengatakan dalam sebuah pernyataan bersama.

Polisi San Jose State University mengatakan dalam sebuah pernyataan mereka menyelidiki serangan serupa terhadap seorang mahasiswi di sebuah garasi parkir kampus.

Seorang penyerang laki-laki mendekati korban dari belakang, menarik-narik kerudung korban, mencekik dan melemparkan dia hingg kehilangan keseimbangan, menurut pernyataan yang diedarkan kepada siswa pada hari Rabu.

“Pejabat Kampus memantau erat situasi saat penyelidikan terus berlangsung. Tidak ada penangkapan,” kata juru bicara universitas Pat Harris dalam sebuah pernyataan email kepada AFP.

“Kami, tentu saja, sangat prihatin bahwa ini telah terjadi di kampus kami. Tidak ada yang harus mengalami perilaku semacam ini di San Jose State,” tambahnya.

Himpunan Mahasiswa Islam Universitas New York (New York University’s Muslim Students Association) mengeluarkan pernyataan pada hari Rabu mengatakan bahwa mahasiswa teknik tiba pagi itu dan menemukan kata “Trump” tertulis di pintu ruang sholat.

Organisasi itu mengatakan anggotanya “menyadari bahwa kampus kita tidak kebal terhadap kefanatikan yang melanda Amerika.”

Seorang mahasiswa Muslim di University of Louisiana di Lafayette mengatakan kepada polisi pada hari Rabu bahwa ia diserang oleh dua orang, salah satunya mengenakan topi putih bertulisan “Trump.”

Media setempat melaporkan pernyataan itu kepada polisi pada Kamis namun menyatakan bahwa gadis itu memalsukan serangan.

Departemen Kepolisian Lafayette tidak segera menanggapi permintaan untuk komentar.

 

Jokowi Tak Perlu Gunakan Militer untuk Takuti Umat Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Korlap Aksi 411 GNPF MUI, Munarman SH menilai kunjungan Jokowi ke beberapa aparat keamanan seperti TNI, Kopasus, dan Marinir sebagai upaya menakut-nakuti umat Islam. Untuk itu, Munarman menghimbau umat Islam untuk tidak takut terhadap upaya ini.

“Disangka umat Islam takut. Kita tidak takut saudara-saudara. Ini sudah kita buktikan pada malam tgl 5 kita tidak takut dengan tembakan mereka,” ujarnya pada Malam Peringatan dan Doa untuk syuhada #Aksi411 di Masjid Al Furqon, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Jl. Kramat Raya 45, Jakarta, Jum’at malam (11/11).

Munarman meminta agar pemerintah tidak perlu memakai kekuatan militer untuk menakut-nakuti umat Islam. Menurutnya, langkah Jokowi itu tidak akan menyurutkan semangat umat Islam untuk mendesak Ahok ditangkap.

“Kita sudah putuskan akan tetap lanjutkan aksi bela Qur-an bila Ahok tidak ditangkap,” ujarnya.

Munarman pun langsung bertanya kepada ribuan jamaah peserta malam peringatan 411 yang memadati Masjid Al Furqon.

“Siap aksi lagi? siap ikut ulama?” tanya pengacara muslim ini.

“Siap!” jawab para jamaah dengan bergemuruh.

Munarman mengaku GNPF belum menentukan tanggal aksi bela quran jilid III. Hal ini masih dibicarakan para ulama dan kyai.

“Kita tunggu arahan para ulama, habaib, dan kyai. Insya Allah minggu depan kita umumkan,” terangnya.

Reporter: Pizaro/JITU

Ustadz Bachtiar Nasir: Bacalah Qur’an Tiap Hari, Ada Anugerah Besar dari Allah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF MUI) Ustadz Bachtiar Nasir menjelaskan rahasia kekuatan umat Islam yang mampu bergerak secara tertib dan damai dalam Aksi Bela Islam #411. Menurutnya, kunci kekuatan itu adalah kesabaran.

Untuk itu, UBN, sapaan akrabnya meminta umat Islam untuk selalu dekat kepada al-Qur’an dan berinteraksi dengan al-Qur’an.

“Baca al Quran tiap hari, akan ada anugerah besar dari Allah. Jangan pernah meninggalkan al Qur’an walau satu haripun,” terang UBN yang rutin mengisi kajian tadabbur al -Quran di Arrahman Quran Learning Islamic Centre ini.

Alasannya, kata UBN, Allah akan menanamkan jiwa-jiwa yang positif bagi orang-orang yang hidup dan matinya bersama Al Quran. Maka, jangan pernah takut kepada selain Allah.

“Jika kita takut kepada selain Allah, maka kita akan takut dengan segala sesuatu. Sebaliknya, jika kita tidak takut kepada selain Allah, maka kita tidak akan takut dengan segala sesuatu,” jelas UBN yang memakai kopiah hitam dengan pin merah putih pada Malam Peringatan dan Doa untuk syuhada #Aksi411 di Masjid Al Furqon, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Jl. Kramat Raya 45, Jakarta, Jum’at malam (11/11/2016).

Kalau perjuangan ini masih mau berlanjut, UBN mengaku rela jadi tumbal dalam misi menegakkan kemuliaan Al Maidah 51 ini.

Percayalah, kata UBN, orang yang selalu bersama Allah, dia akan mendapat kemuliaan.

“Sebaliknya orang-orang yang tidak bersama Allah, ia tidak akan mendapatkan apa-apa,” terangnya.

Reporter: Pizzaro/JITU

GNPF MUI: Aksi Bela Islam Didukung Umat Islam Internasional

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Aksi damai Bela Islam yang diikuti jutaan umat Islam Indonesia telah menuai simpati dan perhatian banyak pihak. Perhatian tersebut tidak hanya diberikan oleh sejumlah tokoh di tanah air, tapi juga meluas hingga mancanegara.

“Al Maidah 51 sudah jadi masalah international, tidak lagi nasional. Di Turki tokoh-tokohnya juga memantau. media-media internasional juga ada yang pro kita,” ujar Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF MUI) Ustadz Bachtiar Nasir pada Malam Peringatan dan Doa untuk syuhada #Aksi411 di Masjid Al Furqon, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Jl. Kramat Raya 45, Jakarta, Jum’at malam (11/11/2016).

UBN, sapaan akrabnya, menginformasikan dukungan itu turut mengalir dari para dai dan ulama di Makkah al Mukaromah. Ia mengaku dikirimi audio dari para dai di Makkah yang turut mendoakan perjuangan umat Islam untuk membela kehormatan al Qur’an.

“Kami saudaramu di Makkah kami para dai di Makkah terus memantau perkembangan dan kami bersama kalian,” ujar Ustadz Bachtiar menirukan bunyi pesan para dai dan ulama di tanah haram tersebut.

Bachtiar menegaskan, GNPF MUI tidak ingin kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok diseret-seret ke masalah politik. GNPF MUI tetap bergerak dalam koridor penegakan hukum agar Ahok diadili atas tindakan penodaan agama.

“Kami tidak ingin dipolitisasi. Ini perkara gerakan supremasi hukum,” tegasnya.

Sekarang ini, lanjut UBN, banyak yang gagal paham terhadap yang terjadi. Ia menghimbau agar jangan hanya melihat masalah ini dari yang tersirat, tapi lihat yang tersurat.

“Ini bukan permasalahan GNPF, tapi ini persoalan umat Islam,” paparnya.

Reporter: Pizaro/JITU

GNPF MUI akan Gelar Aksi Bela Islam Jilid 3, Titik Kumpul di Bundaran HI

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF MUI) berencana akan kembali menggelar Aksi Bela Islam jilid III jika pemerintah tidak menangkap Ahok. Meski demikian GNPF MUI belum menentukan tanggal kapan aksi dilaksanakan.

“Kita tunggu arahan para ulama, habaib, dan kyai. Insya Allah minggu depan kita umumkan,” ujar korlap aksi 411 GNPF MUI, Munarman SH, pada Malam Peringatan dan Doa untuk syuhada #Aksi411 di Masjid Al Furqon, Jl. Kramat Raya 45, Jakarta, Jum’at malam (11/11/2016).

Lebih lanjut Munarman menjelaskan, berbeda dengan aksi jilid 2, pada aksi damai ketiga nanti, titik kumpul akan berada di Bunderan HI.

“Nanti kita akan buat kegiatan (aksi damai) lagi. Kedepan titik kumpul di Bunderan H. Soal teknis, tunggu tanggal mainnya,” papar Munarman yang tampil berkopiah hitam di hadapan ribuan jamaah Masjid Al Furqon.

Karena itu, umat Islam diminta bersiap diri untuk aksi damai ketiga ini. GNPF MUI, kata Munarman, akan melakulan persiapan yang lebih baik.

“Kita akan siapkan logistik dengan lebih baik lagi,” tukasnya.

Selain itu, Munarman menyampaikan adanya kabar demo tandingan yang akan dilakukan oleh pemerintah. Karena itu, masyarakat dan umat Islam diminta tidak terkecoh dan tetap mengikuti arahan para ulama dan kyai.

“Jika ada undangan aksi di luar GNPF dan kyai, jangan diikuti,” pintanya.

Reporter: Pizaro/JITU

Ahmad Yani: Kasus Penistaan Agama oleh Ahok adalah Kasus Sederhana

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Mantan anggota DPR Ahmad Yani mengatakan, kasus penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta Ahok merupakan persoalan sederhana jika kepolisian meresponnya seperti kasus penistaan agama oleh Arswendo di Bali.

“Saya menghimbau kepada presiden dan kapolri ini sebenarnya masalah sederhana. Gak perlu gaduh sebenarnya kalau pihak kepolisian meresponnya sama dengan merespon penistaan agama di Bali. Penistaan agama yang dilakukan Arswendo,” kata Yani di Rumah Amanah Rakyat, Jakarta pada Kamis, (10/11/2016) dilansir Kiblatnet.

Politisi PPP ini tak ingin Indonesia kembali menjadi ajang penumpahan darah. Ia mengapresiasi aksi 4 November bisa berjalan damai.

“Alhamdulillah umat Islam bisa damai. Kita bisa menuntut hak, menuntut keadilan, menuntut penegakan hukum dengan cara-cara yang beradab. Ini ada spirit kepahlawanan sendiri,” kata Yani bertepatan dengan momen Hari Pahlawan.

Menurut dia, dari awal seharusnya perkara penistaan agama oleh Ahok sudah selesai. Memang dalam hukum acara ini ada tahapan-tahapan. Tapi tahapan yang sedang dijalani Polri menurutnya terlalu lama.

“Ini kasusnya sederhana, deliknya pidana formal, tidak dibutuhkan akibat, tidak dibutuhkan keinsafan, kesengajaan. Perbuatannya sudah ada. unsur-unsurnya sudah terpenuhi,” ucapnya.

Mengenai gelar perkara secara terbuka, Yani berargumen boleh saja hal itu dilakukan. Gelar perkara itu dalam konteks sesungguhnya kalau penyidik masih ada keraguan dalam menentukan kasus hukumnya. Boleh dia gelar perkara untuk meyakinkan lagi. Tapi bukan gelar perkara untuk melegitimasi opini masyarakat sesuai apa yang diinginkan.

Yani pun menyesalkan tindakan represif aparat yang menangani demonstran dengan brutal.

“Saya harap ini yang terakhir. Ini saya kasian juga dengan Kapolri, perintah Kapolri pun tidak diindahkan. Oleh karena itu kita minta ini yang terakhir, tidak dilakukan lagi cara-cara menangani aksi demonstrasi tersebut,” ujar dia.

Ia pun sepakat jika tindakan represi itu dilaporkan kepad apihak berwenang seperti Komnas HAM. “Saya kira itu hak kawan-kawan lah. Kan sudah ada yang melaporkan. Tinggal Komnas HAM untuk segera melakukan penyelidikan saja,” tutupnya.

Reporter: Fajar Shadiq/JITU

Politisi PPP: Tindakan Ahok Porak-porandakan Kebhinekaan dan Toleransi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Ahmad Yani menyatakan tingkah laku Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok selama jadi Gubernur DKI Jakarta tak pernah mencerminkan sikap patriotisme.

“Yang dilakukan Ahok itu tidak mencerminkan sikap-sikap pejuang dalam rangka mempertahankan dan memperkokoh NKRI. Tapi apa yang dilakukan ahok, dia adalah bagian dari usaha untuk memecah belah, memporak-porandakan kebhinekaan dan toleransi, serta menghancurkan pilar-pilar NKRI,” ujar Yani seusai acara diskusi di Rumah Amanah Rakyat pada Hari Pahlawan, Kamis (10/11/2016) dilansir Kiblatnet.

Menurutnya, tindakan Ahok menghina Surat Al-Maidah 51 merupakan bentuk intoleransi.

“Betul-betul tidak menghormati mayoritas rakyat Indonesia. Dia tidak mempunyai kewenangan untuk menafsirkan ayat-ayat (Al-Quran, red),” kata mantan anggota DPR ini.

Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan yang jatuh belum lama ini, menurut Yani, seyogyanya bangsa Indonesia harus menapak tilas dan mencontoh apa yang dilakukan para pahlawan. Mengorbankan harta, jiwa dan raganya untuk negeri ini.

“Jadi karenanya generasi penerus harus melaksanakan hal-hal seperti itu. itulah hakekat hari pahlawan,” tambah dia.

Yani menjelaskan kenapa bangsa Indonesia mau merdeka dari Belanda, karena ini persoalan harkat martabat dan kedaulatan. Bukan hanya sekadar pembangunan.

“Kalau hanya mau pembangunan, Belanda juga sudah melakukan pembangunan. Mau kali bersih, bangun gedung, itu Belanda sudah lakukan, jauh lebih dahsyat,” ujar Yani.

Tapi kenapa kita tetap mau merdeka? Karena kita ingin harkat martabat dan kedaulatan kita, kepribadian kita, kemandirian kita, lepas dari penjajahan asing.

“Pertanyaannya sekarang ini, 71 tahun kita merdeka, apakah nilai-nilai kepahlawanan, nilai-nilai kejuangan itu, sebagai mana diinginkan founding fathers itu, sudah mendekati? Justeru menurut saya semakin jauh,” tutupnya.

Reporter: Fajar Shadiq/JITU

Para Pemimpin Muslim Afrika Prediksi Kemenangan Trump Bisa Mengintensifkan Konflik Global

AFRIKA (Jurnalislam.com) – Para pemimpin dan aktivis Muslim di seluruh Afrika bereaksi negatif terhadap kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden di luar AS, dengan beberapa ketakutan yang mengekspresikan bahwa ia bisa mengintensifkan konflik global, lansir World Bulletin, Jumat (11/11/2016).

Iqbal Jassat, seorang eksekutif dari kelompok advokasi Islam, the Media Review Network, mengatakan ia takut Muslim akan ditargetkan di bawah pemerintahan Trump yang anti Islam.

“Kita bisa memperkirakan intensifikasi ‘perang melawan terorisme’ bersama dengan semua kegiatan ilegal yang akan mengikuti, seperti rendition, penyiksaan, penahanan, perang drone dan lubang neraka sejenis Guantanamo.”

Dia mengatakan pemilihan Trump akan memiliki konsekuensi serius bagi umat Islam di seluruh dunia, tetapi kebanyakan terutama di Timur Tengah.

“Islamophobia, seperti yang dianut oleh Trump dan ambisi militer partainya untuk menghapus apa yang mereka gambarkan sebagai ‘Islamisme’ saling berhubungan. Bahaya yang ditimbulkan tidak dapat dibatasi untuk lokasi geografis tertentu,” kata Jassat.

Jassat mengklaim bahwa meskipun tidak ada ancaman untuk Muslim di Afrika Selatan, presiden Trump akan menegaskan agenda sayap kanan ekstrim yang merupakan inti dari Partai Republik AS.

“Sangat mungkin karena itu terlepas dari status sovereign (berdaulat, independen, mandiri) Afrika Selatan, administrasi Trump kemungkinan besar akan memperluas manipulasi di sini,” tambahnya.

Seorang pemimpin komunitas Muslim Mozambik, Syeikh Ameen Uddin, mengatakan dia terkejut bahwa Amerika bisa memilih Trump padahal dia melontarkan retorika tentang minoritas dan Muslim di Amerika Serikat.

“Ini menunjukkan ada kemerosotan moral di Amerika Serikat,” katanya melalui telepon dari ibukota Mozambik, Maputo.

Ameen Uddin mendesak umat Islam untuk lebih fokus pada pemecahan masalah pribadi mereka bukannya mencemaskan yang memenangkan pemilu AS.