Berita Terkini

Selama 3 Pekan Nilai Lira Meningkat terhadap Dolar AS

ANKARA (Jurnalislam) – Sudah 3 pekan Lira Turki meningkat terhadap dolar AS pada Kamis di tengah keputusan Fed untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah.

Dollar tiap hari kehilangan nilai terhadap lira dan menurun 1 persen menjadi di bawah 3,73.

Nilai tukar lira telah meningkat antara 3,75 dan 3,80 selama dua hari terakhir dan bertahan di 3,7710 pada pukul 17:00 (1400GMT) Rabu.

Analis mengatakan penurunan indeks dolar, yang dimulai setelah Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga kebijakan bank tidak berubah pada 0,50-0,75 persen, dapat terus bertahan dalam beberapa hari mendatang dan nilai tukar dolar/lira bisa semakin jatuh hingga 3,65.

Sejumlah Kendaraan Lapis Baja AS Hancur dalam Serangan Terbaru Taliban

KANDAHAR (Jurnalislam.com) – Para pejabat mengatakan, sebuah kendaraan lapis baja milik penjajah AS yang berpatroli di sekitar pangkalan udara mereka rusak berkeping-keping oleh serangan IED di daerah Sokhti kabupaten Dand sore hari, Al Emarah News melaporkan, Kamis (02/02/2017).

Menurut saksi kendaraan hancur dan semua orang bersenjata di dalamnya tewas.

Laporan terbaru juga datang dari provinsi Helmand selatan, bentrokan berat meletus setelah Taliban menyergap serdadu AS beserta pasukan tentara bayaran internal mereka yang semalam tiba di wilayah Bazar Kabupaten Sangin untuk memindahkan mayat pasukan mereka.

Menurut rincian, sebanyak 2 tank lapis baja, 2 APC, 3 truk Kamaz dan sebuah kendaraan hancur akibat penembakan artileri berat, menewaskan dan melukai lebih dari 20 pasukan boneka dengan 7 mayat ditinggalkan di tanah pertempuran.

Musuh masih dalam pengepungan ketat Mujahidin Imarah Islam. Rincian akan diperbarui kemudian.

Malaysia Mulai Pekerjakan Pengungsi Rohingya Bulan Depan

MALAYSIA (Jurnalislam.com) – Sebuah skema percontohan untuk memberikan pekerjaan kepada para pengungsi Muslim Rohingya di Malaysia akan diluncurkan bulan depan, Wakil Perdana Menteri Ahmad Zahid Hamidi mengatakan Kamis (02/02/2017), lansir Wolrd Bulletin.

Malaysia awalnya akan memungkinkan 300 Rohingya yang status pengungsinya divalidasi oleh Komisaris Tinggi PBB bagi Pengungsi (the United Nations High Commissioner for Refugees-UNHCR) untuk mengambil pekerjaan di sektor pertanian dan manufaktur mulai 1 Maret, kata menteri itu dalam sebuah pernyataan.

Rombongan pertama pengungsi Rohingya, minoritas Muslium dari Myanmar, akan diizinkan untuk mengambil pekerjaan legal di negara ini.

“Mereka akan ditempatkan di perusahaan yang dipilih di sektor pertanian dan manufaktur, untuk menyediakan keterampilan dan dukungan keuangan yang memungkinkan mereka membangun kehidupan sebelum dipindahkan ke negara-negara dunia ketiga,” kata Hamidi.

Mereka yang terpilih masih harus melewati pemeriksaan keamanan dan kesehatan.

Pengungsi tidak berdokumen, termasuk Rohingya, masih tidak diizinkan untuk bekerja. Menurut UNHCR, Malaysia menjadi tuan rumah bagi sekitar 151.000 pengungsi dan pencari suaka, 55.000 di antaranya adalah Rohingya.

Sejak tahun lalu, Malaysia mulai menerima 1.000 pengungsi Suriah dalam setahun.

Kanada di Bawah Tekanan Trump Terkait Larangan Imigran Muslim

TORONTO (Jurnalislam.com) Kanada telah mengatakan tidak akan menambah penerimaan pengungsi di tahun 2017, meskipun banyak seruan agar Ottawa mengambil tindakan untuk melawan perintah eksekutif Presiden AS Donald Trump yang memberlakukan pembatasan masuk bagi pengungsi dan imigran dari tujuh negara di Timur Tengah dan Afrika.

Kanada berencana untuk memukimkan kembali 40.000 pengungsi dan orang yang dilindungi di negara itu tahun ini, baik melalui dukungan pemerintah maupun sponsor swasta.

“Rencana tingkat imigrasi kami memiliki alokasi untuk pengungsi yang tinggi secara historis,” kata Menteri Imigrasi, Pengungsi dan Kewarganegaraan Ahmed Hussen awal pekan ini. “Kami bermaksud untuk mempertahankan rencana itu.”

Tetapi kelompok-kelompok hak asasi manusia dan pengacara pengungsi menyerukan Kanada untuk meningkatkan pada sponsorship pengungsi pada tahun 2017, terutama mengingat pembatasan imigrasi di selatan perbatasan.

Perintah eksekutif Trump yang ditandatangani Jumat lalu agar melarang imigrasi dari 7 negara selama 90 hari, menunda program pengungsi AS untuk 120 hari, dan tidak akan memukimkan kembali pengungsi Suriah tanpa batas waktu agar “konsisten dengan kepentingan nasional”.

“Larangan bagi Muslim” tersebut membuat wisatawan pemegang visa dan kartu hijau terdampar dan mengakibatkan keluarga terpisah.

“Jelas ada perhatian yang sangat segera dan mendesak karena ratusan atau bahkan ribuan pengungsi tiba-tiba ditinggalkan dalam kesulitan, orang-orang yang mengira mereka baik-baik saja dalam perjalanan mereka untuk dimukimkan kembali di Amerika Serikat,” kata Alex Neve, sekretaris jenderal Amnesti International Canada.

“Kanada merupakan tempat yang sangat baik untuk masuk dan memastikan bahwa jalan keselamatan lain terbuka,” kata Neve kepada Al Jazeera, Kamis (02/02/2017).

Selama akhir pekan, saat kebingungan merebak di bandara di seluruh dunia, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau dipuji setelah ia tweeted:. “Kepada orang-orang yang melarikan diri dari penganiayaan, teror & perang, Kanada akan menyambut Anda, terlepas dari iman Anda. Keragaman adalah kekuatan kita #WelcomeToCanada.”

Namun Kanada telah mencapai batas 1.000 aplikasi sponsor pribadi baru bagi para pengungsi Suriah dan Irak tahun ini dan pemerintah tidak berencana untuk meningkatkannya.

Sekjen PBB: Larangan Kontroversial Trump Langgar Prinsip-prinsip Kami

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Perintah eksekutif kontroversial Presiden Donald Trump yang melarang warga dari tujuh negara mayoritas Muslim memasuki AS “melanggar prinsip-prinsip kami”, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan Rabu, lansir World Bulletin Kamis (02/02/2017).

“Ini bukan cara perlindungan terbaik bagi AS, atau negara lain dalam kaitannya dengan keprihatinan serius tentang kemungkinan adanya teroris,” kata Guterres kepada wartawan di markas besar PBB di New York. “Saya pikir bahwa tindakan tersebut harus dihapus secepatnya dan jangan ditunda.”

Sekjen mengatakan larangan yang berlaku selama 90 hari tapi melarang warga Suriah tanpa batas watu, “tidak efektif jika tujuannya adalah untuk benar-benar menghindari teroris masuk ke Amerika Serikat”.

Administrasi Trump secara konsisten membela perintah kontroversial yang ditandatangani hari Jumat lalu tersebut walaupun rakyat menunjukkan kemarahan dan hukum menyatakan keberatan, dengan alasan untuk menjaga keamanan Amerika.

MUI Serang: Masyarakat Banten Tersinggung Ahok Intimidasi KH Ma’ruf Amin

SERANG (Jurnalislam.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Serang turut menanggapi bentuk intimidasi dan pernyataan keras Ahok kepada Ketua MUI Pusat, KH Ma’ruf Amin sesaat menjadi saksi di Auditorium Kementan, Jakarta, Selasa (31/1/2017). Menurutnya, itu perlakuan tidak layak kepada ulama besar keturunan Banten.

“Tidak pantas, tidak layak, dan tidak patut diucapkan Ahok kepada KH Ma’ruf Amin Tokoh Ulama Banten, Cucu Syeikh Imam Nawawi Al Bantani,” katanya dalam pernyataan sikap yang diterima jurniscom, Kamis (2/2/2017).

Ia mengatakan, masyarakat Banten tersinggung dan mengecam sikap arogansi Ahok. Sebab, KH Ma’ruf Amin merupakan sosok yang dicintai dan dihormati oleh warga Banten.

“Hal ini merupakan bentuk intimidasi dan kriminalisasi serta penghinaan kepada seluruh Ulama Indonesia,” tegas MUI Kota Serang.

Namun demikian, MUI Serang mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh pihak manapun.

“Kita serahkan sepenuhnya persoalan tersebut kepada MUI Provinsi Banten untuk menentukan langkah-langkah strategis dan atau tindakan hukum,” pungkas MUI Serang.

 

Pernyataan sikap MUI Serang terkait pernyataan keras Ahok kepada KH Ma’ruf Amin

Iran: Percobaan Rudal Berhulu Ledak Nuklir Tidak Bisa Ditawar

TEHERAN (Jurnalislam.com) – Pengumuman Republik Syiah Iran terjadi setelah posisi International menolak uji balistik baru-baru ini dan tuntutan Internasional untuk meninjau kesepakatan nuklir antara Tehran dan kelompok kekuatan P5 + 1 mendesak rezim Iran untuk mematuhi ketentuan perjanjian, yang melarang percobaan rudal yang membawa hulu ledak nuklir.

Media Iran Fars mengutip juru bicara Dewan komite keamanan nasional dan kebijakan luar negeri Iran, Hussein Husseini, mengatakan bahwa Komisi mengkonfirmasi dalam rapat pada hari Rabu (01/02/2017) bahwa program pertahanan dan rudal Iran tidak bisa ditawar, dan bahwa ia tidak akan mengizinkan intervensi siapa pun dalam hal ini, lansir Al Arabiya News Channel.

Husseini mengatakan bahwa Komite mengadakan pertemuan darurat pada hari Rabu, di hadapan Panglima Korps Pengawal Revolusi Iran, Brigadir Jenderal Angkatan Aerospace Amir Ali Hajizadeh, dan wakil menteri luar negeri untuk Urusan Eropa dan Amerika, Majid Takht Ravanchi, serta pejabat dari Kementerian Intelijen..

Dia menekankan bahwa peserta sepakat bahwa “masalah pertahanan dan rudal tidak bisa ditawar dan harus terjadi kemajuan yang luar biasa. Dia menambahkan bahwa Dewan harus menunjukkan dukungannya dalam hal ini.

Taliban Gunakan Taktik Baru untuk Serang Pos Militer

HELMAND (Jurnalislam.com) – Serangan udara AS mencapai posisi Taliban di Provinsi Helmand Afghanistan selatan yang diperebutkan setelah Taliban menggunakan terowongan untuk menyerang pos pemeriksaan militer, kata para pejabat Afghanistan.

Kedua belah pihak melaporkan bahwa pertempuran dimulai pada hari Senin dan dilakukan selama dua hari di distrik Sangin, wilayah di mana pasukan Imarah Islam Afghanistan telah membuat kemenangan besar selama dua tahun terakhir.

“Taliban menggunakan taktik baru menyerang posisi pasukan Nasional Afghanistan (ANA) untuk mengambil alih distrik Sangin. Namun, dengan bantuan serangan udara AS, Taliban terdorong mundur,” Omar Zwak, juru bicara gubernur provinsi selatan, mengatakan kepada Al Jazeera, Rabu (01/02/2017).

“Kami tidak memiliki informasi jumlah yang tewas, tapi ada korban di kedua belah pihak.”

Para pejabat mengatakan Taliban menggali terowongan ke pos-pos pemeriksaan dari rumah-rumah di dekatnya.

Charles Cleveland, juru bicara militer AS di Afghanistan, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa AS melakukan 15 serangan udara dalam 48 jam terakhir. Dia mengatakan unit bala bantuan dan komando juga dikirim ke daerah. Pasukan AS mengakui membunuh 33 warga sipil dalam bentrokan dengan Taliban.

Seorang juru bicara daerah Taliban, Qari Yousuf Ahmadi, mengatakan para mujahidin Taliban telah merebut sedikitnya 25 pos pemeriksaan pemerintah dan menewaskan lebih dari 100 tentara ANA dan polisi, jumlah yang sering dikecilkan oleh pejabat pertahanan Afghanistan.

Menurut Inspektur Jenderal Khusus pemerintah AS untuk Rekonstruksi Afghanistan (Special Inspector General for Afghanistan Reconstruction-SIGAR), 6785 tentara dan polisi Afghanistan tewas antara 1 Januari hingga 12 November, 11.777 lainnya terluka.

Jumlah itu meningkat sekitar 35 persen dari jumlah sepanjang tahun 2015, ketika 5.000 anggota pasukan pertahanan bentukan AS itu tewas.

Tokoh Muslim Austria Tolak Keras Larangan Niqab bagi Muslimah

AUSTRIA (Jurnalislam.com) – Tokoh masyarakat Muslim di Austria mengatakan kepada Anadolu Agency mereka khawatir tentang langkah baru pemerintah untuk melarang mengenakan pakaian seluruh tubuh dan penutup wajah yang digunakan beberapa perempuan Muslim di depan umum, Rabu (01/02/2017).

Anadolu Agency mendengar kekhawatiran tersebut setelah Partai Demokrat Sosial dan Partai Rakyat Austria – mitra koalisi dalam pemerintahan – memperkenalkan program berisi 44-item yang juga mencakup beberapa pembatasan warga asing dan imigrasi.

Dalam sebuah pernyataan hari Senin, pemerintah Austria mengatakan: “Kami percaya akan masyarakat terbuka yang juga didasarkan pada komunikasi yang terbuka. Cadar seluruh tubuh di ruang publik bertentangan dengan hal itu dan karena itu akan dilarang.”

Ibrahim Olgun, presiden Komunitas Islam Austria, mengatakan meskipun Austria adalah negara demokrasi larangan itu akan berarti bahwa Austria kehilangan nilai-nilai demokrasinya.

“Kami menentang larangan jilbab (niqab) di setiap tempat. Sikap kami tentang hal ini sudah jelas. Jika pemerintah ingin menetapkan larangan jilbab, kami akan berjuang dengan menerapkan segala cara hukum,” katanya.

“Kita tidak bisa memahami larangan burqa (niqab) di tempat umum. Ada orang yang tidak menetap di negara ini, ada wisatawan. Jelas kita bereaksi terhadap larangan burqa.”

“Saya tidak berpikir larangan ini hanya tentang kami. Saya bertanya dengan jelas, apa pendapat Kementerian Pariwisata tentang masalah ini,” tambah Olgun.

Dia mengatakan komunitas Muslim menentang penetapan larangan bagi semua simbol agama, dan menyatakan bahwa mereka mengharapkan orang-orang dari latar belakang yang berbeda untuk menghormati nilai-nilai agama mereka.

Juru bicara Pemuda Muslim Austria (Muslim Youth of Austria) Canan Yasar meminta pemerintah untuk menghindari diskriminasi terhadap perempuan.

Dia mengatakan larangan itu akan mengirim pesan ke banyak wanita di Austria bahwa “Anda tidak termasuk di sini, Anda bukan warga negara yang sama-setara”.

“Pesan yang diberikan pemerintah kepada warganya seharusnya bukan ini,” tambahnya.

“Austria memberikan komunikasi berbasis saling menghormati dengan warga Muslim. Dengan sikap ini, pemerintah bergeser menjadi negara yang mengatur pakaian wanita menurut hukum,” katanya.

Jaringan Masyarakat Sipil Muslim Austria (Muslim Civil Society Network) mengatakan meskipun teks hukum tidak menyebutkan “jilbab (niqab),” larangan akan berlaku bagi petugas polisi, hakim dan jaksa.

“Pesan ini benar-benar bencana,” kata kelompok itu dan menegaskan, “Hal ini menandakan bahwa Muslim tampaknya akan diterima di Austria hanya jika mereka meninggalkan pendidikan dan melayani pasar tenaga kerja, atau sama dengan hanya di segmen terendah.”

“Kami menuntut kejelasan detasemen politik Austria dari gaya populis otoriter yang mendorong minoritas dan perempuan ke pinggiran masyarakat dan mengisolasi serta mengkriminalisasi mereka bukannya membuat kontribusi yang konstruktif untuk integrasi dan kesetaraan,” kata LSM tersebut.

Walaupun frase “jilbab” tidak termasuk dalam program pemerintah yang telah disiapkan, komunitas Muslim menafsirkannya sebagai keinginan untuk melarang jilbab.

Oposisi Suriah Tolak Pembicaraan Damai Jenewa jika Tanpa Ada Transisi Rezim

SURIAH (Jurnalislam.com) – Faksi oposisi bersenjata Suriah mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu (01/02/2017) mereka tidak bisa menerima undangan untuk pembicaraan damai yang tidak menyelenggarakan transisi kekuasaan rezim ke lembaga transisi, Middle East Eye melaporkan.

Pernyataan itu juga mengatakan tidak ada langkah-langkah menuju solusi politik yang bisa diambil untuk perang di Suriah tanpa menegakkan gencatan senjata secara menyeluruh.

Dikatakan tidak ada pihak luar yang bisa memilih siapa wakil oposisi Suriah dalam negosiasi, komentar tersebut diarahkan pada utusan PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura.

De Mistura pada hari Selasa (31/01/2017) menyatakan bahwa ia bisa memilih wakil-wakil dari oposisi dalam pembicaraan yang dipimpin PBB di Jenewa jika oposisi gagal melakukannya.

Pembicaraan itu ditetapkan berlangsung 8 Februari, tetapi kemudian ditunda hingga 20 Februari untuk memberikan lebih banyak waktu bagi oposisi untuk menyajikan sebuah delegasi yang bersatu.

De Mistura memperingatkan bahwa penundaan di luar tanggal 8 Februari akan memaksa dia memilih delegasi untuk memastikan bahwa hal itu dapat menjadi se-inklusif mungkin.

Pihak oposisi Suriah menolak dan tidak dapat menerima komentar tersebut.

“Memilih delegasi oposisi Suriah bukan urusan bisnis … de Mistura,” tulis Riad Hijab, kepala Komite oposisi Tinggi Negosiasi (High Negotiations Committee-HNC), di Twitter.

Salem Muslet, seorang juru bicara HNC, mengatakan komentar de Mistura tersebut “tidak dapat diterima” dan menunjukkan bahwa ia “mengabaikan kemampuan rakyat Suriah untuk jadi wakil”.

Muslet menolak pendapat bahwa oposisi bertanggung jawab atas keterlambatan pembicaraan, yang katanya “tidak untuk kepentingan rakyat Suriah”.

“Justru penundaan itu adalah respon terhadap tuntutan sekutu rezim,” ia berpendapat.

Dia juga menanyakan apakah de Mistura akan “turun tangan” untuk membentuk perwakilan dari kubu rezim Bashar al-Assad.