Berita Terkini

Mujahidin Imarah Islam Selamatkan 300 Lebih Wisatawan yang Terjebak Badai Salju

GHAZNI (Jurnalislam.com)Al-Emarah News mengatakan lebih dari 300 wisatawan berhasil diselamatkan oleh Mujahidin Imarah Islam Afghanistan (Taliban) dan relawan saat terjebak badai salju berat di distrik Gilan provinsi Ghazni Sabtu kemarin (04/02/2017).

Tim penyelamat Taliban didampingi relawan dari masyarakat umum berhasil mencapai jalan raya Kabul-Kandahar dan menemukan wisatawan di sepanjang jalan tersebut dalam kondisi hampir beku. Anak-anak, wanita, orang tua dan orang yang sakit dibawa oleh para relawan kembali ke rumah mereka sementara mereka yang lebih sehat dan masih tetap di daerah disediakan tempat tidur, selimut hangat, pakaian dan bahan makanan.

Sejumlah besar orang yang terjebak jalan raya Kabul-Kandahar di perbatasan kabupaten Qarabagh juga berhasil diselamatkan oleh Taliban dan relawan.

Mujahidin Imarah Islam dengan bantuan warga sipil juga berhasil menyelamatkan sejumlah orang yang terjebak salju di daerah Bakorzo, Manjaryano, Mula Muhammad Ali Killi, Azmat Killi, Andarho Killi, Bazargan, Hassan Karez dan Bazar di distrik Shajoy. Puluhan orang di distrik Shah Jowi Zabul juga berhasil diselamatkan.

Sejauh ini lebih dari 300 orang telah diselamatkan dan upaya untuk menyelamatkan lebih banyak orang lainnya masih dilakukan.

150 Masjid di Inggris Gelar Acara “Kunjungi Masjid Kami”

BIRMINGHAM (Jurnalislam.com) – Ratusan masjid di seluruh Inggris membuka pintu mereka bagi warga sebagai bagian dari inisiatif melawan kesalahpahaman tentang komunitas Muslim.

Lebih dari 150 masjid mengambil bagian dalam proyek “Visit My Masjid” pada Ahad sore, dan berhasil membuat kerumunan pengunjung penasaran, lansir Aljazeera, Ahad (05/02/2017).

Acara yang diselenggarakan oleh Dewan Muslim Inggris (the Muslim Council of Great Britain-MCB), berjanji akan menjawab semua pertanyaan. Pengunjung dari semua agama dan yang tidak memiliki agama disambut, dan tidak ada subjek yang dianggap terlarang.

Di masjid Paigham-e-Islam di Birmingham, kota kedua terbesar di Inggris, percakapan terfokus pada hukum Islam, yang dikenal sebagai Syariah, pendapat Muslim tentang Yesus dan apa saja program-program di masjid.

Teh dan kue-kue khas Asia Selatan ditawarkan bagi mereka yang hadir, selain tur keliling masjid dan penjelasan tentang sholat.

Jeremy Corbyn, pemimpin Partai Buruh yang merupakan oposisi utama, mengambil bagian dalam acara tersebut dengan mengunjungi masjid setempat di Finsbury Park, London utara.

“Minum teh bersama jauh lebih efektif daripada menuangkan beton untuk membangun dinding,” tweeted dia.

Adrees Sharif, anggota masjid dan pejabat MCB, mengatakan inisiatif tersebut bertujuan untuk memperkuat ikatan antara Muslim dan masyarakat di sekitar mereka.

“Kami ingin menciptakan dialog bukan debat. Ketika Anda sedang berdebat Anda bertujuan untuk memenangkan argumen, tetapi ketika Anda terlibat dalam dialog Anda berbagi keyakinan Anda,” katanya.

Masjid yang ambil bagian dalam acara tahun ini berjumlah hampir dua kali lipat dari 82 masjid yang ambil bagian pada tahun 2016.

Sharif mengatakan kenaikan itu disebabkan meningkatnya keinginan di kalangan umat Islam untuk menjelaskan keyakinan mereka di tengah meningkatnya sentimen kelompok sayap kanan.

“Masjid memahami pentingnya keterlibatan dan lebih bersedia untuk mengambil bagian, bukan hanya karena [Presiden AS] Donald Trump tetapi reaksi setelah isu Brexit juga,” Sharif menjelaskan, mengacu banyaknya orang Inggris yang memilih lepas dari Uni Eropa pada bulan Juni.

Trump, presiden anti Islam AS menepati janji kampanyenya untuk melarang semua Muslim memasuki AS dengan menghentikan imigrasi dari tujuh negara mayoritas Muslim.

Seorang hakim federal sejak itu telah menghentikan perintah larangan Trump.

Di Inggris, serangan terhadap Muslim meningkat, di samping serangan xenophobia lainnya, pasca pemungutan suara mengenai Brexit.

Geoff Gallagher, yang menghadiri acara tersebut di Birmingham, mengatakan ia memiliki pengalaman yang “sangat baik” dan merekomendasikan lebih sering lagi aktifitas pembangunan komunitas untuk membantu menghilangkan stereotip negatif terhadap Muslim.

“Aktifitas semacam ini harus diiklankan di seluruh negeri untuk memastikan agar semua orang mengerti bahwa umat Islam bukan kelompok agama kekerasan, dan merupakan bagian dari masyarakat luas,” katanya.

Muslim berjumlah lima persen dari populasi Inggris atau hanya di bawah tiga juta orang, dengan jumlah yang signifikan terkonsentrasi di pusat-pusat kota, seperti London, Birmingham, Manchester dan Bradford.

Sekitar setengah populasi dari Muslim Inggris lahir di Inggris.

PWNU DKI Jakarta Akan Tindak Tegas Pengurus yang Aktif di Istighosah Bersama Ahok

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pengurus Wilayah Nahdatul Ulama DKI Jakarta membantah terlibat dalam acara Istighosah Kebangsaan Warga Nahdiyin DKI Jakarta yang dihadiri Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di rumah Ketum Partai Persatuan Pembangunan Djan Faridz di Jalan Talang Nomor.3, Menteng, Jakarta Pusat, pada Ahad malam, (5/2/2017).

Rais Syuriah PWNU DKI Jakarta KH. Mahfudz Asirun menyatakan, pihaknya sama sekali tidak mengetahui acara Istighosah Kebangsaan yang mengatasnamakan warga Nahdiyin DKI Jakarta itu.

“Acara ini tanpa sepengetahuan dan tidak ada sangkut pautnya dengan pengurus PWNU DKI,” kata Kiai Mahfudz dalam keterangan tertulis, Ahad (5/2/2017).

Ketersinggungan PWNU DKI Jakarta terhadap Ahok pun tampaknya tidak main-main. Kiai Mahfudz pun menegaskan, pihaknya akan menindaktegas siapapun pengurus PWNU DKI Jakarta yang ikut terlibat aktif dalam acara Istighosah Kebangsaan yang mengatasnamakan warga Nahdiyin DKI Jakarta itu.

Kiai Mahfudz menambahkan, seluruh jajaran pengurus PWNU DKI Jakarta secara organisasi berkomitmen serta mendukung penuh Ketua Tanfidziah atau Ketua Umum PBNU KH. Said Agil Siradj yang menyatakan, Basuki Tjahaja Purnama telah bersalah karena menghina Rais Am PBNU KH. Ma’ruf Amin dalam persidangan beberapa waktu lalu.

“PWNU DKI tersinggung dan tetap mengecam keras perlakuan Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) dan pengacaranya terhadap Rais Am PBNU KH. Ma’ruf Amin,” tegasnya.

Kendati demikian, acara di rumah Djan Faridz itu dihadiri sejumlah tokoh NU. Seperti KH. Nur Muhammad Iskandar SQ, Ketua Relawan Nusantara NU (RelaNU) dan Wakil Ketua Tanfidziah PWNU Taufik Damas, dan Nusron Wahid.

 

NATO Mulai Latih Tentara Irak

IRAK (Jurnalislam.com) – NATO mulai melatih tentara Irak untuk menjinakkan bom yang ditanam oleh kelompok Islamic State ( IS), mereka mengatakan pada hari Ahad (05/02/2017), memperluas program yang sudah berjalan di negara tetangga Yordania, lansir World Bulletin.

Sejak bulan lalu, penasihat NATO di Irak telah mengawasi program kerja sama sipil-militer dan memeriksa institusi keamanan.

Namun hingga saat ini, pelatihan pasukan Irak di bidang pertambangan dan pembuangan persenjataan telah berlangsung di Yordania.

“Senjata terbaik yang kita miliki dalam memerangi musuh adalah dengan melatih pasukan lokal,” Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg seperti dikutip dalam sebuah pernyataan aliansi.

“Sebuah militer Irak yang lebih efektif berarti Irak menjadi lebih aman, dan Timur Tengah menjadi lebih stabil bagi kita.”

Anggota aliansi telah sepakat untuk memperluas pelatihan pada pertemuan puncak mereka di Warsawa Juli lalu.

Sejak Oktober, NATO juga telah mengerahkan pesawat pengintai AWACS di kawasan itu untuk meningkatkan pertempuran koalisi yang dipimpin AS, sebuah tindkan juga telah diputuskan pada pertemuan puncak Warsawa.

Pesawat-pesawat tersebut adalah salah satu aset konkrit yang dimiliki NATO, dengan sebagian besar perangkat keras militer milik negara anggota.

Ketum PBNU Bantah Hadiri Istighosah Bersama Ahok

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Sirodj membantah telah menghadiri istighosah yang dihadiri calon gubernur pejawat DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. alias Ahok. Istighosah tersebut digelar di kediaman politikus PPP, Djan Faridz pada Ahad (5/2/2017) malam.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, menyikapi berita bahwa istighatsah pada tanggal 5 malam, Minggu malam, di rumah Pak Djan Faridz, Jalan Talang dihadiri oleh Ahok dan Ketua Umum PBNU; berita itu sama sekali tidak benar. Sama sekali tidak benar. Sama sekali tidak benar!” kata Said Aqil seperti dikutip NU Online, Jakarta, Ahad (5/2).

Menurutnya, Lirboyo Kediri, dan Krapyak Yogyakarta tersebut, ia tidak akan pernah menghadiri acara-acara yang diadakan calon gubernur DKI siapa pun di mana pun.

“Kepada warga NU semua, umat Islam pada umumnya, bangsa Indonesia pada umumnya, saya tetap menjaga netralitas sikap PBNU. PBNU tidak berpihak kepada calon gubernur siapa pun dan mana pun,” pungkasnya.

Sumber: NU Online

 

Ribuan Orang Dukung Kemerdekaan Muslim Kashmir dari Penjajah India

KARACHI (Jurnalislam.com) – Ribuan Rantai manusia, demonstrasi, dan protes besar-besaran menandai Kashmir Day di Pakistan hari Ahad untuk mengungkapkan solidaritas dengan perjuangan kemerdekaan yang sedang berlangsung di Jammu dan Kashmir yang dijajah India, lansir Anadolu Agency, Ahad (05/02/2017).

Kashmir Day, yang juga berlangsung di AS, Inggris, Belgia, dan negara-negara Eropa lainnya, telah resmi diselenggarakan setiap 5 Februari oleh Pakistan dan Azad Kashmir (yang telah dibebaskan) sejak tahun 1990.

Kashmir Day dimulai dengan berdoa, dan menghentikan lalu lintas di seluruh negeri selama satu menit sebagai tanda solidaritas dengan warga Muslim Kashmir di lembah yang diduduki.

Sebuah rantai manusia dibentuk oleh ribuan orang di seluruh jalan di beberapa titik yang menghubungkan Pakistan dengan Azad Kashmir. Lagu “Anda Bisa Membutakan Mata Kami Tapi Tidak Dapat Mencuri Mimpi Kami” (You Can Blind Our Eyes But Cannot Steal Our Dreams) – dirilis oleh tentara Pakistan untuk mengecam pasukan India yang melancarkan kekerasan brutal terhadap demonstran di lembah – telah menjadi viral di media sosial.

Dalam beberapa bulan terakhir ratusan warga Muslim Kashmir telah kehilangan penglihatan mereka setelah ditembak oleh pasukan India melalui senjata pelet.

Banyak orang meneriakkan slogan-slogan seperti “Kami ingin kebebasan,” “India keluar dari Kashmir,” dan “Kami tidak akan beristirahat sampai mendapatkan kebebasan” dan ambil bagian dalam demonstrasi dan aksi unjuk rasa di Pakistan dan Azad Kashmir, yang diselenggarakan oleh berbagai kelompok politik dan agama.

Jamat-e-Islami, salah satu partai Islam terbesar di Pakistan, dianggap telah mempelopori Hari Solidaritas Muslim Kashmir, dan juga mengadakan sejumlah unjuk rasa dan demonstrasi di seluruh Pakistan dan Azad Kashmir.

Dalam kesempatan tersebut, Perdana Menteri Nawaz Sharif berpesan, “Kashmir adalah urusan pembagian sub-benua yang belum selesai” – mengacu pada akhir pemerintahan kolonial Inggris tahun 1947, yang menyebabkan penciptaan Pakistan dan India sebagai dua negara yang independen.

“Sampai dan kecuali sengketa Kashmir diselesaikan, tidak akan ada perdamaian di kawasan itu,” kata Sharif, bersumpah bahwa Islamabad akan terus memberikan dukungan politik, diplomatik, dan moral untuk Kashmir.

Sementara itu, Syed Ali Gilani – ketua Konferensi Semua Partai Hurriyet (the All Parties Hurriyet Conference-APHC), konglomerat partai politik pro-kemerdekaan di wilayah pendudukan Kashmir – dan pemimpin Partai Kebebasan Demokrat (Democratic Freedom Party-DFP) Shabbir Ahmad Shah menyatakan terima kasih mereka terhadap pemerintah, orang-orang, dan tentara Pakistan yang mendukung rakyat Kashmir.

Dalam pernyataan mereka, kedua pemimpin tersebut mengatakan orang-orang Jammu dan Kashmir sedang berjuang menantang kekuatan utama, dan Pakistan adalah satu-satunya negara yang terus-menerus memperluas dukungan terhadap mereka, harian lokal berbahasa Inggris Dawn melaporkan.

Tentara Emirat Arab Tewas oleh Pasukan Syiah Houthi

YAMAN (Jurnalislam.com) – Seorang tentara Uni Emirat Arab (UEA) tewas hari Sabtu di Yaman sebagai bagian dari operasi militer yang dipimpin Saudi melawan pemberontak Syiah Houthi, kata komando militer negara itu, Anadolu Agency melaporkan Ahad, (05/02/2017).

Komando Angkatan Bersenjata mengatakan tentara itu tewas selama operasi “Pemulihan Harapan (Restore Hope)” dengan koalisi yang dipimpin Arab Saudi membela legitimasi di Yaman, demikian laporan kantor berita resmi WAM.

Namun, Angkatan Bersenjata tidak mengungkapkan penyebab kematian prajurit.

UAE adalah anggota dari koalisi pimpinan Saudi yang meluncurkan operasi udara besar-besaran pada tahun 2015 melawan pemberontak Houthi, yang menyerbu ibu kota Sanaa dan provinsi lain satu tahun sebelumnya.

Dua putaran pembicaraan damai yang didukung PBB gagal untuk menyelesaikan konflik di mana ribuan warga Yaman diyakini telah tewas dan sekitar tiga juta lainnya terpaksa meninggalkan rumah mereka.

Sertifikasi Penceramah, Upaya Penguasa Jauhkan Umat dari Ulama

SOLO (Jurnalislam.com) – Wacana sertifikasi khatib/penceramah terus mendapat penolakan dari banyak pihak. Jamaah Ansharusy Syariah sebagai jamaah yang fokus dalam dakwah syariat Islam juga menolak tegas wacana yang digagas oleh Menteri Agama itu.

Melalui juru bicara, Ustadz Abdul Rochim Ba’asyir, Ansharusyariah menilai langkah tersebut adalah upaya pemerintah untuk mengendalikan para penceramah agar tidak menyampaikan materi yang tidak sesuai dengan kehendak dari para penguasa.

“Tentunya ini adalah upaya untuk pengendalian yang akan dilakukan oleh pemerintahan. Permasalahannya penguasa hari ini adalah orang-orang yang tidak mempunyai ilmu syar’i, jadi orang jahil (bodoh) akan mengendalikan ulama, kira-kira kalau kondisinya sudah seperti itu apa yang akan terjadi,” katanya kepada Jurniscom, Ahad (4/2/2017).

Putra bungsu ulama kharismatik, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir ini menegaskan, sertifikasi penceramah akan menghambat perkembangan agama Islam sebab fungsi ulama menyampaikan kebenaran akan terhalangi dan itu termasuk kemunkaran.

“Yang terjadi nanti adalah kemandulan fungsi ulama untuk umat. Di beberapa negara yang menerapkan sistem sertifikasi dai ini akhirnya menjadikan para ulama tidak bebas untuk menyampaikan yang haq sehingga perkembangan Islam di tempat tersebut sangat terhambat. Maka jika sertifikasi tujuannya itu maka ini adalah bentuk kemunkaran dan umat Islam tidak boleh menyetujuinya,”paparnya.

Lebih lanjut, Ustadz Iim, sapaannya, menilai wacana tersebut merupakan upaya sistematis penguasa untuk menjauhkan umat dari ulamanya.

“Umat ini jika tidak ada ulamanya maka akan rusak karena umat bertindak dengan kejahilannya, maka yang terjadi adalah kerusakan-kerusakan sehingga Islam tidak lagi membawa rahmat bagi manusia di muka bumi ini,” tutupnya.

Reporter: Arie Ristyan

Ahok Rendahkan Ulama, Ansharusyariah: Itu Bukan Khilaf, Itu Sifat Aslinya

SOLO (Jurnalislam.com) – Juru bicara Jamaah Ansharusy Syariah, Ustadz Abdul Rochim Ba’asyir mengecam perilaku BTP alias Ahok merendahkan Ketua MUI, KH Ma’ruf Amin dalam sidang lanjutan kasus penistaan agama di kantor Kementrian Pertanian (Kementan), Selasa (31/01/2017) lalu.

“Itu adalah bentuk kekuranganjaran seorang kafir terhadap ulama kita dan benar-benar tidak beradab. Sudah tidak beriman pada Allah kemudian berani merendahkan KH. Ma’ruf Amin yang beliau adalah ulamanya kaum muslimin dan bagian syiar umat Islam dan kebanggaan umat Islam,” katanya kepada Jurniscom melalui telepon, Sabtu (4/2/2017).

Akibat tindakannya itu, gelombang penolakan terhadap Ahok terus meningkat. Hal tersebut pun disyukuri oleh pria yang karib disapa Ustadz Iim ini. Ia mengapresiasi persatuan umat Islam yang semakin kuat pasca kasus tersebut.

“Saat ini umat sudah mulai kembali bersatu dan bersama dengan ada perlakuan seperti itu dari seorang kafir terhadap ulama. Maka sikap umat islam yang saat ini protes dan menunjukan kemarahan dan penolakan terhadap sikap ahok dan teman-temannya itu sudah tepat dan harus ditingkatkan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ustadz Iim menjelaskan, dengan adanya kasus tersebut topeng Ahok semakin terbongkar. Menurutnya, tindakan Ahok dan tim penasehat hukumnya bukan kekhilafan akan tetapi menunjukkan sifat aslinya terhadap Islam dan umat Islam.

“Dan sikap Ahok ini menunjukan pada umat ini siapa Ahok itu, berkali kali minta maaf namun nyatanya kelakuannya masih seperti itu, orang ini tidak bisa dipercaya dan betul-betul harus dijauhi oleh umat ini,” pungkasnya.

Reporter: Arie Ristyan

Cleric Certification, DDII Central Java: We Do Not Care, Da’wah Continues!

KARANGANYAR (Jurnalislam.com) – The idea of forcing cleric (da’i) certification by the Ministry of Religious Affairs (MORA) protests a number of Islamic leaders. Chairman of the Indonesian Islamic Da’wah Council (DDII) Central Java, Ustadz Aris Munandar Al-Fatah said the plan is not only contrary to Islamic law but also contrary to democracy.

“It is a part of restricting the freedom of knowledge and is contrary to the democratic system, not only contrary to the Islamic system,” he told Jurniscom in Karanganyar, Friday (02/03/2017).

Ustadz Aris rated, the plan is an attempt to hinder the da’wah of Islam that continued since the New Order (Orde Baru).

“We assume that cleric certification is a part of the Grand Design to impede Islamic movement and indeed it is a metorfosis of a rule issued by the New Order…the new order was first issued the Cleric’s License (Surat Izin Mubaligh-SIM),” he said.

According to him, the discourse of certification is made to reduce the credibility of MUI in the eyes of Muslims. Authorities has consider MUI as a source of noise for issued a fatwa after blasphemy by Ahok.

“They are trying to minimize the laws issued by ulama that contrary to the current rulers. They also failed to dictate MUI of issuing the fatwa. They want to find a breakthrough, after Menkopolhukam with the order from Jokowi failed when MUI refuse the order,” he added.

However, Ustadz Aris do not care if the cleric certification discourse is initiated by the government. “This Da’wah must go on, we do not care, whatever rules they are trying to make,” he concluded.