Berita Terkini

Menteri Pendidikan Saudi Keluarkan Larangan Semua Buku Yusuf Qaradawi

RIYADH (Jurnalislam.com) Menteri pendidikan Arab Saudi pada hari Ahad (11/6/2017) mendesak pencabutan buku oleh ketua Persatuan Cendekiawan Muslim Internasional dari wilayah pendidikan.

Pernyataan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan Arab Saudi yang ditandatangani menteri Ahmed Bin Mohammed Al-Issa mengatakan bahwa semua buku Yusuf al-Qaradawi, ketua Persatuan Cendekiawan Muslim Internasional, harus “segera” dikeluarkan dari sekolah, universitas dan perpustakaan, lansir Anadolu Agency.

Publikasi buku-buku tersebut juga dilarang sejak sekarang, pernyataan itu menambahkan.

Pada akhir hari Kamis, sebuah pernyataan bersama oleh Arab Saudi, Bahrain, Mesir dan UEA menuduh 59 individu dan 12 organisasi amal di Qatar “terkait dengan teror”. Daftar tersebut termasuk al-Qaradawi, dan Abdullah bin Khalid, mantan menteri dalam negeri Qatar.

Qatar membalas pada hari Jumat dalam sebuah pernyataan Kementerian Luar Negeri yang menggambarkan tuduhan tersebut sebagai “tidak berdasar” dan “fitnah”.

Pasukan Penyusup Taliban Bunuh 4 Serdadu AS di Nangarhar

NANGARHAR (Jurnalislam.com) – Di tengah ‘Operasi Mansouri’ yang sedang berlangsung seorang Mujahid infiltrator berada di jajaran pasukan musuh melepaskan tembakan ke arah pasukan AS yang berkumpul dengan pasukan bayaran asing mereka di daerah Lata Band di distrik Achin, provinsi Nangarhar timur, Al Emarah News melaporkan, Ahad (11/6/2017).

Serangan yang terjadi siang hari Ahad menewaskan 4 penjajah AS seketika dan beberapa lainnya luka-luka, menurut pejabat yang mengatakan bahwa mujahid itu kemudian menjadi martir (semoga Allah menerimanya) akibat tembakan balasan tentara asing.

Juru bicara Imarah Islam Afghanistan (Taliban) Zabihullah Mujahid mengatakan, penjajah Amerika berada di dalam pasukan asing di sebagian besar wilayah negara tersebut, dimana Mujahidin telah meluncurkan tindakan balasan karena banyak penyusup sedang menunggu kesempatan untuk melakukan serangan semacam itu di balik garis-garis musuh.


Krisis Teluk, Iran Kirim Dua kapal Perangnya ke Oman

TEHERAN (Jurnalislam.com)Iran mengirim dua kapal perang ke Oman sebelum mereka memulai misi mereka di perairan internasional di dekat pantai Yaman, kata angkatan laut negara tersebut, Aljazeera melaporkan, Ahad (11/6/2017).

Kantor berita Tasnim melaporkan bahwa kedua kapal tersebut, kapal perusak Alborz dan kapal logistik perang Bushehr, akan berangkat dari kota pelabuhan Bandar Abbas pada hari Ahad untuk misi luar negeri ke Oman dan kemudian menuju perairan internasional.

“Armada kapal angkatan laut Iran akan berangkat ke Oman pada hari Ahad dan kemudian akan pergi ke utara Samudra Hindia dan Teluk Aden,” kata badan tersebut mengutip angkatan laut itu.

Teluk Aden, yang terletak di antara Tanduk Afrika dan ujung selatan Jazirah Arab, adalah jalur pelayaran strategis yang menghubungkan samudra Hindia dengan Laut Merah dan Terusan Suez.

Langkah tersebut dilakukan di tengah krisis di Teluk setelah Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir memutuskan hubungan dengan Qatar karena dituduh mendukung “ekstremisme”.

Qatar membantah keras tuduhan tersebut.

Pemerintah Qatar mengatakan telah memimpin wilayah dalam menyerang apa yang disebut akar “terorisme”, termasuk memberi harapan kepada kaum muda melalui lapangan pekerjaan, mendidik ratusan ribu pengungsi Suriah dan mendanai program masyarakat untuk menantang agenda kelompok bersenjata.

“Posisi kami dalam melawan terorisme lebih kuat daripada kebanyakan penandatangan pernyataan bersama – sebuah fakta yang diabaikan oleh para penuduh,” kata pemerintah.

Temui Wiranto, Komnas HAM Tak Bermaksud Intervensi Hukum

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai mengungkapkan, pertemuannya dengan Menko Polhukam Wiranto untuk membahas dugaan kriminalisasi ulama tidak dimaksudkan untuk mengintervensi hukum yang tengah berjalan. Apalagi, menurutnya, kepolisian juga sangat kooperatif, di mana Komnas HAM sudah lakukan pertemuan kurang lebih empat kali, termasuk pertemuan dengan Kapolri, penyidik Polri, maupun Polda Metro Jaya.

“Sebagai lembaga pengawas eksternal kepolisian, kami sangat memahami proses sistem peradilan pidana (criminal justice system). Sehingga, Komnas HAM tidak sama sekali bermaksud untuk intervensi proses penegakan hukum yang sedang berjalan,” kata Pigai dilansir Republika.co.id, Ahad (11/6/2017).

Meski demikian, Pigai minta pemerintah, dalam hal ini Presiden Joko Widodo untuk mencari solusi komprehensif atasi kegaduhan nasional saat ini. Terlebih, kegaduhan yang ada menurutnya mengganggu integritas sosial, integritas nasional, dan pembangunan Nawacita.

“Penyelesaian kegaduan ini harus melalui dialog yang melibatkan pemimpin struktural, kultural maupun mereka yang menjadi korban,” ucap Pigai.

Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai menemui Menko Polhukam Wiranto untuk membahas dugaan kriminalisasi ulama dan pembubaran HTI pada Jumat (9/6/2017). Pertemuan tersebut dimaksudkan untuk menyampaikan, negara atau pemerintah harus ambil langkah progresif ciptakan kedamaian antara pemerintah dengan komunitas muslim. Salah satu langkah yang perlu diambil yaitu bertujuan untuk ciptakan kedamaian dan hentikan kegaduhan.

Sumber: Republika

Buka Puasa On The Road, FUIS Tebar 1000 Paket Berbuka

SEMARANG (JurnalIslam.com)- Forum Umat Islam Semarang (FUIS) bagikan 1000 porsi menu berbuka puasa yang dikemas dengan Buka Puasa On The Road , dengan titik keberangkatan markas FUIS di jl Kakap Raya Semarang Utara, Sabtu (10/6/2017)

Ketua panitia Wahyu Kurniawan mengatakan bahwa konsep sahur on the road karena banyaknya orang yang masih dalam perjalanan ketika berbuka puasa.

“Kita ambil moment itu (pembagian di jalan) karena banyak masyarakat saat menjelang magrib yang belum siap menyiapkan untuk buka bersama,” kata Wahyu Kurniawan kepada Jurnalislam.com, Sabtu (10/6/2017).

Wahyu pun mengucapkan banyak terima kasih kepada para donatur yang mensukseskan acara tersebut. Dalam acara tersebut, pembagian 1000 paket nasi difokuskan ke empat titik seperti : Stasiun Tawang, Bubakan Patimura, Kantor Pos, Stasiun Poncol dimana tempat tersebut banyak mangkal tukang becak ojek supir taksi dan para pejalan kaki.

Dengan senyum para masyarakat berbondong-bondong mengerumuni tempat pembagian nasi yang dibagikan FUIS. “Terima kasih mas,” ucap salah satu masyarakat dengan wajah bahagia saat setelah menerima pembagian nasi bungkus

Acara yang di mulai sekitar pukul 16.00 diakhiri dengan buka puasa bersama dengan warga sekitar markas FUIS.

Siapakah Sebenarnya yang Intoleran Itu?

Oleh: Hamzah Baya, S.Pd.I

Toleransi dalam Islam adalah topik yang penting ketika dihadapkan pada situasi saat ini pada saat Islam dihadapkan dengan banyaknya kritikan bahwa Islam adalah agama intoleran, diskriminatif, radikal dan ekstrim. Islam dituduh tidak memberikan ruang kebebasan beragama, kebebasan berpendapat. Sebaliknya Islam syarat dengan kekerasan agama sehingga jauh dari perdamaian, kasih sayang dan persatuan. Bahkan mereka menuduh umat Islam yang intolerans dan menumbuhkan bibit-bibit teroris. Sesungguhnya semua tuduhan bahwa umat Islam intolerans adalah fitnah yang sangat kejam.

Agama Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi keadilan. Keadilan bagi siapa saja, yaitu menempatkan sesuatu sesuai tempatnya dan memberikan hak sesuai dengan haknya. Begitu juga dengan toleransi dalam beragama. Agama Islam melarang keras berbuat zalim dengan agama selain Islam dengan merampas hak-hak mereka. Prinsip toleransi yang diajarkan Islam adalah membiarkan umat lain untuk beribadah tanpa mengusik mereka.

Ironisnya, pemahaman sebagian umat Islam sangat jauh dari ajaran yang sesungguhnya, justru prinsip toleransi yang diyakini sebagian orang berasal dari keyakinan dan pemahaman orang kafir Quraisy yang mengakui kebenaran semua agama, dan kesediaan untuk mengikuti ibadat-ibadat agama lain serta beranggapan bahwa menerima apa saja yang dikatakan oleh orang lain asal bisa menciptakan kedamaian dan kesamaan.

Prinsip seperti ini sama persis seperti apa yang ditawarkan oleh kafir Quraisy pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Al Walid bin Mughirah, Al ‘Ash bin Wail, Al Aswad Ibnul Muthollib, dan Umayyah bin Khalaf menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menawarkan:

يا محمد ، هلم فلنعبد ما تعبد ، وتعبد ما نعبد ، ونشترك نحن وأنت في أمرنا كله ، فإن كان الذي جئت به خيرا مما بأيدينا ، كنا قد شاركناك فيه ، وأخذنا بحظنا منه . وإن كان الذي بأيدينا خيرا مما بيدك ، كنت قد شركتنا في أمرنا ، وأخذت بحظك منه

“Wahai Muhammad, bagaimana kalau kami beribadah kepada Tuhanmu dan kalian (muslim) juga beribadah kepada Tuhan kami. Kita bertoleransi dalam segala permasalahan agama kita. Apabila ada sebagaian dari ajaran agamamu yang lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami, kami akan amalkan hal itu. Sebaliknya, apabila ada dari ajaran kami yang lebih baik dari tuntunan agamamu, engkau juga harus mengamalkannya.” (Tafsir Al Qurthubi, 14: 425)

Itulah prinsip toleransi yang digelontorkan oleh kafir Quraisy di masa silam, hingga Allah pun menurunkan ayat,

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ. لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ. وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ. وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ. وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ. لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

“Katakanlah (wahai Muhammad kepada orang-orang kafir), “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”. (QS. Al-Kafirun: 1-6)

Siapa bilang Islam tidak mengajarkan toleransi?

Justru Islam menjunjung tinggi toleransi. Islam mengajarkan “Tasamuh” adalah sikap saling menghormati dan saling bekerjasama diantara kelompok masyarakat yang berbeda baik secara etnis, bahasa, budaya, politik maupun agama. Merupakan konsep yang agung dan mulia dalam Islam. Dalam hubungan dengan orang-orang yang tidak seagama, Islam mengajarkan agar umat Islam berbuat baik dan adil, selama tidak berbuat aniaya kepada umat Islam. Al Quran juga mengajarkan agar umat Islam mengutamakan terciptanya suasana perdamaian hingga timbul rasa kasih sayang diantara umat. Begitulah Rasulullah Shallalhualaihi wasallam mempraktekan kehidupan bertasamuh (toleransi) dalam rangka membangun peradaban Islam di madinah (lihat piagam madinah).

Prinsip dalam Islam yang diajarkan untuk toleransi adalah membiarkan segala bentuk peribadatan mereka tanpa mengganggunya. Namun kita tidak terlibat sedikitpun dengan segala kegiatan agamanya dan wajib meninggalkan, karena menurut syariat Islam, segala praktek ibadah mereka adalah menyimpang dari ajaran Islam alias bentuk kekufuran.

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8) إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (9)

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Mumtahanah: 8-9)

Ayat ini mengajarkan prinsip toleransi, yaitu hendaklah setiap muslim berbuat baik pada lainnya selama tidak ada sangkut pautnya dengan hal agama.Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

“Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada non muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka. Hendaklah berbuat baik dan adil karena Allah menyukai orang yang berbuat adil. Sedangkan ayat selanjutnya adalah berisi larangan untuk loyal pada non muslim yang jelas adalah musuh Islam. Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 248.

Ibnu Jarir Ath Thobari rahimahullah mengatakan bahwa bentuk berbuat baik dan adil di sini berlaku kepada setiap agama. (Lihat Tafsir Ath Thobari, 14: 81)

Setiap Muslim tak boleh ada satu pun keraguan sedikit pun dalam menjalankan Islam. Semua, harus masuk Islam secara kaffah (totalitas). Umat Islam sudah seharusnya jauh lebih paham soal toleransi, bahkan sudah jauh sejak Indonesia membentuk dasar negara Indonesia , sehingga tidak lagi ada fitnah bahwa umat Islam adalah diskriminatif, radikal, teroris, ekstrim dan Intoleransi. Sesungguhnya mereka yang tidak memahami Islam dengan benar sesuai dengan tuntunan Allah dan RasulNya itulah yang berpotensi merusak perdamaian, menumbuhkan intoleransi, permusuhan dan menjauhkan dari persatuan umat yang diperintahkan dalam Islam. Wallahua’lam bisshowab.

*) Ketua Mimbar Syariah

Qatar Tolak Keras Daftar Individu dan Lembaga Teroris yang Dituduhkan Arab

JERMAN (Jurnalislam.com) – Qatar pada hari Jumat (9/6/2017) menolak keras tuduhan bahwa pihaknya mendukung kelompok teroris dan meminta solusi diplomatik atas meningkatkan ketegangan antara negara-negara Teluk, lansir World Bulletin.

Berbicara di Jerman, Menteri Luar Negeri Mohammed bin Abdulrahman al-Thani mengatakan sebuah daftar hitam terorisme yang dikeluarkan oleh Arab Saudi dan sekutunya kemarin termasuk tuduhan “tidak berdasar” terhadap Qatar.

“Kami melihat ke dalam daftar ini tadi malam dan melihat bahwa orang-orang dan organisasi yang termasuk dalam daftar ini banyak yang tidak memiliki hubungan dengan Qatar,” katanya dalam sebuah konferensi pers bersama dengan Menteri Luar Negeri Jerman Sigmar Gabriel, setelah pertemuan mereka di kota pusat Jerman Wolfenbuettel.

Al-Thani mengatakan bahwa banyak orang dalam daftar tersebut tidak pernah menginjakkan kaki di Qatar, beberapa di antaranya tinggal di negara-negara Teluk lainnya, dan beberapa organisasi dalam daftar tersebut adalah organisasi yang diakui secara internasional yang bahkan bekerja sama dengan PBB – Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pada hari Kamis, Arab Saudi, Bahrain, Mesir, dan UEA mengeluarkan sebuah pernyataan bersama yang menuduh 59 individu dan 12 organisasi amal di Qatar “terkait dengan teror”.

Diplomat tertinggi Qatar mengatakan bahwa daftar tersebut tidak memenuhi standar internasional, dan termasuk tuduhan “tidak berdasar” untuk menekan Qatar di tengah ketegangan baru-baru ini.

Setelah Qatar Diblokade, AS Kirim Pesan Beragam ke Negara-negara Teluk

WASHINGTON (Jurnalislam.com)Pemerintah AS telah mengirim pesan beragam ke negara-negara Teluk Arab di tengah salah satu krisis diplomatik terbesar yang mencengkeram wilayah tersebut.

Berbicara di Rose Garden di Gedung Putih pada hari Jumat (9/6/2017), Presiden yang dikenal anti-Islam pada waktu lalu, Donald Trump, meminta Qatar dan negara-negara lain untuk meningkatkan usaha mereka dengan dalih melawan terorisme, lansir Aljazeera.

Beberapa menit sebelumnya, Rex Tillerson, sekretaris negara AS, mendesak Arab Saudi dan tiga negara Arab lainnya untuk mengurangi blokade mereka terhadap Qatar.

Trump dan Tillerson berbicara lima hari setelah Arab Saudi, Bahrain, UEA, dan Mesir memutuskan hubungan diplomatik dan hubungan transportasi dengan Qatar, serta menutup dan membatasi perbatasan darat dan laut sehingga negara-negara anggota Dewan Kerjasama Teluk (the Gulf Cooperation CouncilGCC) tersebut mengalami krisis terbesar mereka sejak bertahun-tahun lamanya.

“Qatar, kami ingin Anda kembali ke persatuan negara-negara yang bertanggung jawab,” kata Trump, berdiri di samping Presiden Romani Klaus Iohannis.

“Kami meminta Qatar dan negara-negara lain di kawasan ini untuk berbuat lebih banyak [untuk memerangi terorisme] dan melakukannya lebih cepat.”

Qatar dengan keras menolak tuduhan yang dilontarkan oleh Trump dan blok Saudi tersebut.

Dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat, pemerintah Qatar mengatakan telah memimpin wilayah tersebut dalam menyerang apa yang disebut akar “terorisme”, termasuk memberi harapan kepada kaum muda melalui pekerjaan, mendidik ratusan ribu pengungsi Suriah dan mendanai program masyarakat untuk menantang agenda dari kelompok bersenjata

“Posisi kami dalam melawan terorisme lebih kuat daripada banyak penandatangan pernyataan bersama – sebuah fakta yang telah diabaikan oleh para penulis,” kata pernyataan tersebut.

Namun, dalam sambutannya pada hari Jumat, Trump mengatakan “negara Qatar secara historis merupakan penyandang dana terorisme pada tingkat yang sangat tinggi”, tetapi Trump gagal menunjukkan bukti apapun.

Siap Maju di Pilgub Jabar, Ini Kata Aa Gym

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Nama dai kondang KH. Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym disebut-sebut masuk dalam bursa calon gubernur Jawa Barat. Survei Indo Barometer yang dipublikasikan Selasa (6/6/2017), menyebut lima calon dengan tingkat pengenalan tertinggi alias populer yakni Deddy Mizwar (99%), Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym (94,9%), Desy Ratnasari (94,9%), Dede Yusuf (92,4%), dan Ridwan Kamil (88,8%).

Lalu, apa kata Aa Gym menanggapi hasil survey tersebut. Menurutnya, ia siap menjadi Gubernur Jawa Barat periode 2018-2023 jika benar-benar mendapatkan dukungan masyarakat.

“Jika ada 2,5 juta Kartu Tanda Penduduk (KTP) untuk Aa, Aa siap maju di Pemilihan Gubernur Jawa Barat,” kata Aa Gym saat mengisi acara buka puasa bersama di kawasan Daarut Tauhid, Kamis (8/6/2017) dilansir Tribunnews.com.

Aa Gym mengatakan kesiapannya menjadi gubernur dihadapan lebih dari 2000 santri dan warga setempat.

“Saya tidak punya ambisi untuk memimpin Jawa Barat, tapi jika ditakdirkan oleh Allah dan banyak dukungan, saya harus siap lahir dan batin karena yang terpenting adalah ridho Allah,” kata Aa Gym.

Sumber : tribunnews.com

Ahli Hukum Unpad Sebut Rezim Sekarang Mirip dengan Rezim Soeharto

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Dosen Fakultas Hukum Universitas Padjajaran (Unpad) Atif Latiful Hayat, Ph. D menilai bahwa suasana saat ini, khususnya isu yang dibangun pada rezim sekarang mirip dengan narasi pada rezim Soeharto.

Baca juga: Kriminalisasi Ulama, Dosen Hukum Unpad : Tuduh Dulu, Bukti Hukum Urusan Lain

“Yang paling mirip adalah isu yang dibangunnya. Pada Era Suharto isu yang dibangun adalah semua demi pembangunan. Siapa yang kritis terhadap rezim ketika itu dianggap menghambat pembangunan,” kata Atif kepada Jurnalislam.com, Sabtu (9/6/2017).

Pada saat ini pun, menurut Atif, ada narasi terhadap orang-orang yang kritis kepada pemerintah. Ia menilai anggapan masyarakat bahwa pemerintah melakukan kriminaliasi ulama merupakan hal yang sulit dibantah.

Baca juga: Dahnil Anzar Desak Pemerintah Hentikan Kriminalisasi Ulama dan Tokoh Umat

“Kalau sekarang isu yang dibangun adalah keragaman, kebinekaan, NKRI. Siapa yang kritis terhadap pemerintah dianggap anti-keragaman, anti-kebinekaan, anti-NKRI,” katanya.

“Jadi hampir mirip, beda bentuk dan isunya saja,” kata Atif.