Berita Terkini

Terpasung Di Negeri yang Katanya Demokrasi

JURNALISLAM – Kapal besar ini semakin tak jelas arah serta tujuannya, sang nahkoda seperti kelimpungan tersesat arah untuk membawa bahtera ini menuju dermaga tujuan. Terlalu banyak para penyamun ikut menumpang, memanfaatkan kepolosan sang nahkoda. Para penyamun berhasil menyusup, seolah memberi angin surga, padahal sejatinya sedang bersiasat menggiring para penumpang untuk masuk ke dalam perangkap liciknya.

Perlahan mereka mulai menyandera kapal besar ini. Para penyamun memberikan dua pilihan kepada para penumpang: tetap tinggal di kapal dengan syarat loyal dan taat atau bagi yang melakukan perlawanan dan mengenggam erat idealismenya, maka tanpa iba akan menyeret mereka lalu menenggelamkannya ke dasar lautan.

Sungguh memilukan, kapal yang dibangun dengan jerih payah para penumpang tetapi hasilnya dinikmati oleh penumpang gelap yang tak jelas sumbangsih serta diragukan asal usulnya.

Cerita diatas kiranya menjadi gambaran dari realita kehidupan berbangsa serta bernegara yang nampak di pelupuk mata kita sebagai bagian dari bangsa ini. Akhir-akhir ini negeri titipan Sang Rahman bertubu-tubi dirundung duka. Detik ke detik rakyat dibuat resah dengan perilaku elit berbaju negara yang begitu diskriminatif memperlakukan rakyatnya. Kata demokrasi yang sering menggema tatkala pidato kenegaraan hanya kaya secara wacana namun miskin dalam tataran praksis. Mantra demokrasi hanya menjadi senjata kekuasaan untuk menebar ancaman dan ketakutan bagi rakyatnya. Dengan jumawa mereka memainkan skenario kejinya untuk menyeret siapa saja yang dianggap ‘mengancam keutuhan NKRI’.

Alasan ini terkesan ambigu, indikatornya tidak jelas, perlu kajian mendalam agar alasan yang diutarakan logis dan rasional. Alasan yang begitu diskriminatif, hanya menyasar pada golongan tertentu saja, sementara bagi mereka antek-antek kekuasaan melenggang bebas, mendapatkan privilege. Padahal kita adalah ahli waris republik ini.

Perkembangan demokrasi di Indonesia

Konstitusi Indonesia, UUD 1945, menjelaskan bahwa Indonesia adalah sebuah negara demokrasi. Presiden dalam menjalankan kepemimpinannya harus memberikan pertanggungjawaban kepada MPR sebagai wakil rakyat. Oleh karena itu, secara hierachy rakyat adalah pemegang kekuasaan tertinggi.

Namun, dalam perjalanannya demokrasi di Indonesia berakhir dengan sangat tragis. Selain runtuhnya kekuasaan, dinamika demokrasi pun memakan korban dan terekam jelas dalam potret sejarah Indonesia tumbal demokrasi selalu mengarah terhadap umat Islam.

Pada era Soekarno, Indonesia sempat menerapkan demokrasi terpimpin tahun 1956, tak bertahan lama demokrasi terpimpin rubuh beserta para inisiatornya. Era orde baru ditandai dengan didaulatnya Soeharto sebagai kepala Negara pernah menggunakan demokrasi semu (demokrasi Pancasila).

Periode kelam dalam sejarah negeri ini dimana kebebasan dibelenggu, kontras dengan prinsip dasar demokrasi yang menggaungkan nilai kebebasan. Era demokrasi Pancasila pun tumbang setelah sebelumnya banyak menelan korban, terutama umat Islam yang kembali menjadi tumbal kekejaman demokrasi Pancasila rasa orde baru.

Hari ini kita memasuki alam reformasi. 19 Tahun reformasi membersamai kehidupan berbangsa dan bernegara tetapi belum menampakan kemajuan berbangsa serta bernegara yang signifikan. Reformasi dengan demokrasi sebagai fondasinya hanya kian melemahkan kedaulatan bangsa. Demokrasi di era reformasi seperti pil pahit yang terpaksa kami telan. Semangat kritis sebagai kontrol kami terhadap kekuasaan menjadi sesuatu yang harus kami bayar mahal, kemerdekaan kami terpasung di negeri yang katanya sudah 72 tahun meneguk manisnya kemerdekaan.

Demokrasi detik ini kembali menjadi alat gebuk kekuasaan bagi mereka yang dirasa merongrong kekuasaan. Hari ini umat Islam kembali menjadi korban utama, dari mulai ulama sampai kalangan biasa. Dengan merancang skenario peradilan sesat mereka sukses menghantarkan target menuju jeruji besi. Dibangun narasi bahwa umat Islam tidak layak dijadikan tuntunan dan panduan, citra umat Islam dirusak dengan jargon ‘anti kebhinekaan dan keberagaman’. Sehingga membangun persepsi terhadap publik bahwa Islam tidak layak menjadi tuntunan dan panduan. Padahal jauh sebelum negeri ini lahir umat Islam di nusantara telah mengaplikasikan keberagaman yang begitu otentik di tengah-tengah masyarakat yang begitu majemuk serta heterogen.

Kembali kepada khittah pendiri bangsa

Pernyataan berani Hamka dalam Sidang Konstituante harus menjadi refleksi di tengah kondisi bangsa yang kering mata air keteladanan.

“Bila negara kita ini mengambil dasar negara berdasarkan Pancasila, sama saja kita menuju jalan ke neraka”.

Neraka ini bisa kita maknai neraka dunia. Sejak lahir kesusahan dan kesedihan terus bergelayut, seakan tak mau berpisah dari negeri ini. Negeri yang katanya gemah ripah lohjinawi ini hanya menjadi bancakan para elit, rakyatnya seolah mati dilumbung padi. Bangsa yang katanya besar seolah kesepian di tengah keramaian bahkan bodoh di perpustakaan.

Segenap elemen bangsa wajib memuhasabah diri, mengembalikan bangsa ini kepada khittah para pendirinya. Kembali menjalankan amanatnya untuk menerapkan nilai-nilai intervensi ilahiah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pertumbuhan islam di negeri ini jangan dimaknai sebagai ancaman, pertumbuhan ini harus dirawat sebagai modal berharga untuk kembali mendorong negeri ini ke pintu kedaulatan dan kemerdekaan yang sesungguhnya. Sebab kemerdekaan hakiki adalah lahirnya sistem yang amanah yang menghantarkan rakyatnya menuju gerbang kemenangan.

AQL Tawarkan Berbagai Program Ramadhan Berbasis Qur’an

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Bulan suci Ramadhan yang telah berjalan ini, Ar-Rahman Qur’anic Learning (AQL) menawarkan berbagai program berbasis Al – Qur’an. Karena AQL ini selalu konsisten dengan jalur dakwah dan tadabbur Al – Qur’an.

Program unggulan AQL di bulan Ramadhan tahun ini adalah pelatihan The Qur’an Way yang akan dibimbing lansung oleh Pimpinan AQL Islamic Center KH Bachtiar Nasir. Selain itu, ada program Wakaf Sejuta Mushaf Al-Qur’an untuk Indonesia, Daurah Tahfizh Spesial Ramadhan, Ceria Bersama Anak Yatim, dan Menjadi Orang Tua Asuh Santri Tahfizh Al-Qur’an.

Khusus untuk program The Qur’an Way akan digelar Sabtu, 3 Juni 2017, pukul 08.00-12.00 WIB di Grand Sahid Jaya Hotel, Jakarta. Inti pelatihan The Qur’an Way adalah mengupas mutiara dan rahasia di balik al-Qur’an Surat Al-Fatihah yang berjumlah tujuh ayat. Peserta dikenai syarat berinfaq untuk Pembebasan Tanah AQL Islamic Center.

Untuk diketahui, Surat Al-Fatihah adalah ringkasan jalan Al-Qur’an untuk mencapai kebahagian di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang ingin menemukan jalan kebahagian menurut Al-Qur’an, maka ia bisa melihatnya di dalam Al-Fatihah.? Barangsiapa yang ingin menemukan jalan kesuksesan menurut Al-Qur’an, maka ia bisa mendapatkannya di dalam Al-Fatihah.

Para mufassir berkata, seluruh isi kitab suci di muka bumi ini sudah tertuang dalam surat al-Fatihah. Jadi, jika ingin mempelajari ilmu terbaik orang masa lalu maka cukup mempelajari tujuh ayat ini. KH Bachtiar Nasir mengatakan, secara ringkas ada tiga bagian penting dalam surat al-Fatihah. Pertama, berisi pujian kepada Allah SWT, kedua, penyerahan diri secara total kepada Allah SWT, dan ketiga, permintaan yang paling hebat.

“Jika ingin selamat, bahagia, sukses, dan mulia dalam hidup ini, maka permintaan yang paling tepat adalah memohon kepada Allah agar ditunjuki jalan lurus. Ayat enam al-Fatihah didetilkan oleh Allah SWT bahwa karakter shirat al-Mustaqim dijelaskan di ayat selanjutnya. Yaitu, “Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” (QS. al-Fatihah: 7).

Untuk program wakaf mushaf Al-Qur’an, AQL membuka donasi wakaf lewat pembelian mushaf untuk pembebasan lahan AQL Islamic Center di Tebet, Jakarta Selatan. Tujuan program ini adalah menyebarkan Mushaf Al-Qur’an ke pelosok Indonesia, beramal jariyah untuk Pembebasan Tanah AQL yg Insya Allah akan dibangun Menjadi Pusat Tadabbur Qur’an Indonesia. Cetakan Al-Qur’an wakaf ini dilengkapi dengan sisipan Tadabbur Ayat Keluarga.

“Sebuah program eksklusif juga dibuka Hanya untuk 25 peserta untuk mengikuti Daurah Spesial Ramadhan dengan lima program andalan yakni tahsin metode Ar-Rahman, tahfizh plus muroja’ah, tadabbur juz 30, pengenalan Qiro’at Asyaroh, perolehan sanad. Program ini dibimbing oleh para asatidz AQC bersanad qiroah ‘Ashim dan bersanad Qiro’at Asyarah sampai dengan Rasulullah SAW,” ujar pengurus AQL kepada beritalima.com, Jum’at (2/6/2017)

Ditambahkam Tina, acara ini akan digelar selama 10 hari, yaitu 10-20 Ramadhan atau 5 Juni s/d 15 Juni 2017. Acara ini sekaligus itikaf di Ar Rahman Quranic College, Desa Sirimpak, Mega Mendung, Bogor.

Reporter: Muhammad Firdaus

Subsidi Parpol Naik, Rakyat Terjepit

Oleh: AB Latif (Indopolitik Watch)
Sungguh terlalu. Itulah ungkapan yang mungkin ada dalam benak sebagian besar masyarakat Indonesia. Betapa tidak, dana subsidi yang menjadi tumpuan masyarakat kecil dihilangkan sedikit demi sedikit. Ujungnya dihapus sama sekali. Sementara dana subsidi untuk Parpol naik 10 kali lipat menjadi Rp. 1.000 per suara. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah menyetujui usul kenaikan dana bantuan untuk Parpol. Nilai kenaikannya cukup fantastis, yaitu dari Rp. 108 per suara kini naik hampir sepuluh kali lipat menjadi Rp. 1.000 per suara. Hal ini disampaikan oleh Direktur Politik Dalam Negeri Ditjen Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri Bahtiar kepada jawa pos pada hari jum’at (Jawa Pos, 27 mei 2017). Angka ini jauh dari angka yang diusulkan Kemendagri yaitu Rp. 5.400 untuk setiap suara yang diperoleh Parpol. Dilematis dan anomali di tengah kondisi memprihatinkan ini.
Jikalau angka itu kita asumsikan berdasarkan perolehan suara pemilu 2014 dengan besaran dana yang diterima untuk setiap suara dengan nilai Rp. 1.000 per suara, maka perkiraan subsidi yang diperoleh Parpol adalah: PDIP mendapat Rp. 23,68 miliar, Partai Golkar mendapat Rp. 18,43 miliar, Partai Gerindra mendapat Rp. 14,76 miliar, Partai Demokrat mendapat Rp. 12,73 miliar, PKB mendapat Rp. 11,30 miliar, PAN mendapat Rp. 9,48 miliar, PKS mendapat Rp. 8,48 miliar, Partai Nasdem mendapat Rp. 8,40 miliar, PPP mendapat Rp. 8,16 miliar, Partai Hanura mendapat Rp. 6,58 miliar (jawa pos, 27 mei 2017). Jika diakumulasi semua maka akan terkumpul dana sebesar Rp. 122 miliar. Dana ini belum termasuk anggaran Pileg dan Pilpres. Padahal semua anggaran itu baik dana Pileg/Pilpres atau dana Parpol diambilkan dari APBN.
Subsidi Bukan Untuk Rakyat
Inilah fakta sesungguhnya dana dari APBN yang sangat besar dan naik tiap tahun bukanlah untuk kesejahteraan rakyat, melainkan untuk partai dan birokrasi untuk membayar cicilan utang Negara yang tak kunjung selesai. Akibatnya bisa kita lihat bersama, semua subsidi untuk rakyat yang notabene pemilik anggaran dihapus sedikit demi sedikit. Subsidi BBM dihapus, subsidi listrik dihapus, subsidi pupuk dihapus, subsidi kesehatan dan lain-lain banyak yang dikurangi bahkan dihapus. Akibatnya rakyat semakin menjerit, menangis, sulit untuk bertahan hidup. Sementara pajak yang ditanggung rakyat semakin naik, biaya Pendidikan semakin mahal, biaya kesehatan semakin mahal, tagihan listrik semakin naik tiap bulannya, bahkan semakin mencekik. Dengan naiknya semua tadi akhirnya semakin menambah beban hidup masyarakat. Karena kebutuhan biaya hidup sehari-hari semakin tak terjangkau. Kemiskinan semakin meningkat dan kriminalitas semakin tak terkendali. Dan yang lebih tidak masuk akal adalah sikap pemerintah yang abai. Semua kebijakannya tidak berpihak pada masyarakat kecil.
Dalam kondisi yang demikian, masih saja ada kebijakan yang tidak popular yaitu dana subsidi untuk rakyat kecil dihapus sementara dana subsidi untuk parpol dinaikkan. Dimanakah perasaan penguasa ini. Apakah mereka tidak melihat kondisi rakyat negeri ini? Lalu apa yang ada dibenak pikiran mereka? sungguh ini adalah kedzoliman yang luar biasa. Di mana letak perhatian pada rakyat?
Sungguh ini adalah kenyataan pahit akibat demokrasi yang diterapkan di negeri ini. Dalam demokrasi untuk meraih satu jabatan dibutuhkan dana yang cukup besar. Agar dana itu bisa kembali, maka tidak ada jalan lain kecuali harus menciptakan hal yang bisa mendapatkan uang. Rakyat diposisikan sebagai bawahan dan kosumen yang harus melayani dan berkorban untuk kepentingan penguasa. Sementara para pejabat layaknya raja yang harus di layani semua kebutuhannya.
Inilah fakta. Demokrasi yang konon yang katanya dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat adalah omong kosong. Yang terjadi adalah dari rakyat oleh pejabat dan untuk para capital/ pengusaha. Begitulah hidup dalam sistem demokrasi, semua diukur dengan materi. Jadi semua birokrasi tak lepas dari sistem bagi-bagi. Semua bisa dibagi, jabatan, proyek, dan semua birokrasi. Karena untuk meraih kursi dibutuhkan rupiah yang begitu tinggi. akibatnya kehidupan terpuruk diberbagai segi. Masihkah kita mengimpikan demokrasi? Tidakkah kita percaya bahwa islam itu sebagai solusi?
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka tunggulah masuk ke jurang kebinasaan. Edukasi politik harus terus dilakukan kepada umat. Tujuannya umat sadar dan paham untuk rindu diatur politik Islam. Serta mampu mewujudkan kehidupan bersama dalam tatanan yang mulia dalam bingkai syariah Islam.

Menepuk Memori, Mengembalikan Makna Pancasila

Oleh: Rizki Lesus*

“Pokoknya saya Pancasila!” katanya ngotot, sambil ngedumel dalam hati,”lawan radikalisme,” seraya menunjuk kaum radikal yang katanya anti Pancasila di seberang sana. Profil Picture-nya berubah, menggunakan warna merah, katanya biar nasionalisme dan Pancasilais sejati. Maklum, jarang-jarang lagi bisa teriak-teriak Pancasila.

Intinya kita merayakan saja, merayakan hari kelahirannya!

Walau katanya, kelahirannya masih diperdebatkan karena beberapa pakar tak sepakat. Tapi, ok lah, karena sudah ditetapkan penguasa, maka lahirnya dan makna Pancasila harus versi penguasa.

Rupanya ditetapkannya 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila oleh Pak Jokowi membuat diskursus tentang Pancasila jadi marak kembali. Jagad dunia maya dan tiap gawai kemasukan isu tentang Pancasila. Orang-orang jadi membuka lagi referensi-referensinya, termasuk website ini, jejakislam.net, hehehe.

“Yang tidak sesuai kami, kamu anti Pancasila. Saya gebuk kamu!” boleh jadi ada yang teriak-teriak begitu. “Pokoknya, kami Pancasilais, pro NKRI, pro kebhinekaan,”klaimnya.

Siapa yang tidak Pancasila, tidak NKRI, tidak bhineka? Jawabnya dari dulu sampai sekarang sama saja. Umat Islam yang ingin menjalankan syariatnya jadi tertuduh. Kita coba mengetuk ingatan kita, bahwa tudingan-tudingan seperti itu sebenarnya sudah ada sejak zaman dulu.

Lebih-lebih para perumus Pancasila seperti Haji Agus Salim dan KH Wahid Hasyim harus menjawab tudingan seperti itu. Nggak lucu memang, para pembuat Pancasila dituduh anti Pancasila. Tapi itulah, dunia tak selalu harus lucu.

Sebelum wafatnya, putra Pendiri NU KH Hasyim Asy’ari mencatat dalam majalah Gema Muslimin bilang, ada kaum yang “Dituduh bukan warga negara,” kata KH Wahid Hasyim. Jauh sebelumnya, media-media asing sudah mengecap: Radikal, Fanatik, seperti dalam halaman New York Times tanggal 19 November 1945 berbincang tentang Perang Surabaya.

Setelah merdeka, sematan anti Pancasila, pengkhianat Pancasila, anti NRKI bermunculan. Perumus Pancasila, Haji Agus Salim dalam tulisannya Ketuhanan Yang Maha Esa (1953) mengatkan ada pihak yang ingin memutarbalikkan fakta dan mengklaim dirinyalah yang Pancasilais.

“Tiap-tiap aliran membanggakan bahwa hanyalah ia yang berpegang kepada ‘Pancasila yang Sejati’. …dan tiap-tiap aliran menuduh mendakwa aliran –aliran yang lain dengan ‘khianat’ kepada asas Pancasila dan memutarbalikkan kenyataan,” kata Haji Agus Salim dalam buku 100 Tahun Haji Agus Salim (1984)

Salah seorang dari 9 perumus Pancasila pada tanggal 22 Juni 1945 ini menyadari bahwa ada pihak yang memutar balikkan kenyataan. Padahal, kata Haji Agus Salim, seharusnya orang yang mengaku ‘berPancasila’ tidak boleh bertentangan dengan sila pokok yang pertama dan paling utama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

“Jika akan sesuai dengan dasar Pancasila kita itu, maka bagaimana pun perbedaan haluan yang dipentingkan oleh berbagai aliran itu dan bagaimana pun cara mengusahakan atau ‘memperjuangkan’ tujuan-tujuannya masing-masing pertama –tama sekali dan terutama tidaklah boleh menyalahi pokok dasar yang pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa,” tegasnya.

Apakah menuntut keadilan bertentangan dengan sila pertama? Atau menista agama sangat bersesuaian dengan sila pertama? Ada baiknya, kita mengembalikan makna Pancasila menurut para perumusnya.

Kata Haji Agus Salim bahwa ada pihak yang memutarbalikkan kenyataan. Padahal, menurut perumus Pancasila ini, Sila Pertama merupakan sila pokok yang paling penting dalam Pancasila.

Orang yang menegakkan Pancasila, menurut Haji Agus Salim pasti menegakkan sila pertama. “Tegasnya tidak boleh menyimpang daripada hukum agama yang berdasarkan kepada wahyu daripada Tuhan Yang Maha Esa sesuai fiman Allah di dalam al Quran…”

Sebagai perumus Pancasila, Haji Agus Salim menegaskan kembali bahwa sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan sila pokok dan dasar meliputi empat sila lainnya.

“Tentang pokok dasar yang pertama ini, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, yang memang menjadi pokok yang istimewa dalam karangan ini masih akan berikut keterangan yang lebih luas, insya Allah pada hakikatnya memanglah pokok yang pertama ini bersifat meliputi, dan telah terkandung di dalamnya empat pokok dasar yang berikut di dalam Pancasila kita,” tulisnya masih dalam buku 100 Tahun Haji Agus Salim.

Tak hanya Haji Agus Salim, perumus Pancasila lainnya Mohammad Hatta bilang bahwa sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa merupakan sila utama yang dengannya 4 sila lainnya ternaungi cahaya. Berikut perkataan Bung Hatta:

Bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu ialah Allah, tidak lain kecuali Allah. Saya sendiri yang mengusulkan ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ dijadikan sila pertama supaya Allah dengan Nur-Nya menyinarkan Nur-Nya itu kepada sila-sila yang empat lainnya.” Sebagaimana dikutip Kasman Singodimedjo dalam , Hidup Itu Berjuang: Kasman Singodimedjo 75 Tahun. (Jakarta: Bulan Bintang, 1982)

Kasman Singodimedjo, yang terlibat lobi politik karena diminta Bung Karno dan Hatta mengganti kalimat ‘Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam Bagi Pemeluk-pemeluknya’ menjadi ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ meyakinkan bahwa maksud Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Allah.

Tuhan Yang Maha Esa itu adalah Allah, Allahu Ahad, Allahu Shomad, Allah Yang Tunggal, dan dari Allah yang Esa itulah sesuatunya di alam semesta ini, dan siapapun juga bergantung dan tergantung. Dan itulah Allah yang tidak beranak (Lam Yalid) dan Yang tidak diperanakkan (Wa Lam Yulad), pula tidak ada di alam semesta ini siapapun dan apapun yang sama atau mirip-mirip dengan Yang Maha Esa (Allah) itu (Wa Lam Yakun Lahu Kufuwan Ahad).” ( Hidup Itu Berjuang: Kasman Singodimedjo 75 Tahun. (Jakarta: Bulan Bintang, 1982)

Pergantian 7 kata dengan ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ menurut Hatta tak menghilangkan esensi bahwa umat Islam di Indonesia wajib menjalankan syariat Islam.

“Kami menginsyafi bahwa semangat Piagam Jakarta tidak lenyap dengan menghilangkan perkataan ‘Ketuhanan dengan Kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya’ dan mengganti Ketuhanan Yang Maha Esa,” kata Hatta dalam Memoir-nya.

Karenanya, Ketua Muhammadiyah saati itu Ki Bagus Hadikusumo di depan Hatta menegaskan apa makna Ketuhanan Yang Maha Esa, “Tuhan Yang Maha Esa maknanya ialah Tauhid,” tegasnya.

Kembali kita mengetuk memori, melihat dengan seksama, bahwa para pendiri bangsa kita, sepakat bahwa makna sila pokok pertama adalah tauhid dan Tuhan Yang Maha Esa adalah Allah. Hal ini merupakan kesamaan pandangan para perumus Pancasila seperti dituturkan Haji Agus Salim.

Sebagai salah seorang yang turut serta membuat rencana pernyataan kemerdekaan sebagai pendahuluan (preambule) rencana undang-undang dasar kita yang pertama di dalam Majelis Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) di akhir-akhir kekuasaan Jepang, saya ingat betul bahwa di masa itu tidak ada di antara kita seorang pun yang ragu-ragu, bahwa dengan pokok Ketuhanan Yang Maha Esa itu maksudkan ‘aqidat’, kepercayaan agama dengan kekuatan keyakinan, bahwa kemerdekaan bangsa dan tanah air suatu hak yang diperoleh daripada rahmat karunia Tuhan Yang Maha Esa, dengan KetentuanNya yang dilaksanakanNya dengan semata-mata kekuasaanNya pada ketika masaNya menurut kehendakNya. ( Tim 100 Tahun Haji Agus Salim : 1984, hal. 441)

Dan atas berkat rahmat Allah, para pendiri bangsa ini ingin bersyukur. Bukankah kita dulu tak memiliki senjata mumpuni seperti kepongahan mereka? Bukankah kita dulu hanya bambu runcing?

Berkilo-kilo meter, Bung Karno bersimpuh di depan Tengku Daud Beureuh di pendopo Aceh, memaklumkan jihad melawan mereka yang pongah dengan segala kecanggihan. Bahwa hanya dengan pertolongan Allah, kita memasuki gerbang kemerdekaan.

Berkaca matanya, berujuar di hadapan pemimpin besar Aceh ini, “Memang yang saya maksudkan adalah perang yang dikobarkan oleh pahlawan Aceh seperti Teungku Cik di Tiro, perang yang tak kenal mundur, perang yang bersemboyan merdeka atau syahid.”

Atas berkat rahmat Allah, negeri ini merdeka, maka tak bolehnya setangkai syukur ini semerbak. Daud Beureuh dan rakyat Aceh menyatakan siap, asal kelak, setelah kemenangan atas rahmat Allah, negeri ini menjadi negeri yang pandai bersyukur, agar mereka secara bebas menjalankan syariatnya.

“Kakak, (panggilan Soekarno kepada Daud Bereuh), tak usah khawatir. Sebab, 90 persen rakyat Indonesia beragama Islam,” kata Soekarno.

“Maafkan saya, Saudara Presiden. Kami menginginkan sesuatu kata ketentuan dari Anda,” kata Daud Beureuh. Sukarno mengagguk pelan. Tapi dia terkejut ketika Beureuh menyodorinya secarik kertas. Rupanya dia meminta Sukarno menuliskan sesuatu.

Air mata Soekarno tumpah ruah. Bulir bening itu mengalir deras meleleh melewati pipinya. Dirinya terisak. “Air mata sampai membasahi pakainnya,” tutur Ibrahim, menanti Beureuh sebagaimana dilansir Majalah TEMPO edisi khusus Daud Beureuh.

“Bukan kami tak percaya. Sekadara tanda untuk diperlihatkan kepada rakyat Aceh yang kami ajak berperang,” kata Daud Beureuh meyakinkan Soekarno, bahwa dengan jihad, umat tak kan gentar melawan kekuatan besar yang menanti, bahwa ada pertolongan Allah di sana!

Soekarno terus menangis, memberikan janji, janji yang sempat tak tertunai.

Wallah, Billah, kepada daerah Aceh nanti akan diberikan hak menyusun rumah tangganyta sendiri sesuai dengan syariat Islam,” katanya terisak. Melihat Soekarno menangis, Beureuh merasa iba, dan memegang janji sang pemimpin.

Maka menangislah kita, melihat memori-memori indah perjuangan negeri ini. Menangislah melihat keinginan yang luhur dari mereka, para pendahulu kita. Yang menorehkan kalimat yang begitu nyata:

Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa dan dengan di dorong kan oleh keinginan luhur supaya ber kehidupan kebangsaan yang bebas maka rakyat indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Tak heran, para pendiri bangsa ini ingin sedikut bersyukur dengan menjalankan aturan-aturanNya, karena kemerdekaan diperoleh atas berkat Rahmat Allah, Tuhan Yang Maha Esa.

“Dan Kemudian, setelah tercapai kemerdekaan yang men jadi idaman cita-cita, yang tak pernah padam dalam bangsa kita, istimewa umat Islam, dalam semasa kita ditakluk-tundukkan oleh kekuasaan asing, yakin pula kita bahwa segenap bangsa kita yang beragama menyambut nikmat karunia itu dengan bersyukur kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Maka pastilah bahwa pokok dasar Ketuhanan Yang Maha Esa itu pernyataan aqidat tersebut di atas tadi. ( Tim 100 Tahun Haji Agus Salim : 1984, hal. 441)

Kesepakatan tentang makna sila pertama yaitu tauhid, membuat Ketua MUI pertama Buya Hamka meminta agar umat Islam menjalankan dan menghidupkan Islam dalam kesehariannya. Sebab, menghidupkan Islam berarti menghidupkan Pancasila.

“Oleh karena yang menjadi urat tunggang dari Pancasila itu adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, dan itu saja perjuangan yang pertama dan utama, dengan sendirinya sila ke-lima ini, yaitu kebangsaan, dapatlah berjalan sebaik-baiknya,” kata Hamka dalam buku Debat Dasar Negara Islam dan Pancasila. (2001)

Lebih dari itu, Hamka mengaskan untuk menjamin Pancasila tegak di bumi pertiwi, tokoh Muhammadiyah ini meminta agar masyarakat Indonesia menghidupkan Islam dengan landasan kalimat tauhid!

“Maka, untuk menjamin Pancasila, marilah kita bangsa Indonesia yang mengakui Allah sebagai TuhanNya dan Muhammad sebagai Rasulnya bersama-sama menghidupkan agama Islam dalam masyarakat mita.”(Debat Dasar Negara Islam dan Pancasila. (2001), Pustaka Panjimas, hal.143)

Sebab, menurut Hamka, Pancasila telah hidup semenjak Islam datang ke Indonesia. Menggerakkan para ulama dan syuhada untuk membela agama dan negara, hingga Allah anugerahkan kemerdekaan.

Bung Karno pernah berkata, “Pancasila itu telah lama dimiliki oleh bangsa Indonesia, sejak lahirnya Sarekat Islam yang dipelopori oleh Almarhum HOS Tjokroaminoto..”

Maka, Hamka menambahkan:

“Pancasila telah lama dimiliki oleh bangsa Indonesia, yaitu sejak seruan Islam sampai ke Indonesia dan diterima oleh bangsa Indonesia. Kita tak usah khawatir falsafah Pancasila akan terganggu, selama urat tunggangnya masih tetap kita pupuk: Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Maka, kita kembalikan kembali makna Pancasila yang selama ini terlupakan.”Hanya dengan memegang teguh agama Islam saja, itu sudah otomatis menegakkan Pancasila,” kata Doktor pertama politik kita, Prof. Dr. Deliar Noer dalam Islam, Pancasila dan Asas Tunggal (Jakarta: Yayasan Perkhidmatan, 1983).

Kata Prof. Deliar Noer, ada pihak yang menjadikan Pancasila manis di lisan, dengan mengatakan dirinyalah yang Pancasila. “Ada orang-orang yang mengutamakan nama, mengutamakan kulit, mulut manis di bibir, ucapan, ataukah perbuatan dan sikap?” katanya dalam buku yang sama.

“Seorang bayi umpamanya tidak didengungkan nyanyian Pancasila, tetapi mungkin sekali dengan nyanyian yang disertai dengan harapan atau doa supaya ia lekas besar supaya kelak menjadi anak yang berbakti kepada ibu dan ayahnya, dan supaya menjadi anak yang diridhai Allah,” kata Deliar Noer, maka dengan sendirinya ia telah mengamalkan Pancasila.

Sebaliknya, mengaku-aku Pancasila, sembari menuding sana-sini anti Pancasila, menghina ulama, nyinyir kepada ajaran agama, menolak perda berbau agama, mengumpat, menghina, menista, justru mengaburkan makna sebenarnya dari Pancasila.

Menepuk memori, membuat kita menghargai pendahulu kita. Membuat Pancasila berada pada makna yang hakiki. Sebab, bukan menjalankan ajaran agama yang akan membuat negeri ini pecah seperti yang ditakutkan dan ditudingkan. Yang membuat negeri terpecah karena abai sejarah.

Abai sejarah membuat negeri ini menuju negeri pelupa. Menepuk memori mengingatkan kita kembali, mengapa kita berada di sini: Indonesia.

Maka, ucapan sejarawan kesohor Peter Carey dalam bukunya Takdir (2014) ini menjadi renungan kita bersama,” Tanpa cinta dan penghargaan pada sejarah mereka sendiri, Indonesia akan terpecah dan orang-orang Indonesia akan hidup terkutuk selamanya di pinggiran dunia yang mengglobal tanpa tahu siapa diri mereka sebenarnya da akan kemana mereka pergi.”

*Penulis buku Perjuangan yang Dilupakan, co-founder Jejak Islam untuk Bagsa (JIB) / jejakislam.net

Permintaan Meningkat, Lumbung Desa Siap Suplai Beras untuk Kebutuhan Zakat Fitrah

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Mitra Lumbung Desa Sinergi Foundation (LD-SF) di Desa Kiarasari Kecamatan Compreng, Kabupaten Subang siap menyuplai 20 ton beras berkualitas untuk keperluan zakat fitrah. Menurut CEO SF, Ima Rachmalia, di momen Ramadhan 1438 H ini, komoditas beras Compreng menjadi primadona. Permintaan beras semakin tinggi, terutama dari lembaga-lembaga sosial penyalur zakat.

“Sebetulnya permintaan reguler di Compreng setiap bulannya mencapai 60-70 ton beras. Akan tetapi, karena ada permintaan zakat fitrah, angkanya naik 20 ton,” katanya.

Sementara itu, di LD Desa Lengkong Jaya Kecamatan Cigalontang Tasikmalaya, suplai beras selama Ramadhan naik hingga 10 ton. Naiknya angka ini berdasarkan permintaan dari berbagai kota, seperti Tasikmalaya dan Garut.

Kendati permintaan beras naik, ia melanjutkan, komoditas pangan lain, seperti sayu-sayuran pun tetap dikembangkan selama Ramadhan. “Tidak terkonsentrasi di beras saja. Kalau desanya memiliki potensi dan komoditas yang menambah pendapatan, dan mengangkat harkat para petaninya, kami bantu garap juga,” lanjut Ima.

Ia berharap, di bulan suci ini, semakin banyak permintaan komoditas beras, maka semakin banyak pula berkah yang didapatkan petani.

Lumbung Desa (LD) sendiri merupakan program ketahanan pangan dalam bentuk gerakan pembentukan usaha produktif yang berbasis potensi lokal pedesaan, semisal: sawah, kebun, ternak maupun home industri. Upaya ini diwujudkan melalui proses pengembangan kapasitas organisasi, termasuk peningkatan produksi produk-produk lokal unggulan.

Sebuah upaya mengembalikan desa kepada khittahnya: Desa Berdaulat yang dibangun petani bermartabat, sebagai sumber pangan dan kearifan lokal Indonesia. Saat ini, program LD telah dikembangkan di Desa Kiarasari Kecamatan Compreng Subang dan Desa Lengkong Jaya Kecamatan Cigalontang Tasikmalaya. Dalam waktu dekat, LD Desa Ciwangi Limbangan Garut pun segera dirintis.

Siaran Pers

Disambut Umat Islam Solo, LUIS Ingatkan Para Aktivis Tetap Waspada Upaya Kriminalisasi

SUKOHARJO(Jurnalislam.com)- Massa Umat islam Soloraya menyambut kedatangan para Tokoh LUIS dan wartawan Panjimas.com Ranu Muda yang tidak terbukti bersalah dan divonis bebas dalam kasus amar ma’ruf kafe Social Kitchen yang menjual miras dan tarian erotis.

Massa yang terdiri dari berbagai ormas islam Soloraya ini berkumpul di Masjid Ibaadurrahman, Goro Assalam, Kartasura, Rabu malam (31/5/2017). Kedatangan rombongan Tokoh LUIS ini di sambut pekikan takbir oleh umat islam yang hadir dan setelahnya mereka melakukana long march pawai menuju Masjid Baitussalam, Cemani, melewati jalan Slamet Riyadi, Surakarta.

Perwakilan LUIS ustadz Yusuf Suparno bersyukur atas pertolongan yang diberikan Allah. Ia mengapresiasi sambutan luar bisa umat Islam sekaligus mengingatkan agar para aktivis berwaspada akan jerat kriminalisasi.

Semoga ini menjadi momentum untuk merapatkan shaf dan barisan kita, bahwa ternyata mereka yang berada di luar sana selalu membuat jebakan-jebakan. Terutama aktivis islam akan dikriminalisasi. Dan atas ijin Allah kriminalisasi tersebut telah digagalkan oleh Allah,” katanya.

“Dan ini adalah satu syukur yang kita sampaikan pada Allah, karena Kalau bukan karena Allah kita tidak akan bisa berbuat apapun,”pungkasnya

Reporter: Arie Ristyan

‘Bebasnya Ranu Muda dan Tokoh LUIS Merupakan Pertolongan Allah’

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Juru bicara Jamaah Anshorusy Syariah (JAS), Ustadz Abdul Rochim Ba’asyir ikut bersyukur atas kebebasan yang didapatkan para tokoh LUIS dan jurnalis panjimas.com Ranu Muda. Menurutnya, ini merupakan sebuah bentuk pertolongan dari Allah, sebagaimana yang tertulis di surat Ali Imran ayat 160.

“Alhamdulillah kita bersyukur sekali dengan bebasnya mereka ini. Kalau kalian ditolong Allah maka tidak akan ada yang mengalahkan. Sejak awal penangkapan teman-teman hingga dijebloskan kedalam penjara, terasa kental dengan nuansa politik. Hingga tidak heran, lawyer sebetulnya tidak begitu yakin bebas,”katanya pada Jurnalislam.com di Masjid Baitussalam, Cemani, Rabu (31/5/2017).

Pria yang karib disapa ustadz Iim ini mengatakan bahwa keberanian hakim memberikan keputusan sesuai hukum yang berlaku adalah bentuk kemenangan dari Allah, sekaligus ini membuktikan bahwa mereka tidak bersalah dan tidak melakukan pengerusakan terhadap Social Kitchen.

“Walaupun pertolongan datang dari keberanian hakim dengan vonis bebas, sesuai prosedur proses pembuktian, maka inilah yang kita anggap sebagai kemenangan dari Allah.”katanya. Ustadz Iim menambahkan, Bulan Ramadhan selalu membawa keberkahan bagi umat islam, terlebih bagi orang yang beriman yang sedang terzalimi.

“Ramadhan selalu membawa kemenangan bagi umat islam . Hari ini kita melihat hal tersebut, dan kita sangat senang dengan berita ini,”pungkasnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Semarang, menjatuhkan vonis bebas kepada para tokoh LUIS dan Wartawan Ranu Muda karena tidak terbukti bersalah melakukan perusakan terhadap kafe Social Kitchen.

Reporter: Arie Ristyan

API Jabar Siap Mengawal Jika Kasus Habib Rizieq Dipraperadilankan

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Ketua Aliansi Pergerakan Islam (API) Jawa Barat, Asep Syaripudin menegaskan, pihaknya akan mengawal seandainya kasus Habib Rizieq dipraperadilankan.

“Kita akan kawal apabila besok lusa di praperadilankan, kalau di luar pengadilan kami akan aksi,” katanya kepada wartawan di depan Gedung Sate, Bandung, Jumat (2/6/2017).

Ia menilai kasus tersebut bukan masalah hukum. Sebab dalam UU ITE itu yang seharusnya diusut adalah pembuat dan penyebar chat mesum tersebut.

“Ini bukan masalah hukum, kalau bicara hukum, kan pertama yang menyebarkan bukan Habib Rizieq, yang melakukan bukan Habib Rizieq. Habib Rizieq tidak tahu masa Habib Rizieq yang tersangka,” tandasnya.

Menurutnya, kasus dugaan pornografi yang menjerat Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) itu terkesan dipaksakan. Sebab aparat tidak melakukan proses hukum berdasarkan kaidah-kaidah hukum yang berlaku di negeri ini.

“Proses menjadikan tersangka itu sangat salah dan jadi saksi pun tidak tepat. Karena tidak mengetahui. Disini kita melihat Polri disini melakukan kriminalisasi,” tegasnya.

Reporter: Agus Dwi Cahyanto

Tolak Kriminalisasi Ulama, API Jabar Sebut Aparat Bertindak Di Luar Kaidah Hukum

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Aliansi Pergerakan Islam (API) Jawa Barat bersama ormas Islam lainnya berunjuk rasa menolak kriminalisasi ulama, ormas dan aktivis Islam di depang Gedung Sate, Bandung, Jumat (2/6/2017).

Dalam kesempatan itu, Ketua API Jabar Asep Syaripudin mengatakan, aparat penegak hukum tidak bertindak sesuai kaidah hukum yang berlaku dalam sejumlah kasus yang menjerat para ulama dan ormas Islam.

“Aparat penegak hukum bertindak tidak berdasarkan kaidah-kaidah hukum, itu perbuatan melawan hukum ini pelanggaran HAM berat,” katanya di sela-sela aksi kepada wartawan, Jumat (2/6/2017).

Ia menjelaskan, sebelum menetapkan seseorang sebagai tersangka aparat harus memenuhi deliknya terlebih dahulu.

“Dan kami menyaksikan justru ini tidak dilakukan oleh penegak hukum, maka kita melihat ini bukan persoalan hukum seperti pada Habib Rizieq, Ustadz Al-Khottot. Ini sesuatu hal yang ironis,” tegasnya.

“Maka dri itu API JABAR bersikap untuk meluruskan kita jangan sampai mau di benturkan dengan aparat penegak hukum , seyogyanya penegak hukim menjadi pelayan masyarakat, bukan sebagai pihak yang kemudian mengkriminalisasi rakyat apalagi ulama,” tambahnya.

Menurutnya, upaya kriminalisasi terhadap para ulama merupakan penghinaan kepada Islam itu sendiri.

“Dalam agama islam ulama adalah pewaris nabi, apabila menghina atau mengkriminalisasi ulama sama dengan menghina nabi. Ini yang menjadi masalah,” tandasnya.

Reporter: Agus Dwi Cahyanto

DSKS: Aktivis Dakwah Harus Siap Menghadapi Segala Resiko

SOLO (Jurnalislam.com) – Ketua Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) Ustadz Muinudinilah Basri mengatakan, aktivis dakwah harus siap segala resiko. Sebab, musuh-musuh Islam akan selalu mencari cara untuk membungkan kebenaran. Pernyataan itu disampaikan menanggapi vonis bebas para petinggi Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) dan seorang jurnalis media Islam Ranu Muda atas kasus perusakan kafe Social Kitchen.

“Kita tahu bahwa penjara dalam Islam adalah suatu ancaman dari musuh-musuh Islam, salah satu ancaman dari orang-orang kafir adalah ditahan, kita tahu bahwa ditahan ini kita tidak boleh mengharap, tetapi sebuah resiko memang yang kita harus siap menerima keadaan ketika terjadi, ketika kita melakukan jihad dan dakwah kita sesuai syar’i dan prosedural, ungkapnya saat menyambut kedatangan para tokoh LUIS di Masjid Jami MUI,Surakarta, Kamis,(1/6/2017).

Lebih lanjut, ketua Ponpes Ibnu Abbas Klaten ini, menjelaskan, bahwa ketika kita mendapatkan resiko masuk penjara, kita harus berusaha membuktikan bahwa kita tidak bersalah. Sebagaimana yang dilakukan nabi Yusuf allaihisalam ketika masuk penjara karena difitnah Zulaikha.

“ Tetapi, ketika kita dipenjara, kita harus berjuang keluar dan membuktikan bahwa kita tidak bersalah,katanya.

Selain itu, Ustadz Muin juga mengapresiasi kerja keras Tim Advokasi Nahi Mungkar (TASNIM) yang istiqomah mendampingi para aktivis LUIS dari awal hingga akhir.

“Dan alhamdulillah kegigihan dari tim advokasi mendampingi beliau-beliau dan dengan kerja sama yang baik akhirnya divonis bebas,”tutupnya.

Reporter: Arie Ristyan