Berita Terkini

Soal Film Sudutkan Islam, MUI Minta Polri dan Sutradara Minta Maaf

JAKARTA (Jurnalislam.com) –Wakil Sekjen MUI Amirsyah Tambunan menyayangkan sempat beredarnya film ‘Kau Adalah Aku yang Lain’ . Ia meminta agar sutradara film dan Divisi Humas Polri yang menyebar luaskan film tersebut meminta maaf kepada umat Islam.

“Meminta sutradara agar minta maaf kepada publik karena telah melukai hati umat Islam. Juga Humas Polri agar minta maaf di hari baik ini, Idul Fitri,” katanya dilansir detik.com, Sabtu (1/7/2017).

Ke depan, MUI mendesak pihak terkait melibatkan sejumlah pihak, seperti Lembaga Sensor Film (LSF), MUI, Muhammadiyah, dan NU, dalam pembuatan film semacam itu.

“Sehingga film yang beredar di masyarakat tidak kontraproduktif terhadap visi dan misi institusi Kepolisian RI dalam melindungi, mengayomi masyarakat,” ucap Amirsyah.

sumber: detik.com

Front Aliansi Umat Islam Bersatu : Film Polisi Berpotensi Pecah Belah Bangsa

MAGELANG (Jurnalislam.com) – Ketua Front Aliansi Umat Islam Bersatu (FA – UIB) Anang Imamuddin menilain bahwa film ‘Kau Adalah Aku yang Lain’ menyudutkan umat Islam. Tak hanya itu, ia menilai film pendek tersebut bahkan berpotensi memecah belah bangsa.

“Selain menyudutkan umat Islam, juga bisa memecah belah bangsa Indonesia, pasalnya, dalam film tersebut digambarkan seolah-olah orang islam tidak bisa bertoleransi dengan pemeluk agama lain, ini bisa membuat gesekan antar umat beragama di Indonesia,” kata Anang kepada Jurnalislam. Selasa (27/6/2017).

Untuk itu, ketua FA-UIB ini, meminta film tersebut segera ditarik dan dilarang untuk ditayangkan.

“Kami FA-UIB meminta untuk film tersebut tidak usah ditayangkan lagi, karena akan memecah belah kita bangsa Indonesia,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Anang Imamudin mendesak Kapolri dan Sutradara pembuat film tersebut segera meminta maaf kepada umat Islam dan komponen bangsa. Menurutnya, justru dengan adanya film tersebut bisa merusak Kebinekaan yang sejak dulu sudah terjalin erat.

Seruan Agar Kapolri Minta Maaf Menggema di Berbagai Daerah

MAGELANG (Jurnalislam.com) – Penayangan Film ‘Kau Adalah Aku Yang Lain’ oleh Divisi Humas Polri menuai banyak kecaman dari elemen umat islam, tak terkecuali dari daerah – daerah.

Front Aliansi Umat Islam Bersatu (FA-UIB) Magelang menyayangkan penayangan film tersebut karena sudutkan Islam dan menebarkan kebencian.

“Kami sangat prihatin dengan film tersebut. Film itu tidak mencerminkan tuntunan Islam yang rahmatan lil ‘alamin, justru memojokkan Islam, seolah-olah Islam tidak punya hati nurani dalam bermuamalah,” kata ketua FA-UIB Anang Imamuddin pada Jurnalislam.com, Selasa (27/6/2017).

Karenanya, FA UIB mendesak agar sutradara dan Kapolri segera meminta maaf kepada umat Islam.

“Kami meminta Kapolri dan sutradara film meminta maaf kepada umat Islam Indonesia dan kepada semua komponen bangsa. Dengan terbitnya film tersebut justru mengganggu Kebhinekaan,” pungkasnya. (Arie Ristyan)

Sudutkan Islam, Pengamat : Betapa Luhurnya Jika Polri Meminta Maaf

JAKARTA (Jurnalislam.com) — Ahli Psikologi Forensik Reza Indragiri menilai film ‘Kau adalah Aku yang Lain’ yang diunggah Polri menyinggung kelompok agama tertentu. Hal itu, menurutnya terlihat dari empat hal terkait kontroversi film tersebut, yakni isi film, momentum penayangan, pengunggah, dan penghargaan.

Karenanya, Reza berharap polisi tak perlu malu untuk meminta maaf kepada masyarakat luas.

“Konkretnya, betapa luhurnya jika Polri meminta maaf kepada masyarakat luas, teristimewa kepada komunitas yang di dalam film “Kau adalah Aku yang Lain” telah difiksikan secara vulgar sebagai kaum penindas,” kata Reza dilansir Republika.co.id, Kamis (29/6/2017).

Dengan meminta maaf, Reza mengungkapkan, situasi ini menjadi momentum bagi Polri untuk menata strategi kehumasannya. Polisi harus menjadi agen perubahan sosial yang proaktif dan santun. Polisi tidak boleh diskriminatif dan tebang pilih dalam penegakan hukum.

Menurutnya, pendekatan komunikasi polisi berpengaruh dalam pergaulan masyarakat. Peserta Community Policing Development Program, Jepang ini meminta Polri untuk meminta maaf karena telah secara kurang arif mengabaikan ekses dari konten film tersebut, di balik keinginan untuk menyemaikan sikap toleransi dan kebinekaan.

 

Menlu Qatar: Siap Kerjasama dengan Negara Teluk, Tapi Jangan Ganggu Kedaulatan Kami

DOHA (Jurnalislam.com) – Qatar siap untuk bekerja sama dengan negara-negara Teluk lainnya yang memblokade untuk mencapai resolusi terhadap krisis diplomatik besar saat ini, kata menteri luar negerinya, namun menekankan bahwa negaranya tidak akan membahas tindakan yang mengganggu kedaulatannya.

Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain dan Mesir memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar dan memberlakukan sanksi atas Qatar pada 5 Juni, menuduhnya mendukung “terorisme”. Tuduhan tersebut ditolak keras oleh Doha.

Setelah lebih dari dua pekan, empat negara Arab itu memberi Doha ultimatum 10 hari untuk mematuhi daftar permintaan berjumlah 13 poin dengan imbalan mengakhiri tindakan anti-Qatar.

“Tanggapan Qatar dipertimbangkan dengan hati-hati, namun tegas,” Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, menteri luar negeri Qatar, mengatakan pada hari Kamis (29/6/2017) dari Washington, DC, di mana dia telah mengadakan serangkaian pertemuan penting yang bertujuan untuk meredakan krisis.

“Kami bersedia untuk menegosiasikan keluhan yang sah dengan tetangga kami, tapi kami tidak akan mengkompromikan kedaulatan kami,” katanya, menyebut “pengepungan” Qatar sebagai “tindakan agresi yang jelas” yang melanggar hukum internasional.

“Tindakan bermusuhan ini didasarkan pada klaim yang tidak berdasar dan asumsi yang salah. Bukti belum dipresentasikan.”

Tuntutan yang diajukan oleh Arab Saudi dan sekutu-sekutunya termasuk bahwa Qatar harus menutup jaringan Al Jazeera, menutup sebuah pangkalan militer Turki dan menurunkan hubungan dengan Iran.

Dalam daftar itu, keempat negara Arab tersebut juga menuntut agar Doha memutuskan semua hubungan dengan pihak yang terkait dengan Ikhwanul Muslimin dan kelompok lainnya, termasuk Hizbullah, al-Qaeda dan ISIS, dan membayar jumlah yang tidak ditentukan sebagai kompensasi atas apa yang mereka klaim sebagai “kehilangan nyawa dan kerugian finansial lainnya yang disebabkan oleh kebijakan Qatar”.

Berbicara kepada wartawan, menteri luar negeri Qatar menegaskan kembali bahwa daftar tersebut tidak masuk akal, dan menggambarkannya sebagai “upaya untuk merongrong kebijakan luar negeri dan kedaulatan nasional kita”.

“Sudah cukup jelas bahwa tuntutan ini tidak dapat diterima dan Qatar tidak dapat melakukan hal-hal ini, bahkan jika menginginkannya,” James Bays dari Al Jazeera, melaporkan dari Washington, DC.

Menteri luar negeri Qatar juga membalas komentar yang dibuat oleh rekannya dari Saudi, Adel al-Jubeir, yang pada hari Selasa mengatakan bahwa tidak akan ada negosiasi mengenai daftar tuntutan tersebut.

“Dengan menggunakan terminologi ‘tuntutan dan tidak dapat dinegosiasikan,’ saya rasa ini bukan cara yang beradab untuk menyelesaikan krisis,” kata Mohammed bin Abdulrahman.

Komentarnya muncul pada akhir perjalanan beberapa hari ke Washington, di mana dia bertemu dengan para pemimpin penting, termasuk Sekretaris Negara AS Rex Tillerson dan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres, untuk membahas krisis tersebut.

Teluk dari Al Jazeera mengatakan bahwa pertemuan tingkat tinggi dan upaya mediasi sejauh ini belum menghasilkan “terobosan baru untuk krisis yang telah berlangsung hampir” selama satu bulan ini.

“Batas waktu dari negara-negara yang berusaha memblokade Qatar adalah pekan depan,” tambahnya. Pekan depan juga ada pertemuan penting negara-negara G20 – pada KTT tersebut, Arab Saudi, anggota G20, akan diwakili, namun Qatar tidak akan melakukannya.”

Malah Unggah Video Sudutkan Islam di Hari Raya, Polisi Dinilai Kurang Sensitif

JAKARTA (Jurnalislam.com) –Film “Kau adalah Aku yang Lain” yang diunggah lewat akun media sosial oleh Divisi Humas Polri menimbulkan kontroversi. Film ini dianggap mendiskreditkan umat Islam. Ahli Psikologi Forensik, Reza Indragiri Amriel menyoroti empat hal terkait kontroversi film tersebut, yakni isi film, momentum penayangan, pengunggah, dan penghargaan.

Menurut Reza, penayangannya pada momen Idul Fitri, yang merupakan hari raya umat Islam, memperburuk isi film tersebut. Film yang dipublikasikan lewat akun media sosial resmi Polri ini menyabet juara pertama Police Movie Festival.

“Percampuran isi, momen, pengunggah, dan trofi itu memperlihatkan kurangnya sensitivitas polisi dalam sejumlah kerjanya belakangan ini,” kata Reza, dilansir Republika.co.id, Kamis (29/6).

Menurut Reza, sikap Polri itu dipandang sebagai penyebab munculnya langkah-langkah penegakan hukum yang diskriminatif dan melukai hati kalangan masyarakat tertentu. Reza berharap polisi bisa lebih matang dan peka dalam membawa diri di tengah kompleksitas sosial.

Reza pun membandingkan dengan perilaku Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang dinilai banyak kalangan lebih lihai merebut hati publik. TNI justru dirasa lebih menenteramkan dan mengayomi masyarakat. Ia menyebut penayangan film “Kau adalah Aku yang Lain” membuat institusi kepolisian kehilangan kepercayaan masyarakat.

“Amunisi utama polisi sesungguhnya adalah kepercayaan masyarakat. Bukan senjata api, teknologi canggih untuk melacak penjahat, maupun keterampilan bela diri. Apesnya, kepercayaan itulah yang saat ini terkesan sedang diunggis bahkan oleh institusi kepolisian sendiri,” pungkasnya.

 

6.500 Warga Palestina Berada di penjara Israel, Zionis Larang Kunjungan dari Keluarga Hamas

RAMALLAH (Jurnalislam.com) – Pemerintah zionis pada hari Kamis (29/6/2017) memutuskan untuk melarang kunjungan keluarga tahanan Hamas di penjara-penjara Israel sampai pemberitahuan lebih lanjut, menurut sebuah LSM Palestina setempat.

Keputusan “mengejutkan” dari Penjara Israel “muncul untuk memberi tekanan pada gerakan Hamas,” kata Pusat Tahanan Palestina dalam sebuah pernyataan kepada Anadolu Agency.

“Keputusan ini juga terjadi sebagai tanggapan atas seruan dari keluarga pasukan Israel yang ditangkap oleh Hamas di Gaza,” tambahnya.

Menurut pernyataan tersebut, hukuman ini mungkin merupakan yang pertama dalam serangkaian sanksi yang dipaksakan oleh Penjara Israel terhadap tahanan Hamas dalam periode mendatang.

Pemimpin senior Hamas di penjara Israel mengecam keputusan zinis tersebut. “Kami benar-benar menolak hukuman Israel,” katanya.

“Kami menganggap hukuman ini sebagai permulaan perang melawan para tahanan gerakan Hamas dan tidak mengizinkannya lolos,” tambahnya.

Menurut Kementerian Urusan Narapidana Palestina, lebih dari 6.500 warga Palestina, 350 di antaranya berasal dari Jalur Gaza, saat ini berada dalam tahanan di penjara di seluruh Israel.

Rusia Segera Kirim Sistem Pertahanan Udara S-400 ke Turki

ANKARA (Jurnalislam.com) – Moskow dan Ankara menyetujui pengiriman sistem pertahanan udara S-400 ke Turki, kata pembantu presiden Rusia Vladimir Kozhin pada hari Kamis (29/6/2017).

“Kontrak telah disepakati. Masalah pinjaman belum terselesaikan,” kata Kozhin seperti dikutip oleh kantor berita Rusia RIA Novosti, lansir Anadolu Agency.

Kozhin mengatakan Rusia menilai “tidak ada hambatan” terhadap pengiriman sistem pertahanan rudal udara ke Turki sehubungan dengan keanggotaan Turki di NATO.

S-400 adalah sistem pertahanan udara generasi baru milik Rusia. Sistem ini bisa membawa tiga jenis rudal yang mampu menghancurkan target termasuk rudal balistik dan jelajah di udara

Sistem ini juga dapat melacak dan mengunci hingga 300 target pada waktu yang sama dan memiliki batas ketinggian 27 kilometer (17 mil).

Namun saat serangan rudal balistik Tomahawk milik AS ke lapangan udara militer rezim Suriah, tidak satu pun rudal S-400 Rusia yang menghadang meski rudal tersebut digelar disana sebagai pertahanan udara.

AS Gempur Pangkalan Udara Assad dengan 59 Rudal Tomahawk

AS Pindahkan Peralatan Miiternya dari Irak ke Suriah dalam Jumlah Besar

ANKARA (Jurnalislam.com) – Sebanyak 120 truk membawa peralatan militer untuk kelompok ekstremis PKK / PYD terlihat melewati perbatasan Irak dan kemudian tiba di provinsi Al-Hasakah, Suriah utara, antara 21 Juni hingga Senin, kata sumber di wilayah tersebut kepada Anadolu Agency, Kamis (29/6/2017).

Al-Hasakah adalah daerah yang dikuasai kelompok PKK / PYD.

Sejak 15 Juni ketika Donald Trump meratifikasi kebijakan mempersenjatai milisi PKK / PYD, sedikitnya 468 truk telah dikirim ke wilayah tersebut; 12 truk terlihat pada tanggal 5 Juni dan 20 truk mengirimkan bantuan militer ke PKK / PYD.

Menurut Pentagon, bantuan militer AS ke beberapa kelompok bersenjata di Suriah, termasuk PKK / PYD, terdiri dari 12.000 Kalashnikov, 6.000 senapan mesin, 3.500 senapan mesin berat, 3.000 RPG-7, 1.000 anti-tank AT-4 Amerika atau SPG- 9 Rusia, 235 senapan mortir dari kaliber yang berbeda, 100 senapan sniper, 450 teropong sinar matahari PV-7 dan 150 teropong dengan iluminator laser inframerah.

Operasi Inherent Resolve Pasukan Gabungan (the Combined Joint Task Force – Operation Inherent Resolve-CJTF – OIR) yang dipimpin oleh Amerika Serikat – diumumkan pada tanggal 6 Juni saat Operasi Raqqah diluncurkan untuk membersihkan Daesh dari pusat kota. Namun, sumber di wilayah tersebut mengatakan bahwa bantuan militer AS tersebut diduga terjadi sejak 2016.

YPG adalah sayap bersenjata PYD – cabang Suriah dari PKK, yang ditunjuk sebagai organisasi teroris oleh Turki dan Internasional.

PKK telah melakukan serangan teror melawan Turki selama lebih dari 30 tahun, dimana lebih dari 40.000 orang telah terbunuh. PKK juga terlibat dalam produksi obat terlarang, manufaktur, dan perdagangan manusia.

Menurut Turki, YPG dan PYD juga merupakan organisasi teroris, karena mereka adalah afiliasi PKK.

Namun, AS menganggap YPG / PYD sebagai “mitra terpercaya” di medan tempur di Suriah dan terus mendukung mereka di lapangan. Kelompok itu saat ini beroperasi di Suriah utara dan menguasai sebagian besar wilayah yang dekat dengan perbatasan Turki.

Serangan Mobil pada Jamaah Masjid Kembali Terjadi di Paris

PARIS (Jurnalislam.com) – Polisi menangkap seorang pria setelah dia diduga berusaha mengemudikan mobil ke kerumunan jamaah di depan sebuah Masjid di Paris pada hari Kamis (29/6/2017), menurut sebuah pernyataan polisi resmi, lansir Anadolu Agency.

Dalam keterangan tertulis tersebut, polisi mengatakan tidak ada yang terluka dalam insiden yang terjadi di pinggiran kota Kreta itu; Interogasi tersangka terus berlanjut.

Polisi tidak mengatakan apa sebenarnya motivasi di balik dugaan serangan tersebut; Namun, surat kabar Le Parisien mengatakan bahwa pria tersebut ingin membalas dendam terhadap serangan yang dilakukan Daesh (IS) di Prancis.

Saluran TV BMF mengatakan tersangka berusia 40 tahun dan sebelumnya pernah dihukum karena melakukan kejahatan ringan.

Menurut polisi, penghalang yang ditempatkan di depan masjid telah menggagalkan dugaan serangan tersebut.

Pekan lalu, enam orang, termasuk dua anak terluka saat sebuah mobil menabrak kerumunan jamaah Sholat Ied saat mereka meninggalkan sebuah pusat olahraga setelah melaksnakan sholat Idul Fitri di kota Newcastle Inggris utara.