Berita Terkini

Pasukan Rezim Syiah Assad Tembus Pertahanan IS di Deir Al Zour

DEIR AL-ZOUR (Jurnalislam.com) – Rezim Suriah pada hari Selasa (5/9/2017) mematahkan pertahanan yang selama 3 tahun dikuasai oleh kelompok Islamic State (IS) di kota timur Deir al-Zour, kantor berita rezim Syiah Assad SANA melaporkan, lansir Anadolu Agency.

Menurut kantor berita tersebut, pasukan rezim Assad maju dari front barat bergabung dengan Resimen 137 pada Selasa siang, dan dengan demikian, lalu menembus pertahanan tersebut.

IS telah memberlakukan wilayahnya pada tahun 2014.

Pada bulan Maret, pasukan rezim Nushairiyyah yang didukung oleh angkatan udara Rusia berhasil menguasai kota Palmyra di pedesaan Homs timur.

Pada bulan Agustus, kota Sokhna dan sejumlah desa dan kota di timur Deir al-Zour dikuasai oleh rezim Suriah sebelum sepenuhnya merebut kembali batas administratif kota tersebut pada hari Senin.

MUI Kabupaten Bima Imbau Umat Qunut Nazilah dan Galang Dana untuk Rohingya

BIMA (Jurnalislam.com) – Sebagai bentuk kepedulian kepada sesama muslim, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bima mengimbau umat Islam untuk melakukan qunut nazilah.

Wahdah Islamiyah Seru Umat Qunut Nazilah untuk Muslim Rohingya

“Kepada seluruh pengurus, imam dan jamaahh masjid atau musholla umat Islam se kabupaten Bima untuk membacakan do’a qunut nazilah bagi saudara kita umat Islam Rohingya di Arakan Myanmar selama tiga hari berturut-turut pada waktu sholat fardhu, khususnya pada rakaat terakhir,” kata Ketua MUI Kabupaten Bima dalam imbauannya, Selasa (5/9/2017).

MUI juga mendorong umat menggalang bantuan materi untuk membantu meringankan muslim Rohingya.

Bantu Muslim Rohingya, GP Ansor Jatim Siap Turun ke Myanmar

“Kepada seluruh kaum muslimin dan muslimat se kabupaten bima agar dapat memberikan bantuan kemanusiaan kepada saudara-saudara kita kaum muslimin di rohingya melalui forum-forum penggalangan dana,” ujarnya.

Surat Imbauan MUI Kabupaten Bima

 

125.000 Warga Lintasi Perbatasan, Sekjen PBB: Hentikan Pembantaian Muslim Rohingya!

JENEWA (Jurnalislam.com) – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres telah memperingatkan risiko pembantaian etnis di Myanmar saat dia meminta otoritas negara tersebut untuk menghentikan pembunuhan, penganiayaan dan kekerasan terhadap Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine.

Hampir 125.000 pengungsi Rohingya – kebanyakan wanita dan anak-anak – telah melintasi perbatasan ke Bangladesh dalam 11 hari terakhir, melarikan diri dari serangan pasukan Myanmar yang telah membakar desa-desa dalam menanggapi serangan yang diduga dilakukan para pejuang Rohingya.

Sejak kekerasan putaran terakhir dimulai pada 25 Agustus, sedikitnya 400 orang tewas dalam bentrokan dan serangan brutal militer pada warga sipil.

“Keluhan dan penderitaan Rohingya yang belum terselesaikan telah membusuk terlalu lama dan menjadi faktor yang tak terbantahkan dalam destabilisasi regional,” kata Guterres kepada wartawan di markas besar PBB di New York, lansir Anadolu Agency, Selasa (5/9/2017).

“Pihak berwenang di Myanmar harus mengambil tindakan tegas untuk mengakhiri lingkaran kekerasan yang sadis ini dan untuk memberikan keamanan dan bantuan kepada semua pihak yang membutuhkan,” tambahnya.

Guterres juga mendesak Dewan Keamanan untuk mengupayakan ketenangan, mengirim sebuah surat langka kepada 15 anggota Dewan Keamanan yang mengatakan bahwa “masyarakat internasional memiliki tanggung jawab melakukan upaya bersama untuk mencegah krisis meningkat lebih jauh.”

James Bays dari Al Jazeera, yang melaporkan dari kantor pusat PBB di New York, mengatakan: “Ada kekhawatiran nyata dari PBB mengenai situasi kemanusiaan karena eksodus manusia ini dan banyaknya orang yang melintasi perbatasan ke Bangladesh.”

Pemimpin PBB pekan lalu telah mendesak pengamanan oleh pasukan keamanan untuk menghindari bencana kemanusiaan akibat eksodus pengungsi, dan kembali meningkatkan penekanannya pada hari Selasa.

Dewan Keamanan PBB bertemu pekan lalu untuk membahas krisis tersebut, namun tidak ada pernyataan resmi setelah pertemuan tertutup tersebut.

“Mengikuti surat Guterres ini, kami kemungkinan akan segera bertemu dengan Dewan Dewan lainnya,” kata Bays.

Badan pengungsi PBB, UNHCR, juga menyuarakan keprihatinan serius atas keamanan muslim Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh.

“Beberapa melaporkan bahwa anggota keluarga mereka dibakar, atau ditembak, dipotong-potong, disembelih atau disayat sampai mati,” kata Duniya Khan, juru bicara UNHCR.

“Selama pelarian, banyak yang melarikan diri ke hutan atau gunung, bersembunyi dan berjalan berhari-hari sebelum mereka sampai di darat atau sungai dan melintasi perbatasan.”

Dia menambahkan: “Beberapa dari mereka juga mengatakan kepada kami bahwa mereka telah berjalan selama tiga hari, dan mereka tidak memiliki makanan apa pun selain air hujan atau air di atas tanah.”

Rohingya dipandang sebagai imigran ilegal di sebagian besar Myanmar yang beragama Buddha dan telah mengalami penganiayaan selama beberapa dekade, menurut kelompok hak asasi manusia.

Muslim Rohingya dipaksa untuk tinggal di bawah penindasan pemerintah Myanmar, pembatasan apartheid tentang gerakan dan kewarganegaraan.

PBB telah berulang kali meminta Myanmar untuk memberikan hak bagi warga Rohingya, dan sebuah laporan PBB baru-baru ini mengatakan bahwa tindakan brutal terhadap minoritas Muslim dapat dianggap sebagai kejahatan berat terhadap kemanusiaan.

Guterres mengatakan pada hari Selasa bahwa pemerintah Myanmar harus memberi semangat kepada warga Rohingya atau sedikitnya memberi status legal yang memungkinkan mereka memiliki kehidupan normal, termasuk kebebasan bergerak, akses ke pasar tenaga kerja, pendidikan dan layanan kesehatan.

Badan anak-anak PBB, UNICEF, mengatakan 80 persen pengungsi Rohingya yang telah melarikan diri ke Bangladesh adalah perempuan dan anak-anak.

Di negara bagian Rakhine utara, pekerja UNICEF tidak dapat menjangkau 28.000 anak yang membutuhkan perawatan saat proyek air bersih, sanitasi dan perbaikan sekolah ditangguhkan, kata badan bantuan tersebut dalam sebuah pernyataan.

Pejabat di negara tersebut berkelit dengan menyalahkan pejuang Rohingya atas pembakaran rumah dan kematian warga sipil namun pemantau hak dan muslim Rohingya yang melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh mengatakan bahwa tentara Myanmar memaksa mereka keluar dengan melakukan pembakaran dan pembantaian.

Ketua Pelaksana Tegaskan Aksi Peduli Rohingya di Borobudur Tetap Berjalan

MAGELANG (Jurnalislam.com) – Ketua Pelaksana aksi peduli Rohingya di Borobudur, Anang Imammudin menegaskan, pihaknya akan tetap menggelar aksinya sesuai jadwal, yaitu pada Jumat (8/9/2017). Anang mengatakan, aksi tersebut akan digelar di Kecamatan Borobudur.

Ansharusyariah Serukan Umat Islam Bantu Muslim Rohingya

“Awal pertama kita ingin aksi di wilayah Borobudur, bukan di candi Borobudur, ini yang ditafsirkan orang yang, Kita tahu kalau mau aksi di situs purbakala itu pasti ada undang-undangnya, jadi salah persepsi, jadi tidak ada aksi di dekat candi,” terangnya kepada Jurnalislam.com, Selasa (5/9/2017).

“Kita tidak akan merusak candi borobudur, kita seperti pakai dresscot di Jakarta kita ingin memutihkan Borobudur itu bukan terus kita akan merusak,” sambungnya.

Forum Aliansi Umat Beragama (FA-UIB) Jateng-DIY itu menjelaskan, aksi akan difokuskan di Masjid An-Nur komplek Pemkab Magelang yang berjarak sekitar 1,5 km dari Candi Borobudur.

“Nanti kita shalat Jum’at di Masjid An-Nuur lanjut ada doa istighosah untuk Rohingya lalu ada tausiyah-tausiyah dan dilakukan penggalangan dana,” paparnya.

Forum Lintas Agama Situbondo Kecam Pembantaian Muslim Rohingya

“Walaupun ini nanti jaraknya sekitar 1,5 sampai 2 km dari candi Borobudur Saya rasa gaungnya sudah akan sampai ke Dunia, daripada kemarin tidak diperbolehkan karena tanggal 9 Jokowi akan ke Magelang jadi harusnya sudah steril dari apapun,” jelasnya lagi.

Anang juga membantah tuduhan adanya makar dalam aksi tersebut. “Dan dari kami tidak ada upaya makar, itu hanya media yang tidak suka akan aksi dari umat IIslam,” pungkas Anang.

Anang juga mengatakan, ada sekitar 250 elemen umat Islam dari seluruh Indonesia sudah mendaftar kepadanya untuk mengikuti aksi tersebut.

1.000 Ton Bantuan Kemanusiaan Turki Tahap Pertama Tiba di Rohingya

ANKARA (Jurnalislam.com) – Myanmar pada hari Selasa (5/9/2017) mengizinkan sebuah badan bantuan Turki untuk mendistribusikan 1.000 ton bantuan kepada Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine, menurut juru bicara kepresidenan Turki, Anadolu Agency melaporkan.

Kalin mengatakan dalam sebuah pernyataan tertulis bahwa izin dari Myanmar keluar beberapa jam setelah diskusi telepon Presiden Recep Tayyip Erdogan dengan Penasihat Negara Myanmar Aung San Suu Kyi mengenai pelanggaran hak asasi manusia baru-baru ini di Rakhine.

“Pemerintah Myanmar mengizinkan perwakilan dari TIKA (Badan Koordinasi dan Bantuan Turki) untuk memasuki wilayah konflik dan mendistribusikan 1.000 ton bantuan pada tahap pertama,” bunyi pernyataan tersebut.

Langkah tersebut membuat TIKA menjadi agen bantuan asing pertama yang mendapat izin dari pemerintah untuk memasuki wilayah tersebut sejak kekerasan terakhir dimulai pada 25 Agustus, kata Kalin.

Dia mengatakan bahwa bantuan tersebut akan didistribusikan oleh helikopter militer didampingi pemerintah negara bagian Rakhine karena ketidakpastian dan masalah keamanan yang berlanjut di wilayah tersebut.

Mevlut Cavusoglu
Mevlut Cavusoglu

Paket bantuan darurat berisi nasi, ikan kering, dan pakaian, menurut ajudan Erdogan.

Dia menambahkan bahwa badan bantuan Turki akan terus memasok bantuan, termasuk makanan, pakaian, dan obat-obatan, di wilayah tersebut bekerjasama dengan pemerintah daerah.

Dia menyoroti bahwa seorang delegasi Turki, termasuk Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu dan kepala TIKA Serdar Cam, akan mengunjungi distrik Cox’s Bazar di Bangladesh, di mana ribuan orang Rohingya telah berlindung dalam 10 hari terakhir.

HAM Burma: Penyiksaan Sistematis Itu Didukung Pemerintah Myanmar, Biksu Buddha dan …

Kalin mengatakan bahwa Turki sebagai awalan berencana mendistribusikan bantuan kepada 100.000 keluarga dalam koordinasi dengan pemerintah Bangladesh dan Myanmar.

Menurut PBB pada hari Selasa, 123.600 Rohingya telah menyeberang ke Bangladesh dan puluhan ribu lainnya juga mengungsi karena kekerasan terakhir.

Rakhine, yang terletak di barat Myanmar, telah mengalami ketegangan antara populasi sekte Buddhis dan kaum Muslim sejak kekerasan komunal meletus pada tahun 2012.

Dalam sebuah tindakan keras yang dilakukan pada bulan Oktober yang lalu di distrik Maungdaw utara, PBB telah mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan, penyiksaan – termasuk bayi dan anak kecil – penyembelihan, pemukulan brutal, dan penghilangan orang.

Laporan tersebut menemukan bukti pelanggaran hak asasi manusia oleh aparat keamanan yang mengindikasikan kejahatan berat terhadap kemanusiaan.

Perwakilan Rohingya mengatakan bahwa sekitar 400 orang tewas dalam tindakan keras tersebut.

Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintah telah meningkatkan jumlah militernya di Maungdaw, dan pejuang Muslim Arakan Rohingya Salvation Army (the Arakan Rohingya Salvation Army-ARSA) mengaku bertanggung jawab atas serangan pos- pos militer Myanmar dimana pemerintah mengatakan puluhan orang terbunuh.

ARSA mengatakan serangan tersebut sebagai tanggapan atas serangan, pembunuhan, penyiksaan, pemerkosaan dan penjarahan oleh tentara Myanmar.

HAM Burma: Penyiksaan Sistematis Itu Didukung Pemerintah Myanmar, Biksu Buddha dan …

MYANMAR (Jurnalislam.com) – Penyiksaan sistematis terhadap minoritas Muslim sedang meningkat di seluruh Myanmar dan tidak hanya terbatas pada negara bagian Rakhine di barat laut, yang baru-baru ini telah mengirim sedikitnya 123.000 Muslim Rohingya melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh, sebuah kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Inggris mengatakan.

Jaringan Hak Asasi Manusia Burma (the Burma Human Rights Network-BHRN) mengatakan pada hari Selasa (5/9/2017) bahwa penganiayaan tersebut didukung oleh pemerintah, beberapa biksu Buddha negara tersebut dan kelompok sipil ultra-nasionalis, lansir Aljazeera.

“Transisi ke demokrasi telah memungkinkan menjadi dugaan kuat untuk mempengaruhi peraturan pemerintah yang baru, dan telah memperkuat sebuah narasi berbahaya yang menjadikan warga Muslim sebagai kelompok asing di Burma yang mayoritas disana beragama Buddha (Myanmar),” kata kelompok tersebut dalam sebuah laporan.

ISAC Desak PBB Usut Pelanggaran HAM Militer Myanmar Atas Muslim Rohingya

Laporan ini berisi lebih dari 350 wawancara di lebih dari 46 kota dan desa selama periode delapan bulan sejak Maret 2016.

Pemerintah Myanmar tidak segera menanggapi laporan tersebut.

Pihak berwenang menolak tuduhan diskriminasi dan mengatakan pasukan keamanan di Rakhine meluncurkan operasi yang sah melawan “militan”.

Pasukan keamanan Myanmar dan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi menghadapi kecaman internasional atas penderitaan kaum minoritas Muslim Rohingya baru-baru ini.

Rohingya telah dipaksa untuk hidup di bawah pembatasan apartheid untuk bergerak dan memiliki kewarganegaraan.

Gelombang kekerasan terakhir, yang pertama kali dimulai Oktober lalu ketika sebuah kelompok pejuang kecil Rohingya melakukan perlawanan, menyerang pos-pos perbatasan, lalu dibalas dengan operasi militer yang terburuk yang pernah terjadi di Rakhine selama bertahun-tahun, PBB mengatakan dalam tanggapannya bahwa tentara Myanmar telah melakukan pembantaian kaum Muslim.

Aung San Suu Kyi, mantan tahanan politik penguasa militer Myanmar, mendapat tekanan yang meningkat atas ketidakpeduliannya untuk berbicara melawan perlakuan yang biadab terhadap Muslim Rohingya oleh pemerintahannya.

Aliansi Advokat Muslim Desak PBB Adili Aung San Suu Kyi

Dia tidak berkomentar sejak kekerasan terakhir terjadi pada 25 Agustus.

Selain Muslim Rohingya, laporan BHRN juga meneliti gambaran yang lebih luas tentang Muslim dari berbagai etnis di seluruh Myanmar, menyusul gelombang kekerasan komunal pada tahun 2012 dan 2013.

Dikatakan bahwa banyak umat Islam dari semua etnis yang kartu identitas nasionalnya ditolak, sementara akses ke masjid telah diblokir di beberapa tempat.

Sedikitnya 21 desa di sekitar Myanmar telah dijadikan sebagai “zona tertutup” bagi umat Islam, yang didukung oleh pihak berwenang, katanya.

Kutuk Pembantaian Muslim Rohingya, DDII Siap Kirim Mujahid

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) mengutuk tragedy pembantaian muslim Rohingya oleh militer Myanmar. DDII mengaku siap mengirimkan para mujahid untuk membantu muslim Rohingya yang tertindas di Rakhine.

Pernyataan itu disampaikan Ketua Umum DDII, H. Mohammad Siddik, MA melalui keterangan tertulis yang diterima Jurnalislam.com, Selasa (5/9/2017).

‘Resolusi Da’wah Tentang Kejahatan Kemanusiaan di Myanmar Oleh Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia’.

1. Dewan Da’wah mengutuk tragedi pembantaian massal (Genocide) oleh Militer / Pemerintah Myanmar terhadap penduduk Myanmar Muslim Rohingnya di Provinsi Rakhine.

2. Dewan Da’wah mendesak Pemerintah Myanmar segera menghentikan kejahatan kemanusiaan yang melanggar Hak Asasi Manusia terhadap penduduk Myanmar Muslim Rohingya di Provinsi Rakhine.

3. Dewan Da’wah mendesak Aung San Suu Kyi sebagai pemegang nobel perdamaian segera mengambil tindakan yang diperlukan untuk menghentikan kejahatan kemanusiaan di Provinsi Rakhine.

4. Dewan Da’wah mengusulkan kepada organisasi regional maupun internasional seperti ASEAN, OKI dan PBB agar segera memblokade negara Myanmar baik di bidang ekonomi maupun militer.

5. Dewan Da’wah mengusulkan kepada ASEAN untuk mengadakan sidang luar biasa para anggota ASEAN untuk mengambil keputusan dalam menjatuhkan vonis seberat beratnya kepada negara Myanmar baik secara sosial maupun politik termasuk membekukan keanggotaan negara Myanmar dalam ASEAN.

6. Dewan Da’wah meminta Mahkamah Internasional untuk mengadili Jendral Min Aung Hlaing dan Biksu Ashin Wirathu sebagai penjahat kemanusiaan.

7. Dewan Da’wah mendesak kepada pemerintahan Joko Widodo untuk serius membantu korban kemanusiaan seperti mengirimkan bantuan kemanusiaan baik berupa produk pangan, obat-obatan maupun dana kemanusiaan termasuk mendirikan Rumah Sakit dan Masjid di Provinsi Rakhine.

8. Menghimbau kepada seluruh Ummat Islam baik di dalam maupun di luar negeri untuk menyatakan solidaritasnya dalam bentuk resolusi bantuan kemanusiaan dan doa serta Qunut Nazilah.

9. Dewan Da’wah siap mengirim Mujahid-Mujahid Da’wah ke Provinsi Rakhine untuk membantu Muslim Rohingnya memperoleh keadilan dari pemerintahan Myanmar.

Siaran Pers

Hadirilah! Seminar & Diskusi Panel “Imunisasi dalam Pandangan Islam”

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakaatuh

Asatidzah dan Rekan-rekan dari berbagai lembaga Islam, kami dari
PROKAMI (Perhimpunan Profesi Kesehatan Muslim Indonesia)
bekerja sama dengan
IKADI (Ikatan Dai Indonesia) insya Allah akan mengadakan kegiatan

Seminar dan Diskusi Panel Imunisasi dalam Pandangan Islam.

Kapan?
? Sabtu 9 Sep 2017
? Jam 08.00-12.00

?Di mana?
Aula Masjid Asy-Syifa RSCM, Jl. Kimia, Jakarta Pusat

Kami mengundang
Asatidzah dan para tokoh agama, serta jurnalis media Islam dalam acara ini.

Pembicaranya siapa saja?
Narasumber yg diundang dari:

1. Direktorat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Kemkes,
2. Komisi Fatwa MUI,
3. Perwakilan dr BPOM
4. Perwakilan dr Satgas Imunisasi IDAI

?Acara ini gratis

Konfirmasi kehadiran ke dr. Gadistya Novitri di WA 081288218045

Ansharusyariah Serukan Umat Islam Bantu Muslim Rohingya

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kecaman atas pembantaian muslim Rohingya juga muncul dari Jamaah Ansharusy Syariah. Melalui juru bicara Ustadz Abdul Rachim Ba’asyir, Ansharusyariah menyampaikan beberapa pernyataan sikap, diantaranya mendorong umat Islam Indonesia untuk membantu muslim Rohingya dengan materiil maupun doa.

Berikut beberapa pernyataan sikap Jamaah Ansharusy Syariah tentang tragedi pembantaian Muslim Rohingya di wilayah Rakhine, Myanmar yang diterima Jurnalislam.com, Selasa (5/9/2017), selengkapnya:

  1. Mengecam tindakan yang dilakukan pemerintah Myanmar khususnya militer Myanmar dan penduduknya atas tindakan yang melanggar prinsip-prinsip kemanusian sehingga menyebabkan jatuhnya korban jiwa dari penduduk etnis Rohingya. Dan meminta untuk segera menghentikan tindakan tersebut .
  2. Mendesak kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk turun tangan dan aktif menyelesaikan permasalahan di wilayah Rakhine, Myanmar dan menerapkan prinsip-prinsip keadilan yang menjadi asas Hak Asasi Manusia yang menjadi konsesus semua negara.
  3. Meminta kepada Komite Hadiah Nobel untuk mencabut Nobel Perdamaian Dunia dari Aung San Suu Kyi karena tindakannya membiarkan pelanggaran terhadap hak asasi manusia terhadap etnis Muslim Rohingya di wilayah Rakhine.
  4. Menyeru kepada negara-negara Islam di ASEAN untuk berperan aktif memberi tekanan terhadap negara Myanmar atas tragedi kemanusiaan terhadap muslim Rohingya, dan bila diperlukan memutuskan hubungan diplomatik terhadap negara Myanmar.
  5. Mendesak negara Bangladesh untuk membuka perbatasan sebagai pintu masuk para pengungsi muslim Rohingya.
  6. Kepada kaum Muslimin agar mengambil upaya dan langkah yang dibenarkan syariat untuk menolong kaum muslimin Rohingya secara maksimal berupa pemberian bantuan materiil maupun doa.

Siaran Pers

Forum Lintas Agama Situbondo Kecam Pembantaian Muslim Rohingya

SITUBONDO (Jurnalislam.com) – Forum Lintas Agama Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, mengecam pembantaian etnis Muslim Rohingya yang dilakukan Militer Myanmar. Mereka berharap pemerintah Indonesia segera mengupayakan pembelaan kepada Muslim Rohingya.

“Atas nama forum lintas agama di Situbondo kami sangat prihatin atas perlakuan tidak manusiawi yang menimpa Muslim Rohinya dan kami mengimbau pemerintah Indonesia untuk segera mengambil tindakan tegas, proaktif dalam perdamaian dunia khususnya di Myanmar, sehingga umat Islam Rohingya tidak mengalami kezaliman lagi,” kata Sekjen MUI Kabupaten Situbondo, Hamid Jauharul Pardi dalam siaran pers, Senin (4/9/2017).

ISAC Desak PBB Usut Pelanggaran HAM Militer Myanmar Atas Muslim Rohingya

Sementara itu, Ketua MUI Situbondo, Kiai Syaiful Muhyi meminta umat Islam untuk menunjukkan solidaritasnya atas musibah yang menimpa Muslim Rohingya dengan membacakan Qunut Nazilah.

“Kami mengimbau kepada umat Islam Indonesia untuk membaca Qunut Nazilah setiap sholat lima waktu, agar Allah memberi keselamatan atas musibah yang menimpa umat Islam di Indonesia, Rohingya, Palestina, dan belahan bumi lain,” katanya.

Dari tokoh hindu yang hadir Pemangku Pura Jagatnata Situbondo, I Wayan Karba mengaku prihatin atas peristiwa pembantaian terhadap Muslim Rohingya di Myanmar. Ia meminta agar Militer Myanmar segera menghentikan kekerasan untuk mewujudkan perdamaian dunia.

Bantu Muslim Rohingya, GP Ansor Jatim Siap Turun ke Myanmar

“Mari kita wujudkan perdamaian di seluruh dunia dan hentikan segala tindak kekerasan kepada sesama manusia,” ujarnya.

Ada empat poin pernyataan sikap bersama yang ditandatangani oleh perwakilan Forum Lintas Agama Situbondo beserta Kepala Kepolisian Resort dan Komandan Kodim 0823, yaitu;

  1. Mengutuk keras kekejaman dan kebiadaban pasukan keamanan Myanmar terhadap Muslim Rohingya,
  2. Meminta kepada pemerintah Indonesia untuk aktif terlibat dalam perdamaian di Myanmar,
  3. Meminta kepada PBB agar segera bertindak tegas kepada Pemerintah Myanmar untuk menghentikan kekerasan kepada etnis Islam Rohingya, dan
  4. Meminta kepada umat Islam dan umat beragama agar tidak terpancing dengan peristiwa Rohingya dan tetap menjaga kerukunan antar umat beragama.